Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
#BONUS CHAPTER 1


__ADS_3

Waktu begitu cepat telah terlewati, tepatnya di kediaman keluarga Danuarta. Sosok Kazza yang sibuk dengan pekerjaannya, ia lebih memilih untuk fokus dengan dunia kerjanya dibandingkan memilih mencari pendamping hidupnya.


Sejak Vella memutuskan untuk tidak diteruskannya perjodohan yang tengah kedua belah pihak keluarga telah disepakati. Vella memilih untuk melepaskan perjodohannya.


Kini kedua duanya pun masih dengan kesendiriannya masing masing hingga bertahan diusianya yang cukup dewasa dan matang.


"Kazza, mau sampai kapan kamu akan terus terusan seperti ini. Ingat, usiamu tidak lagi muda. Apa kamu akan terus bertahan dengan status kamu itu, sendiri dan sendiri." Ucap sang ibu yang duduk berdekatan dengan putranya di teras belakang rumah sambil menikmati secangkir kopi pahit.


Kazza pun menoleh kearah samping, tepatnya pada ibunya.


"Ma, jodoh itu tidak semudah kita membeli buah buahan. Mana yang kita pilih, maka itu yang akan kita beli. Tidak, Ma." Jawab Kazza dengan tatapan sendunya. Tidak di pungkiri, ia memang mengakui jika dirinya sulit untuk mendapatkan perempuan yang cocok untuk dijadikan teman hidupnya.


"Lihat lah, Zicko keponakan kamu sudah berusia 5 tahun. Sedangkan kamu, sudah berusia 30 tahun. Mau sampai kapan? mama kesepian, tidak mungkin Mama meminta Zayn dan Afna untuk tinggal bersama Mama, itu tidak mungkin. Kamulah harapan Mama dan Papa untuk menjadi penerus keluarga Danuarta." Ujar sang ibu terus merayu putranya untuk menerima permintaannya.


"Mama tidak perlu khawatir, Kazza pasti akan memberikan Mama cucu seperti yang Mama harapkan. Tapi Kazza mohon, jangan memaksa Kazza terus terusan seperti ini. Jika memang sudah waktunya untuk bertemu dengan jodoh, pasti tidak bisa untuk dipungkiri." Jawab Kazza dengan berusaha untuk meyakinkan ibunya meski dirinya sendiri pesimis untuk menuruti keinginan ibunya.


"Sudah lah, terserah kamu. Mama tidak mau lama lama mempunyai menantu, titik." Ucap sang ibu sedikit mengancam.


"Iya, Ma. Kazza janji, Kazza akan menuruti kemauan Mama. Jika Kazza menyerah untuk mencari menantu untuk Mama, terserah Mama. Kazza akan menerima keputusan Mama dan Papa, dengan siapa Kazza harus menikah. Sekarang, Kazza ingin beristirahat. Besok Kazza ada pekerjaan yang sangat padat, ada pertemuan dengan perusahaan baru." Jawab Kazza, kemudian segera ia bangkit dari posisi duduknya. Sedangkan sang ibu tersenyum mengembang ketika putranya dapat berbicara dengan normal.


Biasanya, Kazza selalu menghindar jika kedua orang tuanya menanyakan soal pernikahan.


"Kamu sih, Kazza. Seandainya kamu menerima perjodohan Papa dengan nak Vella, pasti kamu sudah memiliki anak. Tapi, keras kepala kamu itu yang sulit untuk dicerna." Gerutu sang ibu, namun Kazza hanya tersenyum mendengarnya. Kemudian, ia pergi meninggalkan sang ibu sambil berjalan sambil menggelengkan kepalanya ketika ibunya mengatakan bahwa dirinya yang tengah membatalkan perjodohannya dengan Vella.

__ADS_1


Didalam kamar, Kazza segera mencuci muka dan menggosok giginya. Kemudian setelah itu, Kazza merebahkan tubuhnya sambil menatap langit langit kamarnya.


"Mama hanya mengetahui dari sebuah kebohongan, ya sudahlah. Mungkin saja jodohku masih tersesat entah dimana, anggap saja tadi dongeng dari Mama." Gerutunya, kemudian segera ia memejamkan kedua matanya, berharap dapat tidur dengan pulas.


Sedangkan di kediaman keluarga Gantara, kini sedang menikmati malamnya bersama kedua anaknya. Siapa lagi kalau bukan Vella dan Gio, anak dari pasangan Raska Gantara dan Arsyila.


