Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Pernikahan


__ADS_3

Pak Ardi masih sedikit bingung perihal pernikahan siapa yang sebenarnya.


Tiba tiba ada salah satu pengawal dari keluarga Wilyam tengah menemui Pak Ardi yang terlihat bingung.


"Maaf Pak, apakah ada yang bisa saya bantu?" tanyanya dengan ramah.


"Begini, saya mau tanya. Apakah di gedung ini adalah acara pernikahan Adelyn pekerja OB dengan sekretaris Viko diperusahaan Bos Zayen?" jawab Pak Ardi balik bertanya.


"Ooooh itu, benar Pak. Didalam gedung adalah acara pernikahan mereka berdua, memang kenapa, Pak?" tanyanya dan balik bertanya lagi.


"Jadi, saya tidak salah alamat ya, Pak?" ujarnya bertanya.


"Tidak Pak, bapak tidak salah alamat. Tempat inilah benar adanya, mari saya antar untuk masuk kedalam. Karena acaranya akan segera di mulai." Jawabnya, kemudian mengajaknya untuk masuk kedalam.


"Sebentar ya, Pak. Saya mau ajak yang lainnya, karena saya berangkat bersama rombongan orang orang kantor." Ucapnya, dan seseorang yang ada dihadapannya pun mengangguk.


Setelah mendapatkan jawaban, pak Ardi kembali menemui rekan rekannya yang sedang menunggu kepastiannya.


"Bagaimana Pak Ardi? apakah benar, jika di dalam gedung ini adalah acara pernikahan Adelyn?" tanya Sasa yang penasaran.


"Iya, puas. Ayo kita semua masuk, acara akan segera dimulai." Jawab Pak Ardi dan mengajak yang lainnya untuk segera masuk kedalam.


"Tunggu, serius nih? jadi, ini benar acara pernikahan Adelyn di dalam gedung ini? aku masih tidak percaya." Ucap salah satu karyawan perempuan yang masih ngotot tidak percaya dengan kebenarannya.


"Iya, serius lah. Kalau kamu masih tidak bisa percaya, kamu bisa pulang." Jawab Sasa yang sudah hilang kesabarannya.


"Reseh kamu, Sa. Aku pastikan, kamu bakalan tahu siapa Adelyn yang suka berlaga sok kaya." Gerutunya, sedangkan Sasa tidak menghiraukannya.


Karena tidak ingin berlama lama di depan gedung yang besar nan megah, semua karyawan maupun pekerja yang lainnya segera masuk kedalam sesuai yang diperintahkan Pak Ardi.

__ADS_1


Semua karyawan tengah disambut dengan hangat, pak Ardi dan karyawan yang lainnya terkagum kagum melihat isi ruangan Gedung yang benar benar terlihat megah. Semua terasa mimpi, dan masih tidak percaya.


'Mewah banget acara pernikahan kamu, Adelyn. Kami sangat beruntung, pastinya kamu sangat bahagia atas pernikahan kamu ini. Aku mimpi saja sepertinya tidak akan pernah bisa, apa lagi kenyataan.' Batin berdecak kagum atas pernikahan Adelyn yang terlihat begitu mewah seperti kalangan orang orang terpilih.


"Kalian percaya tidak, sih? sebenarnya ini pernikahan siapa? jangan jangan pernikahan Adelyn hanya numpang setelah acara pernikahan milik perusahaan selesai." Ucapnya yang masih tidak suka dengan Adelyn.


"Bisa jadi, mungkin saja namanya kebetulan sama. Jadi, ada kesempatan emas untuk membohongi kita semua." Jawab yang satunya yang juga masih berkomentar negatif.


"Eh, ngomong ngomong dimana Adelyn? kenapa kita tidak melihatnya? jadi penasaran." Tanya yang satunya lagi ikut menimpali. Sedangkan karyawan yang tidak suka berkomentar lebih memilih untuk diam, karena tidak ingin menambah masalah, pikir karyawan yang lainnya untuk memilih posisi yang aman.


Sedangkan karyawan laki laki pun ikut penasaran dengan sosok sekretaris Viko, sesekali celingukan tetap saja tidak menemukan sosok Viko.


Didalam ruangan khusus, Adelyn dan Viko terpisah. Keduanya tidak dalam satu ruangan saat sedang bersiap siap untuk melangsungkan pernikahannya.


"Adelyn, kamu sudah siap? sebentar lagi acaranya akan segera dimulai." Tanya Afna sambil merapihkan penampilannya didekat Adelyn.


"Aku sedikit gugup, ditambah lagi banyak tamu undangan." Jawabnya sambil membayangkan yang tidak tidak.


"Syukurlah, aku kira akan disaksikan oleh para tamu undangan." Jawabnya sedikit lega, meski sebenarnya masih gugup.


