
Viko segera mengenakan pakaiannya, dengan terburu buru Adelyn langsung masuk ke kamar mandi. Berusaha untuk menepis pikiran kotornya, sedangkan Viko hanya tersenyum tipis melihat tingkah istrinya itu.
"Selamat ... selamat, akhirnya aku bisa masuk kedalam kamar mandi." Gerutunya sambil bercermin, tidak menunggu lama segera membersihkan diri.
Setelah selesai, tiba tiba ia teringat akan sesuatu. Bahwa didalam kamar mandi tidak ada satu handuk pun yang terpajang, seketika tubuh Adelyn mendadak lemas.
"Bo*doh sekali aku tadi, ini kan bukan rumah orang tuaku. Kenapa aku sampai lupa membawa handuk saat masuk ke kamar mandi ini, sih. Benar benar sial, aku tidak bisa membayangkannya setelah ini. Kalau tiba tiba Viko memintanya padaku, aku harus bagaimana? haruskah aku memberikannya? ah! kenapa pikiranku jadi eror begini sih. Adelyn, ayo berpikir. Ayo, cepatlah berpikir." Gerutu Adelyn dengan pikirannya yang tidak bisa tenang, bahkan tanpa ia sadari hanya mondar mandir sambil mencari ide untuk bisa keluar dari kamar mandi tanpa was was.
Viko yang sedari tadi menunggu istrinya pun merasa ada sesuatu yang aneh didalam kamar mandi, seketika itu juga Viko teringat istrinya yang masuk ke kamar mandi tidak membawa handuk.
Tersenyum lebar terlihat jelas pada kedua sudut bibirnya, kemudian ia bangkit dari posisinya dan mengambilkan handuk untuk istrinya.
Tok tok tok tok.
"Apakah kamu sudah selesai?" tanya Viko dibalik pintu, seketika Adelyn kaget dibuatnya.
'Buka tidak, ya?' batinnya dengan cemas.
"Aku sudah selesai, tapi ..." jawabnya terhenti dan tidak mampu untuk melanjutkan kalimatnya.
"Buka pintunya, cepat." Perintah Viko, sedangkan Adelyn kembali berpikir untuk mencari ide. Namun, tetap saja tidak ditemukannya ide yang pas untuk situasinya itu.
"Ayo, buka pintunya. Apakah kamu tidak takut kedinginan? bagaimana kalau dobrak saja ini pintu? cepatlah, buka pintunya. Aku mau memberikan kamu handuk, aku tahu jika kamu lupa membawa handuk saat mau mandi." Pinta Viko membujuk, Adelyn sendiri masih terasa takut dan juga malu tentunya.
__ADS_1
Tapi, mau tidak mau Adelyn tetap nurut pada suaminya. Mau bagaimana pun ia tidak dapat melakukan penolakan akan suaminya itu. Dengan mengatur nafasnya pelan,Adelyn berusaha untuk tenang.
Dengan langkah kakinya yang pelan, Adelyn membuka pintu kamar mandi. Kemudian, ia berada dibalik pintu agar suami tidak melihatnya. Lalu Adelyn mengulurkan tangannya berharap suaminya memberikan handuk padanya.
Tanpa pikir panjang, Viko langsung masuk begitu saja. Kemudian Viko menutup kembali pintunya, seketika Adelyn langsung berjongkok dibalik pintu seperti bocah kedinginan.
Viko yang berdiri didepan istrinya pun tersenyum dan ikut berjongkok dan menutup tubuh istrinya dengan handuk, kemudian membantunya untuk berdiri.
"Kamu sudah menjadi istriku, kamu tidak perlu takut dan malu denganku. Jangan khawatir, aku tidak akan memaksamu. Karena aku tidak menyukai sesuatu dengan paksaan. Aku akan tetap sabar sampai kamu benar benar siap. Sekarang, segera kenakan pakaianmu. Aku akan membuatkan kamu wedang jahe, kamu pasti kedinginan didalam kamar mandi ini." Ucap Viko, kemudian menuntun istrinya untuk keluar dari kamar mandi. Setelah itu, Viko segera turun kebawah dan membuatkan minuman jahe untuk istrinya.
Sedangkan Adelyn sendiri segera mengenakan pakaiannya, ia terus terngiang atas ucapan dari suaminya itu.
