
Saat semua tengah duduk, tuan Alfan mencoba untuk membuka suara.
"Maaf sebelumnya, apakah bisa kita mulai untuk membahasnya?" tanya tuan Alfan pada tuan Dana.
"Tentu saja, silahkan." Jawab tuan Dana dengan tenang.
"Ceritakanlah keluarga tuan Dana, siapa tahu kita dapat menemukan titik terangnya." Pinta tuan Alfan.
"Begini ceritanya, ibunya Seyn adalah kakakku. Kita tiga bersaudara, aku memiliki seorang adik laki laki yang jauh terpaut umurnya denganku. Adikku tidak jauh beda dengan putramu, Zayen. aku dan adikku berbeda ibu, namun tetap satu ayah. Sejak lahirnya adikku, aku tidak pernah mengenalinya. Aku pergi jauh ke luar Negri sejak pernikahanku dinyatakan gagal bersama Elin, aku terpaksa mencuri bayimu. Karena kekesalanku yang gagal menikah, aku gelap mata dan gelap tindakan." Ucap tuan Dana menjelaskannya.
"Lalu, sampai sekarang pun kamu tidak tahu siapa adik kamu itu?" tanya tuan Alfan terus menyelidik.
"Aku tahunya dari suruhanku, jika adikku memiliki seorang anak perempuan dan dinyatakan meninggal. Kemudian hamil yang kedua, dan dinyatakan meninggal serta istrinya. Kemudian, adikku menikah lagi dan memiliki seorang anak perempuan. Tapi, anak itu adalah bukan dari hasil hubungan dengan adikku. Melainkan sudah hamil duluan dengan pria lain."Jawabnya.
"Sungguh rumit, dan sulit untuk dilakukan penyelidikan. Tapi, aku akan terus membantumu untuk mendapatkan informasi yang akurat." Ucap tuan Alfan berusaha untuk meyakinkan.
"Hanya itu yang aku dapati, dan aku tidak lagi melanjutkan untuk menyelidiki adikku. Karena aku dengan fokus dengan masalahku sendiri. Aku putus kontak bersama keluarga. Bahkan, ketika kedua orang tuaku meninggalkan pun aku tidak pulang. Aku membenci kehidupan di tanah air, aku memilih untuk melanjutkan aksiku untuk membuat keluarga kamu hancur." Jawab tuan Dana terus menjelaskan.
"Lalu, Reina itu apakah istri sah kamu?" tanya tuan Alfan yang tiba tiba teringat sosok perempuan yang juga ikut andil dalam perbuatan jahatnya terhadap putri tuan Tirta.
"Iya, aku menikahinya dengan iming iming kekayaanku. Karena aku membutuhkan kaki tangan untuk menjalankan misiku." Jawab tuan Dana dengan jujur.
"Jadi, apa yang harus aku lakukan. Apakah kediaman keluarga kamu masih ditempatinya?" tanya tuan Alfan yang masih terus mengorek masalah.
"Aku tidak tahu, sekarang aku benar benar tidak memiliki apapun di tanah air. Aku hanya memiliki dua perusahaan di Amerika dan dua petusahaan di Korea yang aku titipkan kepada orang kepercayaanku." Jawab tuan Dana.
"Baiklah, aku akan terus membantumu untuk mencari kebenarannya. Aku akui, masalah yang kamu hadapi sangatlah rumit. Setidaknya, kamu temukan adik kamu itu. Kemudian, tunjukkan kebenarannya tentang siapa perempuan yang sudah membohongi adik kamu itu." Ucap tuan Alfan memberi saran.
"Iya, mungkin memakan waktu yang cukup lama. Tapi, aku pun akan terus berusaha mencarinya. Aku merasa, bahwa keponakan aku masih hidup. Siapa lagi pewarisku, kalau bukan keponakanku sendiri. Saat ini aku hanya memiliki Seyn, semoga semuanya dapat dipertemukan kembali." Jawab tuan Dana yang terus menjelaskan.
"Jadi, Seyn masih mempunyai paman? namanya siapa?" tanya Seyn yang juga penasaran.
__ADS_1
"Guntara, paman kamu sering dipanggil Tara." Jawab tuan Dana.
"Sepertinya Zayen tidak asing mendengar nama itu." Ucap Zayen sambil mengingat ingatnya.
"Coba kamu ingat kembali nama itu, biasanya kamu suka ceroboh." Ucap Seyn pada adiknya.
"Iya, aku akan mengingatnya kembali." Jawab Zayen.
"Ya sudah kalau begitu, sepertinya informasi yang kamu berikan cukup jelas. Aku akan membantumu untuk mencari kebenarannya." Ucap tuan Alfan.
