
Zayen pun segera keluar dari kamarnya, sedangkan Viko sendiri sedabg duduk di ruang tamu sambil menunggu.
Afna yang masih didalam kamar, tiba tiba ia ingin ikut suaminya pergi. Afna langsung menyambar tas miliknya, kemudian segera menyusul suamberlebihan, mungkin saja sudah di ruang tamu bersama Viko.
Sedikit terburu buru melangkahkan kakinya, Afna berusaha untuk mengejar suaminya. Sampai sampai ia sendiri lupa dengan kondisinya yang sedang hamil.
"Sayang." Seru Afna memanggil suaminya, Zayen maupun Viko yang sudah berada di ambang pintu untuk keluar langsung menoleh kebelakang.
Afna kembali melangkahkan kakinya dan mendekati sang suami, kemudian ia tersenyum. Zayen maupun Viko saling menoleh satu sama lain, keduanya bingung dengan penampilan Afna yang sudah berpakaian rapih dengan membawa tasnya.
"Kamu mau kemana, sayang?" tanya Zayen penasaran.
"Aku mau ikut, titik." Jawabnya sambil berkacak pinggang didepan suaminya, Zayen hanya menautkan alisnya.
"Kamu mau ikut? yang benar saja, aku sedang tidak salah dengar, 'kan?" tanya Zayen kembali.
"Serius, aku mau ikut kamu pergi. Aku merasa tidak enak jika makan ayam gepreknya di rumah. Aku tidak selera makan di rumah, sayang ... aku menginginkan makan di luaran sana denganmu. Dipinggir Danau kecil, dan menyeruput teh hangat dan mendapatkan suapan dari kamu." Jawab Afna sambil meraih kedua tangan suaminya, kemudian tersenyum merayu.
"Tapi, kita berdua mau menjemput kak Seyn. Bagaimana, sayang? apakah kamu juga masih mau ikut?" tanya Zayen lagi.
"Tidak masalah, aku tetap mau ikut bersamamu." Jawab Afna dengan keputusannya yang tidak berubah.
"Ajak saja sih, Bos. Bukankah istri Bos sedang hamil? turuti saja keinginannya." Ucap Viko menimpali.
"Tuh, kan ... Viko saja mengizinkan." Ujar Afna sedikit cemberut, Zayen pun tersenyum.
"Iya, sayang. Kamu boleh ikut, siapa yang tidak mengizinkan kamu ikut? hanya saja, aku takut kamu kelamaan menunggu. Karena aku mau menjemput kak Seyn lebih dulu, itu saja." Jawab Zayen beralasan.
__ADS_1
'Aku hanya tidak ingin membuat hati kak Seyn terluka, itu saja. Siapa yang tidak bersedih dan sakit hati melihat mantan kekasihnya bermesraan didepannya, ditambah lagi kamu sedang hamil anakku dan sikap kamu terhadapku.' Batin Zayen yang sedikit cemas jika sang kakak akan merasa sakit hati.
"Terima kasih ya, sayang ..." ucap Afna dan tersenyum, Zayen pun ikut tersenyum.
"Ayo kita berangkat, kasihan kak Seyn yang sudah menunggu kita." Ajak Zayen, kemudian menggandeng istrinya sampai didepan mobil.
"Vik, nih kunci mobilnya. Kamu yang menyetir, ok." Ucap Zayen menyerahkan kunci mobilnya, Viko pun menerimanya.
"Kenapa tidak pakai jasa supir saja, sayang. Kasihan Viko loh duduk sendirian di depan." Ucap Afna menimpali.
"Nanti ada kak Seyn yang akan duduk didepan menemaninya, jangan khawatir." Jawab Zayen meyakinkan.
"Oh ... ya sudah kalau begitu, aku kira bisa mengajak Adelyn. Agar Viko tidak sendirian, setidaknya ada teman untuk mengobrol." Ucap Afna yang tiba tiba teringat dengan sosok adik iparnya.
"Nona, jangan aneh aneh." Jawab Viko datar.
"Sudah, jangan banyak komentar. Ayo kita masuk ke mobil, nanti kita telat." Ucap Zayen, kemudian segera ia membukakan pintu mobil untuk sang istri.
'Enak kali punya istri, ah! siapa juga yang mau jadi istriku.' Batin Viko sambil melihat Zayen dan Afna yang terlihat mesra lewat kaca depan.
