
Waktu hanya sebentar, acara liburan di tempat kakek Ferdi. Tuan Tirta beserta anak menantu dan istrinya, kini telah kembali ke Kota.
Zayen kembali pulang ke rumahnya bersama istrinya, kebahagiaan yang benar benar nyata telah didapatkan oleh keduanya. Zayen dan Afna sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. Setelah sampai dirumahnya, Zayen menaruh kecurigaan. Zayen melihat beberapa pot bunga yang bergeser, Zayen terus mencoba menerka nerka sesuatu yang tengah terjadi pada rumahnya.
"Sayang, ada apa denganmu? kenapa kamu nampak gelisah."
"Tidak, tidak ada apa apa. Ayo kita masuk, aku sangat lelah. Aku ingin segera istirahat, nanti malam aku harus berangkat kerja." Jawabnya sambil merogoh kantong bajunya untuk mengambil kunci rumahnya.
Setelah itu, Zayen dan istrinya segera masuk ke rumah dan kembali menguncinya. Zayen terus berpikir untuk mencari tahu tentang pot bunganya yang bergeser.
'Siapa yang berani beraninya masuk ke pekarangan rumahku, apakah maling. Aaah! iya, aku ada CCTV. Aku mau melihatnya, siapa yang sudah menginjakkan lahanku.' Batin Zayen menaruh kecurigaan.
Dengan cepat, Zayen langsung mengambil sebuah laptopnya. Zayen segera menyalakan laptopnya dan mencari tahu tentang kondisi disekeliling rumahnya saat ditinggal pergi.
"Sayang, kenapa kamu terlihat sibuk. Apa ada masalah denganmu?" tanya sang istri yang langsung duduk disamping sambil bermanja.
Zayen yang merasa tergoda dengan istrinya ingin segera mematikan laptopnya. Namun, Zayen berusaha untuk menepis pikiran kotornya. Dirinya ingin fokus dengan laptopnya, Zayen tidak ingin musuhnya lebih cepat tanggal.
Entah kenapa, Afna semakin liar menggoda istrinya. Zayen terus membiarkan istrinya sambil memeriksa CCTV disekitaran rumahnya.
"Sial!! kenapa bisa begini, siapa yang sudah berani beraninya menguntit rumahku. Aku pastikan jika sampai aku temukan pelakunya, maka habislah kamu." Gerutu Zayen dengan memandangi laptopnya.
Afna yang mendengar suaminya tengah menggerutu pun kaget dibuatnya.
__ADS_1
"Sayang, kamu ada masalah apa? katakan. Kenapa kamu terlihat sangat gelisah, dan sangat cemas. Siapa tahu saja aku bisa menolong kamu, ayo katakan." Tanya Afna yang semakin curiga dan penasaran.
"Aku tidak apa apa, kenapa kamu berhenti menggodaku. Ayo goda aku, sekarang aku sudah siap untuk kamu goda." Jawab Zayen, kemudian langsung beraksi dan menggendong istrinya sampai didalam kamar. Keduanya melakukan ritualnya, rasa lelah yang terucap dari mulut Zayen pun lenyap begitu saja saat dirinya mendapat godaan dari sang istri yang tidak ada henti hentinya bersikap manja pada suaminya. Tanpa pikir panjang, Zayen terus melakukan aksinya. Hingga keduanya tidak lagi berdaya, dan tertidur pulas dengan balutan satu selimut tebalnya.
Sedangkan Kazza sedang sibuk dengan kesibukan barunya, apalagi kalau bukan menjadi detektif dadakan. Demi mengetahui pekerjaan Zayen, Kazza rela bergadang agar rencananya dapat membuahkan hasil yang sudah dinanti nantikannya.
Zayen sibuk dengan laptopnya, dirinya terus fokus pandangannya dengan layar.
'Malam ini, aku yakin seyakinnya. Bahwa Zayen pasti akan keluar malam untuk bekerja, tetapi entah pekerjaan apa yang dilakukannya pada malam hari. Aku harus mengarahkan anak buahku untuk terus mengintai Zayen dari berangkat sampai pulang kembali.' Batin Kazza sambil menerka nerka untuk mencari kebenaran.
