Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Akhir dari sebuah ujian


__ADS_3

Ketika semua masalah sudah dapat teratasi, kondisi Afna pun sudah jauh lebih baik. Begitu juga dengan kondisi sang buah hati, kondisinya pun semakin membaik kesehatannya. Setelah konsultasi dengan seorang Dokter, kini Afna sudah diizinkan untuk kembali ke rumah bersama sang buah hati.


Perasaan bahagia pun tengah menyelimuti rumah tangga Zayen dan Afna. Tidak hanya itu, keluarga Danuarta pun ikut bahagia dengan lahirnya putra dari keturunannya.


Dalam perjalanan pulang, senyum merekah tengah terpancar pada aura Afna maupun Zayen. Begitu banyak rintangan yang tengah dihadapinya, dari awal pernikahan hingga lahirnya sang buah hati.


Begitu juga dengan keluarga kakek Zio, begitu lega saat mendengar keselamatan dari keturunannya yang tidak berhasil untuk diculik dari seseorang yang tidak bertanggung jawab.


Saat menginjakkan dihalaman rumah kakek Zio, Afna dan sang buah hati disambutnya dengan hangat. Zayen yang sudah tidak lagi sabar, tanpa pikir panjang langsung menggendong istri tercintanya.


Sedangkan Sang buah hatinya kini sudah ada seorang perawat yang ditugaskan untuk merawat dan menjaganya.


Sesampainya didalam kamar, Zayen menurunkan iatrinya dengan pelan dan sangat hati hati. Ia tidak ingin luka yang dirasakannya tersenggol.


"Ngomong ngomong, jagoan kamu mau diberi nama siapa?" tanya sang ibu sambil mendekati cucunya yang masih berada dalam inkubator.


"Zayen sudah menyiapkan nama untuknya, seperti permintaan kakek Zio dan kakek Angga. Zicko Wilyam, kedua nama yang diberikan dari kedua kakek." Jawab Zayen, kemudian tersenyum mengembang.


"Kalian berdua setuju, begitu? bukankah kalian berdua itu adalah orang tua si bayi. Kenapa kalian berdua menuruti keinginan kakek Zio dan kakek Angga? seharusnya kalian berdua menolaknya, 'kan?" tanya sang ibu penuh heran. Sedangkan kakek Zio hanya tersenyum mendengarnya.


"Iya, Ma. Kita berdua setuju, jika putra kami mendapatkan nama dari sang kakek yang hebat. Justru, Zayen sangat bangga dengan kakek Angga maupun kakek Zio. Mereka berdua memiliki kepribadian yang sangat berbeda, namun tidak pernah saling mempermasalahkannya." Jawab Zayen penuh rasa bahagia.


"Asal jangan nama mantan aja yang dijadikan nama anak kamu, Zayen." Ledek Seyn sambil tertawa kecil, tanpa ia sadari ada Neyla sang istri yang mendengarnya.


'Iya, kamu berharap nama kamu jadikan nama untuk anak dari mantan kekasih kamu.' Batin Neyla dengan menunjukkan muka masamnya didepan sang suami.


Sedangkan Seyn sendiri baru tersadar akan ucapannya itu, ia teringat jika Afna pernah menjadi mantan kekasihnya. Bahkan pernah gagal dalam pernikahan.


"Cie ... ada yang cemburu rupanya." Ledek Adelyn untuk mencairkan suasana yang semakin dingin.


Sedangkan Afna sendiri ikut menyadarinya, jika Neyla tengah cemburu saat Seyn tengah menyebut kata mantan.


"Sudahlah, jangan mengaitkan sesuatu yang tidak tidak. Ada hati yang sedang menjaga perasaan, tidak baik untuk mengaitkan sesuatunya." Ucap Zayen mencoba untuk menengahi dan mengingatkan satu sama lain.


Sedangkan Seyn segera mengejar istrinya yang terlihat masih cemburu.

__ADS_1


"Sayang, tunggu." Seru Seyn memanggil sang istri.


Neyla pun langsung berhenti dan menghentakkan kedua kakinya sambil menunjukkan muka cemberutnya didepan sang suami.


