Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
#BONUS CHAPTER 4


__ADS_3

Sera yang mendengarnya pun sedikit kesal dengan ucapan dari Vella yang terlihat santai, bahkan tanpa ada rasa beban sedikitpun pada diri Vella sendiri.


Vella memilih duduk didekat karyawan lainnya, sebelumnya Vella sudah mengkode semua karyawannya. Termasuk pegawai OB sekalipun.


Karena merasa bosan, Sera memilih untuk berkeliling area perkantoran sambil menghayal yang tidak sesuai kapasitasnya.


Sedangkan didalam ruangan, Kazza sedang berhadapan dengan Gio. Yang tidak lain adalah saudara dari Vella.


"Oh iya, sebenarnya ini perusahaan akan di pegang oleh Vella. Namun, karena dia merasa sudah capek duluan. Maka, Vella memintaku untuk bertemu denganmu." Ucap Gio.


'Bilang saja, jika ini semua sudah direncanakan untuk mempertemukanku lagi dengan Vella. Apakah aku perlu untuk menjelaskannya, bahwa Vella lah yang memintaku untuk menggagalkan perjodohan itu.' Batin Kazza sambil membereskan berkas berkasnya.


"Kazza, kenapa kamu tidak dekati saja Vella. Jangan tutup tutupi perasaan kalian berdua, lagian aku dan keluarga sebenarnya sudah mengetahui jika Vella yang mutuskan perjodohan kalian. Jadi, aku mohon tetaplah untuk menunggu Vella sampai hatinya benar benar kokoh untuk menyukaimu. Aku yakin dengan sikap Vella yang acuh, sebenarnya ia menaruh gengsi yang besar terhadapmu." Ucap Kazza penuh harap.


"Kamu tidak perlu khawatir dan cemas, percayalah denganku. Jika aku dan Vella ditakdirkan untuk berjodoh, aku dan Vella akan menjadi sepasang suami istri. Jika tidak, maka kita tetap tidak bisa memungkiri bahwa jodohnya ada pada orang lain." Jawab Kazza.


"Benar, apa yang kamu katakan. Aku hanya bisa berusaha dan memintamu, karena aku percaya denganmu. Bahwa kamu adalah lelaki yang cocok dan yang pas Untuk Vella. Selain kalian berdua sudah saling mengenal, kalian berdua juga terlihat serasi." Ucap Gio penuh yakin.


"Ya sudah kalau begitu, aku pamit pulang." Jawab Kazza, kemudian segera ia keluar dari ruangan khusus pertemuan.


Vella yang merasa sudah bosan, ia mencoba mengecek sang kakak yang sedang melakukan pertemuan yang namanya dirahasiakan.


BRUGG!!!

__ADS_1


"Aw! kalau jalan hati hati dong, sakit."


"Maaf, aku tidak sengaja." Jawabnya, kemudian keduanya saling beradu pandang satu sama lain. Bahkan, keduanya sama sama tidak berkedip. Terlihat jelas keduanya begitu tegang, dan juga sama sama tercengang ketika saling beradu pandang.


"Kamu tidak apa apa?" tanya Kazza.


"Heh! kamu mau mencari kesempatan, jangan harap." Ucap Sera yang tiba tiba geram saat melihat Kazza dan Vella saling beradu pandang. Seketika, Sera langsung membuyarkan lamunan pada keduanya.


Sedangkan Vella yang mendapat perlakuan dari Sera hanya tersenyum getir mendengar dan melihatnya. Vella semakin risih dan semakin kesal melihat tingkah dan sikap Sera yang benar benar tidak memiliki tata krama dalam berbicara pada siapapun, temasuk didalam kantor pun.


"Sera, sudah lah jangan menambah masalah. Aku mau pulang, pertemuanku sudah selesai. Jadi, aku pulang duluan. Bukankah hari ini kamu harus melakukan seleksi untuk menjadi sekretaris Perusahaan Gantaraka group, jadi bersiap siaplah. Kuncinya, jangan dijadikan kesombonganmu menjadi tolak ukurmu." Ucap Kazza berpamitan, setelah itu segera ia pergi meninggalkan kantor tersebut.


"Tidak apa apa, jika kamu mau pulang duluan." Jawab Sera penuh percaya diri, sedangkan Kazza hanya tersenyum getir. Lalu, Kazza segera pergi dari kantor milik keluarga Gantaraka.