Kazza langsung menyambar ponselnya untuk segera menghubungi anak buahnya, Kazza benar benar sudah tidak sabar untuk melakukan penyelidikan tentang adik iparnya.
Zayen yang masih tertidur pulas pun terbangun saat alarm jam nya berbunyi, yang menandakan untuk segera bangun dan berangkat kerja. Perasaan Zayen merasa tidak enak, dirinya merasa sedang di awasi. Entah kenapa, sejak dirinya melihat pot bunganya digeser membuat dirinya semakin penasaran dan tentunya juga curiga.
Zayen meraih pena dan juga kertas putih yang berada diatas meja samping tempat tidur. Zayen segera menulisnya, bahwa dirinya berpamitan untuk pergi berangkat bekerja. Setelah selesai menulis pesan untuk istrinya, Zayen mengecup kening istrinya dengan lembut. Setelah itu, Zayen langsung mengenakan pakaiannya.
Benar, apa yang ditebak Kazza. Bahwa Viko adalah remot kontrol Zayen, apapun yang berhubungan dengan Zayen ada pada Viko.
Zayen segera menutup kembali pintu rahasia lorong bawah tanah. Kemudian, dengan
santainya melewati lorong tersebut hingga sampai dijalan yang sepi. Yang tidak lain perbatasan antara miliknya dan milik tetangga. Sedikitpun, Zayen tidak pernah mengambil hak orang lain berupa tanah. Dirinya tetap menggunakan yang memang menjadi miliknya.
Setelah sampai dijalan, Viko sudah menunggunya.
__ADS_1
"Bos, kenapa tidak berangkat sendiri saja." Tanya Viko sedikit berbisik.
"Ada yang membuatku merasa curiga, nanti aku ceritakan dimobil. Sekarang cepetan kita berangkat, ke buru pelanggan kita kabur." Jawab Zayen yang juga dengan suaranya yang lirih.
"Baik, Bos." Ucapnya singkat.
Kemudian, Viko dan Zayen segera menghampiri mobilnya di pinggir jalan yang tidak jauh dari rumah Zayen. Dengan langkah yang cepat, Zayen maupun Viko segera masuk kedalam mobilnya.
Viko segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, agar cepat sampai dan pekerjaannya segera teratasi dengan baik.
"Bos! istrinya Bos dirumah sendiri?" tanya Viko sambil melajukan mobilnya.
"Iya, sebenarnya aku tidak tega meninggalkannya sendirian dirumah. Tapi mau bagaimana lagi, ini sudah menjadi pekerjaanku." Jawab Zayen, sedangkan Viko menurunkan kecepatannya. Agar dapat berdialog dengan Zayen tanpa tergesa gesa.
"Bos, sampai kapan kita akan terus seperti ini. Bukankah tabungannya Bos sudah cukup banyak, kenapa tidak menghancurkan satu perusahaan. Agar Bos dapat membelinya, setidaknya bisa dijadikan uang mengalir. Kita hentikan pekerjaan ini, sebelum semuanya terlambat." Ucap Viko dengan entengnya memberi solusi kepada Zayen.
"Aku tidak mau, kamu pikir menghancurkan perusahaan orang itu mudah. Kamu pikir seperti warung sembako, yang tinggal bakar tempatnya terus kita beli lahannya."
"Perumpamaan yang sangat bagus itu, Bos." Ledek Viko memecahkan kegelisahan pada diri Zayen.
"Katanya tadi mau menceritakan sesuatu, sesuatu apa itu, Bos?" tanya Viko mengingatkan.
"Ada yang sedang mengintai kita, yang pastinya kamulah incaran yang sebenarnya. Meski sebenarnya aku yang dituju, tetapi kamulah yang akan dijadikan sasaran untuk di jadikan sasaran penyelidikan." Jawab Zayen sambil fokus menatap kedepan.
__ADS_1
"Yang benar saja, Bos. Lalu, aku harus bagaimana? apa aku melakukan penyamaran."
"Memang kamu mau, begitu? dengan gayamu yang lemah gemulai? namamu kamu ganti Vika." Jawab Zayen dengan tawanya. Keduanya sama sama membayangkan perubahan unik pada Viko. Zayen pun tertawa terbahak bahak sambil megangi perutnya.