Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Membangunkan istri


__ADS_3

Zayen melirik kearah kedua wanita yang sedang menikmati sotonya hanya tersenyum mengumpat, pasalnya Zayen seperti memiliki hiburan yang sangat lucu. Karena penampilannya yang terbilang sangat menakutkan, kini telah berhasil untuk tidak didekati wanita wanita tidak bermoral. Zayen sangat berbeda dengan Seynan, jika Seynan justru mudah tergoda dengan wanita di luaran. Bagaimana tidak, penampilannya yang terlihat sangat istimewa membuat para wanita tergoda dengannya. Termasuk Afna, yang dari dulu jatuh hati dengan kepalsuan yang dimiliki oleh Seynan.


Berbeda dengan Zayen, yang sangat risih jika didekati wanita. Zayen lebih memilih merubah penampilannya dibuat seseram mungkin, agar para wanita tidak mudah untuk menggodanya. Zayen akan memilih wanita yang akan menerimanya dengan keadaan apapun. Meski sebenarnya Zayen bisa merubah penampilannya jauh lebih baik dari sang kakak. Namun, Zayen tidak akan melakukannya sebelum dirinya merasa tenang.


"Nak Zayen, duduklah."


"Iya Bu, terimakasih." Zayen segera duduk sambil menunggu pesanan dan menyibukkan dengan ponselnya. Wanita yang tidak jauh dari tempat duduknya pun melirik ke arah Zayen yang sedang memainkan ponselnya.


"Ponsel sangat bagus, dan sepertinya sangat mahal. Tapi sayang, orangnya sangat menyeramkan." Bisik wanita kepada temannya sambil menikmati sotonya.


"Iya, coba kalau ganteng. Pasti aku akan tergila gila dengannya, sayangnya wajahnya seperti preman." Jawabnya lirih, sedangkan Zayen pun hanya tersenyum sambil menatap layar ponselnya. Seakan dirinya dapat menakuti para wanita yang ada didekatnya, dan dirinya merasa aman tidak menjadi sorotan menggoda wanita.


"Nak Zayen, ini pecel dan gorengannya."


"Berapa harganya, Bu."


"Tiga puluh ribu saja, Nak."


"Ini Bu, kembaliannya untuk ibu saja." Zayen menyodorkan lembaran kertas merah kepada ibu penjual pecel.


"Tapi, Nak. Ini masih banyak kembaliannya, masih bisa untuk membelikan jajan istri kamu. Ibu tidak enak, Nak Zayen... setiap kamu beli pecel tempat ibu, kamu tidak pernah mau diberi kembaliannya."


"Itu Rizki untuk anak ibu, ibu tidak perlu khawatir. Saya masih ada tabungan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan saya dan istri saya." Jawabnya berusaha meyakinkan.


"Kalau begitu, saya pamit Bu."


"Iya Nak, terimakasih." Jawab ibu penjual pecel dengan senyum merekah. Meski hanya diberi tujuh puluh ribu, perasaannya sangat senang. Karena mencari untung sepuluh ribu saja sangat sulit, pikirnya.


Zayen pun segera menyalakan mesin motornya dan kemudian melajukannya dengan kecepatan sedang. Karena rumah yang di huninya tidak jauh dari warung makanan.


Sedangkan dua wanita yang sedang menikmati sotonya pun sedikit kesal, tatkala melihat Zayen yang sok dermawan.

__ADS_1


"Bu Minem, kenapa sih itu Zayen. Setiap beli tempat ibu tidak mau diberi kembaliannya. Sok kaya banget sih, rumah saja sempit begitu."


"Iya itu, Bu. Bukannya diambil kembaliannya untuk istrinya atau dikumpulkan, eeeee dikasih ke ibu begitu saja. Sebenarnya pekerjaan Zayen itu apa sih, Bu. Perasaan tidak terlihat pekerjaannya, sangat tersembunyi." ucap wanita yang satunya ikut menimpali.


"Hus!! jangan suudzon, meski terlihat preman tetapi sepertinya dia orang baik baik. Jangan menilai seseorang itu dari penampilannya, tapi dari sikapnya." Ibu Minem menasehati kedua wanita yang sedang menikmati sotonya.


"Ada apa kok rame rame loh Sinta, ada gosip baru?" tanya ibu paruh baya penasaran.


"Tidak ada apa apa kok, bu Ratih." Jawab ibu Minem beralasan, karena tidak ingin warungnya dijadikan bahan ghibah.


"Itu, tadi Zayen beli pecel di sini." Ucap Sinta menimpali.


"Oooh Zayen? yang misterius itu, yang pekerjaannya dan juga status keluarganya tidak jelas itu."


"Iya, Bu." Jawab Sinta dengan cepat.


"Hus! jangan ngomongin orang di warungku, tidak baik. Sekarang mau berhenti ngomongin orang, atau mau lanjut. Jika mau lanjut, maka warungku akan aku tutup."


Ibu Minem hanya memberi kode dengan cara melotot, semua pelanggannya hanya bisa diam. Karena pecel ibu Minem paling enak dan murah di daerahnya. Hingga banyak pengunjung dari lain desa.


Tidak lama kemudian, Zayen sudah sampai di rumahnya. Pulangnya sedikit terlambat, karena dirinya teringat jika perlengkapan untuk di kamar mandi sudah habis. Jadi, Zayen harus pergi kewarung untuk membelinya.


Zayen segera memakirkan motornya di samping rumah, setelah itu dirinya segera masuk rumah tanpa mengetuk pintunya. Zayen tidak ingin merepotkan sang istri, maka dari itu Zayen membawa kunci serepnya.


Ceklek, Zayen membuka pintunya. Dan dilihat suasana rumahnya terdengar sangat sepi, bahkan tidak ada suara apapun.


'Sepi, apa mungkin tidur. Atau... pergi keluar dengan kedua orang tuanya.' Gumamnya kemudian meletakkan pecelnya di atas meja makan. Zayen kemudian segera masuk kedalam kamarnya, dengan pelan Zayen melangkahkan kakinya.


Dan benar saja, pintu kamarnya pun terbuka, Zayen pun kaget dibuatnya. Ternyata ada ibu mertuanya yang sedang tidur pulas bersama sang istri.


Karena takut pecelnya tidak enak untuk dimakan, Zayen berusaha membangunkan sang istri.

__ADS_1


Dengan pelan, Zayen menepuk nepuk pipi kanan milik sang istri. Agar segera bangun, dan sudah waktunya untuk makan siang.


"Afna, Afna, bangun." Afna masih pulas tidurnya, walau sudah di tepuk tepuk pelan pipinya. Zayen masih mengulanginya kembali, berharap sang istri segera bangun dari tidurnya.


"Afna, bangun. Sudah siang, dan sudah waktunya untuk makan siang." Ucapnya lagi dan berulang ulang agar sang istri segera bangun.


Afna hanya mengganti posisi tidurnya, dan bahkan tidak merespon sang suami yang tengah membangunkannya.


'Membangunkan mertua, itu tidak mungkin. Apa perlu aku menggendong Afna, aku rasa tidak mungkin sekali. Gumamnya sambil berdiri disamping sang istri.


Zayen mencoba untuk yang terakhir kalinya. Jika masih belum bangun juga, Zayen segera makan siang sendirian.


"Afna, bangun. Afna... bangun..." Berkali kali Zayen membangunkan dan sambil menepuk nepuk pipi Afna pelan.


"Apa...!!!" teriak Afna dengan reflek, sang ibu pun ikut dikagetkan dengan suara teriakan dari putrinya.


"Afna, kebiasaan kamu. Kenapa kamu berteriak, gendang telinga mama seperti mau pecah." Ucap ibunya tanpa menyadari jika menantunya sudah ada didalam kamar, tepatnya disamping sisi Afna.


"Maaf, mama tidak tahu jika kamu sudah pulang. Tadi mama dan Afna bingung mau ngapain, jadinya kita berdua tidur. Maafkan mama yang sudah lancang tidur di kamar kamu." Ucapnya merasa tidak enak hati dengan menantunya.


"Tidak apa apa Ma, justru Zayen yang meminta maaf karena sudah membangunkan mama yang sedang tidur pulas."


"Afna, ayo turun. Cuci muka kamu, terus buatkan minum untuk suami kamu."


"Iya, ma."


"Tidak perlu, aku tadi membeli pecel untuk makan siang. Apakah kamu menyukainya? jika tidak, akan aku belikan soto ayam."


"Tidak perlu, apapun yang kamu beli untukku itu sudah cukup. Aku mau cuci muka terlebih dahulu, tunggu aku di ruang makan. Maaf, jika aku banyak bicara."


"Tidak apa apa, aku keluar."

__ADS_1


"Iya," Afna dibantu sang ibu untuk pergi ke kamar mandi. Sedangkan Zayen pergi ke kamar mandi belakang untuk membersihkan wajahnya yang terkena debu dijalanan.


__ADS_2