"Sayang, maafkan aku. Kamu salah paham, aku tidak berniat untuk menyebut mantan. Aku hanya bercanda dengan Zayen, tidak lebih. Aku ini suami kamu dan juga sepenuhnya mencintaimu. Sudah aku Katakan berkali kali padamu, sayang." Ucap Seyn membujuk istrinya.


"Kamu suka ingkar janji, aku kesal denganmu. Sudah lah, sana pulang duluan." Jawab Neyla dan mengusir suaminya untuk segera pulang.


Semua yang hadir di kediaman keluarga kakek Zio memberi ucapan selamat atas kelahiran putra pertama Zayen dan Afna.


Setelah acara berkumpul di kediaman kakek Zio selesai, semua izin pamit untuk segera pulang termasuk Viko dan Adelyn.


"Viko, Adelyn. Papa ingin berbicara dengan kalian berdua, duduklah sebentar." Seru sang ayah memanggil anak dan menantunya. Viko maupun Adelyn menghentikan langkah kakinya, lalu menoleh kebelakang dan membalikkan badannya.


Setelah duduk dengan rapi, Viko dan Adelyn berusaha menebaknya.


'Mungkinkah besok pergi ke Amerika? secepat inikah? ah! tentu saja benar. Bukankah besok adalah keberangkatanku? aaaah! padahal aku masih merindukan keponakanku. Apakah aku harus berpisah kembali? aku merasa berat untuk berpisah dengan kak Zayen dan keponakanku yang menggemaskan itu.' Batin Adelyn menerka nerka.


"Adelyn, kamu melamun?" tanya sang ayah sambil memperhatikan putrinya.


"Tidak kok, Pa. Adelyn hanya ingin menggendong bayi, tapi sayangnya belum diperbolehkan." Jawab Adelyn beralasan.


"Ih, seharusnya itu kak Zayen." Tiba tiba kalimatnya terhenti begitu saja, ucapan yang ingin dilontarkannya pun takut akan disalah artikan.


"Seharusnya? maksud kamu?" tanya Zayen penasaran.


"Maksud aku itu, tidak ada maksud." Jawab Adelyn dan tertawa kecil, berharap tawanya dapat melupakan ucapannya yang sempat terhenti.


"Jadi, Papa memanggil Adelyn mau disuruh apa, Pa?" tanya Adelyn, sedangkan Zayen kembali masuk ke kamar. Ia tidak ingin selalu menemani istrinya selama semuanya benar benar pulih.


Adelyn dan Viko kembali tegang, tatkala sang ayah yang sudah terlihat seperti hakim yang akan memutuskan sesuatu keputusan yang tidak dapat diganggu gugat. Bahkan, Adelyn merasa seperti ada palu besar yang siap untuk diketuk dengan tenaga yang kuat.


"Begini Adelyn, Viko. Waktu itu, Papa hanya mengganti jadwal penerbangan kalian. Maafkan Papa dan Mama, apabila harus memaksakan kehendak dari Papa. Bahwa besok, kalian akan berangkat ke Amerika. Papa berharap, kalian berdua siap untuk tinggal di luar Negri." Ucap sang ayah penuh harap, sedangkan Adelyn terasa berat untuk menjawabnya. Begitu juga dengan Viko, ia menunggu jawaban dari sang istri. Hingga keduanya saling beradu pandang untuk mendapat pendapat dari pasangannya.


"Kalian berdua tidak perlu khawatir, jika kalian berdua tidak kerasan di Amerika. Kakak kamu siap untuk menggantikan kalian berdua tinggal di Amerika, tetapi untuk saat ini kakak kamu membutuhkan waktu yang cukup lama untuk memulihkan kondisi keponakan kamu. Bukankah kamu sudah tahu sendiri? jika keponakan kamu lahir prematur dan dengan cara operasi. Jadi, Afna dan keponakan kamu membutuhkan waktu memulihkan kondisinya sampai benar benar fit." Ucap sang ayah mencoba menjelaskannya.

__ADS_1


"Bukan begitu maksud Adelyn, Pa. Adelyn hanya terasa berat untuk jauh dari kak Zayen dan keponakan Adelyn. Belum juga lama kita berdua bertemu, tetapi harus terpisah lagi. Adelyn terasa kesepian, itu saja." Jawab Adelyn yang terasa berat untuk pergi jauh dari keluarga.