Begitu juga dengan Viko yang ada didalam ruangan khusus ditemani oleh Zayen dan keluarganya Viko yang datang dari kampung xxx. Tepatnya, kampung halaman keluarga istri dari tuan Ganan.


"Vik, sudah siap?" tanya Zayen.


"Sudah, Bos." Jawabnya singkat.


"Aku bukan Bos kamu, sebentar lagi kamu akan menjadi bagian keluargaku. Kamu akan menjadi adik iparku, tidak perlu kamu memanggilku dengan sebutan Bos. Panggil saja, Ayen. Jika kamu susah dan terasa berat untuk memanggilku dengan sebutan Zayen." Ucapnya yang merasa risih dengan sebutan Bos, Viko sendiri mengangguk.


Setelah semua dirasa sudah selesai, Viko segera pindah ke ruangan khusus untuk mengucapkan kalimat sakral. Zayen dan keluarga Viko mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


Begitu juga dengan Adelyn yang ditemani saudaranya, dan keluarganya untuk pindah ke ruangan yang sama.


Sesampainya di dalam ruangan khusus, Viko duduk dengan santai dan ditemani Zayen disebelahnya. Sedangkan kedua orang tuanya berasa dibelakang putranya. Sedangkan Adelyn, kemudian duduk disebelahnya. Keduanya fokus pandangannya lurus kedepan, bahkan tidak saling menoleh satu sama lain.


Adelyn dan Viko sama sama menenangkan pikirannya masing masing, berharap segera dijauhkan dari kegugupannya.


Kalimat demi kalimat telah terucap oleh seseorang yang akan menikahkan putrinya dengan seorang laki laki yang akan menjadi suami putrinya, siapa lagi kalau bukan tuan Alfan. Acara pun begitu tenang, tidak ada satupun yang berisik didalam ruangan acara pernikahan Adelyn dan Viko.


Setelah semua sudah lengkap adanya para saksi dan wali pengantin, acaranya pun segera dimulai.


Dengan lantang dan tegas, Viko mengucapkan kalimat sakral didepan para saksi. Semua terharu mendengarkannya, sungguh kebahagiaan yang dinanti nantikan kini telah didapatkannya.


Adelyn menangis bahagia saat mendengar seorang yang ia cintai tengah mengucapkan kalimat sakral. Dan kini, ia tidak lagi sendiri dan seterusnya telah menjadi milik suaminya.


Tidak hanya itu, tuan Alfan dan juga istrinya menangis bahagia. Kini, kedua anaknya telah memiliki keluarga baru. Perjalanan yang begitu panjang untuk mencapai titik kebahagiaan, dan kini kebahagiaan itu telah didapatkannya serasa seperti mimpi.


Putranya yang pernah hilang, telah kembali. Putrinya yang masih sendiri, kini telah bersuami. Sungguh, kebahagiaan yang berlipat lipat, pikir tuan Alfan dalam tatapannya d


kepada kedua anaknya secara bergantian.


Suasana haru kini telah menguasai isi didalam ruangan, tidak ada satupun yang tidak bahagia. Semua ikut merasakan kebahagiaan keluarga kakek Zio.


Setelah itu, Viko maupun Adelyn mendekati kedua orang tua masing masing dan kemudian bergantian untuk bertukar.


"Selamat ya, adikku. Semoga kamu bahagia selalu dalam berumah tangga, jadilah istri yang baik dan juga nurut pada suami." Ucap Zayen memberikan ucapan selamat.


"Terima kasih ya, kak. Aku janji, akan terus berusaha untuk menjadi istri yang baik." Jawab Adelyn, kemudian tersenyum. Kemudian Afna pun memberi ucapan selamat pada adik iparnya.


Sedangkan Zayen, ia mendekati Viko.

__ADS_1


"Selamat ya, Vik. Semoga bahagia selalu rumah tangga kamu, dan ada satu pintaku padamu. Aku sebagai kakak, aku serahkan adikku kepada kamu. Jagalah dia seperti kami menjaganya, dan sayangilah dia seperti kami menyayanginya. Kami tidak butuh dengan kemewahan, cukup dicukupkan semampumu itu sudah lebih dari cukup. Jika adikku bersalah, maka ingatkan padanya dan nasehatilah dia. Jika nasehat yang kamu berikan masih tak mampu menyadarkannya, beritahu aku. Dan katakan padaku, jika kamu tidak lagi mencintai adikku. Biarkan aku yang akan bertanggung jawab atas adikku." Ucap Zayen pada adik iparnya itu memberi pesan.


"Aku janji, aku tidak akan meninggalkannya. Aku akan selalu berusaha untuk membuatnya bahagia dengan kemampuanku sendiri." Jawab Viko meyakinkan, setelah itu Zayen memeluknya dan menepuk punggung milik Viko berulang ulang.


__ADS_2