
Dirumah tuan Alfan, suasana masih tenang seperti biasa. Hanya saja, tuan Alfan sedari tadi gelisah memikirkan rencana Kazza yang akan melaporkan suami dari keponakannya.
"Alfan, ada apa denganmu? kenapa kamu terlihat gelisah. Apa ada masalah di Amerika, atau ... masalah Devin? katakan." Tanya sang ayah mertua mengagetkan.
"Alfa masih kepikiran Zayen, suami Afna." Jawabnya yang belum siap untuk menjelaskan.
"Suami Afna?" tanya sang kakek yang masih belum mengerti.
"Zayen diduga menyelundupkan barang barang illegal, senjata tajam dan senjata api dan juga berbagai perhiasan."
"Apa!!! kamu tidak lagi bercanda, 'kan? jawab."
"Tidak, Pa. Aku sudah mengirimnya anak buah untuk menyelidikinya, dan benar adanya. Dan Kazza tetap bersikukuh akan melaporkan Zayen."
"Kenapa kamu tidak mengatakannya dengan papa, Alfan?"
"Aku masih berusaha untuk mencari cara, tetapi tentunya akan bertolak belaka dengan Kazza. Sekarang aku akan menghubungi tuan Tirta berharap Kazza tidak ceroboh dengan rencananya."
"Cepatlah, kamu hubungi Tirta. Masih ada cara lain untuk tidak melaporkan dengan semena mena, meski perbuatan Zayen salah besar."
Saat mengambil ponsel miliknya, tuan Alfan dikagetkan panggilan masuk dengan nomor yang tidak dikenalinya.
'Nomor siapa, ini? kenapa ada nomor baru masuk. Tuan Tirta? aku rasa tidak mungkin.' Batinnya merasa aneh.
"Tuan Alfan .. apa kabarnya hari ini? aku rasa, kamu sedang memikirkan putra kesayangan kamu. Bukankah begitu? kasihan ..." ucap diseberang telfon dengan suara palsunya disertai tawa lepasnya.
"Siapa kamu sebenarnya! cepat! katakan. Dimana putraku kamu sembunyikan, dendam apa kamu terhadapku."
"Putra kamu, ada pada genggamanku. Apakah kamu tahu? sekarang hidupnya sedang menderita. Dan istrinya akan tersiksa, kamu pasti akan menyesalinya." Tut tut tut tut sambungan telfonpun telah dimatikan.
Tuan Alfan yang mendengarnya benar benar sangat geram, rahangnya mengeras dan darahnya terasa mendidih dan menjulur sampai ke otak. Bahkan dirinya benar benar sangat prustasi memikirkan dalang hilangnya putranya sejak bayi.
Dengan cepat, tuan Alfan segera melihat nomor yang baru saja menelponnya. Namun sayangnya, nomor tersebut langsung hilang begitu saja tanpa menunggu lama. Kedua tangannya pun terkepal sangat kuat, ingin rasanya secepat mungkin menemukan pelaku yang sudah menculik putranya.
__ADS_1
"Alfan, siapa yang menelfonmu. Kenapa kamu terlihat sangat kesal sekarang, ada kabar apa lagi. Apa kabar tentang Adevin? katakan, Alfan." Tanya sang ayah mertua semakin penasaran melihat ekspresi menantunya yang begitu cemas dan terlihat menyimpan kekesalan."
"Iya, Pa. Sekarang masalah penculikan Adevin, aku benar benar prustasi pa. Bagaimana caranya agar aku bisa menemukan keberadaan Adevin, pa ..." Jawab Alfan prustasi sambil mengacak acak rambutnya.
"Sayang, ada apa denganmu. Kenapa kamu terlihat prustasi seperti ini, sayang?"
"Putra kita, Adevin dalam bahaya. Aku tidak bisa mencari keberadaannya, dan aku pun tidak bisa berbuat apa apa dengan Adevin." Jawabnya, sang istri segera memeluk suaminya. Berharap, tidak membuatnya semakin kacau dalam pikiran suaminya. Meski dirinya pun sangat mengkhawatirkan putranya, berharap akan ada keajaiban.
Saat suasana sedang genting, tiba-tiba terdengar kembali suara deringan di ponsel milik tuan Alfan. Dengan cepat, tuan Alfan langsung menyambar ponselnya yang berada diatas meja. Berharap mendapat telpon dari orang yang sama, dan dapat mengambil nomor tersebut untuk dilacak sang pemilik nomor misterius itu.
"Tuan Tirta?" gerutunya yang juga cemas.
"Ada apa, tuan Tirta?" tanyanya penasaran. Berharap bukan kabar penangkapan Zayen, melainkan ingin berbicara dengan Afna.
