
Adelyn yang mendapat pertanyaan teman dikantor pun merasa heran dengan sosok Viko yang super dingin dengan wanita, namun dapat memikat para wanita.
"Sekretaris baru? wah, berarti yang baru tidak cuman pak Bos saja rupanya. Ternyata sekretarisnya pun baru, pasti semua karyawan bersemangat untuk bekerja." Ujar Sasa dibarengi senyum mengembang, Adelyn yang mendengarnya pun terasa geli.
"Memangnya kamu sudah tahu? jika nanti akan kedatangan Bos baru." Tanya Adelyn pura pura tidak mengerti.
"Aku sudah mengetahuinya dari kemarin. Oh iya, sepertinya kamu sudah mengenal lelaki tadi yang berjalan bareng denganmu. Apakah lelaki tadi pacar kamu? ayo, jujurlah." Jawabnya dan balik bertanya, seketika itu juga Adelyn membelalakan kedua bola matanya.
"Hei, kenapa kamu bengong. Ayo, jujurlah. Tidak perlu kamu menutupinya dariku, katakan saja." Ucap Sasa yang terus mendesak.
Disaat itu juga, Viko sudah berada dibelakang Adelyn tanpa sepengetahuan keduanya.
"Ehem, ehem." Viko berdehem, Adelyn maupun Sasa segera menoleh sumber suara. Dan dilihatnya sosok laki laki sedang berdiri tegak, tepatnya didekat Adelyn.
"Sudah selesai kah menggosipnya?" tanya Viko sambil menatap ke arah yang lain. Seketika itu juga Adelyn memasang muka masamnya, ia merasa bahwa dirinya sedang mendapat pengawasan yang begitu ketat. Sedangkan Sasa yang berawal mengagumi Viko, tiba tiba berubah menjadi tidak suka dengan sikap Viko yang terlihat begitu dingin dan juga kaku.
Adelyn masih berdiam diri, bahkan tidak berucap sepatah kata pun.
"Sekarang ikutlah denganku, ada sesuatu yang harus kamu kerjakan." Perintah Viko, kemudian langsung kembali ke ruangannya.
Kini, tinggal lah Adelyn dengan Sasa yang masih berdiri diposisi yang semula.
"Adelyn, itu sekretaris baru kenapa terlihat sombong banget sih? bikin takut saja." Tanya Sasa penasaran.
"Iya, sudah gitu dianya seperti batu. Dinginnya pun tidak kalah dengan es balok, pokoknya hati hati saja dengannya." Jawab Adelyn sesuai dengan asal bicaranya.
"Amit amit deh, tampan sih tampan. Tapi, kalau kaku begitu mana ada wanita yang mau dengannya." Ujar Sasa mengomentari sosok Viko.
"Ah, sudahlah. Aku mau masuk ke ruangannya, takut mendapat hukuman darinya." Ucap Adelyn berpamitan, Sasa pun hanya mengangguk.
__ADS_1
Sambil berjalan sambil berkomat kamit, tanpa ia sadari sudah berada didepan pintu ruangan sekretaris.
Tok tok tok.
Ceklek.
Dengan sigap, Viko membukakan pintu untuk Adelyn.
"Masuk, ada perlu apa kamu datang kemari?" tanya Viko dengan tatapan serius. Adelyn pun ikut menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya dipikirannya.
'Ini orang sebenarnya waras tidak sih, bukankah dia sendiri yang memintaku untuk segera datang ke ruangannya? kenapa tiba tiba bertanya ada apa? sudah lupa ingatan kali, ya.' Batin Adelyn penuh keheranan.
"Hei, masih muda sudah banyak melamun. Ada perlu apa kamu datang kemari? katakan saja jangan basa basi." Ucapnya terus bertanya.
"Hem, bukankah kamu sendiri yang bilang. Bahwa kamu menyuruhku untuk menemui kamu di ruangan ini. Lalu, kenapa kamu sendiri tiba tiba menjadi pura pura amnesia." Jawab Adelyn membela diri.
"Aku hanya menguji ingatan kamu, itu saja." Ucap Viko dengan santai.
"Kamu, kak Zayen, dan juga papa, sama saja satu tujuan. Kalau begitu, aku mau kembali ke tempat kerjaku. Jangan mencariku, aku ingin seperti karyawan lainnya." Jawab Adelyn sambil menunjukkan muka masamnya, Viko yang melihatnya pun hanya menahan tawanya.
"Jaga diri kamu baik baik dari godaan laki laki, di kantor ini banyak lelaki yang mudah terpesona." Ujar Viko mengingatkan.
