
Devin pun tersenyum dan mengangguk didepan Adelyn, serasa ia menemukan seorang kakak perempuan.
Disaat sedang berbicara dengan Devin, Adelyn melihat anak anak sedang sibuk bersih bersih dan merapihkan tempat tempat yang terlihat belum rapi.
"Dari pada kita hanya mengobrol, bagaimana kalau kita ikut bersih bersih bersama mereka?" tanya Adelyn untuk mengajak bersih bersih.
"Bagus juga ide kamu, bagaimana Dev? kita ikut mereka bersih bersih. Setelah itu, kita akan makan siang bersama. Tadi kakak sudah memesan makanan untuk kita semua. Jadi, ayo kita bantu teman teman kamu." Jawab Viko dan mengajaknya untuk bersih bersih.
"Iya kak, Devin juga mau ikut membantu teman teman." Jawabnya, kemudian Viko berjalan dan diikuti Adelyn dan Devin menuju anak anak yang sedang bersih bersih.
"Kak Viko, kak Viko, kak Viko." Sapa anak anak sambil bersih bersih memanggil nama Viko.
"Selamat siang adik adik, hari ini kakak mau bantu kalian ikut bersih bersih. Ayo kita semangat, biar cepat selesai. Oh iya kakak lupa, kenalin, namanya kak Adelyn." Jawab Viko dan memperkenalkan calon istrinya.
"Hai ... kak Adelyn, selamat datang di rumah Kita Bersama." Sapa dengan serempak oleh anak anak, Adelyn pun tersenyum mendapat keramahan dari anak anak.
"Terima kasih adik adik... kak Adelyn sangat senang bisa bertemu dengan kalian semua, salam kenal dari kakak, ya ..." Jawab Adelyn kembali tersenyum.
'Padahal aku sangat menyukai Viko, tapi kenapa perempuan itu yang beruntung. Apakah dia anak orang kaya, sehingga Viko jatuh hati dengannya. Kenapa perasaanku sesakit ini sih, harus menerima kenyataan pahit ini. Kenapa juga perempuan itu ikut datang kesini, menyebalkan." Batinnya yang penuh kesal.
Heni pun tidak ambil diam, ia segera menghampiri Viko yang sedang ikut bersih bersih bersama calon istrinya dan juga anak anak yang lainnya.
Nafas milik Heni pun terasa sesak, kekesalannya juga tengah menguasai emosinya. Secepat mungkin, ia segera mendekati Viko.
"Aw!!!" teriak Heni sekencang mungkin sambil mengusap usap bagian betis kakinya, semua ikut menoleh kearah sumber suara. Viko dan Adelyn segera mendekati Heni yang sudah terjatuh.
"Kamu tidak apa apa?" tanya Viko, sedangkan Adelyn melirik ke calon suaminya. Kemudian melihat ekspresi Heni yang menurutnya sangat mencurigakan itu. Viko yang kemudian jongkok, lalu diikuti Adelyn yang ikutan jongkok disebelah Viko.
"Kakiku sakit, Vik. Kamu bisa bantu gendong aku, tidak?" jawabnya dan memelas.
__ADS_1
Viko yang merasa tidak ingin membuat Adelyn cemburu, ia menoleh kearah Adelyn untuk meminta respon dari calon istrinya itu. Adelyn pun menarik nafasnya dengan berat, dan mengeluarkannya dengan pelan.
Adelyn mencoba untuk tetap tenang, dan tentunya mencari ide untuk tidak menyakiti perasaannya sendiri.
"Tenang saja, Aku ada ide. Kamu minta di gendong, 'kan? aku yang akan menggendongmu sampai didalam." Ucap Adelyn menawarkan diri. Heni pun tercengang mendengarnya, ia merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan Adelyn. Begitu juga dengan Viko, ia juga kaget mendengar ucapan dari calon istrinya itu.
'Aku tahu, Adelyn pasti cemburu. Makanya itu, ia menawarkan diri untuk menggendong Heni. Tapi apa benar, jika Adelyn bisa menggendong Heni. Takutnya, apa yang dikatakan Heni barusan benar benar kenyataan jika keduanya akan jatuh bersamaan.' Batin Viko yang kepikiran dengan calon istrinya.
"Tidak perlu, aku tidak ingin merepotkan kamu. Nanti yang ada kita bisa jatuh bersamaan, biar Viko saja yang menggendongku." Ujar Heni yang terus berusaha untuk mendapatkan perhatian dari Viko.
