
Viko masih merasa bersalah, dengan entengnya Viko berbicara tanpa melihat situasi.
"Viko, tunggu aku sebentar. Aku mau menemani istriku makan malam, jangan pergi dulu."
"Iya, Bos. Santai saja, jangan buru buru menikmati makan malamnya bersama istri tercinta." Jawab Viko, kemudian kembali masuk kedalam mobil.
'Semoga saja si Bos ngerti jika disindir, jika tidak ... ya sudahlah. Terkadang memang susah jika ngomong sama orang yang sedang kasmaran, antara ucapan dan pikiran tidak sinkron.' Batin Viko sambil membuka ponselnya.
Sedangkan Zayen sadang menemani sang istri menikmati ayam bakarnya, keduanya nampak sangat lapar dan seperti orang kelaparan. Tidak membutuhkan waktu lama, dua nasi bungkus pun tidak tersisa sedikitpun. Bungkusnya benar benar disapu bersih oleh Afna dan Zayen.
"Sayang, aku pamit untuk berangkat. Lebij baik kamu langsung istirahat, jangan bergadang untuk menungguku pulang. Aku tidak bisa menjamin kepulanganku jam berapa, mungkin cepat dan bisa juga terlambat." Ucap Zayen berpamitan sambil mengenakan jaket hitam tebalnya, penampilannya kini benar benar menyeramkan seperti layaknya preman. Afna pun segera bangkit dari tempat duduknya, dan merapihkan penampilan suaminya.
"Berhati hatilah dalam bekerja, jangan ceroboh. Semoga selamat sampai tempat bekerja dan pulang dengan selamat." Jawab Afna sembari mendoakan suaminya, sedangkan Zayen tiba tiba bulu kuduknya berdiri. Baru kali ini, Zayen mendapat perlakuan dari seorang wanita, yang tidak lain istrinya sendiri.
.
"Baiklah, kamu tidak perlu mengunci pintunya. Biar aku yang akan menguncinya dari luar, kamu cukup masuk ke kamar dan segera keluar." Ucap Zayen, lalu mencium kening milik istrinya dengan lembut. Afna mengangguk, dan memeluk erat tubuh suaminya seakan tidak ingin melepaskannya.
"Sudah, pelukannya dilanjut setelah aku kembali. Aku akan memberimu kejutan setelah pulang nanti." Ucapnya sambil melepaskan pelukan dari istrinya.
"Kejutan apaan? potong rambut?"
"Nanti kamu akan mengetahuinya sendiri, sekarang lebih baik kamu beristirahatlah. Itu jauh lebih baik, agar seluruh badanmu tidak terasa pegal pegal." Ucap Zayen yang langsung berbalik arah dan segera keluar meninggalkan Afna yang berada di dalam rumah sendirian.
Sebenarnya Zayen tidak ingin meninggalkan istrinya sendirian, namun mau bagaimana lagi. Zayen memiliki pekerjaan yang harus dikerjakan sewaktu waktu ada pengiriman barang. Meski tidak sering, tetapi sekali keluar membutuhkan waktu yang cukup lama.
Sedangkan Afna kini mulai kesepian tanpa adanya suami yang menemani tidur, Afna celingukan disekitar ruang tamu. Begitu hening tanpa ada seseorang selain dirinya, Afna merasa ketakutan saat sendirian. Namun mau bagaimana lagi, dirinya tidak mungkin untuk mencegah suaminya untuk tidak berangkat bekerja.
Selama menjadi istri Zayen, Afna tidak begitu memperhatikan keadaan didalam rumah suaminya. Dikarenakan, kondisinya yang membuatnya malas untuk beraktivitas. Afna kini melangkahkan kakinya satu langkah ke langkah berikutnya sambil melihat lihat kondisi rumah milik suaminya yang terkesan sederhana dan sangat rapi penataannya.
Tiba tiba kedua bola mata Afna tertuju suatu ruangan yang terkunci, ruangan kecil tetapi seperti memiliki sejuta pertanyaan. Afna mencoba mendekatinya, mencoba untuk mengetahui ruangan yang membuatnya penasaran.
__ADS_1
"Ini ruangan terlihat misterius, ruangan apaan ini? kenapa aku baru menyadarinya. Aku pernah melihatnya dan juga pensaran, tetapi aku telah melupakannya. Aku sibuk dengan kondisi kakiku ini, hingga membuatku tidak leluasa untuk melihat kondisi rumah ini." Gerutu Afna sambil menempelkan telapak tangannya pada pintu yang membuatnya penasaran.
