
Afna masih berusaha menyeimbangkan tubuhnya yang bergantung dengan tongkat penyangganya, setelah dirasa cukup tidak membuatnya sakit.
Dengan pelan, Afna melangkahkan kakinya menuju sesuatu yang membuatnya penasaran.
"Kenapa ada pintu kecil, tempat apa di dalamnya." Gerutu Afna sambil mencoba membukanya, dan ternyata pintunya masih dikunci. Afna masih penasaran, hingga dirinya kembali menuju ke sebuah lemari. Afna mencoba mencari kunci di dalam laci, dan betapa terkejutnya tengah mendapati kunci pintu yang begitu banyak.
Afna semakin tidak mengerti, apa maksud dari banyak kunci yang ada di kamar suaminya. Berkali kali mencoba menerka nerkanya, Afna tetap tidak bisa mendapatkan jawabannya.
Afna mencoba membuka laci yang satunya, dirabanya semakin dalam.
Deg!! jantungnya terasa mau copot, tangannya seakan sulit untuk digerakkan saat memegang benda yang membuatnya sangat ketakutan. Sesekali dirinya menarik nafasnya pelan, meski terasa berat nafasnya.
Afna berusaha untuk tidak berpikiran buruk terhadap suaminya, berharap barang yang dipegangnya hanyalah sebuah permainan. Dengan pelan, Afna mengambil barang tersebut.
"Afna."
JEDDUAR!! Afna segera mengeluarkan tangan kirinya, kemudian segera menutup laci yang baru saja dibukanya.
"Sedang apa kamu, kenapa kamu belum juga tidur." Zayen mendekati istrinya, dan sedikit penasaran terhadap sang istri yang masih berdiri didepan cermin. Ditambah lagi, Zayen sedikit curiga dengan istrinya yang tiba tiba menutup laci pada lemarinya.
"Aku sedang bercermin. Aku mencari sisir rambut, tetapi tidak aku temukan. Apa kamu menyimpannya di laci? siapa tahu saja kebiasaan kita sama. Aku selalu menyimpannya di dalam laci, karena aku orangnya pelupa." Jawab Afna berusaha beralasan, agar dirinya tidak dicurigai oleh suaminya sendiri.
"Tidak, aku meletakkannya di atas meja. Ini, sisir rambutnya." Sambil memberikannya kepada istrinya.
"Maaf, aku tidak begitu memperhatikannya. Aku hanya fokus dengan cermin, maafkan aku."
"Tidak apa apa, aku memaklumi kamu."
"Oh iya, kenapa kamu sudah kembali. Bukankah kamu tadi mau mengejar kakak kamu? kenapa tiba tiba sudah pulang. Apakah semua baik baik saja, atau ... yang lainnya? maaf, jika aku banyak pertanyaan"
"Kak Seyn pergi menginap di tempat sahabat papa, tapi aku tidak begitu dekat dengannya."
"Cepatlah, segera cuci muka kamu itu. Sudah malam, kamu harus banyak beristirahat."
__ADS_1
"Baiklah, aku akan segera menuju kamar mandi."
Saat Afna berada di dalam kamar mandi, Zayen segera mengambil barang miliknya yang berada didalam laci. Sebelum kedua mata Afna melihat barang tersebut, Zayen segera menyembunyikannya.
Zayen tidak ingin ada penudingan terhadapnya, dan pastinya akan membuatnya bingung untuk menjelaskan kepada istrinya. Sebisa mungkin, Zayen mencoba untuk menyembunyikannya.
Setelah dirasa cukup aman, Zayen kembali keposisi semula. Zayen menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil berbantalkan kedua tangannya, dan menatap langit langit kamarnya.
Tidak lama kemudian, Afna keluar dari kamar mandi. Afna masih terasa takut, jika suaminya akan menginterogasinya secara detail.
Afna benar benar sedikit gemetaran, tatkala suaminya akan menghukumnya karena kecerobohannya yang sudah lancang membuka laci pada lemarinya.
"Aku tidak memiliki baju tidur, apakah kamu punya baju yang kiranya pas buat aku?" Berusaha untuk tenang, agar tidak terlihat gugup.
Zayen langsung menoleh ke sumber suara, dilihatnya Afna yang masih terlihat cantik membuat pikirannya melayang kemana mana.
"Ada, sebentar aku ambilkan."