"Sayang, percayalah denganku. Setelah kamu melewatinya, kamu akan terbiasa. Ditambah lagi jika kamu sudah memiliki kesibukan bersama buah hati kamu, pasti akan terasa berbeda lagi perasaan kamu." Ucap sang suami mencoba untuk meyakinkan sang istri.


Setelah mendengar penuturan dari sang suami, keputusan Adelyn pun bulat untuk siap berangkat ke Amerika. Adelyn dan Viko meminta izin untuk berpamitan dengan kedua orang tuanya sebelum pulang ke kampung halamannya. Berharap, Viko dan Adelyn mendapatkan restu untuk tinggal di Amerika.


Sedangkan didalam kamar, ada sosok Zayen yang sedang menemani sang istri membantu merawat putra pertamanya.


"Sayang, tidak terasa badan anak kita sudah sedikit berisi. Lihat tuh, tampannya sepertiku." Ucap sang suami mengajak sang istri untuk mengobrol.


"Hem ... benarkah? aku rasa mirip denganku." Jawab Afna yang tidak mau kalah.


"Hem ... iya iya. Sekarang sudah waktunya untuk istirahat, sayang ... ayo, kita istirahat. Agar kesehatan kamu pulih kembali, dan fit tentunya." Ucap Zayen, Afna pun mengangguk dan segera beristirahat.


Saat merebahkan tubuhnya, seketika Zayen mengecup keningnya dengan lembut.


**********


Waktu pun telah terlewati, semua perjalanan baik maupun buruk telah dirasakan oleh keluar kakek Zio. Kebahagiaan yang telah lama dinantikan, kini tiada lagi ancaman yang menghantui setiap langkahnya. Pelajaran yang sangat berharga, penuh rintangan dan ujian kesabaran untuk dilewatinya. Namun, semua itu telah membuahkan hasil yang tidak dapat terlupakan. Kebencian, dendam, amarah, semuanya telah melebur menjadi satu.


Meski sudah merasakan kesempurnaan bahagia, tetap saja akan ada kerikil yang akan dilewatinya. Itulah kehidupan, tidak selamanya bahagia dan sengsara. Semua akan ada masanya, dimana kita diuji dengan kesenangan dan kesedihan.


Zicko Wilyam


TAMAT


TERIMAKASIH BANYAK UNTUK READERS SETIA SUAMIKU ANAK YANG TERBUANG, YANG SELALU SETIA MENUNGGU CERITA ZAYEN DAN AFNA DARI AWAL HINGGA AKHIR DARI SEBUAH CERITA SAMPAI BAHAGIA MENJEMPUTNYA.


DAN, OTOR MEMINTA MAAF, JIKA BANYAK SALAH KATA DALAM MENULIS. OTOR MENYADARINYA, BAHWA OTOR MASIH TAHAP BELAJAR. TIDAK ADA YANG ISTIMEWA TANPA ADANYA PEMBACA DARI KALIAN SEMUA READERS SETIA. POKOKNYA KALIAN SEMUA YANG TERBAIK UNTUK OTOR.


UNTUK KISAH KAZZA DAN VELLA MUNGKIN AKAN MASUK DI BONUS CHAPTER SAMBIL MEMBUAT KELANJUTAN CERITA DARI GENERASI ZAYEN DAN AFNA. UNTUK ANAK ANAK DARI SEYN, VIKO DAN KAZZA AKAN MASUK DI BONUS CHAPTER.


NB:


TERIMA KASIH UNTUK YANG SUDAH MEMBERI VOTE, MEMBERI DUKUNGAN, MEMBERI HADIAH, BAHKAN MEMBERI KOIN. OTOR SANGAT SANGAT BERTERIMAKASIH PADA KALIAN SEMUA YANG TIDAK BISA DISEBUTKAN SATU PERSATU. POKOKNYA, TANPA KALIAN SEMUA, CERITA OTOR TIDAK ADA ARTINYA.

__ADS_1


SALAM HANGAT DARI OTOR YANG NULISNYA KAKUNYA KEBANGETAN.


SEMOGA READERS OTOR TETAP DIBERI KESEHATAN DAN RIZKI YANG MURAH, DAN DILANCARKAN SEGALA URUSANNYA. DAN, TETAP MENGIKUTI JEJAK OTOR. CIE... NGAREP. 😄😄😄AAMIIN.


__ADS_2