"Kira kira didalam ruangan ini ada apa, ya? jadi penasaran. Apa aku cari kuncinya, tapi dimana? pastinya disimpan sangat rahasia. Karena aku pernah menemukan sebuah pistol di laci dan beberapa kunci lainnya yang juga terdapat pintu rahasia. Aaaah! kenapa pikiran burukku kemana mana." Gerutunya lagi.
Karena merasa prustasi, Afna kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
Sedangkan Zayen sedang dalam perjalanan bersama Viko. Sambil menyetir, Viko menceritakan semuanya. Zayen sendiri menanggapinya dengan santai, dan tanpa takut maupun cemas.
"Bos! yakin, tempat yang baru untuk dijadikan menimbun barang benar benar aman. Bos Zayen kan tahu sendiri seperti apa itu Seyn, bukankah Seyn bisa menemukan tempat keberadaan kita." Ucap Viko yang masih penasaran.
"Kali ini tidak akan bisa menemukan tempat yang aku jadikan tempat menimbun barang."
"Aku percaya dengan Bos Zayen. Tapi .... apa selamanya kita akan seperti ini, Bos?"
"Tidak tahu aku, Vik. Sebenarnya aku sudah bosan melakukan pekerjaan ini, aku ingin kembali ke dunia normal seperti yang lainnya. Tapi ... entahlah. Jika kamu sudah bosan, berhentilah. Aku tidak lagi memaksamu, dan tidak lagi mengancam kamu."
"Tidak, Bos! selama Bos Zayen masih menggeluti pekerjaan ini, aku akan selalu ada untuk Bos Zayen. Karena berkat Bos Zayen, aku tidak lagi menjadi kejaran para kredit."
"Terserah kamu, aku tidak memaksamu."
"Jadi, sekarang kita akan memindahkan barang barang atau ...."
"Kita tidak mungkin melakukannya, kamu suruh anak buah kamu. Yang benar saja kita akan jadi kuli sendiri, mau ditaruh mana muka kita. Hah!"
"Ah! iya juga, Bos. Kenapa aku baru teringat itu, aaah! aku kemanain pikiranku dari tadi."
"Bukankah kamu taroh di bagasi belakang dari tadi, ingat?" jawab Zayen meledek.
"Bos Zayen bisa saja mengejekku.
Jadi, kita pulang nih! Bos."
__ADS_1
"Tidak! kita akan menginap ditengah jalan Tol, puas kamu."
"Aku belum puas, Bos. Bos Zayen mah enak sudah nikah, pasti sudah dapat jatah. Lah aku, boro boro dapat. Gentayangan nanti aku, Bos! mati ditengah jalan Tol."
'Enak apanya, Vik. Baru juga dua kali garap, masih kurang puas. Ini semua gara gara kamu kasih kabar yang tidak tidak.' Batinnya berdecak kesal.
"Vik, kita pergi ke salon."
"Mau ngapain, Bos? krimbat?"
"Bukan!"
"Terus ngapain? nyari godaan? jangan Bos! ngeri."
"Gile kamu, Vik. Aku sudah punya istri, jauh lebih cantik dari segalanya."
"Terus .... mau ngapain di salon, Bos?"
"Cukur rambut! paham."
"What!!" Sssssstttt.. DUG! seketika itu juga, Zayen maupun Viko sama sama kaget karena ulah Viko yang mendadak menghentikan mobilnya.
"Kamu mau cari ma*ti, Vik!"
"Maaf, Bos. Aku hanya kaget mendengar Bos Zayen mau potong rambut, itu saja."
"Sudah, cepetan berangkat ke salon langganan."
"Iya, Bos." Jawabnya singkat, kemudian segera melajukan mobilnya dengan kecepatan lumayan tinggi karena permintaan dari Zayen.
Tidak memakan waktu lama, kini Zayen dan Viko telah sampai didepan salon langganannya.
__ADS_1
Zayen masih mengumpulkan mentalnya untuk memenuhi permintaan istri tercintanya, demi sang istri Zayen mau melakukannya. Zayen mengatur nafasnya agar tetap terlihat tenang, dan tidak terlihat gelisah. Sedangkan Viko yang melihat ekspresi Zayen hanya bisa nahan tawa.
'Bos Zayen ini benar benar sangat lucu, mau potong rambut seperti mau menghadapi malam pertama.' Gumam Viko sambil menahan tawa karena ekspresi Zayen yang benar benar menggelikan, pikir Viko."