RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 134


__ADS_3

Biru tidak tega melihat Mentari terus melamun bersedih. Sekedar meluapkan kekesalannya, ia datang ke markas yang jarang ia injak. masalah menghukum seseorang yang sudah mengusik masalah pekerjaan, biasanya hanya titah lah yang turun dari mulutnya, Tapi kali ini ia turun tangan akan memberi hukuman ke Sena.


""Apa kalian sudah memberi kan racun itu ?"" Tanyanya ke Salah satu penjaga yang mengurung Sena.


""Sudah Bos, sedikit kualahan bagi kami !"" Lapornya mengingat betapa liarnya Sena saat di cekokin ramuan tersebut.


""Bawakan satu lagi untuk ku, saya ingin cepat cepat dia menderita seperti mertua saya.""


Sang bawahan pun memberikan apa yang di inginkan sang Bos yang selama ini sudah menggajinya. Lantas Biru masuk ke ruangan bercahaya remang remang dengan sedikit berdebu. Ia tersenyum devil melihat Sena terpejam dalam penampilan berantakan.


""Bangun !"" Dingin kasar Biru menendang bilik kecil yang di tiduri Sena. ia tak memandang jikalau orang yang berpenampilan miris ini adalah seorang wanita. Hukum tetap berlaku bukan...ia bukan Mentari yang baik hati, ia mempunyai sisi pyshico sendiri. Hatinya baik kepada orang baik pula, maka jahat untuk orang jahat.


Merasa terguncang, Sena terkejut langsung menarik tubuhnya.


""Bi--!""


""Gue benci suara Lo ini, Jangan bersuara kecuali suara Lo berfirman atas masalah keberadaan penawarnya, maka pasti gue akan sudi mendengarnya."" Biru menahan rahang Sena sampai mulut wanita itu terbuka paksa. ""Habiskan !"" Menangadakan sedikit perangai operasian tersebut agar racun yang berbentuk seduhan itu masuk dengan sempurna. Biru marah atas usaha pencarian di kediaman Sena tidak membuahkan hasil. Entah di mana wanita ini menaruh obat penawarnya. Di tambah mendapat kabar dari Dito kalau orang yang membuat racun dan penawarnya hilang bak di Telan bumi. ia jadi prustasi sendiri bagaimana caranya bisa mendapatkan penawar racun tersebut yang ia tak tahu rupanya. Petite-nya akan marah kepadanya karena sudah berjanji akan mendapat solusi untuk Rose.


Hoek.


Setelah terlepas, Sena ingin memuntahkan kembali ramuan itu secara paksa yang sudah terlanjur masuk kedalam rongga.


Biru dengan kasar menarik rambut belakang Sena agar menangada ke atas."" Begini lebih baik. Nikmati senjata Lo sendiri !"" Kasar Biru masih dengan santai menyiksa Sena.


""Bi, Tolong jangan begini, gue ngelakuin ini semua karena gue sayang sama Lo !"" Nada Sena mulai lemas. Layaknya Rose jikalau obat itu sudah masuk ke tubuh, maka efeknya menyerang otot otot sampai seakan rasanya melunak secara bertahap


""Masih ada kesempatan, beri tahu di mana obat itu ?""


""Nggak akan gue beri, Obat itu buat gue sendiri ! sampai gue mati pun tidak akan gue beri penawarnya. biarkan mertua Lo mati, maka dengan itu, Mentari pasti membenci Lo""

__ADS_1


""Bodoh, Lo tidak akan pernah lepas dari sini, kecuali maut yang berdengung memanggil Lo. jadi berdoa saja agar ada kebaikan menghampiri Lu ! percuma gue ngomong ke Lo, ngotorin tangan gue saja dan buang buang waktu.!""


Biru menghempaskan asal asalan tubuh Sena yang terlihat sayu di makan racunnya sendiri, Perlahan tapi pasti....Sena akan lemah saraf seperti akan halnya Rose yang di alami.


...*****...


Setelah Mentari menceritakan segala hal ke Senja, mulai dari Aktingnya. Siapa dalang penderitaan Ammanya. dan masalah obat penawar. Kini adik Kaka itu sedang berada di Lab pembuatan obat milik Vero-Om dari Biru atas masukan dari Biru. Mereka di temani dan di bantu langsung oleh Vero sebagai pakar pembuatan obat obatan medis.


