
Dalam perjalanan, Neyla masih diam dengan posisi yang masih memeluk Seyn. Keduanya hening dalam pikirannya masing masing, tanpa ada sepatah katapun diantara salah satunya.
Berbeda yang berada di dalam gedung, tepatnya diacara pernikahan Adelyn dan Viko. Semua para tamu undangan mulai memadati ruangan yang sudah ditata dengan rapi.
Sasa dan para karyawan lainnya sedang berjalan menuju tempat dimana untuk menikmati berbagai macam menu hidangan yang sudah disajikan untuk para undangan.
"Wow! lihatlah, tidak ada makanan yang tidak menggoda selera. Semua hidangan sangat menggugah selera, dan tentunya membuat kita ketagihan." Ucap salah satu yang sedang berdiri diantara Sasa.
"Kira kira berapa modal yang harus dikeluarkan ya? masih penasaran akunya." Jawab seorang karyawan yang berada disebelah Sasa.
"Yang jelas nih, ya ... hutang yang numpuk dan menggunung. Tentunya selama sepuluh tahun suaminya tidak bisa menerima gaji." Ucap salah satunya lagi ikut mengejek, lagi lagi Sasa menatap dengan penuh kesal secara bergantian.
"Kalian itu, ya! julid berkepanjangan banget sih. Sesekali kalian itu berprasangka baik sedikit, kenapa." Ucap Sasa yang semakin kesal dan juga geram tentunya.
"Aduh, Sasa ... Sasa. Kamu itu, ya! polos boleh sih boleh. Tapi, jangan kelewatan dong. Bikin malu saja kamu, pijat saja setelah pesta pernikahan sudah selesai. Aku yakin jika Adelyn dan suami akan migren berkepanjangan." Jawabnya yang masih saja berprasangka buruk terhadap Adelyn, Sasa sendiri segera berpindah tempat bersama yang lainnya untuk menikmati hidangan yang sudah disajikan ditempat khusus penyajian untuk para tamu undangan.
Saat sedang melangkahkan kakinya, tiba tiba kedua bola mata Sasa tertuju pada seseorang yang menurutnya tidak lah asing. Dengan pelan, Sasa melangkahkan kakinya untuk memperjelas penglihatannya.
Seketika itu juga, Sasa tercengang melihatnya. Seperti ada yang membuatnya curiga dan juga penasaran akut tentunya.
'Benarkah itu Adelyn? cantik sekali, benar benar sangat anggun dan juga terlihat sangat cantik. Tunggu, bukankan itu Bos Zayen dan istrinya? kenapa terlihat sangat dekat dengan Adelyn. Kenapa sikap Bos Zayen seperti saudara sendiri dengan Adelyn? bahkan terlihat sama sama bahagia. Disebelah Adelyn bukankah itu pemilik perusahaan, yang tidak lain kedua orang tua Bos Zayen. Sedangkan disebelah sekretaris Viko terlihat jelas kedua orang tuanya. Jangan jangan?' Batin Sasa yang benar benar sulit untuk menebaknya.
Sasa berkali kali berpikir, namun ia tidak tahu harus berpikir yang bagaimana. Sasa sendiri tidak dapat berpikir dengan jernih, bayangan bayangan kecurigaannya pun mulai muncul di pikirannya.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang, Sasa segera mencari sosok yang bisa diajaknya bertanya dan dapat menjawabnya dengan jujur. Idenya pun akhirnya muncul seketika, Sasa langsung mendekati seseorang yang terlihat sedang memantau acara pesta pernikahan.
"Maaf, permisi." Ucap Sasa tengah mengagetkan seseorang yang sedang sibuk memantau para tamu undangan yang terlihat bingung dan membutuhkan bantuan.
"Iya, ada apa?" tanyanya.
"Maaf Pak, maksud saya ingin menanyakan sesuatu. Tapi, apakah bapak dapat menjawabnya dengan jujur? saya takut jika pertanyaan saya tidak masuk akal." Jawab Sasa sedikit gugup, dikarenakan baru pertama kalinya berada di pesta yang begitu megah dan sangat istimewa.
"Boleh, silahkan. Sebisa mungkin akan saya jawab dengan baik." Ucapnya, Sasa pun sedikit merasa lega, meski rasa cemas dan juga takut masih menghantui pikirannya.
