
Kini, Adelyn dan Viko tengah dalam perjalanan untuk pulang ke rumah orang tua Adelyn. Sepanjang perjalanan, Adelyn hanya berdiam diri sambil menatap luar lewat jendela kaca mobil.
Sedangkan Viko masih fokus dengan setirnya, hanya sesekali ia menoleh ke Adelyn. Setelah itu, Viko kembali fokus pandangannya lurus kedepan.
"Kenapa Nona terlihat bersedih? ada masalah? atau ... kecewa karena gagal untuk balap motor. Nyali Nona rupanya sangat besar, aku salut dengan Nona. Tapi ..." tanya Viko membuka suara, namun tiba tiba pada menghentikan ucapannya. Viko pun menyadari bahwa dirinya tidak berani untuk melanjutkan kalimatnya. Takut, jika dirinya disangka ikut mencampuri urusan orang lain.
"Kenapa berhenti, lanjutkan saja." Tanya Adelyn sambil melirik ke arah Viko.
"Tidak, tidak penting. Lupakan saja, tidak perlu Nona mengingatnya." Jawab Viko, kemudian membelokkan setirnya dan masuk ke halaman rumah orang tua Adelyn.
"Kita sudah sampai, mari kita turun." Ucap Viko, kemudian mematikan mesinobilnya. Lalu segera melepaskan sabuk pengamannya, sedangkan Adelyn sendiri merasa kesulitan untuk membuka sabuk pengamannya.
Vika yang melihat Adelyn kesusahan, segera ia membantunya. Kedua matanya kini saling menatap satu sama lain, keduanya seakan terhipnotis oleh suasana. Seketika itu juga, detak jantung Adelyn kembali tidak normal. Bahkan dirinya sendiri sulit untuk mengontrolnya, Viko segera menepis pikiran kotornya saat menatap wajah cantik milik Adelyn.
"Jangan terlalu serius menatapku, nanti Nona terhipnotis." Ucap Viko membuyarkan lamunan Adelyn yang begitu fokus menatap wajah tampan dan dingin milik Viko.
"Tidak juga, siapa juga yang serius menatap kamu. Kepedean banget sih, kamu." Jawab Adelyn dengan wajah juteknya.
"Ayo turun, orang tua Nona sudah menunggu." Ajak Viko, kemudian segera ia turun. Begitu juga dengan Adelyn segera turun dari mobil, Viko sendiri memilih untuk berjalan dibelakang Adelyn.
"Aaaaawww!!" teriak Adelyn yang tiba kakinya terkilir dan jatuh, dengan sigap Viko langsung menangkapnya.
Lagi lagi Adelyn terpesona saat melihat ketampanan Viko dengan posisinya yang hampir terjatuh, Viko sendiri segera menipisnya lagi.
"Hati hati jika berjalan, untung Nona tidak terjatuh. Apakah bagian kaki Nona ada yang sakit? katakan saja, aku akan menggendong Nona sampai didalam rumah." Ucap Viko menawarkan diri, meski terasa canggung untuk memberi tawaran pada saudara kembar sahabatnya.
__ADS_1
Disaat itu juga, entah ada angin apa dengan Adelyn yang tiba tiba sangat senang mendapat tawaran dari Viko. Namun, dirinya pun sedikit canggung untuk menerima tawaran dari Viko. Dengan berat hati, Adelyn berusaha untuk menolaknya.
"Tidak perlu kamu menggendongku, aku baik baik saja. Dan aku pun tidak ingin merepotkan kamu." Jawab Adelyn beralasan, dan pastinya menahan rasa sakit pada kaki kirinya.
"Baiklah, jika Nona tidak apa apa. Mari, kita masuk ke dalam rumah." Ajak Viko, kemudian melepaskan tangannya yang baru saja menahan tubuh Adelyn agar tidak terjatuh.
Adelyn sendiri tidak dapat menyembunyikan rasa nyerinya pada salah satu kakinya, Adelyn pun meringis kesakitan menahannya.
Viko yang melihat ekspresi Adelyn yang tengah menahan rasa sakit, seketika itu juga tanpa pikir panjang segera menggendong Adelyn. Disaat itu juga, Adelyn dibuatnya kaget.
'Rupanya seperti ini rasanya yang dirasakan Bos Zayen ketika menggendong istrinya, pantas saja menjadi tergila. Ternyata benar, rasanya benar benar terasa tersengat kabel.' Batin Viko yang tidak tidak.
