
Vella hanya nurut dengan apa yang tengah diucapkan oleh sang ibu, ia pun tidak ingin bertanya lebih detail lagi. Baginya percuma untuk bertanya, apa yang ditanyakannya pun tidak bakalan mendapatkan jawaban yang memuaskan.
Setelah itu, Vella kembali menatap luar jendela kaca mobil dengan seksama Vella memperhatikan jalan yang dilewatinya. Ia merasa benar benar tidak asing dengan jalan yang kini tengah dilewatinya, Vella semakin bingung dibuatnya. Segera ia menoleh kearah ibunya, serasa ingin mempertanyakan sesuatu.
"Ma, kenapa mesti kita yang datang sih. Kenapa juga bukan keluarga sahabat Papa yang datang ke rumah." Tanya Vella penasaran dan juga basa basi.
"Ini semua permintaan sahabat Papa, kamu tidak perlu kaget. Baginya tidak bermasalah ditempat mana akan dijadikan tempat untuk bertemu. Selain putrinya yang tengah hamil muda, sahabat Papa kamu tidak ingin meninggalkan putrinya dirumah sendiri." Jawab sang Ibu mencoba menjelaskan.
"Ooooh, jadi teman Papa juga memiliki anak perempuan yang tengah hamil?" ujar Vella yang baru saja mengerti.
"Iya, nanti kamu bisa mengenalinya lebih dekat."
"Hem ... semoga saja." Jawabnya singkat, kemudian kembali menatap luar jendela kaca mobil.
Sedangkan Kazza kini tengah gelisah saat ikut menunggu sahabat dari ayahnya yang akan segera datang.
"Ma, Pa, Kazza kembali masuk ke kamar saja, ya? Kazza mohon." Ucapnya memasang muka sedihnya.
"Nanggung, ditunggu saja sebentar. Tidak lama lagi sampai, Papa sudah mengirimkannya pesan. Sekarang yang terpenting siapkan diri kamu baik baik, agar kamu tidak terlihat kaku untuk bertemu dengan calon istri kamu." Jawab sang Ayah.
"Tapi ... kenapa sih, Papa dan Mama tidak membiarkan Kazza untuk mencari calon istri sendiri. Kenapa juga mesti perjodohan, jatuhnya kan kita sulit untuk memahami perasaannya masing masing." Ucap Kazza berusaha untuk meloloskan diri dari perjodohan.
Afna, yang sedang duduk didekat ibunya hanya bisa diam, seakan dirinya tidak mempunyai lawan bicara. Afna benar benar merasa sendirian, meski disekelilingnya ada keluarganya. Hari hari Afna terasa hampa, ia berusaha untuk kuat dan tegar, meski terkadang masih menunjukkan kesedihannya.
"Sudah sudah ... jangan saling beralasan, ayo kita ke ruang tamu." Ajak sang ibu untuk menghindari terjadinya perdebatan antara ayah dan anak. Sang ayah segera bangkit dari tempat duduknya dan mendekati putrinya yang didapati sedang melamun, mau bagaimanapun seorang ayah tidak akan tega melihat putri kesayangannya bersedih.
"Afna, kenapa kamu masih duduk disini?" tanya sang ayah dengan posisinya sudah berdiri dihadapan putrinya. Seketika itu juga Afna kaget dibuatnya, dengan sigap segera bangkit dari tempat duduknya.
__ADS_1
Sang ayah meletakkan kedua tangannya pada pundak putrinya dan menatapnya dengan lekat.
"Bersabarlah, kamu pasti bisa untuk melewatinya. Besok, Papa dan ayah mertua kamu akan mencoba untuk menyelesaikan masa tahanan suami kamu. Jadi, kamu tidak perlu mengkhawatirkan yang terlalu berlebihan. Kamu cukup berdoa, biarkan Papa dan papa mertua kamu dan yang lainnya berusaha untuk membebaskan Zayen suami kamu." Ucap sang ayah berusaha untuk memberi ketegaran kepada putrinya.
Afna hanya mengangguk pelan, ia pun menyadarinya bahwa dirinya tidak bisa berbuat apa apa selain berdoa.
"Yang Papa katakan ada benarnya, kamu tidak perlu mengkhawatirkan yang berlebihan. Sekarang lebih baik kita pindah ke ruang tamu, sebentar lagi tamunya akan segera datang." Ucap sang ibu ikut menimpalinya dan segera pindah ke ruang tamu, kemudian diikuti oleh suami dan kedua anaknya dari belakang.
Dilain sisi, Vella sedang dalam perjalanan bersama kedua orang tua dan kakak laki lakinya.
