Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Permintaan yang dikabulkan


__ADS_3

Zayen masih penasaran dengan sang istri yang tiba tiba mengajaknya ke suatu tempat.


"Kamu mau mengajakku, kemana? ke mall, ke taman, atau .... ke Danau?" tanya Zayen mencoba menebak.


"Tidak semuanya." Jawabnya singkat, Zayen pun semakin penasaran.


"Lalu, kemana?" tanyanya lagi karena masih penasaran.


"Nanti kamu juga akan tahu. Sudahlah nurut saja denganku, dan penuhi permintaanku nanti."


"Tergantung, kalau permintaan kamu menyulitkan aku tidak mau."


"Permintaanku tidak akan menyulitkan kamu, percayalah denganku." Afna mencoba meyakinkan suaminya.


"Baiklah, sesukamu."


"Tenang ... sebentar lagi sampai, kok."


Sedangkan Zayen sendiri tidak mempedulikannya, mau sampai atau tidak sekalipun.


Tidak berselang lama kemudian, senyum dikedua sudut bibir Afna mengembang. Zayen yang melirik kearah istrinya hanya tersenyum tipis.


"Stop!" Sstttttt!! mobil pun berhenti secara mendadak.


"Aw!!" dengan Reflek, Zayen sedikit berteriak kaget saat pak supir tiba tiba mebghentikan mobilnya.


"Maaf, Tuan dan Nona. Saya tidak sengaja, sekali lagi saya meminta maaf." Ucap pak sopir merasa tidak enak hati, karena sudah membuat majikannya meringis kesakitan.


Zayen masih masih mengusap keningnya yang terasa sedikit nyeri akibat benturan pada jendela kaca mobilnya.


"Maafkan aku, ya. Gara gara aku menghentikan pak sopir, kamu harus terbentur seperti ini." Ucap Afna merasa bersalah sudah membuat sang suami merasakan nyeri bagian keningnya.


"Sebebnarnya kamu mau mengajakku kemana? kalau tidak penting, kita pulang saja. Lihatlah, semua jalan sudah terlihat sepi."

__ADS_1


Afna kemudian celingukan kesana kemari, dan benar saja yang dikatakan Zayen. Semua tempat sudah terlihat sangat sepi, hanya segelintir ada orang yang masih berdagang demi masa depannya masing masing.


"Iya juga, ya. Benar juga apa yang kamu katakan, aku kira masih jam sembilan."


Tiba tiba kedua bola mata Zayen dapat menangkap sesuatu yang menurutnya dapat menebak maksud dari sang istri.


"Kamu mau memintaku untuk potong rambut?" celetuk Zayen secara tiba tiba, Afna yang mendengarnya pun serasa tidak percaya.


"Iya, maaf." Jawa Afna singkat dan sambil menunduk, dirinya sangat takut jika suaminya akan emosi karenanya. Afna pun tidak ingin melihat suaminya memasang muka kesalnya, Afna lebih memilih untuk menundukkan pandangannya.


Zayen langsung menoleh kearah sampingnya, dan kedua tangan milik Zayen diletakkannya diatas pundak istrinya. Jantung Afna masih berdegup kencang, pikirannya pun melayang entah kemana arah tujuannya.


Kemudian, Zayen mendongakkan wajah milik istrinya dengan cara tangan kirinya menyentuh dagunya. Kedua manik matanya saling bertemu, keduanya saling menatap satu sama lain. Afna yang merasa diperhatikan suaminya, dirinya kembali menunduk. Tetapi sayangnya, tenaga Zayen jauh lebih kuat dari istrinya. Afna sendiri tidak dapat mengalahkan tenaga suaminya yang jauh lebih darinya, Zayen kembali membenarkan posisi istrinya seperti semula.


Pak sopir yang merasa tidak enak hati, dengan cepat langsung keluar dari mobil. Agar tidak mengganggu majikannya yang sedang serius berbicara.


"Kenapa kamu tidak mengatakan dari tadi sebelum berangkat, hah?" tanya Zayen yang masih memegangi dagu milik istrinya. Afna semakin gugup dibuatnya, ditambah lagi wajah keduanya terbilang sangat dekat. Nafas milik Afna semakin panas, jantungnya bergemuruh hebat.


"Baiklah, jika kamu benar benar memintanya. Aku akan melakukannya untukmu, dengan satu syarat." Ucap Zayen dengan tatapannya yang terlihat sangat serius.


"Apa syaratnya, katakan."


"Syaratnya cukup jawab jujur pertanyaanku, itu saja."