"Gio, kapan kamu anak menikah? apa kamu juga ingin bersaing dengan status kesendirianmu itu? hem." Tanya sang ayah sambil menatap lekat pada putranya yang berada dihadapannya.


"Gio akan menikah, jika Vella sudah mendapatkan pendamping hidupnya. Jika aku menikah terlebih dahulu, maka perhatianku akan jatuh pada istriku dan kemudian anak anakku nanti." Jawab Gio yang begitu menyayangi sang adik satu satunya.


Gio adalah lelaki yang sangat bertanggung jawab atas posisinya sebagai seorang kakak, Gio begitu menyayangi keluarga. Terlebih lagi pada sang adik, ia tidak main main untuk menjaganya. Bagi Gio, seorang adik perempuan adalah harta paling berharga setelah kedua orang tuanya. Apapun itu, Gio bertanggung jawab atas sepenuhnya sang adik perempuannya.


"Tapi, Vella masih ada Papa dan Mama." Ujar sang ibu mencoba sedikit membujuk putranya.


"Kamu sih, coba kalau waktu itu perjodohan kamu itu dipercepat. Pasti Kazza sudah menikahimu, dan kamu tidak sendirian seperti ini." Jawab Gio.


"Kalau begitu, Vella mau masuk kamar. Vella sudah mengantuk, besok lagi kita lanjutkan obrolannya." Ucap Vella berpamitan, ia tidak ingin semakin lama membicarakan sosok Kazza dihadapannya. Vella memilih untuk menyingkir dan tidak ikut dalam obrolan tersebut.


"Ya sudah, istirahatlah. Jangan sering sering untuk bergadang terlalu malam, kasihan kesehatan kamu. Sekarang, usia kamu tidak lagi muda. Usia kamu sudah terlalu matang untuk sendirian." Ujar sang ibu yang sudah mulai resah memiliki kedua anak yang juga belum kunjung menikah menikah.


Sedangkan didalam kamar, Vella merebahkan tubuhnya sambil menatap langit langit kamar.


"Maafkan Vella, Ma. Jika Vella harus berbohong pada Papa, Mama dan kak Gio. Sebenarnya Vella sendiri yang memutuskan perjodohan dari Mama, karena Vella tidak ingin dalam pernikahan tidak ada rasa saling mencintai. Dan, pada akhirnya anak anak lah yang menjadi pelampiasan dari kedua orang tuanya untuk berpisah." Gerutu Vella sambil menatap langit langit kamarnya.

__ADS_1


Tok tok tok.


Suara ketukan pintu tengah mengagetkan Vella dalam lamunannya.


Ceklek.


Pintu pun terbuka dari dalam, dan dilihatnya sang ibu yang sudah berdiri di hadapannya.


"Mama, ada apa?" tanya Vella dengan lesu.


"Tidak ada apa apa, bolehkah Mama masuk?" jawab sang ibu balik bertanya.


"Tentu saja boleh, silahkan masuk, Ma." Jawab Vella, kemudian segera ia masuk dan diikuti sang ibu dari belakang.


Kini, anak dan ibu tengah duduk bersandingan. Vella hanya berdiam diri sambil menatap lurus kedepan.


"Vella, katakan pada Mama. Sebenarnya, siapa yang memutuskan perjodohan dari Papa. Jujur saja, dari pada kamu terus dihantui dengan ketidakjujuranmu pada kita semua." Ucap sang ibu.


Vella yang mendengarnya, seakan nafasnya terhenti begitu saja. Berat, sangat berat untuk menarik nafasnya.


Vella masih terdiam, pikirannya melayang entah kemana. Apa yang ditakutkannya kini telah terjadi, Vella terus mengatur pernapasannya. Berharap, semua akan baik baik saja.


"Vella, kenapa kamu diam? jujurlah. Jika kamu sulit untuk berkata jujur, ya sudah. Kalau begitu, Mama mau istirahat. Jaga kesehatan kamu, istirahatlah. Jangan terlalu dipikirkan, jika itu tidak penting. Mama hanya bertanya, sekiranya Mama menyinggung perasaan kamu, Mama minta maaf." Ucap sang ibu.

__ADS_1


"Maafkan Vella, Ma." Jawabnya singkat.


__ADS_2