Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Mencurigai sesuatu


__ADS_3

Neyla mencoba untuk tetap tenang, meski dalam pikirannya masih mengganjal perasaannya.


"Ney, ikuti permintaanku. Sekarang, ayo kita keluar sesuai yang sudah kita rencanakan. Kita akan tetap pergi ke butik milik Zayen, tidak ada alasan apapun untuk tidak berangkat." Ucap Seyn yang terus berusaha membujuk calon istrinya, berharap Neyla tidak begitu cemas dengan apa yang ia pikirkan.


Neyla yang tidak memiliki alasan, mau tidak mau dirinya mengikuti ajakan dari Seyn. Neyla berusaha untuk percaya dengan keluarganya, bahwa semuanya akan baik baik saja dan tidak ada yang dikhawatirkannya.


"Ney, ayo kita berangkat." Ajak Seyn kembali, Neyla hanya mengangguk.


Kemudian, Seyn kembali ke motornya dan menaikinya. Sedangkan Neyla hanya nurut dan mengikuti calon suaminya dari belakang dan segera naik ke motor.


Perasaan takut pun mulai menghantuinya, Neyla terus berusaha untuk tetap tenang dan tidak begitu khawatir dan semuanya akan baik baik saja seperti yang Seyn katakan.


"Pegangan, tidak perlu malu." Ucap Seyn, kemudian meraih kedua tangan milik Neyla untuk melingkarkan di bagian pinggangnya. Neyla pun hanya nurut, ia sama sekali tidak melakukan penolakan.


Selama perjalanan, Neyla bersandar pada Seyn, ia terus diam dan tidak bersuara seperti biasanya yang terlihat ceria dan juga terlihat tidak ada beban sama sekali.


Berbeda dengan saat ini, Neyla terlihat pendiam secara tiba tiba. Membuat orang yang di sekelilingnya merasa heran dan pastinya penasaran.


Ssssssttttttt.


Seyn mendadak menghentikan motornya secara mendadak, seketika itu juga membuat keduanya sontak kaget. Tubuh Neyla gemetaran tatkala melihat kejadian yang mengerikan tidak jauh dari pandangannya, Seyn kembali memutar ingatannya saat Neyla menghalanginya untuk pergi.


"Pulang! ayo kita pulang, jangan dilanjutkan perjalanan kita." Ajakan Neyla sedikit membentak, Seyn langsung menoleh kebelakang dan menatap wajah calon istrinya itu dengan lekat.


"Pulang? uji coba kita baru dapat setengah. Percayalah denganku, kita akan baik baik saja." Ujar Seyn terus mencoba membujuk calon istrinya.


"Tidak! Seyn, tidak. Aku yakin jika kecelakaan didepan kita itu adalah ancaman untuk kita, percayalah padaku." Ucap Neyla yang terus menghentikan aksi nekad calon suaminya, namun sayangnya Seyn tetap bersikukuh pada pendiriannya. Semakin penasaran, Seyn terus ingin mengetahuinya dengan secepatnya.

__ADS_1


Seyn menarik nafasnya dalam dalam, kemudian dikeluarkannya dengan pelan. Berharap rasa penasarannya tidak dibarengi dengan emosinya, sebisa mungkin untuk tenang saat ingin mengetahuinya lebih lanjut.


"Ney, percaya sama aku. Kamu tidak perlu takut, ada aku yang akan selalu menjagamu. Kecelakaan yang kita lihat itu, jangan kamu larutkan dalam pikiran burukmu." Ucap Seyn terus mencoba meyakinkan Neyla, meski dirinya sendiri sedikit takut. Ditambah lagu, seperti ada yang ditutupi oleh Neyla.


"Terserah kamu, aku pasrah dengan takdirku." Jawab Neyla yang menyerah dengan bujukan dari calon suaminya.


"Kita lanjutkan lagi perjalanan kita, ayo pegangan lagi." Perintah Seyn sambil meraih kedua tangan milik Neyla, kemudian memeganginya dengan tangan kirinya. Ia berusaha untuk tidak membuat calon istrinya terlalu cemas yang berlebihan.


Seyn hanya mengoperasikan motornya dengan tangan kanannya, sedangkan tangan yang sebelah kiri tengah memegangi tangan milik Neyla.


Karena rasa takut masih menghantui pikirannya, Neyla segera bersandar pada punggung Seyn yang terlihat kokoh.


Setelah lama menempuh perjalanan yang cukup jauh, Seyn merasa tidak ada masalah selama perjalanan. Dan kini, Seyn dan Neyla akhirnya telah sampai dilokasi butik serta tempat perawatan.