Tidak lama kemudian, Gio tengah keluar dari ruangan yang dijadikan pertemuannya bersama Kazza. Kemudian, segera ia menghampiri sang adik yang sedang berdiam diri mematung.


"Ehem ehem, sedang apa kalian berdua?" tanya Gio pada Sera dan Vella.


Sedangkan Sera tercengang saat melihat ketampanan dari seorang Gio tengah mencuri perhatian pada perempuan yang normal. Berbeda dengan Vella, ia memilih untuk segera pergi dari dekat Sera yang terlihat akan mengobrol dengan Sera. Namun, itu semua sudah menjadi pengawasan dari kedua orang tuanya. Terutama pada kedua anaknya, agar terus tetap terpantau.


"Maaf, anda siapa?" tanya Sera pura pura lembut dan memulai untuk mengeluarkan jurus jurusnya.


"Perkenalkan, namaku Gio Gantara. Aku adalah bagian keluarga Gantara, sekaligus pemilik kantor ini." Jawabnya beralasan, karena dirinya sendiri tidak mungkin mengatakan sejujurnya. Jika pemilik kantor tersebut adalah miliknya Vella, yaitu saudara perempuannya.

__ADS_1


Sera yang mendengar penuturan dari Gio semakin terpesona dengan ketampanannya. Sedangkan Vella sendiri langsung menyingkir dari posisinya. Ia tidak ingin berurusan dengan perempuan yang sudah membuatnya kesal berlipat lipat.


"Kamu siapa?" tanya Gio yang mengerti maksud kedatangan perempuan tersebut, yang diam diam terlihat memiliki rencana yang sangat rapi dan mudah untuk di tebaknya. Namun, tetap saja tidak jadi untuk diberi pertanyaan lagi.


"Aku yang diminta Papaku, katanya aku yang akan dijadikan sekreraris perusahaan ini." Jawabnya penuh yakin.


"Oooh, hari ini sepertinya belum ada interview untuk sekretaris. Soalnya masih ada urusan yang jauh lebih penting di perusahaan ini, jadi datanglah hari depannya. Karena besok adalah hari libur, jadi silahkan untuk datang kembali dihari senin." Ucap Gio dengan tenang, kemudian ia pergi begitu saja tanpa ada rada tertarik sedikitpun terhadap Sera yang terlihat cantik.


'Kenapa sih, orang tajir itu sombong sombong banget. Padahal, aku tidak kalah cantiknya dengan artis artis terkenal. Tapi, tetap saja sama seperti Kazza. Yang dingin dan super kaku.' Batinnya berdecak kesal saat dirinya tidak mendapatkan respon sedikitpun dari Gio.


Dengan kesal, Sera langsung pulang begitu saja sambil menghentakkan kedua kakinya dengan kuat. Kemudian, ia segera pergi meninggalkan kantor tersebut dan pulang.


Sedangkan Vella kini masih berada didalam ruangan kerja yang akan menjadi tempat kesibukannya. Vella yang terasa jenuh dan penat dengan pikirannya, ia mencoba bersandar saat duduk di kursi kerjanya.


Tiba tiba dirinya teringat dengan kejadian yang baru saja dilewatinya, seketika pikirannya pada sosok Kazza yang tengah ditabraknya.


"Jangan jangan ... pertemuan tadi memang sudah direncakan, aku yakin ini semua rencana papa dan paman Tirta. Ah! kenapa sekarang ini aku sering memikirkannya sih, sial." Gerutunya sambil mengepal kuat pada kedua tangannya.


Tidak lama kemudian, sang kakak sudah berada dihadapan Vella tanpa disadarinya. Seketika, Vella langsung membumgkam mulutnya dengan kedua telapak tangannya.


"Kamu berbicara dengan siapa, hah? tidak perlu kamu tutup tutupi. Kakak dan keluarga, sudah mengetahui semuanya. Jika kamu lah yang memutuskan perjodohan kamu dengan Kazza, 'kan?" ucap sang kakak dengan tatapan serius.


Vella semakin gugup dan sedikit ketakutan saat kebohongannya telah diketahui oleh sang kakak dan pihak keluarga, termasuk kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Maaf, aku hanya tidak ingin menikah tanpa adanya rasa cinta. Aku tidak ingin menikah dengan keterpaksaan, karena aku bukan Afna yang mampu melewati sebuah ujian pernikahan paksa. Aku yang arogan dan keras kepala, aku takut jika diriku susah untuk dikendalikan." Jawab Vella menyadarinya dan menjelaskannya.


__ADS_2