RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 73


__ADS_3

Pletaaakkk


Aduuuuh


Setelah mendengar jawaban Mentari, Radja langsung menggeprak kepala Biru pakai buku pengantar tebal yang entah punya siapa yang berada di atas meja. Sikap profesionalitasnya ia lupakan di depan kedua mahasiswinya, Bahkan Radja malah penginnya meninju, menghajar Biru tapi ia tidak mau jelek Di mata Mentari. Masa mau meluluhkan hati kekecewaan sang ponakan di awali dengan perkelahian langsung, kan tidak lucu.


""Tidak ! "" Sontak Biru bersuara membantah, membelah diri.


""Ya. !"" Mentari malah membenarkan dengan wajah Lempengnya.


""Ya atau tidak ? yang mana yang harus saya percaya ?""


Radja memijat pelipisnya, pusing. menerima dua jawaban berbeda. Mile saja yang diam mencerna ikutan getar getir. Mile Speechless melihat wajah lempeng Mentari yang tanpa malu membeberkan tanda kutip aib sendiri, Mile pun mulai paham.. ternyata si Rektor adalah Omnya Mentari. Ternyata ! Teman sekaligus penghuni kontrakan di tempatnya ini adalah orang kaya...kok bisa ? Omnya tajir, ponakannya melarat ! Dasar paman pelit ! Hati Mile mencaci Radja tidak jelas, ia adalah saksi hidup atas kesusahan Mentari berjualan sayur mayur setiap hari di pagi buta.


""Itu tidak benar Om, Mentari di sini salah persepsi, Aku tidak pernah me-----!""


""Diam ! Saya ingin bertanya kepada Mentari, ponakan saya dulu. Baru bertanya kepada mu, Sagara ! Mentari, Apa benar Biru sering meniduri mu sayang ?""


Mentari mengangguk kan kepala, Biru mengerang dan Mile terkesiap kaget hebat.


""Kira kira tiga eh empat kali terakhir kemarin !""

__ADS_1


Damn it, Radja memandang horor Biru. Gue tantang di Ostia, Sagara. Tapi yang di plototi horor semakin bermuka tembok saja !


Dewa, adikku. Abang telat menjaga anak gadis mu di kota keras ini. Batin Radja semakin bersalah.


""Apa Biru memaksa mu Mentari ?""


""Tidak, Bos Biru tidak pernah memaksa saya, Kadang saya memang sudah tertidur duluan dan memindahkan saya langsung ke ranjang, Tapi kemarin memang saya yang minta Bos Biru menina nina saya.""


"" Astaghfirullah adzim Mentari ! Ko Lo jadi seram gini sih kelakuan Lo."" Mile mengucek ucek kasar daun telinganya, Takut takut hanya salah dengar.


Radja menghela nafas kasar. Sepertinya Ponakannya ini sudah salah dasar akibat kurangnya mendapatkan pendidikan larangan hal berbau ****.


""Mentari sayang ! Kamu tidak boleh melakukan itu lagi, Selain di haramkan oleh agama, apa kamu juga tidak takut hamil ? Bagaimana masa depan mu nanti ? kuliahmu ? Cita cita dan Amma mu ! bagaimana jika tahu kalau anaknya hamil luar nikah, Sayang !"" Radja benar benar akan menantang Biru di Ostia Club , Bila perlu Burung elang milik Biru akan di tebas saja supaya berhenti meniduri ponakannya.


Radja dan Mile menghembuskan nafas lega secara bersama yang hampir tercekik di leher. Untung saja ! Sementara Biru memutar matanya dengan tatapan.. Gue bilang juga apa ? Lempengkan !


"" Tapi tetap saja Mentari, kalian tidak boleh melakukannya lagi, Kalian kan sudah sama sama dewasa, Takut takut jika kalian berduaan terus ada pihak ketiga yang ikut berbicara seperti Set*n. Jika kalian tergoda dan terjerumus nafsu birahi kan bahaya. dengar Biru, Mentari !""


