Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Afna di rawat


__ADS_3

Setelah itu, Zayen menutup pintunya. Dengan pelan, Zayen mendekati istri tercintanya. Afna pun tersenyum bahagia melihat suaminya yang kini mendekatinya.


Zayen segera membungkukkan badannya, kemudian mencium kening milik istrinya dengan lembut. Lalu, Zayen dan Afna saling menatap satu sama lain. Afna kembali tersenyum menatap lekat suaminya, Zayen pun ikut tersenyum kepada istri tercintanya dan duduk disamping istrinya.


"Sayang, maafkan aku yang sudah membuatmu seperti ini." Ucap Zayen sambil mengusap pucuk kepala milik istrinya.


"Tidak apa apa, tidak perlu kamu meminta maaf padaku. Mungkin karena bawaan dari si janin didalam perut, hingga diriku terasa tidak nyaman di dalam ruangan sempit itu. Yang terpenting semuanya selamat, aku sudah sangat bahagia. Apalagi masih bisa melihatmu tersenyum, itu sudah lebih dari cukup." Jawab Afna berusaha untuk menunjukkan bahwa keadaannya baik baik saja.


"Aku tidak akan pernah memafkan diriku sendiri, jika sampai terjadi apa apa denganmu." Ucap Zayen yang masih merasa bersalah dengan sang istri.


Tok tok tok.


Suara ketukan pintu tengah mengagetkan Afna maupun Zayen, disaat itu juga Zayen baru menyadarinya. Bahwa di luar ruangan banyak yang menunggu untuk masuk.


"Aku buka pintunya dulu, aku lupa ada mama, papa, dan juga yang lainnya sedang menunggu kita." Ucap Zayen sambil garuk garuk tengkuk lehernya yang tidak gatal.


"Hem ... kebiasaan, kenapa kamu tidak mengajak mereka masuk?" tanya Afna.


"Mereka tidak ingin mengganggu kita berdua." Jawabnya sambil senyum menggoda dan bangkit dari tempat duduknya untuk membukakan pintu, Afna pun menelan salivanya.


Ceklek.


Zayen membuka pintunya, kemudian mempersilahkan kedua orang tuanya maupun mertuanya dan yang lainnya untuk masuk kedalam ruangan melihat kondisi Afna.

__ADS_1


Sedangkan Viko sendiri masih diluar, dirinya sedikit enggan untuk masuk.


"Kenapa kamu tidak masuk?" tanya Zayen penasaran, dan duduk didekat Viko.


"Aku merasa enggan dan malu, Bos. Terkecuali, yang berbaring didalam itu Bos Zayen, baru aku ikut masuk." Jawab Viko dengan jujur.


"Kamu yakin? jika kamu sudah memberantas sampai ke akar akarnya tentang tuan Dana dan si kakek tua itu. Oh iya, aku dengar Reina adalah istri tuan Dana. Bagaimana ceritanya? bukankah baru kemarin itu bercerai dengan kak Seyn?" tanya Zayen yang masih penasaran dengan sosok Reina.


"Reina sebenarnya sudah menikah lebih dulu dengan tuan Dana diwaktu usianya yang masih sangat muda. Karena ada misi yang sedang dijalaninya, maka Reina berpisah dengan tuan Dana agar bisa masuk dalam kehidupan Seyn. Seakan akan tanpa rekayasa, dan misinya berjalan sangat mulus. Setelah itu, Reina kembali kepada tuan Dana ketika Seyn berada dibalik jeruji besi." Jawab Viko menjelaskan.


"Berarti Seyn pun tidak mengetahui jika dirinya diperbudak dan peralatnya." Ucap Zayen mencoba menerkanya.


"Benar Bos, tuan Arganta maupun Seyn hanya dijadikan jembatan untuk berbalas dendam. Sudah lah Bos, jangan dipikirkan lagi. Yang terpenting sekarang sudah terselesaikan permasalahannya. Bos Zayen sudah tidak lagi memikirkan dendam kesumat, semoga kedepannya akan jauh lebih baik dari yang sebelumnya." Jawab Viko menjelaskan.


"Dan kamu, buruan mencari seorang istri. Agar hidupmu tidak dalam kejombloan terus menerus." Ledek Zayen sambil menepuk punggung milik Viko.


