Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Kesedihan Viko


__ADS_3

Zayen masih berusaha untuk tenang, berharap dapat mengambil keputusan yang tepat.


"Mana nyali kamu, Zayen! jangan jadi pengecut, kamu." Ucap Seyn memancing emosinya sang adik.


Zayen masih pada posisinya tanpa bersuara, seakan sedang mencari celah untuk menghabisi musuhnya. Sedangkan Seyn sudah mengusap lembut pistolnya sambil menunjukkan kemampuannya, bahwa dirinya jauh lebih hebat dari sang adik.


"Aku akan memilih keduanya, orang tua dan juga istri." Ucap Zayen dengan santai tanpa memegang sebuah pistol di tangannya.


"Apa aku tidak salah dengar, aku memberimu pilihan untuk memilih salah satu. Bukan keduanya, bodoh."


"Cepat! katakan, kamu pilih kedua orang tua kamu atau istri kamu." Atau .... pistol ini yang akan mengarahkan ke otak kamu." Ucapnya lagi dan mengusap usap lembut pistolnya sambil melirik kearah Zayen.


Sedangkan Zayen masih tenang, bahkan tanpa ada rasa takut sedikitpun saat sang kakak sudah memperlihatkan pistolnya.


Dor!! Dor!! Dor!! kalian sudah di kepung! letakkan senjata kalian. Suara polisi yang tidak jauh dari pandangan masing masing.


Seyn, tuan Arganta, Viko, dan juga Zayen, maupun anak buahnya masing masing dibuat kaget bukan main. Tidak hanya itu, yang lebih kaget lagi adalah Seyn dan juga tuan Arganta. Keempatnya masih dengan posisinya masing masing, satupun tidak ada yang melepaskan senjatanya. Diantara anak buah yang lainnya ada yang berusaha untuk kabur, dan ada juga memilih untuk bertahan ditempatnya. Hanya anak buah pilihan milik Zayen yang berusaha untuk kabur.


"Bang*sat!!" Dor!! Dor!! zayen maupun Seyn sama sama menembak kearah polisi. Dua polisi pun mendapatkan sasaran dari Zayen dan juga Seyn. Keempatnya berusaha untuk kabur.


Dor!! Dor!! dengan cepat polisi dapat menembakkan tangan dan kaki milik Seyn, sedang tuan Arganta mendapatkan sasaran bahunya yang tertembak.


Tanpa pikir panjang, Zayen segera kabur bersama Viko melewati pintu rahasianya, sedangkan Seyn maupun tuan Arganta tidak bisa berbuat apa apa selain pasrah dengan nasibnya sendiri.


Beberapa polisi tengah mengejar Zayen dan juga Viko.


"Bos! kemana lagi kita akan kabur." Ucap Viko yang ketakutan.

__ADS_1


"Kita berpencar, kamu kekanan dan aku kekiri."


"Tidak, Bos. Kita jangan berpencar, aku tidak bisa kita berpisah." Ucap Viko dengan was was.


Dor!! suara tembakan sangat terdengar jelas oleh Viko dan juga Zayen.


"Ayo kita lari lewat jalan itu, Viko."


"Tidak, Bos. Itu jurang, sangat berbahaya." Jawab Viko yang masih merasa cemas, dirinya pun benar benar tidak sanggup jika harus mengakhiri hidupnya didalam sel tahanan.


"Ayo, Vik. Cepetan kita pergi dari sini, sebelum pilisi menemukan kita." Ucap Zayen sambil menarik kuat lengan Viko, keduanya pun berlari sekencang mungkin. Bahkan keduanya tidak peduli dengan adanya bebatuan ataupun pohon pohon yang penuh ranting menghalangi jalannya, keduanya tetap berusaha untuk melarikan diri dari kejaran polisi polisi.


"Itu orangnya, cepetan tembak mereka berdua." Ucap salah satu polisi sambil mengejar Zayen dan juga Viko yang sedang lari sekencang mungkin.


Dor!! Dor!! "aaaww!" Zayen pun terjatuh terkena dua tembakan pada kedua kakinya, dari salah satu polisi yang tepat pada sasarannya.


"Bos!! bagaimana ini, polisi semakin dekat." Ucap Viko sambil mengangkat tubuh Zayen.


"Tapi Bos! bagaimana dengan Bos Zayen."


"Aku bilang pergi, pergi! Vik!! cepat." Bentak Zayen dengan tatapan memohon.


