
Setelah merasa gerah dan cukup untuk menjadi model yang seperti diinginkan oleh ibunya, Zayen kembali mengganti penampilannya yang sederhana. Setelah itu, Zayen segera keluar dan kembali masuk kedalam mobil.
Zayen kembali duduk di sebelah ibunya, sesambil sang ayah duduk didepan menemani pak Supir.
"Zayen, bagaimana kalau sekarang kita ke warung makan terlebih dulu atau ke Restoran? karena Mama belum mengetahui kesukaan kamu dan kebiasaan kamu. Jadi katakan saja apa yang kamu sukai, Mama dan Papa tidak akan pernah menolaknya." Ucap sang ibu yang sudah terasa lapar.
"Ke warung makan saja, Ma. Zayen lebih menyukai tempat biasa, dipandang tidak silau." Jawab Zayen yang lebih memilih kesederhanaannya seperi hari hari biasa sebelumnya.
"Baiklah, sekarang Mama yang gantian nurut dengan kamu." Ucap sang ibu.
"Setelah ini kamu mau kemana? pulang atau .... ke makam orang tua asuh kamu, siapa tahu kamu ingin ke makamnya. Jika kamu belum siap, Mama tidak memaksamu." Ucap sang ibu berusaha untuk tidak membuat putranya menyalahkan diri sendiri, mau bagaimanapun ayah dari Seyn sudah membesarkan Zayen dari bayi hingga tumbuh dewasa. Meski membesarkannya dengan cara yang salah sekalipun, namun tidak membuat Zayen membencinya.
"Iya Ma, Zayen ingin mendatangi makam papa. Mau bagaimanapun papa tetaplah papa, walaupun sebatas seorang pengasuh. Karena berkat papa Argan lah, Zayen bisa bertemu Papa dan Mama. Meski dengan cara yang sangat menyakitkan sekalipun, Zayen tetap bersyukur. Jika Zayen diasuh oleh orang lain, belum tentu nasib Zayen akan sebaik ini. " Jawab Zayen tetap berbaik sangka kepada ayah asuhnya.
"Kamu yang sabar ya, sayang. Semua sudah mempunyai takdir masing masing, kita cukup nerimanya dengan lapang dan tetap berusaha untuk melakukan sesuatu yang lebih baik lagi." Ucap sang ibu mencoba meyakinkan putranya, berharap tidak terus terusan larut dalam kesedihannya.
"Iya Ma, Zayen mengerti. Bagaimana dengan istri Zayen, apakah Afna mau menginap di rumah Mama?" tanyanya penasaran.
"Tentu saja, dulu Afna sering menginap dirumah paman kamu Ganan. Waktu dulu Mama belum berani menempati rumah milik kakek kamu, karena Mama sangat terpukul saat kehilangan kamu. Mama memutuskan untuk tinggal di Amerika, padahal Mama berencana untuk tinggal di Tanah Air sementara waktu. Namun takdirmu berkata lain, bahwa kamu harus berpisah dengan Mama." Jawabnya menceritakan.
"Sudahlah, Ma. Tidak perlu diingatnya lagi, cukup dijadikan kenangan. Sekarang kita sudah dapat berkumpul kembali seperti yang kita harapkan, dan pastinya kita tetap bersyukur." Ucap Zayen sambil bersandar pada pundak ibunya, seraya merindukan belaian seorang ibu.
__ADS_1
Zayen yang terbilang dingin terhadap orang lain, namun dirinya tidak mampu untuk melakukannya dengan orang orang yang ia kenali dengan dekat. Meski dengan sikapnya yang dingin, Zayen tetap menunjukkan sikap santun pada orang lain.
Setelah memakan waktu yang cukup lama, kini telah sampai di pemakaman umum. Kedua orang tua Zayen maupun Zayen sendiri segera melepas sambung pengamannya, kemudian segera turun dari mobil.
Karena merasa tidak mengetahui tempatnya, Zayen bertanya kepada salah satu penjaga malam tersebut. Setelah mendapat petunjuk dari penjaga malam, Zayen dan kedua orang tuanya segera mendatanginya.
Perasaan sedih, itu pastinya. Zayen hanya bisa menatap pusaran yang berada dihadapannya, ia benar benar tidak menyangkanya jika sang ayah asuhnya kini sudah berpulang untuk selama lamanya.