""Iya Amang eh Tuan, Tapi di sini saya kadang kala berpikir keras, Heran dengan jalan pemikiran Tuan dan sebagian orang orang di luaran sana. kalau mereka membuat kesalahan entah itu merampok, membunuh, memperkosa atau kejahatan lainnya... Pasti yang di salahkan pihak ketiga yaitu Setan, iblis atau apapun sebutannya. Intinya adalah mereka menyalakan orang ketiga dalam kejahatan mereka. kan tidak adil tuan, yang melaksanakan kejahatan siapa yang di salahkan setan. kasihan kan setannya nambah seram saja namanya.""


Mile terkikik lepas. Radja terdiam gemas, tidak tahan untuk tidak mengacak acak rambut keponakan tersayangnya.

__ADS_1


Duh kamu kok pintar amat sih sayang ? sudah membuat pak dosen killer terbungkam. Biru pun membatin jika tidak ada Radja sebagai Omnya Mentari, Maka di pastikan Biru sudah mengabsen wajah Mentari dengan kecupan gemasnya.


Dan Radja pun menyerah. Radja kapok harus menjelaskan panjang lebar dengan beberapa metode penjabaran dan ulasan hanya dalam satu fakta. Radja baru tahu jika ponakannya ini lempeng polos abis pakai amat...Niru siapa sih ? Genetika Dewa kok begini amat.. Bukannya adik kembarnya itu licik abis jika sudah memperebutkan satu hal apapun dengannya....Hem... pasti genetika Mentari turun dari Ammanya makanya sampai Dewa jatuh hati klepek klepek dengan Amma Mentari di waktu itu, pikirnya. Mentari memang ajaib. Batin Radja.


""Ayo kita pulang sayang !.""


Tanpa permisi ke Radja, Biru menarik lembut tangan Mentari ke sampingnya.


""Sagara ! saya ini Omnya, kamu yang sopan jadi anak muda, jika saya tidak memberi restu ke kamu, nyaho Lo ! Biar restu saya lancar terus ke kamu, maka biarkan saya yang mengantar Mentari pulang malam ini, mau kan sayang ? kalau Amang mu ini yang mengantar kamu pulang ?"" Tatapan Radja penuh binar harap, Radja juga sampai rela dan ikhlas lahir batin menyuruh Mentari memanggilnya sebagai Amang saja, jangan Tuan, tulang, Om, paman atau jenis apapun itu, Radja kepinginnya di panggil Amang, ayah atau papa saja oleh Mentari karena ia akan menggantikan posisi Dewa sebagai ayahnya Mentari.


Mentari melirik Biru dan Radja bergantian...di sini juga ada Mile...teman sekaligus tetangganya. Dua mobil tumpangan...oke Mentari punya ide cemerlang.


""Sebelumnya maaf tuan Radja, Anda bukan Amang saya, jadi saya tidak berhak menyapa anda dengan panggilan itu, Tapi demi tingkat sopan saya ke anda sebagai kembaran Amang saya, maka saya akan memanggil Om saja. Tidak apa apa kan ?""


Radja mengangguk sedikit kecewa tapi tidak apa apa, ada perubahan...siapa tahu besok lusa atau kapan pun itu akan berubah dari Om menjadi papa ! harap boleh dong ! perlahan tapi pasti.


""Kalau masalah antar mengantar pulang ! Dua mobil kan ? dua penumpang pula...saya dan Mile, jadi ayo antar kami pulang...kami ini tetangga dekat.""


Biru langsung sigap menarik tangan Mentari sebelum di duluin Radja, berjalan keluar menuju parkiran mobil. Sorry pak mantan dosen, gue ini kekasihnya... berarti gue yang berhak menjadi sopir pribadi plus sopir hati Mentari.


Sagara kampret, tidak ada mengalahnya sedikit saja, beri aku pula kesempatan untuk dekat dengan ponakan aku, dasar kau ini.... Nyesal aku pun sudah mendidik kau di masa kuliah...tahu dapat saingan darimu udah ku buat kau menderita dari masa Ospek dulu.

__ADS_1


Biru dan Radja saling bergulat dalam batin seakan pada punya kepintaran telepati saja. Nah... Mile, Gadis ini malah gugup luar biasa akan di antar pulang oleh Radja sang Rektor. Omg.... Mimpi apa die semalam, Bisa mengobrol satu mobil bersama sang dektor berwibawa.


Vote dan bunga bunga šŸ˜šŸ˜˜


__ADS_2