Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Kecurigaan mulai muncul


__ADS_3

Afna masih menangis dalam pelukan Zayen, rasa bahagia yang benar benar sedang Afna nantikan kini tengah berpihak olehnya. Kebahagiaan yang tidak terpikir olehnya, kebahagiaan hanya menjadi angan angan semata oleh Afna sendiri. Dan kini, doa yang sudah dipanjatkan oleh Afna benar benar dikabulkan. Berkali kali Afna panjatkan puji syukur yang tidak ada henti hentinya.


Merasa sudah cukup Zayen melepas pelukannya, kemudian menghapus air mata istrinya dengan ibu jari miliknya.


"Bagaimana perasaan kamu, bahagiakah saat ini? jangan menangis lagi. Aku tidak ingin melihatmu menangis terus terusan, sekarang apa yang kamu harapkan telah terkabul seperti yang kamu impikan." Ucap Zayen berusaha untuk tersenyum, agar suasana kembali ceria.


"Iya, aku sangat bahagia. Bahkan kebahagiaanku tidak bisa aku nilai, sungguh aku sangat bahagia atas kesembuhan pada kakiku ini. Hari ini aku benar benar sangat bahagia yang begitu berlimpah, ini semua karenamu. Tanpa usaha dari kamu, aku tidak mungkin bisa berdiri dengan baik. Dan tentunya aku tidak bisa menyangga tubuh ini, aku sangat bersyukur bersuamikan kamu." Jawab Afna, kemudian kembali memeluk suaminya dengan erat. Zayen pun ikut kembali memeluknya, kemudian mengusap punggung milik istrinya dengan lembut.


Sedangkan ibu Marna ikut tersenyum bahagia, saat melihat pasiennya telah sembuh dari sakitnya.


"Lihatlah, ada ibu Marna sedang memperhatikan kita. Apa kamu lupa, berkat peminatan ibu Marna kamu dapat sembuh dari sakit pada kaki kamu." Ucap Zayen mengingatkan, Afna pun segera menoleh sambil mencari sosok ibu Marna yang sudah membuatnya sembuh dan dapat berjalan.


Afna pun melepaskan pelukannya, kemudian menghampiri ibu Marna. Dengan pelan, langkah demi langkah Afna dapat mendekati ibu Marna.


"Bu, terimakasih atas pemijatannya. Berkat usaha ibu, kaki saya dapat berdiri dan dapat menyangga tubuh saya. Saya tidak bisa berkata apa apa selain mengucapkan rasa berterimakasih atas usaha ibu melajukan peminatan untuk saya." Ucap Afna, kemudian langsung memeluk ibu Marna dengan erat. Afna benar benar merasa bahagia yang tidak ternilai rasanya.


"Selamat Ya, Nona ... semoga kesembuhan Nona membawa dampak yang baik untuk kedepannya, dan semoga kebahagiaan selalu menyelimuti rumah tangga kamu bersama suami Nona." Jawab ibu Marna dan tersenyum.


"Terimakasih, Bu ..." Ucap Afna dan Zayen.

__ADS_1


"Kalau begitu saya permisi ingin segera pulang, Nona ... Tuan." Ucap ibu Marna berpamitan.


"Baik, Bu ... terimakasih atas semuanya ya, Bu .. saya benar benar sangat berterimakasih sama ibu, hingga istri saya kini kembali seperti dulu. Tidak lagi menggunakan alat bantu, setidaknya tidak lagi kesusahan saat ingin melangkahkan kakinya." Jawab Zayen berterimakasih, sedangkan ibu Marna segera keluar dari kamar Zayen dan Afna. Begitu juga dengan keduanya, Afna maupun Zayen ikut keluar dari kamarnya.


Sesampainya di ruang tamu dilihatnya Viko yang sedang sibuk memainkan ponselnya. Tiba tiba kaget dibuatnya, saat melihat Afna yang tidak lagi menggunakan alat penyangga pada tubuhnya.


"Bos! benarkah?"


Zayen pun bingung dengan pertanyaan dari Viko, sesekali mencerna ucapan dari Viko tetap saja tidak ditemukan jawabannya.


"Apanya yang benar, Vik."


"Itu, istrinya Bos Zayen. Apakah benar sudah bisa berjalan?"