Dengan berat hati, Viko berlari sekencang mungkin. Bulir air mata pada diri Viko pun jatuh membasahi kedua pipinya. Seakan perpisahan yang menyakitkan, membuat persaudaraan keduanya harus terpisah begitu saja.


'Bos, maafkan aku yang tidak bisa melindungimu. Maafkan aku yang tidak bisa membalas kebaikan kamu, sekarang kamu yang harus menerima kenyataan pahit ini. Aku janji, aku akan mencari bukti semuanya. Aku akan membalaskan dendam kepada orang sudah melakukan perbuatan ini terhadap kami, Bos.' Batin Viko sambil mengatur pernapasan nya saat merasa sudah jauh dari pandangan polisi.


Zayen tidak lagi berdaya, dirinya benar benar prustasi. Dirinya menyesal, bahwa dirinya tidak dapat meloloskan diri dari kejaran polisi. Zayen pun sudah pasrah dengan nasibnya yang saat ini, entah jawaban apa yang akan diberikan kepada sang istri. Jika dirinya berada didalam sel tahanan, sungguh dirinya tidak lagi sanggup menatap istrinya sendiri.

__ADS_1


Didalam perjalanan, Zayen nampak murung dan terlihat pucat. Bahkan, pikirannya pun menjadi kosong.


'Siapa sebenarnya pelakunya. Benar dugaanku, ternyata ada dalang dibalik semua ini. Aku yakin, Seyn dan papa lah umpan yang sebenarnya.' Batinnya sambil memejamkan kedua matanya dan menahan rasa sakit pada kedua kakinya.


Sedangkan di lain tempat, didalam rumah yang begitu besar. Ada sosok laki laki paruh baya yang sedang tertawa lepas sambil menikmati secangkir kopi pahit mendengar berita yang sudah lama ditunggu tunggunya.


"Alfan ... Alfan. Begitu mudahnya bagiku menghancurkan keluarga kamu, satu jengkal lagi aku akan berhasil." Ucapnya, kemudian menyeruput kopi pahitnya yang masih panas disertai tawanya.


Disatu sisi, tuan Tirta shok mendengar kabar tentang menantunya.


"Apa!! tidak mungkin, ini semua tidak mungkin. Ini pasti ulah Kazza yang tengah melaporkan kasus Zayen." Ucap tuan Tirta didepan istrinya, dengan cepat segera menemui putranya.


"Sayang, tunggu dulu. Jangan bersikap kasar terhadap Kazza, bicarakan baik baik dengannya." Pinta sang istri berusaha untuk melerai perdebatan putranya dengan suaminya.


"Kazza! cepat! buka pintunya." Bentak sang ayah sambil gedor gedor pintu kamar putranya, tuan Tirta pun sudah sangat geram dengan ulah putranya yang semena mena terhadap adik iparnya tanpa berpikir lebih panjang lagi.


Dengan santai, Kazza membuka pintu kamarnya.


"Papa, ada apa? kenapa papa terlihat kesal? apa ada masalah?" tanya Kazza memberondong berbagai pertanyaan.


"Jawab dengan jujur, katakan kepada papa. Apa benar, kamu yang sudah melaporkan Zayen."


"Iya, Pa. Kazza yang melaporkan Zayen, Kazza sudah sangat geram dengan Zayen yang sudah membohongi kita. Kazza sudah pernah mengatakannya dengan papa, untuk menyelidiki siapa sebenarnya Zayen. Sekarang Papa sudah tahu sendiri, 'kan? jika Zayen adalah bukan laki laki baik. Zayen pun tida pantas menjadi suami Afna, semoga saja Afna belum mengandung anaknya Zayen." Jawab Kazza dengan percaya dirinya didepan ayahnya sendiri.


Plak!! "kamu pikir semudah itu, Kazza." Ucap sang ayah sambil mendaratkan tamparannya ke pipi sebelah kiri milik putranya tanpa rasa kasihan.


"Kenapa Papa belain Zayen, seharusnya papa senang. Afna selamat dari penjahat seperti Zayen." Jawab Kazza dengan enteng, sedangkan sang Ayah sudah semakin geram mendengar penuturan dari putranya sendiri.

__ADS_1


Tuan Tirta benar benar sangat kecewa dengan keputusan putranya yang asal mengambil tindakan tanpa berpikir lebih panjang lagi.


Ada saatnya berjuang untuk kesetiaan, dan ada saatnya bahagia setelah melewati ujian. Semua akan indah pada Babnya. 😊


__ADS_2