Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Amarah yang memuncak


__ADS_3

Afna pun masih berdiri didekat ibu mertuanya sambil mengamati lemari yang tengah ditunjuk oleh suaminya. Namun beda dengan Afna, justru Afna begitu sangat jeli memperhatikannya.


"Tunggu, itu sejenis pengalihan. Coba raba dari berbagai arah, pasti ada sesuatu yang sedikit kasar." Ucap Afna sambil menatap serius lemari yang tengah dibuka sangat lebar, kedua orang tua Zayen pun ikut penasaran dengan apa yang sudah dikatakan oleh menantunya.


"Kamu yakin? mendapat teknik dari mana kamu?" tanya sang suami sedikit ragu.


"Dicoba saja, nanti baru aku jelaskan." Jawab Afna dengan serius.


Zayen pun mengangguk dan menuruti ucapan dari istrinya, meski sedikit ragu. Zayen mencoba untuk mempercayai teknik dari istrinya. Meski dirinya sedikit ragu, namun apa salahnya untuk mempercayai istrinya.


Dengan pelan, Zayen masuk kedalam lemari tersebut. Ditatapnya sesuatu yang membuatnya penasaran, dan ingin segera ia berhasil menemukan sesuatu yang menurutnya sangat berarti.


Dengan sangat hati hati, Zayen merabanya dari berbagai arah.


DEG!!! seketika itu juga, Zayen sontak kaget. Dirinya seperti tidak percaya dengan apa yang dirabanya. Zayen pun mengangguk, segera ia memutar benda yang terasa keras dan memutarnya.


Klek. Sesuatu telah terbuka olehnya, kedua bola mata milik Zayen terbelalak melihatnya.


Kedua orang tua Zayen maupun Afna langsung mendekatinya, rasa penasarannya pun semakin menggebu.


Zayen sendiri segera membukanya, sang ayah berada dibelakangnya.


Berkali kali Zayen merogohnya namun tidak ia dapatkan, perasaan gelisah kini tengah menghantuinya.


"Sial!!" teriak Zayen dengan penuh kekesalan.


"Maksud kamu?" tanya sang ayah yang semakin penasaran.


"Didalam tidak ada apa apa lagi, didalamnya kosong tidak lagi tersisa." Ucap Zayen penuh kekesalan, tubuhnya pun mendadak lemas seketika. Sang ayah pun ikut lemas mendengar penuturan dari putranya. Tidak hanya itu, sang ibu maupun Afna ikut terkejut saat Zayen tidak menemukan apa apa dari tempat rahasia milik ayah asuhnya.

__ADS_1


Drrtttt ... drrrttt ... drtttt ... disaat itu juga, ponsel milik Zayen tengah bergetar. Dengan cepat, Zayen langsung membukanya.


Dilihatnya pesan yang tengah masuk keponsel milik Zayen, seketika itu juga Zayen langsung membuka pesannya.


Kamu pasti sedang kesal, bukan? kamu pikir aku ini bo*doh. Aku yakin, bahwa kamu sangat ingin mencari keberadaanku. Sayangnya, kamu tidak dapat menemukanku. Karena kamu sangat bo*doh, dan du*ngu.


Pesan yang diterimanya pun membuat darah Zayen mendidih seketika, rahangnya mengeras, sorot matanya semakin tajam. Kedua tangannya pun mengepal sangat kuat, serasa ingin menghabisi lawannya.


Kedua orang tuanya pun segera menenangkan suasana hati milik Zayen, meski dirinya belum mengetahui isi pesan yang diterima oleh putranya.


"Tenangkan pikiran kamu, jangan dibuat emosi. Katakan pada Papa, pesan apa yang kamu terima." Ucap sang ayah berusaha untuk menenangkan putranya.


"Zayen semakin geram dibuatnya, Pa. Sampai kapan kita akan terus mendapat teror dari orang misterius itu, Zayen benar benar ingin segera menangkapnya." Jawab Zayen sembari mengenggam erat ponselnya.


"Apakah pesan yang kamu Terima juga masuk ke ponsel Viko?" tanya sang ayah.


Drrrttt ... drttt ... drrrttt ... ponselnya pun bergerak kembali, dengan sigap langsung membuka pesan yang tengah masuk ke ponselnya.


Jangan harap, istri dan calon anak kamu akan selamat.


Lagi lagi, Zayen semakin geram dibuatnya. Nafasnya pun terasa panas, kedua tangannya semakin kuat untuk mengepal.