Disaat itu juga, kedua bola mata Vella terbelalak saat mobil yang dikendarai oleh sang kakak kini tengah masuk di halaman rumah yang menurutnya tidak asing. Berkali kali Vella mengucek kedua matanya, berharap yang ia lihat tidak benar.
Tibalah mobilnya didepan rumah sahabat dari ayahnya, Vella sendiri semakin bingung dibuatnya.
"Ma, Pa, yang benar saja ini. Kenapa Papa masuk ke rumah orang lain? jangan jangan Papa salah alamat, lagi." Tanya Vella yang masih tidak percaya akan penglihatannya sendiri.
'Mam*pus aku, bukannya ini rumah tuan Tirta. Rumah Bos Kazza dan Afna, apa yang akan terjadi nantinya.' Batinnya yang masih belum percaya.
"Tidak!!" teriak Vella begitu nyaring, kedua orang tuanya maupun sang kakak pun kaget mendengarnya.
"Vella, kamu apa apaan sih. Ayo kita turun, dilepas tuh sabuk pengamannya." Ucap sang kakak sambil membuka pintu mobilnya, Vella yang mendengarnya hanya memasang muka masamnya.
Mau tidak mau Vella menahan kekesalannya, ia pun terasa berat untuk keluar dari mobil. Sungguh, semua diluar dugaannya. Dengan terpaksa, Vella keluar dari mobil dan melangkahkan kakinya dibelakang sang kakak sambil memegangi jasnya.
Kedua orang tua Vella hanya menahan tawa saat melihat ekspresi putrinya itu, sedangkan Vella hanya bisa mengutuki dirinya sendiri.
"Kak, pelan pelan dong jalannya. Nanti aku jatuh bagaimana? aku tidak mau jatuh dan mendapat malu." Ucap Vella sambil bersembunyi dibelakang sang kakak dengan postur tubuhnya yang tinggi.
__ADS_1
"Kenapa kamu mesti bersembunyi, Vel? bukannya kamu sudah mengenali rumah ini. Sudah sini, jangan takut berdiri di sampingku." Jawab sang kakak sambil melangkahkan kakinya, Vella sendiri masih dengan posisinya yang berada dibelakang kakaknya.
Sesampainya didepan pintu utama, Keluarga Gantara disambut hangat oleh keluarga Danuarta. Yang tidak lain adalah tuan Tirta beserta anak dan istrinya.
Disaat itu juga, kedua bola mata Kazza terbelalak saat melihat seseorang yang yang tidak asing baginya. Sedangkan Vella masih bersembunyi dibelakang kakaknya, ia berusaha untuk bersembunyi. Vella benar benar tidak mampu untuk menunjukkan wajahnya pada keluarga Danuarta, sungguh sangat malu.
"Gio!" Kazza memanggilnya dengan keras, semua yang ada didekatnya terasa berisik mendengar suara keras Kazza.
Tanpa pikir panjang, Kazza segera mendekati wanita yang ada dibelakang Gio. Dengan terpaksa Gio melepaskan tangan milik Vella yang sedang memegangi jasnya.
JEDDUAR!!!
Jantung Kazza seperti mau copot saat melihat wanita yang ada didepannya adalah Vella yang menjadi asistennya.
"Vella? apa benar ini kamu, Vella?" tanya Kazza yang masih tidak percaya. Semua yang ada di sekeliling Kazza dan Vella hanya bisa menahan tawa saat melihat ekspresi pada keduanya yang sama sama tidak percaya akan pertemuan yang tidak pernah diduganya. Vella hanya terdiam dan terasa kelu untuk menjawab pertanyaan dari Kazza, ia pun hanya bisa berdiam diri didepan Kazza.
"Benar, Kazza. Ini nak Vella, yang akan menjadi istrimu nantinya." Ucap ayahnya sambil menepuk nepuk punggung milik Kazza, putranya.
Seketika itu juga, Kazza terasa tersambar petir yang berulang ulang saat mendengar penuturan dari sang ayah. Kazza pun mendadak bengong mendengarnya.
Tidak hanya itu, Vella pun ikut tercengang mendengarkannya. Keduanya sama sama seperti mimpi, berkali-kali Kazza menepuk nepuk kedua pipinya.
PUK!!
"Aw!! sialan, sakit tau." Ucap Kazza Reflek sambil mengusap pipinya karena ulah Gio yang menepuk pipi kiri milik Kazza.
"Kamu tidak mimpi, ini nyata. Vella adikku, sekaligus calon istrimu." Jawab Gio yang tidak lagi memanggilnya dengan sebutan Bos.
__ADS_1