"Iya, memang sepertimu? lelaki yang sangat sulit untuk terpesona. Kaku dan dingin, bahkan seperti batu." Ucap Adelyn, kemudian segera pergi meninggalkan ruangan Viko.
Sedangkan Viko sendiri hanya tersenyum mengembang saat melihat ekspresi Adelyn yang terlihat begitu menggemaskan.
Karena masih belum memulai untuk bekerja, Viko mencoba berkeliling area kantor. Berharap dapat menghilangkan kejenuhannya.
Adelyn kini tengah bergabung dengan karyawan yang lainnya, semua tengah menanyainya tentang Viko.
__ADS_1
"Sudah dong, jangan banyak tanya denganku. Aku sendiri tidak begitu banyak mengetahui tentang sekretaris baru itu." Ucap Adelyn beralasan, tiba tiba ada sosok perempuan dengan penampilan yang begitu menarik perhatian para lelaki ikut berkerumun dengan Adelyn dan yang lainnya.
"Ada apaan sih rame banget, seperti pasar saja. Kalian tuh seharusnya cepetan siapkan diri kalian untuk menyambut pemilik perusahaan ini, sebentar lagi akan segera datang. Tapi, sepertinya hanya aku yang dapat mencuri perhatian dari pemilik perusahaan ini. Lihatlah penampilanku ini, sangat cocok untuk menjadi pengganti sekretaris baru itu." Ucap wanita itu dengan percaya dirinya.
Adelyn yang mendengarnya pun terasa jijik dengan ucapan yang sangat murahan, bahkan dengan percaya dirinya akan bisa mengambil hati saudara kembarnya.
'Cih! menyingkirkan Viko, yang benar saja. Kak Zayen sama Viko itu sebelas duabelas belas.' Batin Adelyn sedikit kesal mendengar wanita sombong yang ada dihadapannya.
"Kepedean banget sih, kamu." Jawab Adelyn dengan berani.
"Heh, kamu itu pegawai OB. Jadi jaga sikap kamu terhadapku, jangan sok sokan mengataiku dengan seenak jidatmu itu." Ucapnya dengan sinis.
"Adelyn, ayo kita pergi dari sini. Dia itu namanya Merry, dan dia juga wanita penakluk laki laki yang menjadi rebutan para wanita." Ucap Sasa berbisik ditelinganya.
Adelyn yang mendengarnya pun terasa geram, namun segera ia menepis ide buruknya. Karena merasa sakit hati, Adelyn tidak tinggal diam. Segera ia mendekati wanita yang baru saja membuatnya kesal.
"Aku tidak yakin jika kamu bisa menyingkirkan sekretaris baru itu, yang ada kamu yang akan terusir dari Kantor ini." Ucap Adelyn yang tidak mau kalah untuk berdebat.
"Lihat saja nanti, aku pastikan bahwa kamu juga akan segera dipecat dari Kantor ini." Jawabnya dengan senyum sinis.
"Aku tidak takut dengan ancaman murahan." Ucap Adelyn dengan senyum mengejek, semua karyawan yang melihat dan mendengarnya pun benar benar tidak menyangka dengan sosok Adelyn yang berani menantang sosok wanita yang seperti Merry.
Adelyn sendiri segera pergi meninggalkan tempat, kemudian ia menarik tangan Sasa yang kini menjadi temannya.
"Hebat kamu, ternyata kamu benar benar berani melawan si Merry. Asal kamu tahu, dari dulu si Merry selalu menjadi perusak hubungan orang lain. Tapi, kalau dengan Bos belum pernah. Soalnya di Kantor ini dulunya Bosnya sangat tertutup dan tidak pernah menunjukkan batang hidungnya, dan baru hari ini akan diperkenalkannya sosok pemilik perusahaan ini." Ucap Sasa sambil berjalan.
'Kak Zayen, mana ada yang bisa menggodanya. Hanya Afna yang bisa membuat kak Zayen tergila gila, tidak untuk wanita lain.' Batin Adelyn dengan rasa percaya dirinya dengan sosok saudara kembarnya.
"Adelyn, kenapa kamu melamun? jangan jangan kamu penasaran juga dengan pemilik perusahaan ini, ya?" ledek Sasa. Sedangkan Adelyn sendiri bergidik ngeri mendengarkannya.
__ADS_1
'Penasaran? yang benar saja, jelas jelas pemilik perusahaan ini adalah saudara kembarku sendiri.' Batin Adelyn.