"Kita sudah sampai, ayo turun." Ucap Seyn dan mengajaknya untuk turun, Neyla mengangguk dan segera turun.


BRUKKKKK!!!


"Aww!!!!" Neyla pun meringis kesakitan.


"Hendi," ucapnya lirih menyebut nama mantan kekasihnya. Neyla menunduk seperti ketakutan, namun segera ia menepis pikiran buruknya.


"Neyla, kalian berdua?" ucapnya menggantung kalimatnya.


"Aku mau membeli baju, maaf aku tidak bisa lama lama." Jawab Neyla dan menarik tangan milik Seyn sedikit kuat, seketika Seyn kaget dibuatnya.


Seyn pun tiba tiba menaruh rasa curiga saat melihat sosok laki laki yang pernah menjadi kekasihnya Neyla dimasa lalunya.

__ADS_1


'Apa ada hubungannya dengan Hendi? kenapa tiba tiba Neyla bersikap terburu buru seperti ini? aku akan segera menyelidikinya. Sepertinya ada sebuah ancaman untuk Neyla, hingga membuatnya ketakutan. Tapi ... aaah! siapa yang berani beraninya mengusik kehidupanku, jangan salahkan aku untuk segera melenyapkannya.' Batin Seyn sambil mengimbangi langkah kaki Neyla yang terbilang sangat gesit.


"Ney, berhenti sebentar. Nafasku terasa tersengal, aku sudah lama tidak pernah olahraga." Ujar Seyn menghentikan langkah kakinya, Neyla pun menurut.


"Kenapa? kami sakit?" tanya Neyla dengan lekat saat menatapnya.


"Aku kecapekan Ney, dikarenakan langkah kakimu itu yang begitu lebar, pantas saja kamu jago segalanya." Jawab Seyn sambil mengedipkan satu matanya seakan sedang menggoda, Neyla hanya bergidik ngeri melihatnya.


Seyn tersenyum melihat ekspresi calon istrinya, ia berusaha untuk menghilangkan kepanikan pada Neyla dan pada dirinya sendiri.


"Ayo kita kesana, setelah urusan kita selesai kita akan langsung pulang." Ucap Seyn, lalu mengajaknya ke suatu tempat yang dituju.


Lumayan lama saat keduanya menyibukkan diri dengan penampilannya masing masing. Kemudian, setelah semuanya tidak ada lagi yang kurang, Seyn mengajak Neyla untuk segera pulang.


"Aku lapar," ucap Neyla secara tiba tiba. Seyn pun tersenyum ketika melihat calon istrinya yang terlihat tidak lagi menunjukkan perasaan takutnya.


"Kamu yakin tidak ada lagi rasa ketakutan pada diri kamu?" tanya Seyn mencoba untuk memastikannya.


"Tidak, aku percaya sama kamu. Jika kamu akan bertanggung jawab untuk menjagaku, aku percaya itu. Jika memang kita berjodoh, kita akan terus bersama. Jika kita tidak untuk berjodoh, secepatnya kita akan berpisah. Afna saja sanggup melewatinya, kenapa aku tidak." Jawab Neyla berusaha untuk bersikap tenang dihadapan calon suaminya.


Seyn tiba tiba bingung saat mendengar ucapan dari Neyla yang sepertinya sulit untuk dicerna nya.


"Baiklah kalau begitu, aku tidak lagi selalu membujukmu. Sekarang, ayo kita berangkat. Aku akan mengajakmu ke sebuah warung makan kecil, kamu pasti akan menyukainya." Ucap Seyn, lalu segera menuju ke parkiran.


Sambil berjalan, Seyn terus berpikir mengenai calon istrinya yang tengah membuatnya pusing tujuh keliling.


'Sebenarnya apa sih yang ada dalam pikiran Neyla, dan bagaimana caranya agar Neyla berkata jujur? apalagi barusan bertemu hendi. Terlihat juga kegelisahannya, sungguh pusing kepalaku ini memikirkannya. Ingin segera aku memeluknya, merayunya, memberi ketenangan untuknya, dan berusaha untuk membuatnya berkata jujur dan berterus terang. Namun, itu sangat sulit untukku melakukannya, karena aku aku sadar belum ada ikatan yang sah. Menggertaknya pun itu tidak mungkin, aku belum memiliki hak semuanya atas Neyla.' Batin Seyn sambil berjalan menuju parkiran.

__ADS_1


__ADS_2