
Semua karyawan ikut antusias menyambut kedatangan pemilik perusahaan. Semua karyawan wanita tidak ada yang tidak terlihat rapi, semua begitu rapi dalam penampilannya. Begitu juga dengan karyawan laki laki yang juga ikut antusias menyambut kedatangan Bos besarnya.
Sedangkan Viko sudah menunggunya didepan pintu utama, ia pun akan masuk bersama pemilik Perusahaan. Begitu juga dengan Adelyn, dirinya sendiri ikut menyambutnya. Meski kedengarannya lucu, namun demi privasinya tetap ia lakukan.
Lagi lagi, Adelyn berdiri didekat Merry. Dengan perasaan yang masih dongkol, Adelyn hanya meliriknya sinis.
"Eh, kenapa kamu ada disini? bagian OB itu bukan disini. Tetapi di belakang, ini khusus buat pegawai sepertiku." Ucapnya sinis, Adelyn masih tidak memperdulikannya.
"Diam diam kamu belagu juga, ya. Sudah diberi peringatan, bahwa tempat kamu itu di bagian OB. kenapa kamu belum juga mengerti, hah? apa kamu tidak pernah membaca peraturan di setiap kantor? norak sekali kamu." Ucapnya dengan tatapan sinis.
Adelyn yang mendengarkannya terasa ingin menampol sosok wanita yang menurutnya sangat keterlaluan, hingga membuat darah miliknya terasa mendidih.
"Selagi pemilik perusahaan tidak berkomentar tentangku, aku tidak takut dengan ucapan kamu itu." Ucap Adelyn dengan kekesalannya, kemudian segera ia pindah tempat dan menjauh dari Merry.
Semua karyawan sudah sangat antusias, tidak ada satupun yang bersantai santai. Semua ikut sibuk menyambut kedatangan pemilik perusahaan.
Tidak lama kemudian, sosok laki laki yang masih terbilang muda dan sangat tampan. Bahkan, semua yang melihatnya akan terpesona dengannya.
Dan kini, tibalah mobil yang sudah terpampang jelas di depan Kantor yang sangat besar dan juga bangunan yang menjulang tinggi. Kantor yang benar benar terlihat gagah dan kokoh seperti pemiliknya.
Tepatlah kini sudah berada di ambang pintu, dengan tubuhnya yang tegak dan berpostur tinggi. Ketampanan yang terlihat jelas tanpa adanya rekayasa, semua yang menyambutnya sudah semakin penasaran untuk melihatnya lebih dekat lagi.
__ADS_1
Saat melangkahkan kakinya untuk masuk, Viko menyambutnya dengan senyum ramah. Kemudian mengikutinya dari belakang, dan semua wanita terpenganga melihat sosok laki laki yang sangat tampan dan mempesona. Sedangkan Adelyn sendiri tetap santai tanpa ada kekaguman seperti yang lainnya, Adelyn tetap biasa biasa saja.
Berbeda dengan Merry, begitu kaget melihat sosok laki laki yang akan menjadi Bosnya itu. Merry pun ikut tercengang melihatnya, tidak pernah disangkanya akan bertemu dengan sosok Bos yang begitu tampan.
Semua karyawan dan semua yang berada di dalam Kantor tengah menyambut pemilik Peeusahaan dengan sebaik mungkin, semua tengah membungkukkan badannya. Begitu juga dengan Adelyn yang ikut menyambut seperti yang lainnya.
"Aku tidak salah lihat, 'kan? bukankan laki laki itu Ayen? teman SMA ku dulu. Yang benar saja, jika dirinya adalah anak orang kaya raya. Sekarang Ayen benar benar sudah berubah dan tidak buruk dalam penampilannya. Kesempatan yang sangat mudah bagiku untuk mendapatkannya, selain sudah mengenalnya juga sudah tidak ada lagi rasa canggung.' Batinnya dengan penuh kemenangan.
Sedangkan karyawan lainnya tengah berbisik membicarakan sosok laki laki yang begitu tampan dan mempesona.