"Terima kasih, kamu sudah mau membantuku. Maafkan aku yang dulu pernah membuatmu kehilangan putramu. Aku janji, aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku sudah kapok, karena perbuatanku ini, aku mendapatkan balasannya. Aku harus kehilangan saudara perempuan ku dan keponakanku." Jawab tuan Dana merasa sangat bersalah.
"Jangan bicara seperti, tanpa adanya masalah tidak akan pernah merasakan apa itu kebaikan yang sesungguhnya." Ucap tuan Alfan.
"Benar, apa yang kamu katakan tidak ada yang salah. Setelah aku melewati perjalanan hidupku, aku mendapatkan banyak pelajaran yang berharga. Dan, tentunya aku tidak akan melupakannya." Jawab tuan Dana.
"Semoga kita tetap menjalani hubungan persahabatan ini lebih dari sahabat dan sebagaimana mestinya seperti keluarga. Kalau begitu, aku serta anak dan keponakanku pamit pulang. Jika ada sesuatu yang perlu untuk dibicarakan atau sangat membutuhkan sesuatu, hubungi aku atau Zayen, atau Seyn dan yang lainnya." Ucap tuan Alfan, kemudian berpamitan untuk pulang.
Setelah berpamitan, semua bangkit dari posisi duduknya dan segera pulang. Kini, didalam rumah kembali sepi. Tuan Dana kembali seorang diri tanpa ada anggota keluarganya, hanya pelayan rumah yang ia dapati.
"Setelah ini kita mau kemana, Pa?" tanya Zayen membuka suara.
"Bagaimana kalau kita pergi menyusul Mama dan yang lainnya." Ajak tuan Alfan.
"Hem, tidak mau. Bukannya ikut jalan jalan, yang ada seperti cantolan belanjaan." Jawab Zayen yang sedang tidak ingin beraktivitas berat.
"Terus, kita mau kemana?" tanya Seyn menimpali.
Dengan senyum lebar, Zayen pun mendapatkan ide yang menurutnya sangat cemerlang.
"Cih, senyum senyum tidak jelas. Cepat, katakan kemana kita harus pergi?" ucap Seyn dan bertanya.
__ADS_1
"Ayam geprek, bagaimana?"
"Ayam geprek? kamu sudah lapar lagi?" tanya Seyn lagi.
"Aku kangen masa muda bersama istriku, tapi aku lagi males ramai ramai." Jawabnya sambil meninggikan satu alisnya, Seyn yang melihat ekspresi adiknya pun bergidik ngeri melihatnya.
"Biasa saja itu, alisnya." Ucap tuan Alfan ikut menimpali, sedangkan Zayen senyum pepsodent.
"Jangan bilang kalau kamu lagi ngidam, aku sebagai kakak kamu merasa tersaingi." Ucap Seyn, Zayen sendiri hanya menelan ludahnya kasar.
"Ngidam? hem, aku rasa tidak." Jawab Zayen.
"Pak, kita pergi ke tempat warung makan langgananku. Tepatnya yang didekat Danau kecil nan indah." Perintah Zayen pada Pak supir.
"Iya, Tuan." Jawab Pak Supir, kemudian menambah kecepatannya agar segera sampai ke tempat tujuan.
Setelah memakan waktu yang cukup lama, tips terasa telah sampai ditempat yang dituju. Tuan Alfan dan Seyn maupun Zayen segera melepas sabuk pengamannya, kemudian langsung turun.
Dilihatnya tempat yang tidak pernah berubah, pemandangannya pun masih terlihat sama. Senyum lebar terlihat jelas pada kedua sudut bibir milik tuan Alfan. Zayen maupun Seyn pun bingung melihatnya.
"Pa, kenapa sekarang justru Papa yang senyum senyum tidak jelas? apakah ada yang lucu?" tanya Zayen heran.
"Iya nih, Paman. Kenapa Paman jadi senyum senyum begitu?" tanya Seyn yang juga ikut penasaran.
"Apakah kedua mata kalian berdua sedang rabun?" tanya tuan Alfan balik bertanya.
"Maksud Papa?" tanya Zayen semakin penasaran.
"Coba lihat baik baik deh, Zayen, Seyn. Itu yang duduk sambil melambaikan tangan, siapanya kalian?" jawabnya dan bertanya sambil menunjukkan kearah yang dimaksudkan.
Seketika, Zayen dan Seyn tercengang dan membelalakan kedua bola matanya. Kemudian, keduanya menepuk keningnya masing masing.
__ADS_1
Hei Reader setia ... penasaran siapa sih keponakan dari tuan Dana? dan siapa sih dalangnya? tenang, novelnya sudah rilis loh sudah banyak babnya. Tokoh perempuannya juga tidak lembek, ayo ayo tengok lah biar tidak penasaran. Kedua tokoh sama sama kuat pendiriannya, ada komedi dan juga romantisnya.
Judul Novelnya "PERNIKAHAN BAYARAN"