
Zayen membantu sang istri melepaskan sabuk pengamannya, disaat itu juga perasaan Afna sedikit kacau. Pasalnya, keduanya begitu dekat saat Zayen sedikit membungkukkan badannya sambil melepaskan sabuk pengaman milik istrinya.
Lagi dan lagi, keduanya kembali saling menatap satu sama lain. Tidak hanya Afna yang detak jantungnya berdegup kencang, Zayen pun terasa tersengat kabel listrik pada tubuhnya.
"Jangan mes*um didalam mobil, aku tidak menyukainya." Bisik Zayen didekat telinga sangat istri, Afna yang mendengarnya pun bergidik ngeri.
"Tunggu sebentar, jangan turun. Walaupun kamu bisa menggunakan tongkat penyangga sekalipun, aku melarangmu untuk turun dari mobil. Diam! aku akan menggendongmu." Pinta Zayen sedikit menekan. Jiika begitu, maka Afna akan bandel dan susah untuk diatur.
Sedangkan kedua orang tua Afna pun telah sampai diparkiran, keduanya kembali melihat sosok Zayen yang begitu telaten dan perhatian terhadap putrinya. Berbeda dengan Seyn, meski Afna bisa berjalan kaki akan selalu sulit mendapat perhatiannya.
Berbeda dengan Zayen, yang selalu perhatian terhadap Afna dan tidak pernah mengeluh sedikitpun. Meski putrinya terlihat tidak sempurna, Zayen tetap menunjukkan perhatiannya terhadap Afna istrinya.
"Mama dan Papa, mana? kalau mereka salah jalan bagaimana? kasihan." Tanya Afna sambil celingukan kesana kemari mencari sosok kedua orang tuanya.
"Punya mata itu, untuk melihat. Tuh lihat, mama dan papa sudah berdiri di parkiran dan didekat mobilnya." Jawab Zayen sambil memutar arah untuk memperjelas pandangannya kepada istrinya. Afna yang melihatnya dengan posisi digendong suami hanya tersenyum malu, begitu teledornya sampai sampai tidak dapat melihat sosok kedua orang tuanya.
"Maafkan, aku. Ternyata penglihatanku bermasalah, sampai kedua mataku sulit untuk mencari sosok mama dan papa."
"Kamu terlalu banyak makan ayam bakar dan ayam geprek, hingga kedua mata kamu hanya tertuju dengan kedua makanan tersebut." Ledek Zayen sedikit menyindir, Afna sendiri tidak memperdulikannya. Afna hanya tersenyum, dirinya sudah mulai paham akan sifat suaminya sendiri, meski terkadang sulit untuk ditebaknya.
"Ayo, kita duduk ditempat yang cukup nyaman untuk menikmati makan malam bersama." Ajak Zayen pada istrinya, kedua orang tua Afna mengikuti langkah menantunya kemana akan duduk.
"Wah ... rupanya tempat ini sangat nyaman, ditambah lagi angin yang semilir dan diterangi lampu yang sedikit redup. Namun, dapat mengubah suasana terasa nyaman. Mama sangat menyukai tempat ini, kamu memang memiliki selera yang baik. Meski sederhana, tetapi dapat menenangkan pikiran dan terasa nyaman." Ucap sang ibu dengan takjub, dikarenakan tidak pernah berkunjung ke tempat yang sederhana.
Sejak menjadi bagian keluarga Danuarta, Ibunya Afna tidak pernah singgah ketempat warung makanan yang sederhana. Ibunya Afna teringat saat dirinya menjadi tulang punggung keluarga, dan semua kebutuhan harus terpenuhi olehnya.
__ADS_1
"Sayang, kenapa kamu melamun." Tanya tuan Tirta yang tiba tiba membuyarkan lamunan istrinya.
"Aku teringat masa mudaku, itu saja." Jawabnya singkat.
"Oooh! pasti yang diingat Ezal." Ucapnya yang tiba tiba teringat laki laki yang menjadi saingannya kala itu.
"Kenapa kamu yang mengingat Ezal, bahkan aku sama sekali tidak mengingatnya. Yang aku ingat, waktu aku melayangkan kueh ulang tahun keareah wajah kamu." Jawab sang istri, tanpa sadar ada putrinya dan juga menantunya.
"Sudahlah, jangan bahas masa lalu. Malu dengan menantu dan putri kita, mending kita pesen makanan." Ucap tuan Tirta untuk melerai masalah yang tidak penting.
