
Afna yang melihat suaminya yang semakin menggoda, segera ia menepis pikiran kotornya.
Afna maupun Zayen segera masuk kekamar mandi bergantian untuk menggosok gigi dan mencuci mukanya.
Setelah keduanya keluar dari kamar mandi secara bergantian, Zayen kembali menggoda istrinya. Tanpa pikir panjang, Zayen mendaratkan ciu*mannya ke bib*ir milik istrinya.
Afna pun tidak dapat menolaknya, tidak dapat dipungkiri bahwa dirinya sendiri menginginkan sentu*han dari suami yang di cintainya.
Perlahan lahan, Zayen menjatuhkan tu*buh istrinya pelan.
"Ada calon buah hati kita." Sindir Afna dengan halus dekat ditelinga suaminya, Zayen pun mengangguk mengerti apa yang dimaksudkan oleh istrinya.
Keduanya pun kini saling meluapkan kerinduannya masing masing, hingga tanpa ia sadari sudah cukup lama melakukan ritual panjangnya.
"Ayo, aku gendong dan kita mandi bersama." Ajak Zayen, kemudian segera ia menggendong istrinya.
Setelah selesai membersihkan diri, keduanya mengenakan pakaiannya. Lagi dan lagi, Zayen menggoda istrinya.
"Ah sudahlah, aku sudah sangat lapar. Ingat ya, jangan pakai bumbu perasa. Aku tidak menyukainya, aku maunya hanya garam. Itupun tidak terlalu asin, pakai wortel dan kentang dan irisan wortelnya pun harus tebal seperti irisan kentangnya. Satu lagi, daun bawangnya iris panjang tomatnya juga iris yang besar. Bawang merah dan seledri dan juga daun bawangnya terakhiran." Pinta Afna, Zayen pun segera merekam didalam otaknya tantang apa yang diinginkan istrinya.
"Siap, Tuan Putri ..." jawabnya dan tersenyum mengembang.
"Tapi aku ikut ke dapur, ingin menemani kamu. Siapa tahu saja aku bisa mencuri resep yang kamu buat, agar aku tidak selalu merepotkan kamu." Ucap Afna merayu.
"Hem ... bilang saja kalau kamu tidak bisa jauh dariku, aku pun sama." Jawab Zayen yang mengakui duluan.
"Iya, entah kenapa aku tidak bisa jauh darimu. Padahal masih satu rumah, tapi aku merasa banyak pintu yang menjadi penghalang." Ucap Afna malu malu.
"Sudah, jangan mengobrol terus. Nanti kamunya keburu lapar, kasihan calon buah hati kita ini." Jawab Zayen sambil mengelus perut milik istrinya berulang ulang, Afna mengangguk dan menggandeng tangan milik suaminya.
__ADS_1
Setelah itu, Afna maupun Zayen langsung keluar dari kamarnya. Dengan pelan, keduanya menapaki anak tangga.
"Cie ... cie ... yang berasa pengantin baru, bikin iri saja." Ledek Adelyn yang tiba tiba mengagetkan Afna dan Zayen yang baru sampai anak tangga yang terakhir.
"Ah, reseh kamu. Makanya buruan menikah, biar tidak galau terus nantinya kamu. Aku ada stok cowok yang pas buat kamu, mau?" jawab Zayen sedikit meledek.
"Idih, ogah. Memangnya ini masih jamannya Siti Nurbaya? tidak! kataku." Ucapnya dibuat jutek, Zayen dan Afna hanya tersenyum.
"Payah kamu, Afna. Kenapa kamu tidak berpihak padaku, justru kamu ikutan tersenyum mengejek seperti kak Zayen. Apakah suami kamu ini pandai menggodamu? aku rasa memang iya." Ucap Adelyn lagi.
"Lebih cocok kalau kalian berdua mengobrol, biar kakak kamu yang tampan ini pergi ke dapur. Nanti akan aku sajikan sarapan pagi dengan sup daging sapi. Kamu mau? jika tidak mau, aku akan memasaknya untuk kakak iparmu saja." Ucap Zayen menimpali sambil menggoda lidah, Adelyn pun terbayang bayang dengan sup daging sapi.
"Baiklah, aku akan mengajak kakak ipar pergi ke taman belakang. Kebetulan bunganya bermekaran, sepertinya aroma bunganya dapat membuat jernih dipikiran." Jawab Adelyn asal beranggapan tentang bunga yang ada di taman belakang, berharap kakak iparnya semakin penasaran.
"Tapi ... nanti kamu sendirian didapurnya, bagaimana? aku takut kamu akan kecapean." Ucap Afna menimpali.
"Biar Mama saja yang membantu suami kamu memasak, kamu dan Adelyn lebih baik berkeliling di taman belakang. Kamu bisa menghirup udara segar dan juga sangat baik untuk wanita hamil, jadi tidak berada didalam ruangan terus menerus. Mumpung masih pagi, udaranya masih sangat bagus." Ucapnya ikut menimpali.