"Kata siapa, Vik. Justru kamu orang hebat seperti Papaku. Kamu tahu? papaku dahulunya hanya sebagai seorang supir dan kaki tangan paman Ganan, ditambah lagi sebagai pengawal mama. Tapi kenyataannya, sekarang mereka berdua menjadi suami istri. Kakekku pun hanya seorang supir, tidak lebih. Namun, keluarga Wilyam tengah mengangkat derajat papaku. Tidak hanya itu, kakekku sendiri hanya sebagai anak asuh. Jadi, kamu tidak perlu pesimis." Ucap Zayen meyakinkan sahabatnya sekaligus menjadi kaki tangannya.


"Oh iya, hampir saja aku lupa. Jangan panggil aku, Bos. Panggil saja Zayen atau sebutan yang menurutmu lebih akrab, kamu bukan lagi orang yang aku suruh kemanapun aku mau. Maafkan aku yang sudah banyak menuntut darimu untuk selalu patuh dari perintahku, kalau bukan karenamu mungkin saja aku tidak bisa menyelesaikan permasalahanku ini." Ucapnya lagi.


"Biasa saja, hem. Oh iya, salam buat keluarga kamu dan juga keluarga mertua kamu. Katakan pada mereka, aku pamit pulang. Maaf, jika aku tidak bisa berpamitan langsung. Aku tidak bisa berhadapan dengan seorang wanita." Jawab Viko beralasan, Zayen pun hanya menatap sahabatnya itu penuh tanda tanya dengan ucapan dari Viko.


"Wanita? memang di dalam ada siapa?" tanya Zayen pura pura tidak mengerti, meski sejatinya dirinya bisa menebaknya.

__ADS_1


"Ah, sudahlah. Aku pamit, salam juga buat istrimu." Jawab Viko mengalihkan pertanyaan dari Zayen, sedangkan Zayen hanya mengangguk dan tersenyum. Sedangkan Viko segera bangkit dari posisi duduknya, kemudian segera ia pergi meninggalkan Zayen yang sedang duduk didekat pintu ruangan.


Setelah bayangan dari Viko tidak lagi terlihat, Zayen kembali masuk kedalam.


"Zayen, dimana Viko? kenapa kamu tidak mengajaknya masuk?" tanya sang ayah penasaran.


"Iya kak, dimana Viko? aku belum mengucapkan terimakasih dengannya. Ah, sayang sekali. Padahal aku ingin mentraktirnya untuk makan malam bersamanya." Tanya Adelyn sedikit kecewa.


"Viko sedang ada kesibukan, dia hanya menitip salam untuk semuanya yang ada disini" Jawab Zayen sambil melangkahkan kakinya untuk mendekati sang istri.


"Kak Zayen punya nomor telfonnya, 'kan?" tanya Adelyn yang sudah tidak sabar.


"Ada, kenapa? kakak sih tau nih. Seorang perempuan tidak baik menghubungi seorang laki laki terlebih dahulu, biar kakak yang akan menyuruhnya untuk datang kerumah. Tapi bukan sekarang, melainkan besok." Jawab Zayen yang berusaha menjaga privasi keluarga, ia tidak ingin nama baik keluarga akan terlihat buruk dari hal yang spele.


"Iya, menurut Papa yang dikatakan kakak kamu itu ada benarnya. Kebetulan, besok Papa ada perlu dengan Viko. Jadi, Papa akan menghubunginya untuk datang kerumah." Ucap sang ayah ikut menimpali, Adelyn pun mengangguk dan mengerti dengan apa yang sudah dikatakan dari sang kakak.


"Karena waktunya sudah hampir gelap, Papa dan Mama mau pamit pulang. Dijaga kesehatan kamu ya, sayang ..." ucap sang ibu berpamitan.


"Iya, Ma. Afna akan mengingat pesan dari Mama." Jawab Afna dan tersenyum.


"Kakak juga mau pamit, jaga diri kamu baik baik dan dijaga juga kesehatannya." Ucap saudara kembarnya berpamitan, setelah itu menghadap kearah Zayen.


"Aku pulang, aku titip adik kesayanganku kepadamu. Maafkan aku, yang sudah banyak merepotkan kamu." Ucap Kazza pada adik iparnya.

__ADS_1


"Kakak tidak perlu khawatir soal Afna, karena Afna sudah menjadi tanggung jawabku sepenuhnya." Jawab Zayen, kemudian Kazza menjabat tangan Zayen berpamitan.


Setelah keluarga mertua Zayen berpamitan, kini tinggal lah keluarga Zayen yang masih berada di rumah sakit.


__ADS_2