Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Kebersamaan keluarga


__ADS_3

Dilain sisi, tepatnya di Danau kecil yang sangat bagus pemandangannya dimalam hari. Kini, disiang hari Afna bersama keluarganya mampir diwarung makan yang cukup sederhana didekat Danau kecil.


Semua yang sedang menikmati makan siang di warung ibu Ning tidak ada yang tidak heboh melihat beberapa mobil mewah tengah masuk ke parkiran, semuanya ikut berbisik. Tidak hanya itu, pengunjung Danau pun ikut heboh dibuatnya.


"Bu Ning, lihat itu ada tamu Agung sepertinya." Ucap salah satu pelanggan sambil menunjuk keluar.


"Siapa ya? mungkin pak Camat, atau pak Gubernur yang edang meninjau tempat rekreasi disini." Jawab ibu Ning dengan santai, karenanya sudah tidak lagi keheranan jika warung makannya didatangi oleh para pejabat di daerahnya. Dari pak Lurah sampai pak Gubernur pernah mendatangi warung ibu Ning.


"Loh, sepertinya bukan deh Bu. Sepertinya aku pernah melihat wanita itu, bukankah itu istrinya Zayen si preman kampung sebelah? dan posisinya sedang berada di tahanan. Apa iya, istrinya sudah menikah lagi." Ucapnya asal bicara.


"Hus! kamu ini, punya handphone sama televisi itu di konek. Jangan dijadikan pajangan saja, payah kamu." Jawab ibu Ning sambil mengelap beberapa mangkok yang sudah kering.


"Iya nih Dodi, preman tapi kurang berita." Ledek wanita disebelahnya.


"Sialan kamu, memang siapa Zayen? Sultan? penjahat kelas kakap saja dibanggain. Cih! melucu tapi kebangetan." Jawab Dodi dengan kesal.


"Tuh lihat, masih hangat tau Dod." Ucap wanita yang tadi sambil menunjukkan video di media sosial saat kedua orang tua Zayen mengadakan Pers bersama keluarga Wilyam, yang diwakilkan oleh tuan Angga dan tuan Zio.


Seketika itu juga, Dodi membelalakan kedua bola matanya serasa tidak percaya saat mendengar video yang ditunjukkan oleh seseorang yang ada didekatnya. Dodi benar benar tidak menyangkanya, jika Zayen adalah dari keluarga Wilyam yang terkenal akan kesuksesannya dan kedermawanannya.


"Tidak hanya itu, istri Zayen pun bukan wanita sembarangan. Kamu tahu? Afna yang dulunya memakai tongkat penyangga, dia adalah putri dari keluarga Danuarta. Yang memiliki Restoran Merpati Jaya, yang tidak lain besan dari keluarga Wilyam. Dan kini, rupanya menjadi besannya lagi melalui cucu cucu mereka." Jawabnya menjelaskan, Dodi hanya menelan salivanya.


"Kamu penggosip, ya. Sampai sampai kamu tahu betul kehidupan mereka, wah! hebat." Ledek ibu Ning.


Tidak lama kemudian, Afna dan yang lainnya mengikuti langkah Afna masuk kedalam warung.


Dodi hanya menatap keheranan, benar benar tidak menyangkanya jika ia kini sedang duduk yang tidak jauh dari keluarga Zayen. Dodi merasa malu yang sering menghina Zayen, bahkan selalu bersikap buruk terhadap Zayen.


"Selamat siang bu Ning ..." sapa Afna yang tiba tiba mengagetkan.

__ADS_1


"Loh, nak Afna? datang lagi." Jawab ibu Ning seperti mimpi kedatangan tamu istimewa di warungnya.


"Iya, Bu. Afna mengajak keluarga untuk makan siang di tempat warung ibu. Afna pesan ayam gepreknya 8 porsi, dan teh hangatnya juga. Tidak pakai gula ya, Bu. Terimakasih, kalau begitu Afna pamit untuk duduk bersama keluarga." Ucap Afna, ibu Ning pun mengangguk dan tersenyum.


Setelah itu, Afna duduk bersama yang lainnya.


"Oh, ayam geprek ini yang membuatmu jatuh cinta kepada suami kamu?" ucap kakek Angga sambil lihat lihat disekelilingnya. Sedangkan tuan Tirta teringat akan kejadian yang membuatnya malu juga, apalagi kalau bukan tergoda ayam geprek milik Zayen menantunya itu.


"Kakek ... Afna kan jadi malu ..." jawab Afna tersipu malu.


"Hei, Kazza. Ajaklah calon istri kamu di Danau ini, dan pesankan ayam gepreknya. Biar kalian berdua cepat jatuh cintanya, percaya deh sama kakek." Ucap kakek Angga meledek, Kazza sendiri hanya menggaruk garuk tengkuk lehernya yang tidak gatal dan tersenyum malu.


