Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Seorang yang tidak dikenal


__ADS_3

Dilain sisi, Afna dan Zayen sedang dalam perjalanan pulang. Keduanya nampak mesra, meski hanya mengendarai motor.


Afna semakin nyaman saat memeluk suaminya dari belakang, Afna semakin mengeratkan pelukannya dan menyandarkan kepalanya di punggung suaminya.


Zayen yang merasa akan perubahan sikap istrinya, membuat Zayen tersenyum bahagia saat mengendarai motornya. Zayen menurunkan kecepatan gas motornya, kemudian Zayen langsung meraih tangan Afna dalam posisi yang sedang melingkar di pinggangnya.


"Sudah siang, bagaimana kalau kita mampir di warung makan milik ibu Minem. Kamu belum pernah makan bakso, 'kan?" tanya Zayen sedikit menoleh kearah istrinya.


"Aku belum pernah membeli bakso, karena aku jarang keluar rumah."


"Baiklah, aku akan mengajakmu untuk menikmati bakso ditempat ibu Minem." Ucap Zayen sambil membelokkan setang motornya ke arah warung makan milik ibu Minem yang selalu menjadi langganannya.


Tidak memakan waktu yang lama, keduanya kini telah sampai didepan warung ibu Minem. Seperti biasa, Zayen menggendong istrinya sampai didalam warung milik ibu Minem.


Tidak disangkanya, rupanya didalam warung sudah dipadati banyak orang. Mau tidak mau, Zayen dan Afna duduk didekat banyak orang.


"Kalau kamu merasa tidak nyaman, bagaimana kalau aku pesankan untuk dibawa pulang. Aku tidak ingin kamu merasa tidak nyaman untuk menikmati baksonya." Ajak Zayen untuk makan bakso di rumah.


"Aku nyaman, karena ada kamu." Jawab Afna sambil menggenggam tangan Zayen untuk meyakinkan suaminya.


"Baiklah, aku mau pesan sebentar. Kamu tunggu aku disini, aku tidak akan lama." Ucap Zayen pamit, sedangkan Afna hanya menggangguk.


" Rupanya ada nak Zayen, kemana saja tidak pernah terlihat? sibuk dengan istrinya, ya?" ledek ibu Minem sambil mengelap piring dan mangkok.


"Saya menginap tempat mertua, Bu. Oh iya, saya mau pesan baksonya dua mangkok dan tidak pakai mie."


"Minumnya?" tanyanya lagi.


"Seperti biasa, Bu. Teh hangat dua gelas tidak pakai gula ya, Bu."

__ADS_1


"Baik, nak Zayen." Jawabnya, kemudian segera meracik bakso sesuai pesanan Zayen.


Sedangkan Afna sedang duduk sendiri sambil menunggu suaminya yang sedang memesan bakso.


"Eh, kamu istrinya Zayen? aku kasih tahu ya, suami kamu itu bukan laki laki baik baik. Pekerjaannya saja tidak jelas, hati hati loh dengan suami kamu." Ucap wanita yang tidak dikenalinya tiba tiba duduk didekat Afna yang sedang menunggu suaminya.


"Tidak penting, aku tidak percaya dengan omongan kamu. Aku tetap percaya dengan suamiku, sekalipun suamiku buruk dimata orang lain." Jawab Afna dengan tegas, meski dalam pikirannya pun juga penasaran dengan sosok suaminya.


"Kamu itu, dibilangin benar benar bukannya penasaran dan mencari tahu tentang suami kamu. Eeeeh! seolah olah kamu pura pura tidak ingin tahu."


"Pergilah dari sini, sebelum aku melaporkan kamu kepada suamiku." Ancam Afna dengan tatapan yang begitu sadis.


"Aku yakin, kamu pasti akan menyesal dikemudian hari." Ucap wanita asing, kemudian segera pergi meninggalkan Afna. Karena kedua mata wanita tersebut dapat menangkap sosok Zayen yang sedang menuju ke arah istrinya.


"Wanita aneh! duduk hanya untuk memprovokasi, sayangnya aku tidak percaya dengannya." Gerutunya tanpa disadari, bahwa suaminya sudah berdiri didekatnya.


"Siapa wanita yang kamu maksud, sepertinya kamu sedang kesal. Apakah kamu mendapat masalah? atau... ada orang yang tengah membicarakan kamu, atau justru terang terangan telah menghina kamu. Katakan saja, biar aku habisin orang macam itu." Tanya Zayen mengagetkan, Afna pun langsung menoleh ke sumber suara.