Zayen segera bangkit dari tempat tidurnya, kemudian menuju lemari bajunya.
"Ini, sepertinya cocok dan pas untuk kamu pakai." Ucapnya sambil memberikan baju kepada istrinya.
"Terimakasih, aku akan mengganti bajuku. Tapi ...." ucapnya seketika menggantung.
"Tapi kenapa? malu. Aku suami kamu, kenapa kamu mesti malu. Bahkan aku sudah melihat semuanya, sayang sekali kamu tidak menyadarinya." Ucapnya menakuti, Afna yang mendengarnya pun langsung tercengang.
Dengan sigap dan reflek, Afna langsung menyilangkan kedua tangannya dan menutupi dadanya. Zayen yang melihat ekspresi istrinya hanya tersenyum menggoda.
Afna yang merasa kikuk, dirinya hanya bisa bengong. Antara benar atau hanya keisengan suaminya yang sengaja sedang mengerjainya.
"Aku mau ke kamar mandi mengganti pakaianku, dan cepatlah jika kamu mau mengganti pakaian kamu. Aku tunggu 10 menit, setelah itu aku keluar dari kamar mandi."
Afna hanya mengangguk, dirinya tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun. Afna masih merasa takut dan juga merasa malu tentunya, karena dirinya merasa sudah di kerjai suaminya.
__ADS_1
Dengan cepat, Afna langsung mengenakan pakaian untuk tidur sebelum suaminya keluar dari kamar.
Sesudah selesai mencuci muka dan menggosok gigi, Zayen segera keluar dari kamar mandi. Dilihatnya sang istri yang sedang duduk di depan cermin sambil menguncir rambut panjangnya, disaat itu juga Zayen hanya menelan salivanya.
Tanpa sepengetahuan Afna, Zayen sudah berada diatas tempat tidur sambil menyelimuti setengah badannya sambil memperhatikan sang istri yang sedang sibuk bercermin.
"Sudah selesai, kemarilah." Seru Zayen memanggil istrinya sambil menepuk nepuk bantal yang ada di sampingnya, dengan reflek Afna langsung menoleh ke sumber suara.
Afna yang melihatnya pun tercengang. Bagaimana tidak, Zayen yang tidak seperti biasanya kini memanggil namanya sambil senyum menggoda dan menepuk nepuk bantal yang berada di sampingnya.
Afna terasa sulit untuk menelan salivanya dan juga terasa geli saat melihat senyuman dari suaminya.
"Kenapa kamu masih berada disitu, hah? cepatlah kemari."
"I ..... i ... ia! jawabnya sedikit gugup."
Zayen yang melihat istrinya terasa ketakutan hanya bisa menahan senyumnya, dirinya tidak ingin membuatnya lebih tegang dan juga takut.
"Jangan khawatir, aku tidak akan memangsamu. Aku hanya ingin memberikan pijatan rileks untuk kaki kamu, jangan berpikiran kotor."
Afna hanya mengangguk, kemudian segera bangkit dari tempat tidurnya dibantu dengan tingkat penyangga tubuhnya.
Dengan pelan, Afna menuju tempat tidur. Setelah sudah duduk di atas tempat tidur, Afna segera meletakkan tongkat penyangganya didekatnya.
Lagi dan lagi, detak jantung Afna berdegup sangat kencang dan tidak beraturan. Afna berusaha mengatur pernapasannya, agar tidak terlihat gugup.
Afna masih belum bisa menoleh ke arah suaminya, dirinya takut akan salah tingkah. Ditambah lagi, dirinya teringat kejadiaan yang tidak bisa dilupakan. Kejadian yang dimana dirinya sedang dalam gendongan suaminya, dan terjadi sentuhan bi*bir yang tidak pernah disangkanya.
"Kenapa kamu melamun, apakah ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan? katakan."
"Tidak, aku hanya teringat waktu itu saja." Jawabnya dengan enteng, tanpa menyadari ada suaminya di dekatnya. Dengan reflek, Afna langsung membukam mulutnya dengan telapak tangannya.
"Waktu yang mana?" tanyanya pura pura tidak tahu.
__ADS_1
"Aaaaah!! lupakan saja, aku sedang salah ucap." Jawabnya beralasan.
'Bo*dohnya aku ini, kenapa aku harus keceplosan seperti ini coba. Sungguh memalukan.' Gumamnya mengutuki dirinya sendiri.