Entah ada angin apa, Zayen menitikan air matanya. Zayen pun teringat dengan jelas, saat dirinya dinyatakan bukanlah bagian dari keluarga Arganta oleh seseorang. Hingga sampai saat ini hati yang tersayat masih membekas luka yang telah menggores hatinya.


Hanya Viko lah, yang Zayen punya. Dalam bekerja dan dalam segi apapun tidak ada kata penghianat dalam berteman, persahabatan dan bersaudara.


"Kamu teman sekaligus sahabat dan saudaraku." Ucap Zayen setelah melepas pelukannya.

__ADS_1


"Sama, anggapan aku pun seperti kamu." Jawab Viko disertai senyum mengembang, kemudian menepuk nepuk pundak milik Zayen. Isyarat untuk memberi kekuatan kepada Zayen yang sudah dianggapnya sahabat bahkan saudara.


Afna yang melihat kedekatan suaminya dengan Viko dari dekat, ikut terharu saat melihat persahabatan keduanya yang begitu dekat. Tidak seperti persahabatan Afna sendiri, yang kini sudah seperti musuh yang begitu menyeramkan. Persahabatan yang tidak seperti yang dibayangkan, bahkan tidak pernah menyangka sebelumnya. Afna benar benar sangat kecewa telah dibohongi akan persahabatan yang telah terjalin begitu lamanya, dan harus berpisah dengan cara yang sangat menyakitkan.


'Sungguh persahabatan yang benar benar mengerti akan arti sahabat, tidak sepertiku. Aku memiliki sahabat yang benar benar tega merusak kebahagiaanku, tapi aku bersyukur atas kedok dari calon suamiku dulu. Setidaknya aku ada rasa berterimakasih atas semua yang dilakukan Reina, berkatnya aku memiliki suami yang begitu perhatian denganku. Meski aku sendiri belum dapat mengetahui akan perasaanku terhadapnya, aku akan mencobanya sampai aku mengetahui akan perasaanku yang sesungguhnya.' Batin Afna sambil melamun.


"Udah Bos! malu dilihat perempuan." Ucap Viko sambil menoleh kearah ibu Marna dan Afna yang tengah memperhatikan.


"Maaf, Tuan. Saya mau pamit, karena saya harus segera pindah tempat." Ucap ibu Marna berpamitan.


"Baik, Bu. Semua saya serahkan kepada Viko, sekali lagi saya ucapkan banyak berterima kasih." Jawab Zayen sambil menepuk nepuk pundaknya.


"Iya, Tuan. Sama sama .... dan buat Nona, untuk semantara jangan untuk jalan cepat atau berlari. Karena saya takut akan timbul rasa nyeri, lakukan dengan tahap yang maksimal. Kalau begitu saya pulang ya, Non. Semoga secepatnya segera sembuh, dan bisa menikmati kebersamaan dengan suami jauh lebih baik lagi." Ucap ibu Marna berpamitan dan memberi pesan untuk Afna.


"Iya, Bu. Saya ucapkan banyak terimakasih, pokoknya tanpa ibu Marna mungkin saya belum bisa berdiri seperti saat ini. Dan buat ibu, semoga dilancarkan rizkinya dan dimudahkan segala urusan ibu." Jawab Afna dengan rasa bahagia yang tidak dapat diukurnya.


"Aamiin, terimakasi atas doa dari Nona. Saya permisi, Tuan dan Nona .. mari ...." ucap kalimat terakhir ibu Marna. Afna maupun Zayen mengangguk dan tersenyum.


"Bos! aku juga mau pamit, aku mau mengantar pulang ibu Marna dan sekaligus pulang ke rumah. Oh iya, Bos! nanti malam ada pekerjaan. Jangan lupa nanti malam berangkat, Bos! aku tunggu ditempat biasa." Ucap Viko memberi pesan, sedangkan Afna kembali muncul rasa penasaran dengan pekerjaan sang suami.

__ADS_1


"Ok! nanti malam aku berangkat. Sekarang, cepat kamu antar ibu Marna, soal biaya pemijatan kamu yang urus."


"Baik, Bos!! jangan khawatir." Ucap Viko, Zayen pun mengangguk.


__ADS_2