
Titan dan Vane sebagai tuan rumah, baru terlihat bergabung. Namun sepasang suami istri itu belum melihat adanya Mentari yang berdiri paling belakang, Sebab Semua keluarga merubungi Vane dan Titan untuk memberi ucapan selamat nan memberikan kado masing-masing. Biru sendiri setia selalu ada di samping Mentari menemani tanpa sedikitpun jauh dari Petite-nya.
""Kalian itu yah, Sebagai tuan pesta seharusnya standby lebih awal untuk menjemput tamu spesial kalian, ini malah asyik dengan ranjang sendiri."" Cibir Fina ke Titan dan Vane. Titan hanya cuek.
""Apa sih Kaka ipar, Tidak ada tamu spesial yang di undang dan jangan banyak alasan, Mana... sini kadonya, Yang mahal ya !"" Pinta Vane yang belum dapat jatah kado dari Fina seorang. Di kasih ya rejeki, tidak di kasih harus maksa.
""Cih, Matre !"" Cibir Fina namun tangannya memberikan kado yang entah apa isinya. Yang jelas bukan burung beo miliknya.
Bubar, Orang orang hangat nan heboh itu sudah sibuk dengan masing masing, Biru dan Mentari maju paling terakhir.
Alis Titan terangkat melihat ada Mentari di dalam kediamannya. Vane langsung tersenyum manis.
""Mentari. Wah, Kamu di sini sayang !"" Sapa Vane di balas anggukan takzim oleh Mentari.
""Maaf ya Bu Vane dan Tuan Titan, Saya kesini tanpa di undang oleh kalian karena Bos Biru, saya di paksa menghadiri acara anda, maaf sekali lagi ! dan Happy anniversary baut kalian dan maaf lagi, saya tidak membawa kado. "" Mentari tidak enak hati datang tanpa di undang, apalagi ia tidak sempat membeli kado, Terus Kalau mau ngasih kado, Kado apa coba ? mana ada ia uang banyak untuk membeli hadiah mahal. Hatinya terjun bebas saat mendengar Vane mendengar meminta kado mahal ke Fina.
__ADS_1
""Tidak masalah Mentari, kami welcome kok dengan adanya kamu dan tanpa ada kado no problem, ia kan Pa !"" Senggol Vane ke Titan agar ucapannya di timpali. Namun Titan hanya melirik dengan seringai misteriusnya.
Biru menatap wajah berkharisma Papanya berharap kali ini menerima Mentari. Semoga papa tak membuat hati ku kecewa.
Ujian untuk calon istri yang baik untuk anakku. seringai Titan akan bermain teka teki bersama Mentari, Jika wanita yang di gilai oleh anaknya lolos dalam teka tekinya maka restunya akan berlampu hijau tanpa ada keraguan sama sekali yang memang tadinya sudah hilang keraguannya saat mengetahui kenyataannya kalau Sena lah yang membuat Fitnah dan Biru-anaknya sendiri pula yang sering modus dan menggoda Mentari.
""Tapi saya ingin meminta hadiah !"" Ucap Titan datar tanpa ada wajah bercanda di sana. Membuat Biru ingin protes namun Titan langsung menarik Mentari ke sampingnya agar menjauh dari Biru sejenak. Vane dan semuanya pun keget. Dengan cepat Vane merangkul lengan Biru dengan kuat, Takut takut anaknya itu melawan papanya, Vane seakan akan mengerti dengan isi kepala Titan yang aslinya sudah pernah membahas mengenai ingin menguji Mentari.
"" Pertama, jangan panggil saya dengan panggilan Tuan, No pak juga ! karena saya bukan Tuan alias pekerja saya dan bukan pun bapak kamu, panggil saja saya Om, Seperti kamu memanggil Om-nya Biru."" Tunjuk Titan ke Vero dan Gion.
""Diam Lah, Brownies....papamu hanya mengetes calon mu, Papa mu setuju dengan pilihan kamu sayang !"" Bisik Vane saat Biru ingin menghampiri Mentari. Biru akhirnya bernafas lega, namun masih ada rasa penasaran apa yang akan di lakukan oleh papanya.