"Iya, Pa. Kita berdua juga sudah sangat lapar, biar Zayen yang pesan makanan. Mama dan papa mau pesan apa? dan kamu, Afna."
"Mama dan Papa nurut saja dengan kalian berdua, apapun makanannya mama dan papa tidak mempermasalahkannya." Jawab sang ibu mengambil jalan tengah, karena jika makanan yang dipesan berbeda akan menjadi tidak terasa nikmat.
"Eeeh! nak Zayen. Tumben sudah datang jam segini, pasti bareng istrinya nih."
"Iya, Bu. Kita datang tidak hanya sendiri, tetapi bersama kedua orang tua istri Zayen."
"Wah ... sangat harmonis kekeluargaan mertua kamu, nak Zayen. Jarang jarang loh, ada mertua mau makan bersama diluar bersama anak dan menantu. Ya tidak semuanya sih, tetapi kebanyakan."
"Aaah! Ibu bisa saja. Oh iya, Zayen pesan ayam gepreknya yang pedas empat porsi. Dan jangan lupa, minumannya teh hangat empat gelas juga."
"Baik, nak Zayen. Ditunggu, tidak lama kok penyajiannya."
"Baik, Bu. Kalau begitu Zayen kembali duduk bersama istri dan kedua mertua." Ucapnya, kemudian segera kembali ketempat semula untuk duduk bersama istri dan kedua mertuanya.
__ADS_1
Namun, tiba tiba langkahnya terhenti saat mendengar orang orang tengah berbisik membicarakan kedua mertuanya.
"Eh, bukankah kedua orang tua itu adalah pemilik Restoran ternama di kota ini. Bahkan di Negeri ini, kok bisa berada di tempat warung makan yang kita singgahi." Bisik salah satu wanita yang sedang menikmati ayam bakar milik ibu Marni.
"Iya, ya! jangan jangan warung makan ibu Marni mau ditawarin kerja sama." Jawab salah satunya ikut menebak.
Zayen yang mendengar pembicaraan diantara orang orang lainnya hanya melirik dan tidak memperdulikannya. Selagi tidak memancing emosi, Zayen tidak memberi pelajaran yang berat. Zayen kembali duduk didekat istrinya, tepatnya tidak jauh dari kedua orang tua Afna. Yang tidak lain masih satu meja dan terlihat mengobrol bersama.
Orang orang yang tidak jauh pandangannya, kembali berbisik dan penuh tanda tanya akan keakraban Zayen dengan pemilik Restoran yang ternama.
"Eeehh!! lihat tuh, kok Zayen duduk bersama pemilik Restoran ternama. Apa aku tidak salah lihat, coba deh perhatikan." Ucapnya semakin penasaran.
"Iya, loh. Kok bisa duduk bersama, ngobrol bareng lagi. Yang benar saja, aku rasa itu tidak mungkin." Jawabnya ikut menimpali dengan rasa penasarannya.
"Aku yakin, Zayen pasti bekerja di tempatnya. Dan mungkin ada hubungannya dengan warung ibu Marni, makanya minta bantuan Zayen. Bukankah Zayen sangat dekat dengan ibu Marni? iya, 'kan?" ucap yang satunya ikut menimpali.
"Pantas saja, Zayen banyak uang. Orang kerja di tempat Restoran milik orang terkaya yang kedua setelah keluarga besannya."
"Iya, tapi herannya kenapa penampilan Zayen seperti preman. Bukankah bekerja di Restoran harus terlihat rapi dan wangi, tapi Zayen tidak." Jawab yang satunya ikut menimpali.
Sambil tertawa, ada seorang yang lewat dan mendengar omongan dari ketiga wanita yang sedang membicarakan Zayen.
"Palingan Zayen juga jadi tukang bersih bersih, mana mungkin terjun ke pengolahan makanan. Tamp*ngnya saja preman, burikan lagi." Ucap salah seorang yang terkenal preman disekitaran Danau kecil, dan tidak mengetahui seluk beluknya seorang Zayen.
Semua orang tertuju dengan seorang laki laki yang dengan mudahnya berucap, sedangkan ketiga perempuan tersebut yang sempat membicarakan Zayen sedikit merasa ketakutan. Ketiganya takut, jika laki laki yang yang terkenal preman tersebut akan di hajar habis habisan oleh Zayen.
__ADS_1