
Zayen masih duduk sambil mengobrol dengan kakek Ferdi, sedangkan Kazza sibuk dengan ponselnya. Keduanya sama sama dingin, Kazza memang tidak begitu suka dengan Zayen. Ditambah lagi pekerjaannya yang juga belum dapat di diketahui, Kazza terus melakukan penyelidikan tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya ataupun yang lainnya.
"Kakek, Kazza mau istirahat. Selamat siang, kek. Permisi ..." ucap Kazza berpamitan. Kini tinggal lah Zayen dan kakak Ferdi yang masih duduk ruang tengah.
"Nak Zayen, bisa antar kakek ke kamar?" tanyanya lirih.
"Bisa kek, kaki kakek sakit?" tanyanya penasaran.
"Iya, kemarin kakek keseleo. Gara gara mau nangkap ayam, tidak tahunya terpeleset."
"Kakek sudah dipijat?"
"Sudah, tapi rasa nyerinya tidak kunjung hilang."
"Mari, Kek. Zayen antar ke kamar." Ucap Zayen, kemudian membantu kakek Ferdi untuk jalan sampai didalam kamarnya.
Dengan telaten, Zayen membenarkan posisi kakek Ferdi dengan benar. Duduk sambil meluruskan kedua kakinya dan sambil bersandar.
"Kakek tunggu sebentar, Zayen mau mengambil minyak urut. Zayen mau mencoba mengurut kaki kakek, semoga ada perubahan. Tunggu sebentar ya, kek ..."
"Kamu bisa mengurutnya?" tanya kakek sedikit ragu.
"Soal bisa, Zayen tidak bisa menjaminnya, kek. Hanya saja, dulu waktu masih muda Zayen ikut pelatihan bela diri. Zayen pun ikut belajar cara menangani bagian anggota tubuh yang mengalami permasalahan pada bagian yang sakit, contohnya terkilir tadi kek." Jawabnya mencoba menjelaskan.
"Kamu serba dalam bidang apa pun, kakek bangga padamu."
"Jangan berlebihan, kek. Kalau begitu, Zayen mau ke kamar dulu mengambil minyak uratnya ya, kek ..." Jawab Zayen berusaha untuk tersenyum. Meski sangat berat, namun berusaha untuk mencairkan suasana. Apalagi yang dihadapinya seorang kakek, harus bisa memposisikan sikapnya.
"Baiklah, kakek tunggu disini."
Zayen pun mengangguk, kemudian segera keluar dari kamar kakek Ferdi menuju kamar yang dimana menjadi tempat istirahat untuknya dan istrinya.
Kakek Ferdi tersenyum bahagia, melihat cucu menantunya benar benar laki laki yang sangat bijak dan bertanggung jawab. Bahkan tutur katanya sangat bagus, kakek Ferdi teringat kembali dengan sosok yang tingkah lakunya tidak jauh beda.
'Kamu seperti Alfan, menantu dari keluarga Wilyam. Meski dingin dan pendiam, tetapi memiliki karakter yang susah untuk ditebaknya.' Batinnya dalam hati sambil melihat Zayen hingga bayangannya menjauh tidak terlihat.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, Zayen telah kembali di kamar kakek Ferdi. Zayen duduk didekat kaki kakek Ferdi.
"Yang sakit bagian mananya, kek?" tanya Zayen sambil membuka tutup botol minyak urutnya.
"Bagian kaki sebelah kiri, pas di pergelangan kaki. Rasanya sangat nyeri, bahkan sangat sakit untuk menahannya."
"Maaf ya, kek. Jika Zayen tengah lancang memegangi kaki miliknya kakek." Ucap Zayen sedikit merasa tidak sopan kepada sang kakek saat memegangi kakinya.
"Tidak apa apa, seperti sama siapa saja. Kakek ini sudah menjadi kakek kamu, dan kamu tidak perlu sungkan dengan kakek maupun nenek."
"Iya kek, setidaknya saya meminta izin dengan kakek."
"Silahkan, jika memang kamu bisa untuk melakukannya. Kakek hanya bisa berharap untuk kesembuhan kakek." Ucap sang kakek, dan tersenyum.
Dengan pelan, dan sangat berhati-hati Zayen memeriksa bagian pada pergelangan kaki kakek untuk dilakukan dengan cara diurut. Meski terasa sangat sakit untuk ditahan, kakek Ferdi berusaha untuk kuat menahannya.
"Ditahan ya, kek. Jika terasa sangat sakit, kakek bilang saja." Ucap Zayen sedikit merasa canggung, karena yang diurut bukan orang lain, melainkan kakeknya sang istri. Mungkin jika Viko yang diurut, bisa jadi dapat tabokan berkali kali lipat dari Zayen.
Kakek Ferdi hanya mengangguk dan berusaha untuk menahan rasa sakit maupun nyeri dan rasa lainnya.
"Aaaw!" sakit, Nak. Pelan pelan ya, nak Zayen." Ucapnya sambil meringis kesakitan.
Berkali kali kakek Ferdi meringis kesakitan, sedangkan Zayen terus dan terus mengurut kakek Ferdi. Meski berulang ulang seperti meminta tolong, sebisa mungkin untuk menyembuhkan kaki milik kakek Ferdi yang terkilir.