Namun, tidak mudah bagi Zayen untuk percaya dengan istrinya. Zayen tetap akan membuat Afna berkata jujur tanpa harus di perintahnya.


"Oooh! aku kira ada seseorang yang tengah mengancam kamu." Ucap Zayen sambil duduk ke tempat semula.


"Bukanlah, hanya orang salah tempat saja. Mana baksonya? kenapa tangan kamu kosong?" jawab Afna, kemudian berusaha mengalihkan pembicaraan yang menjerumus tentang masalah yang baru ia dapati.


Tidak lama kemudian, ibu Minem menghampiri Zayen dan Afna.


"Nak Zayen, makannya jangan di sini. Ayo, ikut ibu masuk ke dalam. Disini berisik banyak orang yang suka menggunjing, nanti telinga kalian berdua panas jika mendengarnya." Ucap Ibu Minem mengajaknya untuk pindah masuk kedalam rumah.


"Ayo, kita masuk kedalam saja." Ajak Zayen pada istrinya, Afna pun mengangguk.

__ADS_1


Keduanya pun sudah berada didalam rumah ibu Minem sambil menikmati bakso yang super jumbo.


"Baksonya kebesaran, sepertinya aku tidak akan bisa untuk menghabiskannya. Aku ambilkan separo untuk kamu, ya."


"Dimakan dulu, kamu belum menyicipinya. Kamu pasti akan ketagihan jika sudah menikmatinya." Jawab Zayen sambil menyuapi mulutnya sendiri.


Afna sedikit kesusahan untuk memakan baksonya, Zayen yang melihatnya pun merasa kasihan dengan istrinya.


Zayen menggeser posisi duduknya hingga berdekatan dengan suaminya, Afna pun kembali gugup saat Zayen sudah berada di sampingnya. Afna kembali teringat saat sedang menikmati nasi goreng di rumah orang tuanya yang berakhir melakukan sesuatu yang tidak pernah diduga sebelumnya.


Afna sedikit takut, jika menatap wajah suaminya dengan lekat. Afna sendiri tidak dapat memungkiri jika suaminya memulai mengeluarkan aksinya.


"Aaaaak!" Zayen kembali menyuapi istrinya. Mau tidak mau, Afna membuka mulutnya untuk menerima suapan dari suaminya.


"Bagaimana? enak, 'kan?" tanya Zayen sambil menyuapi dirinya sendiri bergantian.


Afna pun akhirnya menatap wajah suaminya yang terlihat tampan dalam pandangan yang begitu dekat. Zayen sendiri tidak memperdulikan istrinya yang begitu sibuk memandanginya.


Tidak terasa, bakso dua mangkok telah habis tidak tersisa oleh keduanya.


"Ini, diminum teh hangatnya, agar perut kamu tidak terasa perih." Ucap Zayen sambil menempelkan gelasnya pada bibir istrinya, Afna langsung meminumnya.


Zayen tersenyum, kemudian gilirannya untuk meminum teh hangatnya. Setelah sudah cukup, Zayen meletakkan gelasnya.


"Tunggu sebentar, aku mau membayar baksonya. Tidak apa apa 'kan?" ucap Zayen pamit, Afna hanya mengangguk.


Setelah membayar baksonya, Zayen segera menggendong Afna sampai ditempat parkiran. Seperti biasa, Afna selalu menjadi pusat perhatian oleh orang orang disekitarnya. Ada yang memuji dan juga ada yang komentar pedas. Namun, Zayen maupun Afna tidak memperdulikan bisikan bisikan dari orang orang. Karena baginya tidak penting untuk melayani orang orang yang hanya bisanya membuang buang waktu.


Dalam perjalanan keduanya terlihat romantis, meski hanya menaiki motor. Sampai tidak menyadari sudah sampai didepan rumah, Afna masih saja memeluk suaminya. Tanpa Afna sadari motor yang ditungganginya sudah berhenti cukup lama, Zayen sengaja tidak turun dari motor sebelum Afna sadarkan diri jika sudah sampai di depan rumah.

__ADS_1


"Kita sudah sampai?" tanya Afna yang baru menyadarinya, Zayen hanya mengangguk dan tersenyum mengembang.


__ADS_2