
Kedua sudut bibir Afna terlihat senyum sumringah pada istrinya.
"Kejutan hanya untuk aku, bukan untuk kita?" tanya Afna lagi dengan heran.
"Iya, kejutan untuk kamu. Soal kejutannya aku benar benar tidak tahu, sayang. Kita lihat saja nanti dirumah papa, kejutan apa yang akan papa berikan untuk kamu." Jawabnya dengan santai.
"Baiklah kalau begitu, aku mau bersiap siap untuk berangkat."
"Aku mau manasin motor terlebih dahulu, setelah kamu selesai cepat keluar dan kita langsung berangkat."
"Iya, sayang. Oh iya, aku pakai tongkat atau ... tidak?"
"Tidak perlu, warga juga sudah melihatnya. Hanya saja, kita harus berhati hati. Karena orang yang tidak suka bisa datang kapanpun." Jawab Zayen sedikit menyindir, Afna pun mengerti dengan ucapan yang baru saja terucap dari suaminya.
Afna sedikit ragu untuk percaya dengan ucapan suaminya, dirinya hendak bertanya lagi takut sang suami akan bertambah kesal. Akhirnya, Afna memilih dengan caranya sendiri. Terkecuali, jika suaminya melarangnya maka Afna baru menurutinya.
Dengan teliti, Afna memperhatikan penampilannya sendiri melalui cermin. Merasa tidak berlebihan dan sudah terlihat rapih, Afna segera keluar dari kamarnya. Namun, sebelum keluar dari kamar Afna mengambil tongkat penyangga miliknya.
'Aku pakai saja tongkat ini, siapa tahu saja tadi suamiku sedang menyindir. Bukankah semalam dia mengatakan sangat takut dengan kesembuhanku diketahui banyak orang. Aku yakin, ini pasti ada hubungannya dengan Seyn kakaknya sendiri. Tapi, entah kenapa perasaanku sudah berbelok ke Zayen suamiku. Bahkan aku merasa sangat nyaman saat berada di dekatnya. Apalagi perhatiannya yang begitu lembut, dan juga cara dia memperlakukanku sebagai istrinya. Terasa mau terbang diriku ini karenanya.' Batin Afna sambil menggunakan kedua tongkatnya.
Sesampainya diteras rumah, Zayen melihat istrinya yang masih menggunakan alat bantu. Zayen segera menghampirinya dan mengunci pintu rumahnya.
"Kenapa kamu menggunakan tongkatnya, bukankah aku sudah bilang tadi. Apa kamu sudah ketagihan dengan gendonganku? aku rasa, iya." Tanya Zayen sambil menggoda.
"Lagi lagi aku yang dapat ejekan, aku ini sedang bingung. Sebenarnya aku harus pakai tongkat ini atau tidak sih, sayang?"
"Tidak perlu, kita harus belajar jujur. Biarkan orang lain mengetahui akan kesembuhan kamu, kita harus siap menerima apa yang akan terjadi hari depannya." Jawab Zayen, kemudian mengambil tongkat yang ada pada istrinya dan dimasukkan kedalam rumah lagi. Zayen segera mengunci pintu rumahnya.
__ADS_1
"Sini, aku gendong. Meski kamu sudah dapat berjalan, bukan berarti aku akan lupa dengan kebiasanku." Ucap Zayen langsung menggendong istrinya, Afna pun melakukan hal yang sama. Afna melingkarkan kedua tangan milik suaminya, kemudian dengan cepat Zayen mengambil kesempatan emas. Apalagi kalau bukan menc*ium bi*bir ranum milik istrinya, Zayen sudah merasakan istrinya adalah candu baginya.
Dengan pelan, Zayen menurunkan istrinya diatas jok motor. Kini, tanpa disuruh Afna langsung memeluk suaminya dengan erat dan menyandarkan kepalanya pada punggung suaminya mesra.
Senyum Zayen sangatlah sempurna, dirinya merasa sangat bahagia. Karena dialah yang memenangkan hati istrinya, meski berawal dari ketidaksukaan karena mantan kekasih kakaknya sendiri.
Selama perjalanan keduanya hanya terdiam, karena pikirannya yang sama sama melayang entah kemana. Hingga tidak terasa, keduanya telah sampai didepan rumah.
"Sayang, kita sudah sampai. Ayo turun, papa dan mama pasti sudah menunggu." Ucap Zayen mengagetkan.