Dengan cepat, ayahnya langsung merampas ponsel dari tangan putranya. Segera tuan Alfan membaca pesan yang baru saja masuk, emosinya pun ikut memuncak.


"Kurang ajar!!! aku pastikan, aku akan menangkapnya. Seketika itu juga tuan Alfan langsung memberikan ponsel milik putranya kepada istrinya.


Zayen sendiri masih mematung dengan penuh kekesalannya. Afna segera mendekati suaminya berusaha untuk menenangkan, berharap tidak semakin gegabah dengan menuruti emosinya.


"Zayen, ayo kita pulang. Papa benar benar sudah tidak sabar untuk menangkap siapa dalang dari semua ini, aku yakin pasti akan segera kita temukan." Ucap sang ayah sambil menepuk nepuk punggung putranya, seakan memberi kekuatan untuk terus bersabar.

__ADS_1


"Baik, Pa. Zayen akan segera menemui Viko, mungkin saja ada perkembangan darinya." Jawab Zayen yang masih diselimuti kekesalan, kedua orang tua Zayen pun segera keluar dari kamar diikuti anak dan menantunya dari belakang.


Deg!!!


Afna pun kaget dibuatnya. Disaat dirinya melangkahkan kakinya, tiba tiba Afna serasa menginjak sesuatu di lantai. Seketika itu juga, Afna menghentikan langkah kakinya.


"Sayang, kenapa berhenti?" tanya Sang suami heran.


"Sepertinya aku menginjak sesuatu, coba aku lihat." Jawab Afna, kemudian segera melihatnya kebawah. Begitu juga dengan Zayen yang ikut penasaran dan melihat ke bawah kaki istrinya.


Afna segera berjongkok untuk mengambil sebuah gulungan kertas kecil dibawah kakinya. Kemudian, segera ia memberikannya kepada suaminya. Zayen pun menerimanya, dan langsung membuka gulungan kertas kecil.


Pelan pelan, Zayen membukanya. Rasa penasarannya pun mulai menghantui pikirannya.


Teruntukmu, Zayen.


Maafkan papa yang sudah pernah membuatmu menderita, bukan maksud papa untuk menyiksamu. Kamu tahu? istriku adalah bagian dari keluarga seseorang yang telah menculikmu, papa selalu dipantau kemanapun papa melangkah. Papa tidak bisa berbuat apa apa untukmu, karena ada Seyn yang akan menjadi ancaman. Papa harus merelakan kamu untuk menjadi korban kebia*dabannya, maafkan papa. Sungguh, papa sangat menyayangimu. Namun, begitu lemahnya papa yang tidak bisa membuatmu terlindungi. Satu hal, jaga istrimu dan calon anak kamu jika istri kamu sudah hamil. Ancaman besarnya adalah calon anak kamu dan saudara kembarmu. Pelakunya adalah .... Or tanyakan saja pada keluarga besarmu. Maafkan papa, yang tidak bisa memberi nama yang lengkap.


Begitulah isi pesan pada sebuah lembaran kertas yang tergulung kecil yang terikat pita, Zayen pun mengusap wajahnya kasar dan sedikit sesak untuk menarik nafasnya.


Disaat itu juga, ayahnya sudah berada di dekatnya. Kemudian langsung menyambar lembaran kertas yang berada pada tangan milik Zayen.


Dengan seksama, tuan Alfan membacanya dengan sangat teliti. Bahkan tidak terlewatkan satu kosa katapun, sangat teliti.


Sebaris demi sebaris, tuan Alfan telah membacanya hingga pada terakhir kalimatnya.


Kertas itupun segera diremas nya sangat kuat, hingga menjadi kepalan kertas. Sang istri pun ikut penasaran tatkala melihat suaminya yang terlihat semakin emosi, kedua matanya mendadak tajam setajam mata elang yang siap memburu mangsanya.


"OR, aku tidak salah lagi. Bahwa kamu rupanya pelakunya, lihat saja setelah ini. Aku tidak akan segan segan menangkapmu, tunggu saja. Aku pastikan kamu akan segera membusuk didalam penjara, aku tidak akan pernah memaafkan kamu. Tidak aku sangka, bahwa kamu bisa sekejam ini kepada putraku yang masih bayi." Ucapnya menggerutu lumayan cukup terdengar dengan jelas.

__ADS_1


__ADS_2