"Sekali lagi saya meminta maaf jika pertanyaan saya telah lancang, dan juga tidak baik untuk didengar. Sebenarnya, emmm ... maksud saya apakah benar, jika di gedung ini adalah acara pesta pernikahan Adelyn dan sekretaris Viko?" ucap Sasa bertanya sedikit gemetar, ia sangat takut jika ucapannya akan salah ditanggap.
Sasa sendiri masih teringat dengan ucapan ucapan dari orang orang kantor, yang tidak lain acara pernikahan yang kebetulan saja sama nama kedua pengantin.
JEDDUUAR!!!!
Seketika itu juga, Sasa terasa tersambar petir disiang bolong. Tubuhnya mendadak lunglai, keseimbangannya pun sulit untuk di kokohkan.
"Mbak, mbak ... mbak tidak apa apa?" tanyanya sambil menahan badan Sasa yang hampir saja jatuh ke lantai.
Nafas Sasa tidak lagi beraturan, pandangannya mendadak kabur. Sungguh ia tidak lagi berdaya ketika mendengar penuturan dari seseorang yang berada dihadapannya, yang tidak lain sedang menyangga badannya agar tidak terjatuh ke lantai.
Dengan kilat, orang tersebut langsung menyambar minuman diatas nampan yang ada ditangan salah satu pelayanan yang melewatinya.
__ADS_1
"Minumlah, mungkin kamu memiliki tekanan darah rendah. Hingga membuatmu sempoyongan, dan sulit untuk mengendalikan diri sendiri." Ucapnya sambil menyodorkan satu gelas air minum untuknya, Sasa pun meraihnya dan segera meminumnya.
"Terima kasih, untung ada bapak yang menolong saya. Hampir saja, saya membuat malu di depan umum." Jawabnya merasa sangat beruntung tidak menjadi bahan tertawaan oleh para tamu undangan, terutama pada orang orang kantor yang dimana dirinya mengais upah yang tidak seberapa.
"Sasa, kamu kenapa? pingsan?" tanya pak Ardi yang tiba tiba sudah berada di dekatnya. Sedangkan seseorang yang sudah menolong Sasa pun akhirnya segera pergi dan melanjutkan tugas pekerjaannya yang harus mengawasi pada setiap tamu undangan yang membutuhkan bantuannya.
"Saya tidak apa apa kok, Pak. Saya serius, yakin. Hanya saja, tadi pagi saya lupa untuk sarapan pagi. Jadi, perut saya terasa terpanggil untuk menikmati makanan yang sudah di hidangkan." Jawab Sasa penuh beralasan.
"Oh, kirain mau pingsan karena sudah takut duluan jika kamu akan dimintai untuk membantu Adelyn melunasi hutang hutangnya." Ucap pak Ardi yang masih terus suka mengejeknya, Sasa sendiri tidak peduli dan menganggapnya sama sekali tidak mendengarnya.
"Sasa, kamu ngapain sampai disini? ayo kita ikut bersama teman teman yang lainnya menikmati hidangan yang sudah disajikan." Tanya salah satu temannya, lalu mengajaknya untuk kumpul bersama teman temannya menikmati makan siangnya. Sasa hanya mengangguk, kemudian mengikutinya dari belakang.
Pikiran Sasa kembali tidak lagi tenang, ia terus kepikiran dengan penutiran yang baru saja ia dengar dengan sangat jelas.
'Benarkah Adelyn adalah adiknya Bos Zayen? kenapa bisa seperti itu? mungkinkah ada sesuatu yang benar benar sangat rahasia?' batinnya penuh pertanyaan dalam angan angannya.
Karena tidak ingin pusing, Sasa berusaha untuk tenang dan tetap berprasangka baik pada siapapun.
Kini, Sasa dan pak Ardi maupun yang lainnya tengah menikmati makan siangnya tanpa ada beban sedikitpun.
Setelah selesai menikmati makanannya, para Karyawan kantor tengah mengambil foto didalam gedung yang sangat istimewa dan megah.
"Sudah sudah ... ayo kita segera menemui Adelyn dan memberinya ucapan selamat padanya." Ajak seseorang yang menjadi kaki tangan Viko, semua tidak ada satupun yang berani menolaknya.
__ADS_1