Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Jawaban


__ADS_3

Kazza masih bingung mendengarnya, ia pun merasa tidak percaya dengan apa yang tengah diucapkan oleh Gio.


Begitu juga dengan Afna yang ikut tercengang saat mendengar kalimat dari Gio, Vella yang ia kenal sebagai asisten saudara kembarnya rupanya anak dari tuan Raska Gantara.


"Kazza, sudah dulu bertanyanya. Nanti biar Papa kamu yang akan menjelaskannya pada kamu." Ucap sang ibu mengalihkan rasa tidak percayanya dari Kazza.


"Mari ... silahkan duduk." Ucap tuan Tirta mempersilahkan duduk kepada keluarga Gantara.


"Kazza, tempat duduk kamu bukan disini. Ini tempat duduk untuk Gio. Sedangkan tempat dudukmu berada disamping calon istrimu, yaitu Vella." Ucap sang ayah mengusirnya.


"Sama saja lah, Pa. Disana sama disini, sama sama duduk jugaan." Jawab Kazza membela diri.


"Hem ... kak Kazza lupa ya, saat meminta disuapin sama Vella." Ledek Afna dan tersenyum mengembang, Kazza maupun Vella yang mendengar penuturan dari Afna hanya bisa menelan salivanya. Tidak hanya itu, semua tertuju pandangannya kearah Kazza.


"Afna, apa apaan sih kamu. Bikin malu kakak saja, awas kamu." Jawab Kazza dengan jutek.


"Sudah sudah, kalian berdua dari dulu tidak pernah berubah. Kazza, cepat pindah posisi dudukmu di sebelah Vella." Perintah sang ayahnya kembali, Kazza sendiri hanya bisa nurut dan pasrah. Ia tidak ingin membuat malu keluarganya, meski dirinya yang harus menanggung malunya.


"Iya, Pa ..." jawabnya dengan malas. Dengan terpaksa, Kazza bangkit dari posisi duduknya. Setelah itu, segera ia duduk disebelah Vella.


"Nah, gitu kan terlihat serasi." Ucap ayahnya Vella yang juga ikut meledek Kazza dan putrinya.


"Papa ..." jawab Vella sambil memasang wajah lesunya, sedangkan yang lainnya hanya bisa menahan tawanya.


Tidak lama kemudian, beberapa pelayanan tengah menyuguhkan berbagai macam makanan ringan dan juga minuman.

__ADS_1


"Tuan Raska, bagaimana kelanjutan untuk Kazza dan juga Vella? apa sebaiknya kita tanyakan kembali kepada mereka berdua, agar kita tidak merasa memaksanya." Tanya tuan Tirta serius.


"Benar juga, sebaiknya kita tanyakan kembali kepada mereka berdua. Apakah mau menerima perjodohan dari kita atau mau menolaknya." Jawab tuan Raska, kemudian menoleh kearah Kazza dan juga Vella.


Keduanya pun dilema dengan pertanyaan dari orang tuanya masing masing, ditambah lagi sudah saling mengenal. Begitu sulit untuk Vella dan Kazza menolak keiinginan dari orang tua masing masing. Keduanya semakin takut dan dilema jika menolak maupun menerima.


Apapun jawabannya, tetap saja hasilnya tidak dapat diganggu gugat. Mau tidak mau, Kazza maupun Vella hanya bisa pasrah dengan keputusan dari orang tua masing masing.


"Kazza, bagaimana menurutmu. Apakah kamu akan menerima perjodohan dari Papa? jawablah dengan jujur." Tanya sang Ayah dengan tatapan seriusnya, Kazza sendiri masih diam. Justru dirinya menoleh kearah Vella, seakan meminta jawaban darinya.


"Papa bertanya denganmu, Kazza?" tanya sang ayah kembali dan mengagetkan putranya yang sedang dilema karena keputusan yang sangat berat.


"Em ... Kazza nurut saja dengan Vella, bukankah nomor satu pihak wanitanya. Jika Vella menerimanya, maka Kazza pun akan menerimanya juga." Jawab Kazza dengan santainya, bahkan tanpa ada beban sedikitpun.


"Vella, apakah kamu mau menerima perjodohan ini? jawablah dengan jujur." tanya sang ayah seakan sedang menghakiminya.


'Apa? yang benar saja, kenapa harus aku yang menjadi patokan. Sialan nih orang, bikin gedek aja. Main lempar pertanyaan saja, betapa malunya jika aku menerima perjodohan ini. Aaah! benar benar sial, jawaban apa coba yang harus aku berikan. Yang benar saja, jika aku akan menjadi istrinya. Ooooh! tidak, mana sikapnya berubah berubah lagi. Satu kamar dengannya? sungguh mengerikan, lihatlah ekspresi wajahnya yang seakan ingin melahapku. Kenapa mesti ada perjodohan macam ini, sungguh terlalu.' Batin Vella mengutuki dirinya sendiri.