"Mama tidak merasa direpotkan, sayang. Justru Mama sangat senang melakukannya, karena sebentar lagi Mama dan Papa akan segera mempunyai cucu." Ucap ibu mertua dan tersenyum, Afna pun membalasnya dengan senyum manisnya.
"Apa yang dikatakan Mama ada benarnya, sekarang kita pindah ke taman belakang. Biar kak Zayen dan Mama yang memasak, sekali kali pelayan dapur cuti jam waktunya." Ucap Adelyn ikut menimpali, yang lainnya hanya tersenyum mendengarnya.
"Kalau begitu, Mama dan putra Mama yang ganteng ini mau ke dapur untuk memasak. Kalian berdua lebih ke taman belakang, jangan protes." Ucapnya, kemudian Afna dan Adelyn menjawabnya serempak dan segera pergi ke taman belakang.
Sedangkan Zayen dan ibunya kini sudah berada di dapur, dengan cekatan Zayen melakukannya seperti koki yang sangat handal. Sang ibu pun penuh keheranan melihat putranya yang terlihat begitu mahir dalam dunia memasak.
"Apakah kamu sering melakukan pekerjaan ini? Mama lihat kamu begitu cekatan saat melakukannya." Tanya sang ibu sambil membuka bungkusan roti yang akan dipanggangnya.
"Zayen sudah terlatih dari kecil, semua pekerjaan Zayen lakukan."
__ADS_1
DEG!!! seketika sang ibu kaget mendengarnya.
"Apa? kamu sudah terbiasa melakukannya sendiri? maksud kamu? apakah kamu tidak pernah mendapatkan perhatian dan kasih sayang sedikitpun dari orang tua asuh kamu?" tanya sang ibu sambil memegangi lengan putranya dan menggoncangkan tubuh putranya dengan kuat.
Zayen hanya tersenyum melihat sikap ibunya yang mendadak terlihat kesal.
"Bukan yang seperti Mama sangkakan, dari kecil Zayen memang sudah mengetahui jika Zayen bukanlah putra dari papa Arganta. Maka dari itu, Zayen terus belajar untuk mandiri. Berharap ketika besar, Zayen tidak lagi merepotkan orang lain. Zayen bisa berdiri tegak penuh kesabaran, itu saja kok Ma." Jawab Zayen berusaha untuk beralasan, ia tidak ingin masa kecilnya yang kurang kasih sayang akan diketahui oleh kedua orang tuanya.
Mau bagaimanapun, orang tua asuh Zayen sudah membesarkannya. Meski penuh dengan hinaan, cacian, bahkan paksaan untuk melakukan perbuatan yang salah.
"Kamu tidak bohong, 'kan?" tanya sang ibu yang masih menyimpan rasa penasarannya.
"Kalaupun Zayen bohong, semua sudah dilewati. Meskipun tidak bohong, kedua orang tua asuh Zayen sudah tiada. Keduanya sudah berpulang lebih dulu, hanya kak Seyn yang masih ada." Jawab Zayen menjelaskannya.
"Maafkan Mama yang sudah berprasangka buruk terhadap orang tua asuh kamu, Mama percaya sama kamu." Ucap sang ibu merasa bersalah.
"Ngomongin apa sih kalian berdua pagi pagi begini, mau numis bawang? jangan. Putraku sudah tidak layak disajikan tumisan bawang merah, sudah bosan putraku ini." Ucap tuan Alfan mengagetkan dan tiba tiba sudah berada didekat Zayen dan ibunya.
"Hem ..." sahut sang istri sambil membuka sosis pada kemasan.
"Wah ... aroma apaan ini?" tanya tuan Alfan sambil melihat sebuah panci yang terdapat kuah dan isinya. Sesekali tuan Alfan mengaduknya, disaat itu juga lidahnya tergoda dengan aroma sup buatan putranya.
"Benar benar menggugah selera rupanya, jangan lupa segera sajikan. Papa sudah lapar, semalam masih kurang." Ucap sang ayah pada putranya.
"Iya Pa, sebentar lagi matang. Sekarang lebih baik Papa duduk saja di ruang makan, biar Zayen yang menyajikannya." Jawab Zayen, kemudian mematikan kompornya.
"Jangan, biar Papa saja yang melakukannya. Kamu bantu saja Mama kamu itu, sepertinya butuh bantuan." Ucap sang ayah.
"Hem ... alasan saja Papa kamu ini, padahal Papa kamu jagonya masak." Ucap sang ibu ikut menimpali.
__ADS_1
"Tidak apa apa kok, Ma... biar Zayen saja yang melakukannya, Papa dan Mama menunggunya di ruang makan." Jawab Zayen sambil mengangkat panci yang berisi sup daging sapi, namun disaat itu juga ditahan oleh sang ayah.
"Biar Papa ikut membantumu, kamu bantu Mama kamu saja untuk membakar sosis." Ucap sang ayah sambil menahan putranya, Zayen pun hanya bisa nurut.