Tidak lama kemudian, telah sampailah di tempat yang dituju. Afna maupun Zayen dan juga Viko segera melepas sabuk pengamannya, setelah itu langsung turun dari mobil.
Disaat itu juga, Afna teringat saat sang suami berada didalam tahanan.
"Tempat ini benar benar menyakitkan. Sungguh, aku tidak ingin mengulanginya lagi." Ucap Afna lirih, Zayen pun dapat mendengarkannya.
"Aku janji, aku tidak akan mengulanginya lagi." Jawab Zayen sambil menggandeng tangan istrinya.
__ADS_1
"Bos, ayo kita masuk." Ajak Viko yang tidak ingin lama lama melihat kemesraan Zayen dan Afna.
"Sudah pernah aku katakan, jangan panggil aku dengan sebutan Bos. Apa kamu tidak mendengarkanku berucap, hah?" ucap Zayen yang sudah mulai risih dengan panggilan Bos. Seakan akan dirinya terlalu berlebihan dan tentunya serasa risih dan tidak nyaman untuk didengarkannya.
"Sudah terbiasa sih, Bos. Lebih nyaman memanggil dengan sebutan Bos, dari pada Bro." Jawab Viko yang merasa tidak enak hati dengan semua kebaikan Zayen yang sudah menolongnya dari kejaran polisi dikala dirinya pertama kali menginjakkan kakinya di Kota.
"Panggil saja dengan sebutan Bro, dari pada Bos. Kamu mengerti? jika masih tidak mengerti, ampun dah." Ucap Zayen, kemudian segera masuk kedalam sambil menggandeng tangan istrinya.
"Mengerti, Bro." Jawab Viko mengikuti Zayen dari belakang.
Sesampainya didalam ruangan, Zayen segera menemui petugas untuk mengurus kepulangan sang kakak. Sedangkan Viko dan Afna hanya berdiam diri didekat Zayen.
Setelah semuanya sudah beres urus urusannya, Zayen dan Afna maupun Viko segera menemui Seyn.
"Bos, eh Bro. Aku tunggu di pintu keluar saja, ya. Biar aku tidak bolak balik, mana mobil ada didepan. Akunya males muter muter, kamu dan istri kamu temui Seyn dan keluar lewat jalur keluar bersama. Ok! Bro, aku keluar." Ucap Viko yang malas bolak balik.
"Ya sudah, aku dan istriku mau menemui kak Seyn. Aku tunggu kamu di jalur keluar." Jawab Zayen, Viko pun mengangguk dan segera keluar.
Zayen dan Afna segera menemui Seyn dan mengajaknya untuk pulang. Sesampainya di ruangan yang dimana Seyn berada, dilihatnya Seyn yang sedang bersiap siap untuk keluar dan berpamitan dengan yang lainnya. Setelah itu, Seyn pun segera keluar dan meninggalkan teman temannya yang masih bertahan dengan masa tahanannya.
Semua ikut bersedih, tatkala harus berpisah dengan seorang teman yang sudah pernah dilaluinya bersama. Zayen pun segera mendekati sang kakak, keduanya berpelukan selayaknya kakak beradik yang saling merindukan. Setelah itu, Zayen melepaskan pelukannya.
"Kak Seyn, apa kabarnya?" sapa Zayen pada sang kakak.
"Kabarku seperti yang kamu lihat, terima kasih sudah membebaskan aku dari tempat terku*tuk ini." Jawab Seyn dan tersenyum bahagia, meski sedikit merasa sangat bersalah atas perbuatan buruknya yang pernah ia lakukan kepada sang adik.
"Kakak tidak bersalah, dan kakak berhak bebas dari tempat ini." Ucap Zayen, Afna pun segera mendekati suaminya dan kakak iparnya.
__ADS_1
Seyn pun hanya menatap Afna, ia tidak berani untuk menyapanya. Selain malu, Seyn pun merasa banyak kesalahan terhadap mantan kekasihnya dulu. Begitu juga dengan Afna, ia pun tidak berani menyapanya. Afna sendiri tidak ingin membuat sang suami akan salah paham, dan juga dirinya takut akan menambah masalah dengan sang suami.
'Kenapa aku baru sadar, rupanya ini alasannya kenapa suamiku keberatan jika aku ikut menjemput Seyn. Maafkan aku, sayang.' Batin Afna merasa bersalah.