
Pagi hari yang cukup cerah, Kazza disibukkan dengan aktivitasnya. Apa lagi kalau bukan olahraga mengelilingi rumah kompleknya. Meski memiliki halaman cukup luas, Kazza memilih olahraga dipinggir jalanan.
Dengan nafasnya yang terengah engah, Kazza tengah lari lari kecil.
"Hei, Kazza." Seru seorang perempuan tengah memanggilnya, kemudian menghampiri Kazza yang tengah berhenti. Kazza segera menoleh kearah sumber suara.
Dilihatnya seorang perempuan yang tidak asing dipenglihatannya.
"Sera, ada apa?" tanya Kazza.
"Tidak ada apa apa, aku hanya ingin menyampaikan pesan dari teman teman sekolah kita dahulu. Bahwa hari minggu besok akan ada acara reuni bersama teman satu angkatan. Jangan lupa, bawa pasangan kamu. Jika tidak ada pasangan, kita bisa berangkat bersama." Jawabnya sedikit mencari perhatian, namun sayangnya Kazza tidak meresponnya.
"Aku tidak bisa janji, katakan saja dimana teman teman lainnya berkumpul. Aku usahakan untuk datang, tapi aku juga tidak janji." Ucap Kazza.
"Baiklah, aku akan menghampirimu jika kamu akan berangkat." Jawabnya penuh semangat.
"Kalau begitu, aku mau pulang." Ucap Kazza, kemudian pergi begitu saja. Sedangkan Sera hanya tersenyum getir, tatkala melihat sikap dingin Kazza yang tidak pernah berubah.
"Kenapa sih, dari dulu Kazza masih saja dingin. Sampai kapan coba, mau ngejomblo terus." Gerutu Sera dengan kesal.
Sesampainya dirumah, Kazza bergegas masuk ke kamar untuk membersihkan diri.
"Kazza," seru sang ayah memanggilnya. Kazza yang merasa dipanggil, segera ia menoleh kebelakang.
"Papa, ada apa?" tanya Kazza.
"Hari ini, kamu akan ada pertemuan dengan perusahaan baru milik keluarga Gantara. Papa berharap, kamu melakukan kerja sama yang baik."
DEGG!!
__ADS_1
Seketika, nafas Kazza terasa berat untuk bernafas.
"Iya, Pa." Jawab Kazza singkat, kemudian kembali menapaki anak tangga untuk segera masuk ke kamar dan membersihkan diri.
Sesampainya di dalam kamar, Kazza meraih ponselnya dan memberi pesan pada kisekretarisnya. Kemudian meletakkannya kembali ponselnya dan segera mandi.
"Kenapa Papa memintaku untuk melakukan pertemuan dengan keluarga Gantara? apa jangan jangan ... Vella, Iya! pasti Vella yang akan datang di pertemuan nanti. Mau Papa apaan lagi sih? andai saja ini bukan permintaan Vella, aku sudah mengatakannya jika Vella lah yang meminta dibubarkan perjodohan itu." Gerutunya sambil mengacak rambutnya yang tidak gatal, lalu segera masuk ke kamar mandi.
Setelah selesai, Kazza segera bersiap siap untuk berangkat ke Kantor. Saat menuruni anak tangga, dilihatnya di ruang makan yang terasa sepi. Tidak lagi seperti dulu, dikala usianya yang masih muda. Berkumpul bersama keluarga dengan lengkap, kini menjadi sepi tanpa adanya saudara kembarnya maupun kakek neneknya.
Sesampainya di ruang makan, kazza segera duduk berhadapan dengan kedua orang tuanya.
"Kazza," panggil ibunya.
"Iya, Ma." Jawab Kazza sambil meraih piring yang ada depannya.
"Kenapa kamu terlihat lesu begitu?" tanya sang ibu sambil memperhatikan putranya.
"Oooh, Mama kira kamu sedang sakit." Ucap sang ibu menebak.
"Tidak kok, Ma." Jawabnya singkat.
"Ya sudah, hentikan dulu obrolannya. Ayo kita sarapan, nanti rasanya menjadi hambar." Perintah dari sang ayah, sedangkan Kazza dan sang ibu hanya mengangguk dan menikmati sarapan paginya.
Setelah usai sarapan, Kazza segera berangkat ke Kantor. Sedangkan sang ayah dan ibunya berangkat ke Restorannya.