'Ayo dong Vik, gendong aku. Setidaknya aku bisa mencari kesempatan ini denganmu, aku tidak ingin kehilangan kamu.' Batinnya penuh harap, meski caranya sangatlah salah besar. Namun, keinginnya tidak menyurutkan untuk mencapai keinginannya.
Seketika itu juga, Viko baru teringat jika Adelyn mempunyai tenaga yang kuat. Selain bisa balap motor, Adelyn juga bisa bela diri. Viko masih ingat jelas dengan apa yang pernah diceritakan oleh calon ayah mertuanya tentang calon istrinya itu.
"Kamu jangan khawatir, Adelyn bisa melakukannya. Percayalah denganku, kamu tidak perlu takut." Ucap Viko meyakinkan Heni, dan tentunya ia tidak ingin melukai perasaan calon istrinya.
"Sudah, kamu tidak perlu takut." Ucap Adelyn, kemudian segera mengangkat Heni dengan mudahnya.
Seketika itu juga, Heni tercengang melihatnya. Ia benar benar tidak menyangka jika Adelyn melakukannya dengan mudah.
"Aku bilang apa, calon istriku bisa melakukannya. Karena apa? istriku bagian dari anggota bela diri, pasti bisa melakukannya." Ucap Viko menjelaskannya pada Heni, lagi lagi Heni tidak bisa berkutik. Ia pun menyerah, apalagi tenaga Adelyn jauh lebih kuat dari dirinya sendiri.
"Oh, aku baru tahu." Jawabnya singkat.
'Yang benar saja, semudah inikah perempuan ini menggendongku.' Batinnya semakin kesal.
'Kamu pikir aku ini bodoh, kakimu ini sebenarnya tidak sakit. Kamu itu hanya berpura pura, dan mau mencari kesempatan. Lihat saja, kamu tidak akan pernah bisa melakukannya padaku.' Batin Adelyn yang juga kesal dengan perbuatan Heni yang sengaja untuk mencari kesempatan.
"Apakah masih ada yang sakit?" tanya Adelyn setelah menurunkan Heni ke kursi panjang.
__ADS_1
"Ada, tolong urut kakiku ini ya, Vik." Jawabnya dan menatap ke arah Viko yang sudah berdiri di dekat Adelyn.
Seketika itu juga, Adelyn menoleh kearah Viko. Sedangkan Viko yang mendapati tatapan dari Adelyn mengerti apa yang dimaksudkannya.
"Maaf Hen, tanganku sedikit sakit. Tapi tenang saja, aku akan segera menghubungi tukang pijat." Jawab Viko yang juga beralasan, ia sendiri tidak mungkin untuk melakukannya.
"Tidak perlu, biar aku yang menghubungi tukang pijatnya." Ucap Heni yang merasa gagal dengan apa yang sudah ia rencanakan.
"Heni, kenapa kamu Nak?" tanya ibu Rani penasaran.
"Tidak apa apa kok, Bu. Ini hanya terkilir biasa, nanti juga sembuh." Jawab Heni beralasan.
"Serius? nanti kaki kamu sakit. Bagaimana kalau ibu panggil tukang urut?" tanya ibu Rani.
"Tidak perlu, Bu." Jawabnya menolak.
"Oh iya nak Viko, apakah tadi kamu yang memesan makanannya? tadi ada seseorang yang mengantarkan pesanan kemari." Tanya ibu Rani.
"Iya Bu, tadi Viko yang memesan. Viko ingin mengajak anak anak untuk makan siang bersama. Sekalian ingin mengundang di acara pernikahan kami." Jawab Viko menjelaskan.
"Oooh, berarti orang tadi tidak berbohong. Sebelumnya ibu ucapkan banyak terima kasih, nak Viko." Ucap Ibu Rani.
"Ibu tidak perlu berterima kasih kepada Viko, ini sudah menjadi tanggung jawab Viko." Jawabnya.
"Ya sudah kalau begitu, ayo kita makan siang bersama. Ibu tadi sudah menyiapkannya bersama Heni." Ajak Ibu Rani.
"Iya, Vik. Tadi aku mau memanggilmu untuk makan siang, tapi kakiku keburu terkilir." Ucap Heni beralasan.
Maafkan otor, hari ini updatenya telat lagi. Otornya lagi di gunung,tepatnya di pantai dan tidak ada sinyal. Jadi, ketika pulang baru ke review. Besok di usahakan crazy up, semoga.
__ADS_1