Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Teringat sesuatu


__ADS_3

Dengan pelan, Zayen menuruni anak tangga sambil menggendong istrinya. Kedua orang tua Afna pun tersenyum saat melihat putrinya terlihat bahagia, dan sangat serasi.


'Aku yakin, kamu adalah lelaki yang bertanggung jawab. Tidak hanya didepanku kamu menunjukkan sikap baikmu, tetapi diluaran sana kamu pasti menunjukkan yang lebih dari yang aku lihat.' Gumam tuan Tirta saat memperhatikan putrinya saat berada digendongan suaminya.


"Jangan turunkan Afna, kita langsung keluar. Karena papa tidak sanggup untuk menggendong Afna, jadi biarkan suami kami untuk menggendongmu sampai didalam mobil." Pinta sang ayah, Zayen maupun Afna hanya saling beradu pandang. Keduanya merasa dikerjai oleh sang ayah, ibunya pun hanya tersenyum tipis saat melihat ekspresi dari anak dan menantu.


"Pa! tunggu." Teriak Afna dengan kencang, Zayen yang mendengarnya pun langsung menoleh dan menatap istrinya dengan sorotan mata tajamnya. Afna yang merasa mendapat tatapan dari suaminya langsung menutupnya dengan kedua telapak tangannya. Sedangkan sang ayah maupun ibunya tidak dapat menangkap panggilan dari Afna. Keduanya fokus untuk memasuki mobil.


"Apa mulut kamu tidak pernah diajarkan kesopanan? sampai sampai kamu memanggil orang tua kamu dengan cara berteriak. Apa pantas, seorang anak perempuan dengan keras memanggil sang ayah dengan lantang." Ucap Zayen mengingatkan, dirinya tidak menyukai sikap yang tidak mencerminkan kebaikan.


"Maaf, aku salah. Aku tidak akan mengulanginya lagi, dan aku berjanji."


"Serius? awas! jika kamu ketahuan masih suka berteriak saat memanggil siapapun."


"Iya, aku janji tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Percayalah denganku, tadi aku hanya ingin memberitahu papa dan mama. Bahwa kamu harus pergi berangkat belerja, hanya itu saja."


"Apapun alasannya, aku tidak menyukainya."


"Iya, aku mengaku bersalah. Aku serius, aku tidak akan lagi berbohong sedikitpun." Afna yang masih merengek meminta maaf, dirinya benar benar menyesal melakukan kesalahan."


"Baguslah, kalau omongan kamu itu dapat dipercaya."


Afna berusaha untuk tersenyum, agar tidak membuat sang suami maupun dirinya berubah menjadi tegang.


Setelah sampai didepan rumah, dilihatnya ada dua mobil dihadapannya. Zayen mengerti akan maksud dari semuanya, kedua orang tua Afna pun sudah berada didalam mobil yang satunya. Sedangkan Zayen masih berdiri sambil menggendong istrinya.

__ADS_1


Tiba tiba pak supir membukakan pintu mobilnya, mau tidak mau Zayen segera masuk kedalam mobil bersama istrinya.


Dengan pelan, Zayen menurunkan istrinya. Kemudian Zayen duduk disebelahnya dengan perasaan yang cukup gelisah.


Afna yang memperhatikannya pun penasaran terhadap suaminya, dengan sangat hati hati Afna mencoba untuk bertanya kembali. Meski yang akan didapatkannya hanya sebuah peringatan.


"Maaf, kenapa kamu terlihat masih gelisah?" tanya Afna mencoba untuk membuka suara.


"Aku hanya kepikiran terhadap temanku saja, aku takut akan salah mengirim barangnya. Karena dia selalu salah kirim jika tidak dalam pengawasanku, itu saja." Jawab Zayen beralasan, dirinya tidak ingin sang istri banyak pertanyaan.


"Kenapa kamu tidak berangkat saja, jika pekerjaan kamu itu lebih penting. Kalau kamu dipecat, bagaimana? kamu pasti akan kehilangan pekerjaan kamu." Ucap Afna yang juga ikut merasa cemas jika sang suami akan kehilangan pekerjaan.


"Sudahlah, lebih baik kamu diam jauh lebih tenang."


"Tidak perlu, aku akan membatalkannya. Aku akan tetap ikut makan malam bersamamu dan kedua orang tua kamu."