"Baiklah, aku akan menjawabnya dengan jujur."


"Kamu memintaku untuk memotong rambut, untuk apa?" katakan."


Afna terdiam, dirinya pun bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin jika harus menjawab aku mencintaimu, sangat konyol pikirnya.


"Tidak tahu kenapa, aku menginginkanmu untuk memotong rambutmu. Hanya itu yang bisa aku jawab dengan jujur, tidak lebih." Jawab Afna merasa bingung untuk menjawab pertanyaan dari sang suami.


"Hanya itu, tidak lebih. Serius?"

__ADS_1


"Kenapa kamu bicara seperti itu, aku harus menjawab bagaimana? aku masih tidak mengerti." Jawabnya dengan polos.


"Sudahlah, lupakan. Besok aku akan memotong rambutku sesuai keinginan kamu. Sekarang kita pulang, tubuhku sangat lelah dan aku ingin istirahat."


"Terimakasih, kamu sudah mau menerima keinginanku."


Zayen hanya mengangguk, kemudian segera memanggil pak sopir yang sudah keluar dari mobil sejak keduanya sedang serius berbicara didalam mobil.


"Maaf, Tuan dan Nona, selanjutnya kita mau kemana?" tanya pak sopir sambil menghidupkan mesin mobilnya.


"Kita pulang saja, Pak."


"Baik, Non." Ucap pak sopir, kemudian langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Merasa jenuh dan sudah teras sangat mengantuk. Tanpa disadari oleh Afna, kini dirinya bersandar pada pundak suaminya. Zayen sendiri memeganginya, takut sang istri terjatuh. Entah ada angin apa, Zayen tiba tiba mencium puncak kepala istrinya.


Pak sopir yang melihatnya pun tersenyum saat melihat sikap Zayen yang begitu menyayangi istrinya.


'Ternyata seseorang itu tidak dapat dilihat dari penampilannya. Aku yakin, tuan muda Zayen sebenarnya sangat tampan. Hanya saja, penampilannya yang terlihat biasa biasa saja. Bahkan dengan gaya rambutnya yang membuat tuan muda terlihat seperti preman, bahkan lebih seram lagi. Meski terlihat seperti mafia, tapi ternyata jauh dari kata preman dan mafia. Melainkan suami yang benar benar sangat bertanggung jawab dan bisa dikatakan lembut akan sikapnya.' Gumam pak sopir mencoba menilai sosok seorang Zayen.


Tidak terasa, waktu yang cukup lumayan lama dalam perjalanan. Kini telah sampai dihalaman rumah, mobil yang ditungganginya pun berhenti didepan rumah.


Zayen segera membuka sabuk pengamannya. Setelah itu, giliran milik istrinya untuk dibukanya. Dengan lekat, Zayen melihat sang istri yang sedang tertidur pulas. Tanpa pikir panjang, Zayen langsung menggendong istrinya sampai ke dalam rumah. Entah ada angin apa, Afna yang terlihat sedang tidur pulas, tiba tiba dengan reflek melingkarkan kedua tangannya pada leher suaminya.


Dengan pelan, Zayen menapaki anak tangga sampai didalam kamar. Setelah masuk, Zayen segera mengunci kamarnya dan menurunkan Afna ke tempat tidurnya. Sedangkan Afna masih melingkarkan kedua tangannya pada leher suaminya. Wajah keduanya semakin dekat saat Zayen menurunkan istrinya ke tempat tidurnya.


Tidak dapat dipungkiri, Zayen pun laki laki normal. Tentu saja, apa yang diinginkannya terlaksana. Siapa yang tidak tergoda, setiap malam tidur bersama wanita cantik. Ditambah lagi sudah sah menjadi istrinya, tentu saja akan tergoda. Karena tidak ingin pikirannya melancong lebih jauh kemana mana, Zayen segera menepis pikiran kotornya.


Zayen segera meraih selimut yang berada di dekat istrinya, kemudian menyelimutkan sampai menutupi bagian dadanya.


Karena dirinya juga sudah terasa sangat capek dan mengantuk, Zayen segera mencuci muka dan juga menggosok giginya. Kemudian setelah itu mengganti pakaiannya.


Kedua matanya pun sudah sangat lengket, Zayen langsung merebahkan tubuhnya disamping istrinya. Karena terasa dingin, Zayen langsung menyelimuti tubuhnya dengan selimut yang dikenakan istrinya. Zayen pun langsung terlelap dari tidurnya.

__ADS_1


__ADS_2