Sedangkan Adelyn dengan terpaksa melingkarkan kedua tangannya pada leher Viko, meski terlihat sangat konyol sekalipun.
Dengan percaya diri, Viko menggendongnya sampai ke ruang tamu. Resiko besar siap ia terima karena sudah berani menggendong Adelyn.
Sesampainya di ruang santai, tepatnya di ruang keluarga. Dengan pelan, Viko menurunkan Adelyn untuk duduk di sofa. Kedua orang tua Adelyn melihatnya pun penuh keheranan dengan kondisi puterinya.
"Kamu kenapa, Adelyn? kenapa bisa bisanya kamu di gendong Viko?" tanya sang ibu sambil menatapnya dengan tatapan serius.
"Maaf Pa, Ma. Kaki Adelyn tadi terkilir saat mau jalan dan masuk kedalam rumah, dan untungnya Viko segera menangkap Adelyn. Jadi, tidak sampai jatuh sudah ditangkapnya." Jawab Adelyn menjelaskan.
"Maaf Tuan, Nyonya. Saya tidak mempunyai maksud apa pun ketika menggendong Nona Adelyn. Saya hanya merasa kasihan melihat Adelyn yang harus memaksakan diri untuk tetap berjalan dengan kondisi kaki yang terkilir." Ucap Viko meminta maaf, ia takut jika kedua orang tua Adelyn akan salah paham mengartikannya.
"Tidak apa apa, Vik. Mari, silahkan duduk." Jawab tuan Alfan dan mempersilahkan Viko untuk duduk.
__ADS_1
Viko pun duduk dihadapan tuan Alfan dan jug kakek Zio.
"Pa, sebenarnya ada apa sih. Kenapa papa menyuruh Adelyn untuk pulang? apakah Papa akan berangkat ke Amerika dalam waktu dekat ini?" tanya Adelyn penasaran.
"Iya, dua hari lagi Papa dan Mama akan segera berangkat ke Amerika bersama kakek dan Omma. Sebelumnya, Papa ingin bertanya sesuatu pada kalian berdua." Jawab sang ayah sambil menatap putrinya dan beralih menatap Viko. Keduanya pun saling menoleh satu sama lain.
"Maksud Tuan? saya benar benar tidak mengerti." Tanya Viko yang semakin penasaran.
Tidak lama kemudian, ada dua sosok laki laki paruh baya telah datang ke rumah tuan Alfan. Kedua laki laki tersebut kini sudah berada dibelakang Viko dan Adelyn. Sedangkan Viko tidak begitu mendengar adanya seseorang yang datang dan sudah berada dibelakangnya.
"Viko, lihatlah ke belakang. Apakah lalu mengenalnya? katakan dengan jujur." Ucap tuan Alfan meminta Viko untuk menoleh kebelakang.
Viko pun merasa penasaran dengan apa yang diucapkan oleh tuan Alfan. Tanpa berpikir panjang, Viko segera bangkit dari posisi duduknya. Sedangkan Adelyn hanya bisa menoleh ke belakang tanpa harus berdiri, dikarenakan ia merasakan sedikit nyeri pada kakinya.
Seketika itu juga, Viko membelalakan kedua bola matanya saat melihat sosok laki laki paruh baya dihadapannya. Kedua matanya pun seketika itu juga menganak sungai, Viko sendiri tidak dapat membendungnya. Viko masih tidak percaya dengan sosok yang ia rindukan kini tengah berada di hadapannya.
Namun, dibalik air mata bahagianya ada rasa sakit yang teramat dalam ia pendam. Dengan langkah kakinya yang lumayan cukup berat, Viko mendekatinya. Kerinduan yang terbilang cukup lama ia tahan, bahkan ia coba menepis kerinduannya.
Selama dirinya meninggalkan kampung kelahirannya, Viko merasa sangat bersalah atas perbuatannya. Viko benar benar menyesalinya, ia tidak bermaksud untuk menolak sebuah permintaan. Hanya saja, dirinya tidak ingin terlihat lemah. Dan berusaha untuk menunjukkan bahwa dirinya mampu tanpa sebuah permintaan konyol, namun apalah daya Viko yang ternyata sudah masuk kedalamnya.
Novel baru sudah rilis loh ... ayo kita tengok bersama, tentunya akan ada teka teki dan pastinya tebak saling menebak.
Novelnya yang berjudul, " Haruskah Aku Memilih" karya otor Fatahillah.
Terima kasih ...
__ADS_1