Tidak memakan waktu lama, Adelyn sudah bersandar dikepala ranjang tempat tidur sambil meluruskan kedua kakinya dan menutupnya dengan kain selimut. Disaat sedang mengatur pernapasannya agar tidak menjadi tegang, tiba tiba Viko membuka pintu kamar dan masuk dengan membawakan satu gelas minuman hangat untuk istrinya.
"Terima kasih, maafkan aku yang sudah merepotkan kamu." Jawab Adelyn dan menerima satu gelas minuman jahe dari suaminya.
Setelah itu, Adelyn meminumnya. Lalu, viko duduk di sebelah istrinya. Kemudian, Viko meraih gelas yang ada ditangan istrinya dan meletakkannya diatas meja yang tidak jauh darinya.
"Sudah malam, waktunya istirahat. Ayo tidur, agar badan kita terasa enakan di pagi hari." Ajak Viko, kemudian menyelimuti tubuhnya sendiri dan berbaring disebelah istrinya.
Adelyn sendiri masih dengan posisinya bersandar, ia masih terasa canggung untuk istirahat dalam satu tempat tidur dan satu selimut.
Meski Adelyn sebdiri sudah mengakui akan perasaannya pada sang suami, Adelyn masih menyimpan rasa malunya. Walaupun ia menyadari akan statusnya yang sudah menjadi istrinya, tetap saja tidak dapat memungkiri akan kegugupannya saat berhadapan suaminya.
__ADS_1
Terlebih lagi tentang hak dan kewajiban, Adelyn terus terbayang bayang dalam pikirannya. Sebisa mungkin ia untuk selalu tenang dan tidak lagi gugup bila saat terhanyut dalam pikirannya masing masing.
Viko yang merasa tidak nyaman saat tidur, ia segera bangun dari posisinya dan bersandar di kepala ranjang tempat tidurnya. Dan, dilihatnya sang istri yang belum juga tidur, membuatnya merasa ada yang aneh pada Adelyn.
"Kenapa kamu belum juga tidur? apakah ada sesuatu yang kamu rasakan? katakan saja." Tanya Viko yang merasa aneh akan perubahan istrinya yang menurutnya sangat berbeda dengan sebelum menikah.
"Entah lah, Aku merasa kesulitan untuk memejamkan kedua mataku ini. Mungkin, karena aku belum terbiasa tidur dengan seorang laki laki." Jawabnya tanpa menoleh kearah susminya.
"Kamu terlihat sangat lucu, seketika sikap kamu itu berubah 180°. Benar benar aku tidak menduganya, kamu bisa berubah menjadi pendiam seperti ini." Ucap Viko sambil membelai rambut milik istrinya, kemudian mencium rambutnya.
Tiba tiba juga, detak jantung Adelyn berdetak tidak karuan. Adelyn seakan seperti mendapat sengatan yang cukup membuatnya melanglang entah kemana pikirannya.
Viko memegangi dagu milik istrinya, dan memposisikan wajah istrinya hingga terjadi adu pandang pada keduanya. Viko maupun Adelyn kini sama sama terhipnotis dengan pandangan satu sama lainnya.
Adelyn masih menatap lekat wajah suaminya, begitu juga dengan Viko. Keduanya sama sama terhanyut dalam asmaranya. Dengan pelan, Viko semakin mendekatkan wajahnya pada istrinya. Kini, jarak diantara keduanya tidak ada lagi satu jengkal.
Tanpa memikirkan hal lainnya, Viko mendaratkan ciu*mannya tepat pada bi*bir milik istrinya yang sangat menggoda has*ratnya. Sedikitpun tidak ada penolakan oleh Adelyn, justru Adelyn ikut tergoda dengan suasana yang semakin memanas oleh suaminya.
Viko yang tidak dapat mengontrol gejolaknya, tanpa harus berpikir panjang langsung melanglang buana akan ulahnya yang semakin liar kemana mana, hingga membuat Adelyn sendiri menjadi kualahan.
"Apakah kamu mengizinkanku untuk meminta hakku? aku tidak lagi dapat menahannya." Bisik Viko didekat telinga istrinya, Adelyn sendiri masih terdiam dan mencoba untuk meyakinkan dirinya sendiri.
"Aku takut ..." jawabnya lirih didekat suaminya.
__ADS_1
"Tidak ada yang perlu kamu takutkan, percayalah padaku. Kamu akan baik baik saja, aku tidak akan melukaimu." Ucap Viko meyakinkan istrinya, Adelyn pun mengangguk.