Berkali kali sang ayah kandungnya menepuk nepuk punggung milik putranya dengan pelan, seraya memberi ketegaran tentang semua yang kini telah terjadi.
"Semua akan menyusulnya, entah kapan itu waktunya. Kita hanya menunggu sambil memperbaiki diri, sebelum semua terlambat." Ucap sang ayah menasehati.
"Kita pulang, atau ... kamu ingin mendatangi rumah papa Arganta. Siapa tahu saja ada sesuatu yang kamu tinggal, dan belum sempat kamu ambil." Ajak sang ayah mengingatkan putranya.
"Tidak ada, selain rasa penasaran Zayen dengan kamar Papa. Dari kecil Zayen selalu dilarang untuk masuk kedalam kamar Papa, entah apa maksudnya. Sampai sekarang pun, Zayen belum pernah masuk. Tapi ... bukankah rumah Papa juga disita? mana mungkin kita bisa kesana, Pa? mustahil." Jawab Zayen dengan lesu.
"Papa sudah melunasinya, Seyn juga berhak memiliki tempat tinggal. Dan sekarang juga akan Papa antar kamu untuk mendatangi rumah yang pernah kamu tempati." Ucap sang Ayah.
"Iya, Nak. Siapa tahu ada titik terang dengan kasus tentang penculikan kamu, Mama pun juga penasaran." Ucap sang ibu meyakinkan.
"Terimakasih banyak ya, Pa. Maafkan Zayen yang sudah banyak merepotkan Papa, tidak seharusnya Papa ikut sibuk melakukan semua ini." Jawab Zayen merasa malu.
__ADS_1
"Kamu lupa, kamu siapa? kamu adalah anak Papa dan Mama. Apapun yang Papa punya adalah milikmu dan milik Adelyn, bukan milik orang lain. Milik orang lain hanya sebagian dari harta kita untuk di bagikan kepada orang orang membutuhkan." Ucap sang Papa meyakinkan putranya, Zayen hanya mengangguk.
"Sudah, ayo kita pergi dari sini. Nanti keburu kemalaman pulangnya, kasihan Afna sudah menunggu lama." Ucap sang ibu ikut menimpali.
Disaat itu juga, Zayen teringat akan istrinya. Dengan berat hati, Zayen menolak ajakan kedua orang tuanya.
"Ma, sepertinya besok saja kita mendatangi rumah Papa Arganta. Zayen tidak tega melihat Afna yang sudah menunggu, sekarang saja sudah hampir sore." Ucap Zayen yang teringat akan istrinya yang berada dirumah orang tuanya.
"Mama ngerti maksud kamu, sayang. Baiklah, sekarang kita pulang. Sebelumnya kita makan dulu di Restoran dekat sini saja, takutnya nanti dirumah sudah pada tidur. Perjalanan cukup jauh untuk pulang kerumah, jadi kita makan malam bersamanya ditunda dulu. Kamu jangan khawatir, istri kamu tidak kesepian. Ada Adegan dirumah yang bisa menemani istri kamu, bukankah sangat bagus memberi kejutan saat istri kamu sudah terlelap dari tidurnya." Jawab sang ibu.
"Ada benarnya juga dengan yang Lama katakan, Zayen setuju dengan pendapat Mama. Kalau begitu kita pulang ya, Ma, Pa." Ucap Zayen, kedua orang tuanya pun mengangguk.
Selama perjalan sampai Restoran hingga kembali melanjutkan perjalanan, Zayen terus memikirkan Afna. Hingga tidak ia sadari, bahwa dirinya telah sampai didepan rumah kedua orang tuanya.
Zayen benar benar tidak pernah menyangkanya, jika ia masih memiliki kedua orang tua dan dari keluarga yang terpandang.
"Hem ... kenapa kamu melamun? sudah tidak sabar ingin bertemu Afna, ya? hayo ngaku." Ledek sang ibu sambil melepaskan sabuk pengamannya.
"Mama, Zayen kan jadi malu." Jawab Zayen tersenyum malu, kemudian segera ia melepaskan sabuk pengamannya sambil mengontrol detak jantungnya.
'Ini jantung kenapa mendadak seperti detak jantung anak ABG segela sih, bikin malu saja.' Batinnya mengutuki dirinya sendiri.
__ADS_1