"Zayen, bahwa Zayen sudah tertangkap. Sekarang juga, kamu ikut aku untuk menemuinya. Tuan Arganta dan kakak dari Zayen pun sudah tertangkap, sedangkan Zayen terluka parah. Kedua kakinya pun tertembak saat melarikan diri, sedangkan temannya kini menjadi buronan." Jawab tuan Tirta menjelaskan.
Tuan Alfan yang mendengarnya pun sangat menyayangkan dengan kecerobohan Kazza, yang semena mena telah membuat perasaan adiknya hancur berkeping-keping saat mendengar kabar yang sangat buruk tentang suaminya.
"Tuan Alfan, cepetan datang kerumahku dan kita berangkat bersama."
"Biarkan, untuk sementara biarkan tinggal di rumah kamu. Bukankah ada Adelyn, nanti biar aku yang akan memberi alasan untuk Afna."
"Baiklah, aku akan berangkat."
Tuan Alfan segera mematikan panggilan telfonnya, dan segera bersiap siap untuk berangkat menemui Zayen bersama tuan Tirta.
"Siapa yang menelfonmu, Alfan? Tirta?" tanya sang ayah mertua menebak.
"Benar, Pa. Tuan Tirta telah memberi kabar, bahwa Zayen sudah tertangkap. Sekarang aku harus menemani tuan Tirta untuk menemui Zayen, kedua kaki milik Zayen telah tertembak saat dirinya mencoba melarikan diri." Jawabnya menjelaskan.
"Apa? Zayen tertangkap? jadi Kazza benar benar nekad telah melaporkan adik iparnya sendiri, tanpa berpikir lebih panjang lagi sambil mencari solusi." Ucap kakek Zio sambil menggelengkan kepalanya, menyayangkan atas perbuatan Kazza yang begitu coroboh.
"Kasihan Afna, hatinya pasti sangat hancur. Begitu juga dengan Zayen, jika dia mengetahui siapa yang melaporkannya, maka kebencian akan terlihat jelas dimata Zayen. Aku tidak membayangkan, jika Zayen adalah cucuku. Bukan cucuku saja, terasa sangat kasihan." Ucap kakek Zio sambil mengelus dadanya, berharap tidak ada kebencian pada diri Zayen jika mengetahui perbuatan kakak iparnya.
__ADS_1
"Nasi telah menjadi bubur, Pa. Aku sudah berusaha untuk menasehati Kazza, tapi aku rasa orang yang menghasut Kazza jauh lebih pintar caranya."
"Sudah, cepatlah berangkat. Kasihan Zayen, dia pasti butuh dukungan. Bukan hinaan, cacian maupun hal buruk lainnya." Perintah ayah mertuanya untuk segera berangkat.
"Iya, sayang. Kasihan Zayen, pasti butuh penyemangat. Aku yakin, yang Zayen lakukan pasti ada alasannya. Kenapa dia bisa melakukan pekerjaan gelapnya." Ucap sang istri menimpali.
"Baiklah, aku akan segera berangkat. Takut, tuan Tirta menunggu lama." Jawabnya, dan langsung mengambil kunci mobilnya.
Saat hendak melangkahkan kakinya, tiba tiba putrinya menghampirinya.
"Papa, mau kemana? sepertinya terburu buru." Tanya Adelyn penasaran.
"Papa mau menemani paman Tirta, ada kepentingan. Kamu temani Afna, ya." Jawab sang Ayah beralasan.
"Oooh! Adelyn kira kak Adevin sudah ditemukan." Ucap Adelyn penuh harap
"Doakan saja, semoga Adevin segera ditemukan. Kalau begitu, papa berangkat." Jawabnya dan berpamitan, semua hanya mengangguk.
Sedangkan Afna sendiri merasa ada sesuatu yang mengganjal dihatinya, dan dirinya merasa gelisah. Seperti ada sesuatu yang buruk sedang menimpa suaminya.
"Kakek, tante. Paman Alfan dimana?" tanya Afna sedikit gelisah.
"Sedang pergi keluar, ada apa Afna?" jawab ibunya Adelyn dan bertanya.
"Suami Afna, kenapa belum juga datang kemari. Kepala Afna terasa pusing, tante."
"Apakah tadi pagi kamu belum sarapan?" tanyanya sambil mengecek suhu badan lewat kening milik Afna.
"Sarapan sih, tante. Apa mungkin Afna masuk angin ya, tante."
"Bisa jadi, sepertinya wajah kamu terlihat pucat, Afna? Bagaimana kalau tante antar kamu ke Dokter. Tante tidak ingin terjadi sesuatu dengan kamu."
"Tapi, tante ..."
__ADS_1
"Tidak ada tapi tapian, sekarang juga kita berangkat ke Dokter. Tante tidak ingin terjadi apa apa dengan kamu, lebih baik periksakan ke Dokter." Ucap ibunya Adelyn merasa khawatir, ditambah lagi suaminya yang sedang menghadapi masalah yang sangat besar.