
Lagi lagi Seyn, masih memperlihatkan raut wajahnya yang kesal. Dengan cepat, Seyn menyuapi mulutnya sambil melirik kearah Afna yang sedang menikmati sarapan paginya. Reina maupun Seyn terasa terbakar api cemburu.
'Andai saja, kamu tidak mengalami kecelakaan. Akulah pemenang segalanya untuk mendapatkan kamu, ini semua gara gara Zayen. Apa ini bagian rencanamu, Zayen? kamu sengaja mencelakai Afna. Agar kamu dapat menggantikanku, kemudian kamu yang akan menguasai semuany. Aku tidak akan membiarkan kamu mendapatkan kemenangan, Zayen.' Gumam Seyn sambil mengunyah tanpa rasa nikmat.
Sedangkan tuan Arganta yang merasa sudah kenyang dan porsi makannya pun sudah disapu bersih oleh beliau, tuan Arganta kemudian segera bangkit dari tempat duduknya.
"Papa sudah selesai. Kalian, nikmati sarapan paginya. Jangan tabur piring kalian dengan garam, rasanya bisa berubah geram." Sindir tuan Arganta pada kedua putranya, kemudian segera bangkit dari tempat duduknya dan pergi ke tempat biasa untuk duduk santai.
Sedangkan Afna sudah menyapu habis porsi makannya dipiring dengan bersih, begitu juga dengan Zayen. Keduanya telah menyelesaikan sarapan paginya, kedua mata Afna tertuju pada sudut bi*bir Zayen sebelah kiri.
Tanpa Afna sadari, ibu jari Afna menyentuh sudut bibir milik suaminya. Terlihat ada sesuatu yang tertinggal di sudut bib*ir Zayen. Dengan pelan, Afna mengusapnya.
Zayen mendapati perlakuan dari Afna. Dengan sigap, Zayen langsung menahannya. Afna tercengang atas sikap Zayen yang tiba tiba membuat Afna hilang dari kesadarannya. Seakan akan Afna terhipnotis, dan membuat detak jantungnya terhenti seketika.
Sedangkan Seyn maupun Reina terasa sangat geram, seakan terbakar oleh api cemburu. Seyn langsung menyambar gelas yang berisi air putih, kemudian segera meminumnya.
PRAK!!! lagi lagi Seyn menghentakkan gelasnya ke meja makan, hingga terdengar menyakitkan ditelinga akibat ulah konyolnya. Seyn langsung pergi dari ruang makan diikuti sang istri dari belakang sambil memasang muka masamnya.
Sedangkan Zayen maupun Afna hanya saling bengong, tatkala melihat satu pasang suami istri yang begitu lucu menurutnya.
'Maafkan aku, Seyn. Yang kamu rasakan saat ini belum seberapa dengan apa yang aku rasakan. Aku berharap kamu tidak memendam rasa benci maupun dendam terhadapku, maupun terhadap adik kamu sendiri.' Gumam Afna dengan perasaannya yang sedikit takut jika hal buruk akan menimpanya maupun akan menimpa pada suaminya.
"Kamu memikirkan siapa, Seyn?" tanyanya mengagetkan.
"Aku tidak memikirkan siapa siapa, aku hanya merasa tidak enak badan." Jawab Afna sebisa mungkin untuk beralasan, sedangkan Zayen tidak semudah itu untuk mempercayainya.
__ADS_1
"Ooooh, aku kira sedang penat. Tadi kamu bilang tidak enak badan, mananya yang sakit."
"Aku hanya butuh istirahat saja, itu sudah lebih dari cukup."
"Baiklah, sekarang kita temui Papa. Setelah itu, kita berpamitan untuk pulang. Karena hari ini jadwal kamu harus pijat, agar kaki kamu segera sembuh. Aku tidak ingin melihat kamu dijadikan bahan ejekan, sebisa mungkin aku berusaha untuk menyembuhkan kamu. Meski melalui perantara orang lain, setidaknya aku sudah berusaha." Ucap Zayen panjang lebar, entah ada angin apa hingga membuat seorang Zayen bisa berbicara begitu panjangnya.
"Terimaksih, entah apa yang harus aku mengganti kebaikan kamu. Aku merasa tidak enak hati terhadapmu, aku sudah banyak merepotkan kamu. Maafkan aku, jika aku sembuh nanti aku akan berusaha untuk membalas kebaikan kamu selama ini terhadapku.