" Adelyn, kamu kenapa sih? sedikitpun kamu tidak terkagum kagum dengan Bos kita. Lihat lah, yang lainnya meleleh melihat ketampanannya. Kenapa kamu bersikap biasa biasa saja? bahkan kamu terlihat sangat santai." Tanya Sasa yang merasa heran dengan Adelyn.
"Hei, kenapa kamu melamun? jangan jangan kamu sudah mengenal Bos kita, ya? jujur saja. Soalnya cuma kamu yang bersikap berbeda dengan karyawan yang lainnya." Tanya Sasa yang semakin penasaran.
"Hem, kamu salah besar. Aku hanya memikirkan ucapan Merry yang akan menyingkirkan aku, Sa." Jawab Adelyn beralasan.
"Kamu sih, sudah aku bilangin sama kamu. Jangan membuat masalah dengannya, akibatnya ngeri." Ujar Sasa mengingatkan kembali.
"Sudah lah, ayo kita kembali ke ruang kerja kita. Nanti kalau ketahuan banyak mengobrol, kita bisa dipecat." Ajak Sasa yang tidak ingin mendapatkan resiko.
Adelyn hanya bisa nurut, dirinya didalam Kantor tidak lagi memiliki kekuasaan dengan transparan. Sosok Adelyn sangat di rahasiakan, bahkan keluarganya pun tetap selalu mengajari Adelyn untuk tidak menunjukkan jati diri. cukup waktu yang akan menunjukkan kapan dan dimananya.
__ADS_1
Sedangkan Zayen kini tengah berada di ruangan yang akan dijadikan rapat, sang ayah akan memulai memperkenalkan putranya yang akan memimpin perusahaan. Tidak hanya itu, Viko pun akan diperkenalkannya dengan pegawai lainnya yang ikut menjadi bagian penting dalam perusahaan.
Setelah semua sudah berada di ruang rapat, tuan Alfan segera memperkenalkan putranya dan sekaligus status putranya yang tidak lain ada menantu dari keluarga Danuarta.
Semua yang mendengarkannya pun seperti tidak percaya saat tuan Alfan memperkenalkan putranya. Tuan Alfan tetap berkata jujur, dirinya tidak ingin putranya menjadi buronan para wanita yang tidak baik.
Setelah memakan waktu yang cukup lama di ruang rapat, setelah itu tuan Alfan segera mengajak putranya untuk masuk ke ruangan kerjanya.
Sesampainya di ruangan kerja, Zayen maupun sang ayah kini duduk berhadapan. Sedangkan Viko memilih untuk berdiri di dekat Zayen.
"Zayen, sekarang kamu lah yang akan memimpin dan sekaligus yang akan mengelola perusahaan ini. Papa berikan tanggung jawab ini kepada kamu, dan papa juga menitipkan Adelyn untuk menjadi sosok wanita yang tangguh dan juga cerdas. Setidaknya, buat Adelyn banyak berubah ke yang lebih baik lagi." Ucap sang ayah memberikan penjelasan kepada putranya, dan pastinya memberikan tanggung jawab yang begitu besar.
Zayen tidak hanya mengurus satu perusahaan, dirinya tetap menyembunyikan identitasnya. Hanya satu perusahaan yang tidak disembunyikan, semua demi privasi dan untuk kebaikan keluarga. Agar tidak menimbulkan kejahatan kepada orang yang dengki.
"Baik, Pa. Zayen akan terus berusaha untuk ke yang lebih baik lagi, meski prosesnya sangat sulit untuk dilalui." Jawab Zayen meyakinkan sang ayah.
"Papa percaya sama kamu, bahwa kamu tidak dapat diragukan lagi. Kalau begitu, Papa akan segera mendatangi kantor yang satunya." Ucap sang ayah, Zayen pun mengangguk mengerti.
Setelah banyak berbincang dengan putranya, kini segera tuan Alfan bangkit dari posisi duduknya. Kemudian mendekati Viko yang masih berdiri didekat putranya.
"Viko, Paman titipkan Adelyn pada kamu juga. Ajarkan tentang kedisiplinan, tanggung jawab, dan kesopanan maupun hal baik lainnya. Paman sudah tidak mumpunyai waktu yang lama lagi di tanah air, Paman harus segera berangkat." Ucap tuan Alfan pada Viko dengan tatapan serius.
__ADS_1