Vero sendiri begitu kagum akan kepintaran Senja dalam dedaunan berkhasiat. Mereka akan membuat penawar dari tetumbuhan dalam bentuk cairan agar mudah di suntik kan ke dalam tubuh Rose. Dalam pengalaman dan kepintaran Vero pun mengusulkan kalau mereka harus membuatnya se-steril mungkin agar aman masuk kedalam tubuh manusia. Vero dan teamnya sudah meneliti zat zat yang terkandung dalam racun tersebut, maka atas pertolongan sang pencipta... mudah mudahan hasil Senja dan teamnya tidak sia sia.


Senja di sini bahkan tak sadar memerintahkan beberapa pekerja Vero dan lebih kurang ajar tak sadarnya, Vero kadang kala pula di suruh ini itu oleh Senja. ia begitu serius dan sangat bersemangat.


"Om, Tolongin ! Zat zat ini jagalah agar tidak meluap kemana mana !"" Tunjuk Senja ke sari sari tumbuhan yang akan di buatnya se-steril mungkin.


""Siap Ibu Prof !"" Goda Vero.


Senja melirik canggung ke arah Vero Setelah sadar akan mulutnya yang lemes.


""Tari apanya eum ? Lihatlah, Tari pun sedang dalam kesibukan, tangan dan mata Tari hanya dua, mana bisa mengawasi itu pula ?"" Protes Mentari dari meja samping. ""Om, Vero kan Tangannya nganggur, jadi Om tampan saja !"" Celetuk Mentari tidak sadar akan wajah Senja yang sudah tidak enak ke Vero.


""Hust, diam adik lempeng."" Plotot Senja dari tempatnya berdiri. Mereka sedang berhadap hadapan dengan meja Lab berisi zat zat penting sebagai perantara.


""Aih, mata daeng kok jelek amat !"" Mentari masih tak sadar.


""Sudah lah, biar Om sekarang menjadi pekerja dari cucu sulung Batara."" Goda Vero ke Senja. Senja membungkuk sopan dan meminta maaf. Sementara Mentari kembali sibuk atas tugas dari Senja.


""Apanya yang harus di maafkan anak cantik, biasa saja...Om menikmati jadi bawahan sekarang."" Vero masih saja menggoda. Senja hanya tersenyum kikuk.


Sesekali mereka berbincang tentang khasiat tumbuhan tumbuhan lainnya.

__ADS_1


...*****...


Hari begitu membosankan bagi Langit, Hari ini ia berkunjung ke rumah besarnya yang di tempati Chris. Memasuki kamarnya yang sudah lama di tinggalkan semenjak ia dan Senja menikah paksa.


Langit berdiri di balkon kamar, Memainkan Layar canggihnya hanya sekedar mengusir kebosanannya.


""Bosan juga jadi anak rumahan."" Gumamnya. ia pun bermain chat menghubungi Satria yang entah di mana Sohibnya itu.


Langit: Sat, hangout yuk !


Satria; Sorry, Kagak bisa, gue sibuk !


Langit; Ck, Sibuk apa ? Sibuk Lo itu atas Titah gue, kita kan Free hari ini di perusahaan.


Satria; Sibuk mengejar melunakkan pujaan hati๐Ÿ˜‹


Langit; Pujaan hati ? kok gue kagak tahu kalau Lo punya gebetan ? siapa orangnya ? wah... bentar lagi gue dapat traktiran dong ! Asyik...


Satria; Masih lama, nunggu Lo punya status duda dulu, baru gue akan mendapatkan wanita itu, karena wanitanya adalah Janda kembangnya Lo.


Di balik chat itu, Satria tersenyum geli, kali ini biarkan ia mengerjai Langit kalau ia menyukai Senja. Padahal di sini Satria sedang menggebet Jum-sahabat Mentari yang baru datang dari kampung atas permintaan Mentari untuk menjadi kan wanita desa itu sebagai kepercayaan Mentari di perusahaan RD.


Satria ingin membuat Langit sadar, kalau wanita seperti Senja tidak boleh di sia siakan... Langit mau cari wanita seperti apa lagi coba, Senja cantik, body goals semampai, pintar cerdik, kadang ngeselin sih...


Satria: Halo ha? Masih adakah orang di sana ? Jangan nangis menyesal ya.... kalau gue nantinya bersanding bersama Senja, wanita berlian menurut ku.


Langit: Bye, Gue ngantuk !


Langit langsung kabur dari chat, Ia membayangkan Satria dan Senja bersanding di pelaminan. "" Aih, Ogeb, biarkan saja...itu kan yang Lo mau."" Tepisnya akan ada rasa aneh lagi di hatinya.

__ADS_1


"Sendiri lebih happy, tidak akan ada yang menggangu aktifitas apapun gue nanti. kebebasan itu lebih mengasyikkan."" Langit berceloteh ke potret Senja yang belum sempat ia hapus pas di atas gunung.


__ADS_2