"Benar juga yang dikatakan kakek, kak Kazza bisa ajak Vella datang kesini. Sepertinya menyukai tempat ini, bukankah Vella juga menyukai kesederhanaan. Bahkan sosok Vella saja kak Kazza tidak mengetahuinya, Afna rasa tempat ini sangat cocok untuk kakak dan Vella." Ledek Afna ikut menimpali.


"Sok tahu kamu, aku tidak mau. Weeeek ... nanti dikira kakak kamu ini ikut ikutan selera kamu." Jawab Kazza sambil menjulurkan lidahnya.


Tidak lama kemudian, karyawan ibu Ning membawa beberapa porsi ayam geprek dan juga teh hangatnya.


"Sama sama, Mbak ..." jawab Afna dan tersenyum ramah.


Setelah itu, Afna beserta keluarganya menikmati ayam gepreknya. Tanpa bersuara, semua sibuk dengan rasa sambal yang benar benar menantang lidahnya masing masing.


"Benar benar nendang pedasnya, mantap rasanya. Pantas saja, pengunjungnya sangat banyak." Ucap tuan Alfan sambil mengusap pelipisnya yang keluar keringat.


"Kita puas makan siangnya, apalagi kalau malam. Pasti lebih nikmat ditemani angin angin sepoi dan lampu lampu yang menyala disetiap tepian Danau." Ucap ibunya Zayen yang juga sambil mengelap keringatnya karena kepedesan.


Setelah cukup lama, Afna beserta keluarganya segera pulang. Sebelumnya, Afna membayar tagihannya.


"Bu, total semuanya berapa?" tanya Afna.

__ADS_1


"Hanya 200 ribu saja buat pelanggan setia ibu." Jawab ibu Ning yang merasa sangat senang kedatangan tamu dari keluarga suami Afna dan juga Afna sendiri.


"Kok murah banget sih, Bu? ibu tidak lagi salah hitung, 'kan?" tanya Afna penasaran.


"Harga khusus buat neng Afna, mohon jangan ditolak." Jawabnya dan tersenyum.


"Kalau begitu, ini sisanya untuk ibu. Afna juga mohon, ibu tidak akan menolaknya. Karena ibu sangat baik, dan juga dengan pelayanan baik juga. Mohon diterima ya, Bu ..." ucap Afna dan memberikan beberapa lembar kertas merah yang cukup lumayan.


"Aduh, Neng ... tidak usah. Ibu sudah ikhlas, bener deh. Mendingan disimpen saja buat neng Afna, ibu masih cukup." Jawab ibu Ning merasa tidak enak hati.


"Kalau ibu menolaknya, saya tidak akan mendatangi warung ibu lagi. Dan tentunya saya akan bersedih, karena ibu Ning tidak mau menerimanya." Ucap Afna sambil memasang wajah sedihnya.


"Baiklah, kalau begitu ibu menerimanya. Sekali lagi, ibu ucapkan banyak terimakasih. Semoga neng Afna selalu diberi kesehatan dan segera mendapatkan momongan, dan semoga nak Zayen segera dibebaskan." Jawab ibu Ning dan menerima pemberian dari Afna, kemudian tersenyum mengembang.


"Aamiin ... semoga, Bu. Kalau begitu saya pamit untuk pulang, permisi." Ucap Afna berpamitan.


"Hati hati ya, Neng ... salam buat nak Zayen bila bertemu." Jawab ibu Ning, Afna pun tersenyum dan meninggalkan warung ibu Ning.


Sesampainya diparkiran, belum ada satupun yang masuk kedalam mobil.


"Kok belum masuk?" tanya Afna penasaran.


"Kamu pulang ikut Mama, malam ini juga kamu tidur di rumah Mama." Jawab ibu mertuanya sambil memegangi kedua lengan milik menantunya.


"Yang dikatakan Mama mertua kamu itu benar, Pulanglah bersama kedua orang tua suami kamu. Bukankah kamu sedang menunggu kabar tentang suami kamu? maka pulanglah bersama kedua orang tua suami kamu." Ucap ayahnya Afna ikut menimpali.


"Baiklah, jika Papa tidak keberatan. Afna akan pulang bersama Mama Zeil, dan tersenyum." Jawab Afna, semuanya pun ikut merasa lega.


Selama diperjalanan, Afna kembali melamun. Afna teringat dengan sosok suaminya, yang sudah tidak sabar dengan kebebasan suaminya dari tahanan.

__ADS_1


Setelah memakan waktu yang tidak lama, Afna dan ayahnya telah sampai di rumah. Karena lelah, Afna segera masuk kedalam kamarnya. Kemudian, segera ia membersihkan diri dan segera istirahat.


__ADS_2