"Apa, sudah sampai? yang benar saja. Aah! iya, kita sudah sampai." Jawab Afna membuka kedua matanya, dan tidak disangka sudah ada di depan rumah orang tuanya.
Zayen dan Afna segera turun dari motor, dan lagi lagi kebiasannya tidak bisa dilewatkan begitu saja. Zayen kembali menggendong istrinya, Afna sedikit malu karena sebenarnya sudah bisa berjalan tanpa alat bantu.
"Sayang, aku malu sama mama dan papa. Kalau mereka mengetahuinya, bagaimana?"
Afna tersenyum, dilihatnya sangat suami yang begitu tampan dan serasa ingin mencubit kedua pipi milik suaminya karena gemas.
"Selamat pagi, Nona ... Tuan ..." sapa mbak Yuni sedikit malu saat teringat kepolosannya. Sedangkan May menahan tawa saat Yuni berhadapan dengan kedua majikannya.
"Selamat pagi juga, mbak Yuni ..." balas Afna dengan senyum, dan dalam posisinya digendong sang suami.
Langkah demi langkah, Zayen telah sampai diruang keluarga. Dengan pelan, Zayen menurunkan sang istri duduk di sofa.
"Selamat pagi Pa ... Ma ..." sapa Afna dan Zayen bersamaan.
"Pagi juga, sayang ... Zayen ... silahkan duduk Nak Zayen ..." sapa kedua orang tua Afna serempak, dan mempersilahkan duduk kepada menantunya. Zayen pun mengangguk dan duduk disamping istrinya.
__ADS_1
Afna masih pada posisinya yang masih duduk di sofa bersama Zayen ...
"Tara ......" suara yang tidak asing di telinga Afna, dengan cepat Afna langsung berdiri dan mendekati seseorang yang sudah dirindukannya.
"Kak Kazza ..." seru Afna memanggil dan memeluk saudara kembarnya. Kedua orang tuanya dan sang kakak pun terkejut saat melihat Afna yang sudah dapat berjalan.
"Afna ... kakak sangat merindukanmu, bagaimana kabar kamu? sudah sembuh sekarang?"
Afna langsung melepas pelukannya, dan menatap lekat wajah sang kakak.
"Iya, Kak. Afna sudah sembuh dan sudah bisa berjalan. Ini semua berkat suami Afna yang sangat perhatian dan menjaga Afna dengan baik."
"Syukurlah, Kakak ikut senang dan bahagia mendengarnya." Sudah sana duduk dan temani suami kamu, sepertinya suami kamu penampilannya sudah berubah. Pantas, kamu terlihat sangat bersemangat. Rupanya kamu sudah mendapatkan kebahagian yang kamu harapkan." Ucap sang Kazza tersenyum dan menjapit hidung milik sang adik, sedangkan Afna ikut tersenyum dan mengangguk. Kemudian, keduanya duduk bersama keluarga.
"Zayen, apa kabarnya? sepertinya ada yang baru nih ..." sapa Kazza pada adik iparnya.
"Baik, Kak. Iya, ini permintaan Afna. Kak Kazza sendiri bagaimana kabarnya?" jawab Zayen balik bertanya."
"Kabarku juga baik, seperti yang kamu lihat. Pantas Afna bersemangat, rupanya ada yang baru pada suaminya." Ucap Kazza sambil duduk santai.
"Mama dan Papa sangat bahagia melihat kalian yang sudah saling menerima satu sama lain. Hari ini, Mama meminta kalian untuk datang kemari tidak hanya kejutan kepulangan Kazza, tetapi ada lagi yang belum kalian ketahui."
"Kejutan apa lagi sih, Ma?"
"Bulan madu kalian, Mama dan Papa sudah tidak sabar ingin menimang cucu. Kakak Kamu ini disuruh cepat menikah katanya belum punya pilihan, mau di jodohin katanya takut." Jawab sang Ibu sambil melirik kearah Kazza, karena sangat berharap menerima perjodohan dari teman Ayahnya. Siapa lagi kalau bukan dari keluarga Gantara, putri kedua Raska Gantara dan Arsyla.
Namun, Kazza tetap pada pendiriannya. Ingin mencari jodohnya dengan caranya sendiri, meski lumayan lambat dan susah untuk mendapatkannya. Kazza tetap percaya diri dengan usahanya untuk menaklukan hati wanita yang disukai dan di cintainya.
__ADS_1