"Tapi ... kalau kamu kehilangan pekerjaan, bagaimana? aku tidak ingin kamu akan kehilangan pekerjaan."


"Kamu lucu, aku tidak akan pernah kehilangan pekerjaanku. Karena bagiku mencari pekerjaan sangatlah mudah, asal kita mau berusaha untuk melakukannya."


"Jadi .... benar nih, kalau kamu tidak jadi berangkat bekerja? aku merasa tidak enak hati dengan kamu."


"Sudahlah, lupakan." Jawab Zayen singkat, dan kemudian langsung merogoh ponselnya yang berada di sakunya. Kemudian segera mengusap layar ponselnya, dan mengetik beberapa kalimat. Setelah itu, Zayen langsung mengirim pesan singkat kepada Viko. Terlihat pesannya sudah terkirim, Zayen langsung mematikan ponselnya kembali dan memasukkan kedalam sakunya.


Afna yang memperhatikannya pun tidak dapat melihat pesan apa yang di ketiknya.

__ADS_1


"Jangan berprasangka buruk, aku tidak selingkuh." Ucap Zayen mencoba mengelak, Zayen mengerti akan maksud dari sikap istrinya yang terlihat penasaran dengan pesan yang dikirim untuk Viko.


"Siapa tahu saja, kamu memiliki banyak penggemar. Aku kan, tidak tahu." Jawab Afna yang tiba tiba terpancing dengan ucapan suaminya, Zayen hanya tersenyum tipis saat melihat ekspresi sang istri.


"Aku tidak mungkin selingkuh, siapa juga yang mau menjadi istriku. Hanya kamu saja yang mau menjadi istriku, entah nasib buruk kamu atau nasib baik kamu." Ucap Zayen sambil meninggikan satu alisnya dengan tatapan menggoda.


"Mungkin saja, aku bernasib baik. Syukurlah, karena tidak ada wanita yang mau mendekatimu. Tapi aku tidak tahu, secara aku tidak mengenalmu."


"Lantas, selama ini kamu tidak mengenalku, hah? lucu sekali."


"Maksudku bukan begitu, tentang kepribadian kamu."


"Lalu, apa kabarnya kamu dengan kak Seyn? Apakah kamu sudah mengenalnya? tentu saja, iya! dan apa yang dilakukan kak Seyn terhadapmu? jawab." Ucap Zayen sedikit geram terhadap istrinya yang tidak bisa menilai keburukan yang satu dan dengan yang lainnya.


"Maaf, kamu benar. Aku memang mengenal Seyn, bahkan kita berdua akan segera menikah. Tetapi kenyataannya tidak seperti yang aku kira, Seyn diam diam membohongiku dari belakang. Dan yang menyakitkan lagi tengah berkhianat dengan menjalin hubungan dengan sahabat yang aku anggap saudara, rupanya memiliki hubungan terlarang diantara keduanya." Jawab Afna sambil menunduk merasa malu dan sedih tentunya, Afna teringat saat dirinya sedang rapuh dengan kondisinya yang memprihatinkan. Namun, harapannya tiba tiba hancur seketika. Ditambah lagi pernikahannya tetap dilangsungkan, meski bukan dengan orang yang disukainya maupun dicintainya.


"Cukup, tidak perlu kamu lanjutkan. Setiap orang memiliki masa lalu, ada baik dan buruk. Dan setiap orang tidak dapat menyimpulkan hanya dengan satu tebakan." Ucap Zayen mencoba mengingatkan istrinya agar tidak semena mena menilai seseorang, sekalipun tidak mengenalnya.


Setelah memakan waktu yang cukup lama, Mobil yang ditungganginya kini sudah sampai di tempat yang sudah ditunjukkan oleh Afna. Tempat yang tidak begitu mewah, dan hanya kesederhanaan yang terlihat.


Zayen maupun Afna segera melepas sabuk pengamannya, tiba tiba Afna sedikit kesulitan saat dirinya ingin melepasnya.


"Kenapa?" tanya Zayen sambil memperhatikan kedua tangan istrinya yang masih memegangi sabuk pengaman.


"Sini, aku bantuin." Ucap Zayen yang kemudian membantu istrinya untuk membuka sabuk pengamannya.

__ADS_1


__ADS_2