""Kado yang saya minta ke kamu Yaitu..."" Titan mencopot jam tangan brandednya yang berharga fantastis dengan hanya ukuran di pas di pergelangan. Setelahnya, mengambil segenggam tanah kering dari pot bunga. Mata semua keluarga tak luput dari pergerakan Titan. Bahkan Meca sendiri pun bingung, adiknya itu akan berbuat apa dengan dua benda tersebut.
""Apa itu tuan eh, Om !"" Tanya Mentari bingung dengan telapak tangan Titan yang mengulur ke hadapannya.
__ADS_1
Titan tersenyum tipis bahkan nampak tak terlihat. ""Jam tangan mewah seharga ratusan juta dan juga tanah biasa, Tapi anggap saja tanah ini berukuran sepetak sawah kecil. Pilihlah...!" Titah Titan penuh maksud.
Dengan kesederhanaannya, dan tanpa tahu apa yang di inginkan Titan dari pilihannya. Mentari menunjuk segenggam tanah yang ada di tangan Titan, Berarti memilih tanah sepetak sawah dari pada arloji branded mahal.
""Kenapa kamu memilih tanah yang berukuran sepetak dari pada jam tangan berharga ratusan juta ? Kamu bodoh kah ? Tanah ini tidak ada harganya dari pada jam tangan saya yang mahal."" Ucap Titan ingin mendengar alasan Mentari. Apakah cuma asal asalan memilih atau ada penjabarannya.
""Anda yang bodoh tuan eh Om !"" Balas Mentari reflek mengatain Titan bodoh, dengan polos ia menyengir kuda membuat para orang yang ada di taman tersenyum geli....Calon mertua di katain bodoh, hais...minta di hempaskan apa ?
""Maksud saya bukan begitu Om, Tanah sepetak memang jauh rendah harganya dari jam tangan milik Om, Tapi tanah sepetak sawah bisa kita olah dengan menanam berbagai tumbuhan misalkan Padi mungkin, untuk memberi kelangsungan seluruh orang yang membutuhkan tanaman pokok itu, intinya tanpa adanya tanah maka manusia pasti akan kelaparan, Mati. Kalau sudah mati maka tidak ada yang akan membuat Jam tangan itu dan tidak ada pula pembeli jam tersebut. Dan seandainya saya memilih jam tangan itu yang katanya harganya mahal, apakah ada fungsinya untuk kelangsungan hidup orang, memang sih bisa di jual Tapi hanya untuk pribadi saja, yang hasilnya kan lama lama habis pula ke pakai terus , Sedang kan pendapatan dari Tanah tidak akan ada habisnya jika yang mengolah nya tekun dan ulet...dan hasil dari tanah pun mungkin bisa membeli jam Tangan seperti milik Om yang penting mau berusaha dan sabar mengumpulkan, itulah pilihan dan pikiran simple saya, Om.""
Titan dan Vane, juga yang lainnya pun tersenyum bangga dengan hasil dari jawaban simple Mentari, Anaknya-Biru memang tidak salah pilih gadis polos tapi punya pemikiran yang mau bersabar dalam mendapatkan hasil tanpa grasa grusu, kalau anaknya kelak amit amit dapat masalah keuangan kan, bisa di ajak susah berjamaah ! Ok...Titan puas tapi belum berhenti di sini dengan uji pertanyaannya.
""Pemikiran simple mu saya suka. Tapi saya ingin bertanya ke padamu Mentari. apa arti Biru, di mata mu ? apa kamu juga mencintainya dengan sangat ?, seperti Biru yang nampak mencintai dan membelah mu di hadapan saya tanpa ada keraguan ?."" Tanya Titan.
Mentari nampak terdiam lama, Manik mata hitam pekatnya bersibobrok dengan manik hitam kecoklatan milik Biru yang menatapnya penuh kebinaran. Aku pun belum pernah mendengar isi hati mu Petite, salama ini ! aku harap kamu pun sama, mencintai ku !
__ADS_1