Selama perjalanan berangkat ke Kantor, Kazza kembali teringat saat saat dirinya bersama Vella. Entah godaan dari mana, fikiran Kazza teringat saat sebuah permintaan dari Vella yang menginginkan untuk membatalkan pernikahannya.
Mau tidak mau, Kazza menerima permintaan itu. Ditambah lagi, Vella memintanya untuk mengatakan pada kedua belah pihak kluarga. Jika dirinyalah yang membatalkan pernikahannya. Meski berat untuk mengungkapkannya, Kazza rela melakukannya.
__ADS_1
"Kenapa lagi ini otakku, Vella, Vella, dan Vella!!" Gerutu Kazza sambil memukul setianya berkali kali.
Sedangkan di seberang jalan sana, tengah terdengar ada keributan. Hingga membuat Kazza penasaran ingin melihatnya. Kemudian, segera ia menepikan mobilnya dipinggir jalanan. Lalu, menghampiri kerumunan banyak orang.
"Heh! kamu harus bertanggung jawab atas mobilku yang dibuat penyok oleh ulah kamu itu. Asal kamu tahu, mobilku ini sangat mahal dan tidak sebanding dengan gaya kamu ini. Motor kamu memang ok, tapi jauh perbandingannya dengan mobilku." Ucap sipemilik mobil dengan sadis.
"Bukankah aku sudah bilang, aku minta maaf. Lagian aku siap untuk mengganti rugi mobil kamu itu, katakan saja berapa biayanya." Jawab si pemilik motor.
"Aku tidak percaya sama kamu, uang dari mana kamu. Memangnya kamu pikir, kamu orang tajir. Palingan juga cuman orang kaya baru dan belagu. Ujung ujungnya setelah aku minta ganti rugi, kamunya kabur." Ucapnya terus memojokan.
"Lantas, aku harus membayarnya dengan apa? di ganti rugi, tidak mau. Ya sudah, berarti sudah lunas. Permisi, aku mau berangkat kerja." Jawabnya, kemudian segera menaiki motornya.
"Heh! mau kemana, sekarang juga kamu bawa mobilku ke bengkel mobil dan servis dengan benar. Aku tidak mau tahu, pokonya aku kembali harus sudah beres dan terlihat tidak ada kecacatan dengan mobilku. Kalau sampai kamu gagal, aku akan memenjarakan kamu." Ucapnya mengancam. Sedangkan perempuan sang pemilik motor hanya tersenyum, kemudian ia segera menelfon seorang servis mobil.
"Vella, Sera." Ucap Kazza lirih, namun Sera sudah dapat menangkap keberadaan Kazza. Lalu menghampirinya.
"Kazza, beruntunglah aku. Akhirnya kamu datang kemari tanpa aku minta. Lihatlah, mobilku dibuat hancur oleh perempuan yang sok kaya itu." Ucap Sera sambil menunjuk ke arah Vella yang sedang berdiri didekat mobil milik Sera. Sedangkan Kazza hanya tersenyum getir mendengarnya, namun tetap saja pandangannya tertuju pada Vella.
Vella yang melihat Kazza yang tiba tiba datang, ia segera pergi dari tempat tersebut setelah menghubungi salah satu servis mobil yang sudah dijadikan langganan keluarganya.
"Urusannya sudah selesai, 'kan? ya sudah, aku pergi. Aku kira ada apa ramai ramai ditengah jalanan. Rupanya kamu, aku kira ada keributan apa." Jawab Kazza, kemudian segera pergi.
"Kazza, tunggu." Seru Sera memanggilnya, Kazza pun menoleh kebelakang. Sera sendiri segera mendekatinya.
"Aku ikut bersamamu boleh, 'kan? mobilku harus di servis. Tidak mungkin aku naik taxi, orang tuaku melarangku naik taxi. Jugaan kelamaan jika aku meminta supir di rumah untuk menjemputku." Ucap Sera penuh harap.
Kazza hanya mengangguk, kemudian segera menuju mobilnya. Sera pun mengikutinya dari belakang.
Disaat itu juga, Kazza berjalan melewati Vella yang terlihat sibuk dengan motornya.
__ADS_1
"Makanya, beli mobil. Motor bagus, tapi suka ugal ugalan. Percuma, mendingan kamu pakai motor buntut saja. Kasihan, tidak mempunyai pacar. Pasti kerepotan, begitu belagunya mau ganti rugi. Awas! ya. Kalau sampai kamu kabur, aku pastikan kamu akan jatuh miskin semiskinnya." Ucapnya mengancam, sedangkan Kazza langsung menarik tangan Sera.