Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Ungkapan


__ADS_3

Sambil berdiri, Viko mencoba mengatur pernapasannya supaya tidak terlihat salah tingkah dan tetap terlihat tenang.


Adelyn sendiri mendongak keatas sambil memperhatikan Viko yang mulai mendekatinya. Perasaan gugup dan canggung, kini tengah menghantui pikiran Adelyn. Sebisa mungkin, Adelyn berusaha untuk tenang dan tidak menunjukkan kegugupannya.


Viko sudah berdiri tegak disebelah Adelyn, Adelyn sendiri masih dengan posisinya.


"Apakah kamu akan terus terusan duduk disini?" tanya Viko mengkode.


Dengan reflek, Adelyn segera bangkit dari posisi duduknya. Kemudian segera menggeser tempat duduknya, dan disaat itu juga tidak ada lagi penghalang didekatnya.


Viko yang berhadapan langsung dengan Adelyn seperti mimpi yang berkepanjangan, sehingga membuat pikirannya melanglang entah kemana.


Adelyn masih diam sambil menatap lekat wajah tampan dan mempesona milik Viko, ingin segera menepis pikiran konyolnya namun tetap saja tidak bisa menepisnya.


Adelyn kembali teringat saat saat dirinya berdebat maupun ketahuan dalam situasi yang mendadak mengagetkan.


"Katakan, sampai kapan kamu akan terus menyembunyikan perasaanmu?" tanya Viko yang tidak bisa seromantis pasangan yang lainnya. Selain sibuk, Viko bisa dikatakan tidak pernah berinteraksi dengan yang namanya perempuan. Hari hari Viko selalu disibukkan dengan pekerjaan, tidak heran jika Viko tidak bisa menunjukkan sikap romantisnya.


Adelyn yang mendapati pertanyaan dari Viko dan mengerti apa maksudnya, tanpa pikir panjang segera ia memeluk Viko kembali begitu erat. Disaat itu juga, Viko membalasnya. Lalu, membelai rambut panjangnya yang tengah terkucir. Dengan pelan, Viko melepaskan dan membiarkan rambut Adelyn teruari begitu panjang. Viko mencium lembut puncak kepalanya.


Viko tidak bisa berkata apa apa, dirinya hanya bisa mengungkapkannya dengan sikapnya. Adelyn terus memeluknya dengan erat, seakan sulit untuk melepaskannya.


'Sebenarnya laki laki ini benar benar menaruh hati padaku atau tidak, sih? kenapa lelaki ini begitu dingin. Sekeras inikah sosok laki laki yang membuatku gila karena cintanya, apa aku begitu bodoh jatuh cinta dengannya yang begitu dingin dalam bersikap. Namun, terasa hangat jika ia membuktikan rasa cintanya padaku dengan sikapnya.' Batin Adelyn yang terus berusaha untuk mencernanya.

__ADS_1


"Kenapa kamu masih diam?" tanyanya lagi.


'Cih ... kenapa sih, laki laki ini jual mahal banget. Ngomong kek, aku mencintai kamu Adelyn ... aku takut kehilangan kamu. Ini, memberiku pertanyaan melulu. Yang romantis dikit kek, biar hatiku semakin terbunga bunga.' Batin Adelyn yang masih memeluk Viko, ia sengaja untuk tidak melepaskannya. Adelyn benar benar ingin mengetahui respon darinya, karena sangat misterius akan keberaniannya untuk mengungkapkan perasaannya.


"Baiklah, kalau kamu masih diam. mungkin saja, hati dan perasaan kita berbeda. Aku yang mencintaimu, dan kamu yang ..." ucapnya yang terhenti.


Seketika, Adelyn tercengang mendengarkannya. Bahkan, ia seperti mimpi mendengar pengakuan dari Viko. Dirinya benar benar tidak pernah menyangka jika ucapan yang diharapkannya lolos begitu saja dari mulut Viko.


"Apakah kamu mendadak tidak bisa bicara? hingga bibir kamu terbungkam? ayo jawab pertanyaanku." Tanya Viko yang masih terasa mendesak Adelyn, sedangkan Adelyn hanya bisa menahan tawa dalam pelukan Viko.


"Maafkan aku, jika aku tidak seromantis yang kamu bayangkan. Tapi, aku akan selalu berusaha untuk memberimu cinta yang sempurna. Dan, aku akan berusaha untuk membuatmu bahagia. Aku sangat mencintaimu, Adelyn. Aku begitu takut kehilanganmu, dan aku tidak ingin kehilangan kamu. Jika kamu bersedia, maka aku akan segera melamarmu dan secepatnya aku akan menikahimu. Apakah kamu mau menikah denganku? jawablah, jangan paksakan jika masih berat untuk menerimanya." Ucap Viko tengah mengutarakan perasaannya, disaat itu Perasaan Adelyn terbunga bunga. Adelyn sangat bahagia dan juga lega tentunya. Meski sedikit kaku, setidaknya Viko sudah menunjukkan perasaannya dengan beberapa kalimat yang ia dengarkan.


Adelyn segera melepaskan pelukannya, kemudian ia langsung menatap lekat pada wajah Viko. Dilihatnya sosok Viko yang terlihat begitu dingin, namun mampu memberinya cinta untuk Adelyn.


Laki laki normal mana yang tidak tertarik melihat wanita cantik berada didepannya hanya dianggurin. Viko segera menepis pikiran kotornya, ia tidak ingin terbuai dengan sesuatu yang belum sepenuhnya menjadi milik pribadinya.


"Kelamaan, buruan temui kedua orang tua Adelyn. