
Rey yang mendengar gurauan dari adik perempuannya, kemudian menoleh ke arah saudara kembarnya yaitu Zakka.
Zakka yang mendapati tatapan dari saudara kembarnya hanya tersenyum, mencoba untuk mencairkan suasana. Kedua orang tuanya pun melihatnya penuh dengan keheranan pada kedua putranya yang sama sama terlihat mencurigakan.
"Kak Rey, jangan khawatir. Aku tidak akan mendahului kak Reny untuk menikah, aku akan sabar menunggu kamu Rey." Ucap Zakka sambil menatap langsung pada kakaknya.
"Tidak perlu menungguku, jika kamu sudah mendapatkan perempuan yang kamu sukai jangan pernah mengabaikannya." Jawab Reynan berusaha untuk terlihat tenang, kemudian segera bangkit dari posisi duduknya dan kembali masuk ke kamarnya.
Kini, tinggal lah Zakka dan kedua orang tuanya serta kakek Angga yang masih di ruang keluarga.
"Zakka, Papa ingin bertanya padamu. Katakan yang sejujurnya, apakah kamu dan Rey menyukai perempuan yang sama? dan benarkah perempuan yang kalian sukai itu menyukai laki laki lain?" tanya sang ayah dengan tatapan yang serius.
Seketika, Zakka bingung untuk menjawabnya. Berbohong, itu tidak mungkin dan tidak akan pernah ia lakukan pada kedua orang tuanya. Meski kenyataannya ia berusaha menutupi kejujurannya pada saudara kembarnya sendiri, yaitu Reynan saudara kembarnya.
"Kenapa kamu diam, Zakka? ayo jawab dengan jujur pertanyaan dari Papa kamu." Tanya sang kakek ikut menimpali.
"Ia Pa, Zakka sudah jujur. Zakka dan kak Rey menyukai perempuan yang sama, namanya Aish. Perempuan yatim piatu, dan akan dipersunting oleh tetangganya sendiri." Jawab Zakka dengan menunduk, ia takut akan mendapat amarah dari ayahnya yang telah salah dalam menaruh perasaan.
Disaat itu juga, kakek Angga teringat akan masa lalunya. Yang dimana telah jatuh cinta pada perempuan yang sama dengan saudara laki lakinya yang bernama kakek Zio, hanya saja pernikahan kakek Angga berawal dari perjodohan akibat kelumpuhan pada kedua kakinya.
__ADS_1
"Hentikan perasaan kamu, Zakka. Jangan kamu lanjutkan perasaan kamu semakin dalam, buang jauh jauh dalam ingatanmu. Kakek tidak ingin kamu dan kakak kamu akan jatuh dalam lubang yang sama sakitnya. Jangan kalian ulangi perasaan kalian pada satu perempuan, apalagi perempuan yang kalian sukai ternyata sudah memilih pilihannya. Cukup, cukup kakek dan kakek Zio yang mengalaminya. Jangan sampai masa lalu kakek terulang kembali, kakek tidak mau itu terjadi." Ucap sang kakek menimpali serta mengingatkan pada cucunya.
Zakka yang mendengar penuturan dari kakeknya hanya diam. Semakin ada penghalang, semakin menggebu akan perasaannya.
"Iya, Zakka. Kamu dan kakak kamu harus menghentikan perasaan kalian pada perempuan yang sama, tinggalkan perempuan itu. Itu pun jika kamu mau menyelamatkan persaudaraan dengan saudara kembarmu sendiri." Ucap sang ayah menimpali.
"Zakka tidak bisa janji, Pa ... Kek. Zakka sudah terlanjur menyukainya, meski perempuan yang Zakka sukai telah menjadi milik orang lain. Zakka akan terus berharap, bahwa pada suatu hari nanti akan Zakka miliki." Jawab Zakka, kemudian segera ia bangkit dari posisi duduknya. Ia tidak ingin semakin banyak mendapat nasehat dari kedua orang tuanya maupun sang kakek.
Saat Zakka akan menapaki anak tangga, Rey lebih dulu menuruni anak tangga. Pandangan yang sangat dingin selalu Rey perlihatkan, senda gurau dapat dihitung nya. Namun, terkadang sampai sampai tidak dapat untuk dihitung karena sama sekali tidak ada lagi senda guraunya.
"Rey, kemarilah. Kakek ingin berbicara dengan kamu, ayo cepat kesini." Seru sang kakek memanggilnya.
Jadi, wajar saja jika sikap dan watak dari Rey tidak jauh beda dengan sang kakek. Sikap dinginnya dan juga sikap yang sulit untuk tersenyum. Namun sejak kakek Angga menikah, lambat laun sikapnya berubah.
"Ganan, jangan terlalu banyak memikirkan hal buruk pada ketiga anak kembarmu. Semua akan baik baik saja. Soal Rey, semoga dapat dinasehati dengan baik." Ucap sang kakek, kemudian segera bangkit dari posisi duduknya dan meninggalkan anak dan menantunya. Lalu menyusul cucunya ke ruangan khusus kakek Angga duduk bersantai.
Tuan Ganan hanya menarik nafasnya dengan pelan dan membuangnya dengan kasar. Setelah itu, mengajak istrinya kembali masuk ke kamar untuk beristirahat sebentar. Agar pikirannya tidak semakin kacau memikirkan ketiga anaknya.
Sedangkan dilain sisi, tepatnya di rumah tuan Alfan sedang menimbang nimbang keberangkatan Viko dan Adelyn. Ditambah lagi dengan kondisi Afna yang tengah hamil besar dan Zayen yang sedang dalam ancaman.
__ADS_1
Zayen, sang ayah, dan Viko sedang duduk untuk membicarakan perihal adanya ancaman yang sangat mencurigakan.
"Papa tidak tahu harus memberi keputusan apa pada kalian, padahal kita semua tinggal memetik hasil dari perjalanan kita selama ini yang sudah dilewati dengan penuh duka. Namun kenyataannya, masih ada saja yang datang secara tiba tiba memberi sebuah ancaman yang sangat jelas." Ucap tuan Alfan pada putranya dan juga menantunya.
"Papa tidak perlu khawatir, jika Viko diminta untuk ikut andil dalam masalah ini akan Viko lakukan secepat mungkin untuk menguak dalang dari semua ini. Viko yakin jika pelakunya tidak jauh dari hadapan kita. Hanya saja, kita diminta untuk teliti dan harus lebih hati hati. Karena penjahat, berbagai cara akan dilakukan. Meski kenyataannya bukan lah kak Seyn dan Neyla yang menjadi sasarannya yang sebenarnya. Dan, bisa jadi yang menjadi sasarannya adalah kak Zayen dan istrinya." Jawab Viko yang sedikit kaku pada kalimatnya yang terakhir, bibirnya terasa kelu saat menyebut Zayen dengan sebutan kakak.
"Papa juga sepemikiran denganmu, Viko. Papa sendiri menaruh curiga, jika yang sebenarnya diincar adalah Afna dan Zayen. Tapi, tepatnya pada calon bayi yang dikandung Afna." Ucap tuan Alfan mencoba menebaknya.
"Iya Pa, Viko rasa memang seperti itu." Jawab Viko penuh yakin.
"Zayen merasa, tidak hanya Afna. Tetapi Neyla, istri kak Seyn." Ucap Zayen menimpali.
"Kenapa bisa Neyla?" tanya sang ayah penasaran.
"Karena Neyla memiliki masa lalu, itu yang Zayen tebak." Jawab Zayen penuh prustasi, lagi lagi harus berhadapan dengan sebuah ancaman. Hingga membuatnya terasa lelah dan capek. Namun, mau bagaimana lagi, Zayen harus kuat dan sabar untuk melewatinya bersama orang yang ia sayangi dan ia cintai.
"Kita harus lebih detail untuk menguaknya, agar secepatnya cepat teratasi dan tidak ada lagi ancaman ancaman yang datang dengan tiba tiba." Ucap sang ayah yang terus berpikir untuk mendapatkan ide.
"Terserah Papa, apa yang harus kita lakukan. Zayen akan lakukan demi semuanya akan baik baik saja." Ucap Zayen yang tidak lagi dapat konsentrasi. Zayen masih terus kepikiran akan keselamatan calon buah hatinya yang sudah sinanti nantikan kelahirannya dan juga keselamatan pada istri tercintanya.
__ADS_1