"Vella ... kenapa kamu masih diam, Nak? ayo dijawab pertanyaan dari Papa. Nak Kazza sudah menerimanya loh, sekarang tinggal kamu." Tanya ibunya mengagetkan, Vella pun segera menoleh kearah sang ibu.


"Iya Vell, cepetan dijawab. Agar kita semua tidak semakin was was menunggu jawaban dari kamu, cepat dijawab." Ucap sang kakak yang sudah tidak sabar menunggu jawaban dari adiknya sendiri.


Vella hanya diam dan memainkan jari jemari tangannya, ia sendiri bingung untuk menjawab pertanyaan dari ayahnya sendiri. Sesekali Vella menoleh kearah Kazza, seakan ingin menca*bik cab*iknya.


"Maaf sebelumnya, sepertinya biarkan Vella untuk berpikir sejenak, kasihan Dia. Vella pasti membutuhkan dukungan dari kita untuk meyakinkan pilihannya, Vella juga berhak untuk memilih seseorang yang akan menjadi pendamping hidupnya." Ucap Afna mencoba untuk tidak membuat Vella merasa ditelan, seketika itu juga Vella merasa tersentuh hatinya saat Afna mengucapkan kalimat yang begitu bijak.

__ADS_1


"Benar juga kata Afna, kita beri waktu sejenak untuk Vella. Jangan paksakan Vella untuk menerima permintaan kita yang egois ini, kita juga harus bijak memberi pertanyaan kepada anak anak kita." Ucap ibunya Afna ikut menimpali, berharap untuk tidak menyakiti perasaan Vella.


Yang lainnya hanya menunduk dan merasa malu saat Afna membuka suara, ditambah lagi ibunya yang juga ikut menimpalinya.


"Vella, Papa tidak akan memaksamu. Jika kamu ingin menolaknya, katakan saja dengan jujur. Kita semua akan lapang menerima jawaban darimu, percayalah dengan Papa." Ucap sang ayah yang kini pasrah dengan keputusan dari putrinya.


Lagi lagi Vella semakin dilema, seakan dirinya sudah terhipnotis dengan kalimat yang begitu menyentuh hatinya. Bagaimana mau menolak, semua bersikap lembut tanpa ada paksaan. Bahkan tidak ada yang menekan untuk menerima perjodohan, Vella kembali menoleh kearah Kazza.


'Kenapa aku merasa dihipnotis seperti ini sih, kenapa kalimat yang kalian sampaikan seakan benar benar membuatku semakin terlena dengan kalimat yang bijak seperti itu. Apa jadinya jika aku menolaknya, pasti mereka akan menyembunyikan perasaan kecewanya didepanku. Sungguh, kalimat dari kalian sangat membuatku dilema. Aku harus yakin dengan jawabanku, meski aku sendiri tidak tahu nasibku kedepannya.' Batinnya yang sedang dilema karena pertanyaan.


Kazza pun menoleh kearah Vella, kemudian memanggilnya.


"Vella," panggil Kazza. Vella pun langsung menoleh kearah Kazza, keduanya kini saling menatap satu sama lainnya.


"Jangan paksakan dirimu untuk menerima permintaan dari orang tuamu, jika diri kamu sendiri tidak bisa menerimanya. Tidak hanya kedua orang tua kamu yang dibohongi, tetapi kedua orang tuaku juga. Sekali lagi pikirkan baik baik dengan keputusan yang akan kamu berikan. Bukankah kamu sudah besar, kamu pasti sudah bisa untuk memilih mana yang baik untukmu dan untuk masa depanmu." Ucap Kazza mencoba menasehatinya.


Disaat itu juga, Vella semakin dilema dengan penuturan dari Kazza. Semakin banyak yang memberi nasehat, semakin menciut nyalinya untuk memberontak.


"Aku mengerti maksudmu, baiklah aku akan menjawabnya. Semoga jawabanku ini tidak akan mengecewakan semuanya, termasuk diriku sendiri." Jawab Vella dengan nekad.


"Katakan saja, jawaban apa yang akan kamu berikan. Percayalah, semua akan lapang mendengarkannya." Ucap Kazza dengan serius.


"Aku menerima perjodohan ini, stop! jangan dibahasnya lagi. Tentukan saja tanggal pernikahannya, aku tidak ingin malu dilihatnya." Ucap Vella , kemudian menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya karena malu.


Semua tersenyum mengembang dan saling menoleh saat mendengar jawaban Vella yang begitu jelas ditelinganya masing masing.

__ADS_1


__ADS_2