Afna tidak memiliki kosa kata selain ucapan terimakasih untuk suaminya. Afna benar benar merasa berhutang budi terhadap suaminya, hingga membuatnya bingung untuk membalas kebaikannya.
"Aku tidak memerlukan balasan dari kamu, cukup menjadi istri yang sempurna untukku." Jawab Zayen dengan enteng, sedangkan Afna hanya bengong mendengar ucapan dari suaminya. Tanpa mencerna ucapan dari sang suami, Afna merasa keberatan saat Zayen memintanya untuk menjadi istri yang sempurna.
'Memang apa hebatnya dia, sampai sampai memintaku untuk menjadi istri yang sempurna. Enteng sekali dia berucap, tanpa melihat kondisiku yang terbilang tidak sempurna. Apa dia sedang bercanda? karena ketidak sempurnaanku ini.' Gumamnya merasa terpojok karena kondisi fisiknya yang tidak sempurna.
"Bagaimana, apakah kamu bersedia?" tanyanya lagi sambil menepuk punggung istrinya dengan pelan.
"Aku tidak bisa pastikan, aku sadar diri. Bukankah kamu sudah mengetahui keadaanku saat ini. Lihatlah, aku tidak sempurna. Untuk jalan saja aku kesusahan, bahkan aku harus memintamu untuk membantuku berdiri." Jawabnya merasa tidak percaya diri.
"Memangnya kata sempurna itu untuk fisik, hah? aku rasa cara pandang kamu terlalu gegabah untuk menyimpulkan kata sempurna."
"Lalu, maksud kamu dari kata sempurna itu apa? aku tidak mengerti."
"Itu tugas kamu untuk mencari jawabannya. Sekarang kita temui papa untuk berpamitan, waktu kita tidak lama."
"Tapi, tongkat penyangga tubuhku ada di dalam kamar."
__ADS_1
"Aku yang akan menggendongmu, jangan menolak dan jangan menggerutu."
"Baiklah, aku pasrah denganmu." Jawabnya pasrah.
Zayen segera menggendong istrinya sampai keruangan yang dimana sang ayah sedang duduk bersantai. Dilihatnya Seyn yang sudah rapi berpakaian kerjanya. Zayen segera menurunkan istrinya untuk duduk di atas sofa.
"Pa, Aku berangkat kerja dulu. Dan kamu Zayen, secepatnya kamu kembali ke Kantor." Ucap Seyn berpamitan dan menepuk punggung sang adik seakan memberi kode untuk Zayen.
"Aku tidak janji." Jawab Zayen singkat, Afna yang melihat sikap keduanya pun merasa heran dan curiga. Namun, Afna segera menepis pikiran buruknya.
Setelah berpamitan dan memberi pesan kepada sang adik, Seyn segera berangkat ke Kantor. Dimana lagi kalau bukan Perusahaan yang pernah dibeli oleh Zayen. Namun, kini sudah dikuasai oleh Seyn sejak dirinya memberi ancaman terhadap adiknya.
Zayen bukan berarti lemah dan takut, dirinya hanya tidak ingin semua akan hancur bersama. Setelah Seyn pergi ke Kantor, kini Zayen ikut berpamitan untuk pulang ke rumah.
"Pa, kami berdua mau pamit pulang. Hari ini Afna ada pengobatan untuk kakinya."
"Benarkah? syukurlah, papa senang mendengarnya. Kamu begitu perhatian terhadap istrimu, semoga istrimu segera sembuh dan dapat beraktivitas seperti sedia kala."
"Terimakasih, Pa. Aku sangat berharap, jika istriku cepat sembuh dan kembali seperti semula."
"Maafkan Afna ya, Pa. Jika Afna sering menyusahkan putra papa, Afna akan berusaha untuk sembuh dan tidak lagi merepotkan suami Afna."
"Kamu tidak perlu meminta maaf, papa maupun Zayen tidak merasa direpotkan. Papa dan Zayen menerimamu dengan keadaan apapun. Dan kamu pun sudah menjadi tanggung jawab keluarga Arganta." Jawab tuan Arganta berusaha untuk meyakinkan menantunya, agar tidak berpikiran yang macam macam dan mengkhawatirkan Afna.
"Afna benar benar sangat berterimakasih, Pa. Afna sangat bersyurkur mendapati suami yang begitu perhatian terhadap Afna. Tidak hanya itu, Afna pun sangat bahagia mendapatkan keluarga yang begitu baik terhadap Afna." Jawab Afna sebaik mungkin.
__ADS_1