Setelah memakan waktu yang cukup lama, Zayen telah selesai mengurut kakek Ferdi.
"Maaf, kek. Coba gerakkan pada pergelangan kaki kakek yang tadi terasa sakit." Ucap Zayen sambil menutup botol minyak urutnya.
Kakek Ferdi pun melakukannya sesuai apa yang diperintahkan Zayen. Dengan pelan, Kakek Ferdi melakukannya. Sesekali menggoyangkan pergelangan kakinya, tiba tiba pada kedua sudut bibir milik kakek Ferdi tersenyum mengembang.
"Masih terasa sakit tidak, kek?" tanya Zayen sambil memperhatikan bagian pergelangan kaki kakek Ferdi.
"Benarkah ini? kamu tidak lagi menghipnotis kakek, 'kan?"
"Tidak, kek ... ini kenyataan, Zayen tidak lagi menghipnotis kakek. Percayalah, ini benar benar nyata. Coba kakek ulangi lagi, takut masih ada rasa nyeri pada bagian pergelangan kakek." Jawab Zayen berusaha untuk meyakinkan.
__ADS_1
Saat kakek Ferdi sedang menggoyang goyangkan pergelangan kakinya, tiba tiba ada sosok wanita cantik yang sudah berdiri di ambang pintu sambil berkacak pinggang.
Kedua mata kakek Ferdi dan Zayen tertuju pada sosok wanita cantik yang terlihat sangat menggemaskan.
"Kakek ...." serunya memanggil kakek Ferdi dan memeluknya dengan erat, sedangkan Zayen segera menyingkir dan duduk di kursi yang berada di dekat tempat tidur.
"Cucuku ... kamu sudah bangun rupanya, bagaimana kabar kamu?"
"Kabar Afna sangat baik, kek. Hanya saja sedang tidak sinkron suasananya. Kakek sendiri bagaimana kabarnya?" jawab Afna sambil melirik kearah Zayen, yang di liriknya hanya tersenyum menggoda sambil meninggikan satu alisnya.
"Lihatlah, kaki kakek dapat disembuhkan oleh suami kamu. Rupanya kamu punya suami jago segalanya, jago beladiri dan jago memijat kami yang terkilir." Ucap sang kakek memuji, sedangkan Afna langsung menatap tajam pada suaminya.
"Afna permisi, kek .. perut Afna mules." Ucap Afna langsung pamit pergi meninggalkan kakek Ferdi dan suaminya.
"Kejar istrimu, dia sedang butuh perhatian kamu." Perintah sang kakek yang mengerti maksud dari cucu putrinya, kebiasaan jika merasa kesal langsung pergi begitu saja. Sedangkan Zayen hanya tersenyum tipis.
"Zayen ikut permisi ya, kek ... semoga lekas sembuh dan bisa berjalan normal kembali." Ucap Zayen berpamitan, sebenarnya malas mengejar Afna. Karena ujung ujungnya akan mendapat imbasnya. Karena permintaan sang kakek, Zayen langsung mencari keberadaan istrinya.
Zayen tahu dan bisa menebaknya, kemana istrinya bersembunyi. Dimana lagi kalau bukan didalam kamar, karena tempat itulah yang nyaman untuk menyembunyikan bibir mengerucut.
Dengan kuat, Zayen menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Kemudian menatap langit langit kamar yang terbilang sangat sederhana.
"Diam! jangan banyak tingkah."
Zayen masih diam, bahkan sejak masuk kedalam kamar belum juga bersuara. Namun, Afna menyuruhnya untuk diam. Zayen pun bingun dibuatnya, berkali kali berpikir tidak juga mendapatkan jawabannya.
"Perasaan aku sudah diam dari tadi, apa yang salah denganku."
"Memijat." Jawabnya singkat, padat dan kurang jelas menurut pemikiran Zayen.
"Memijat? maksud kamu."
"Kenapa kamu bisa memijat kakek, sedangkan denganku kamu menyuruh ibu Marna untuk memijatku." Jawabnya cemberut dan memasang muka masamnya.
"Sini, aku jelasin. Mendekatlah, biar kamu tahu alasannya." Ujar Zayen mencoba untuk menjelaskan kepada istrinya. Afna pun nurut dan duduk sambil bersandar pada suaminya.
__ADS_1
Zayen memeluknya dengan mesra, kemudian memulai untuk menjelaskannya.
"Apa salahnya, jika memberi pekerjaan untuk orang lain. Mereka akan lebih senang, jika tenaganya dibutuhkan. Berbeda dengan yang diberi cuma cuma, tidak akan merasa puas sebesar apa pun itu pemberian. Meski tidak semuanya, tetapi akan lebih senang jika tenaganya atau usahanya dibutuhkan. Kamu mengerti apa maksudku, 'kan? kamu sudah dewasa, dan seharusnya kamu bisa menilainya. Tapi, tidak apa apalah, akhirnya istriku ini cemburu." Ucap Zayen menjelaskan, kemudian mencium pucuk kepala istrinya.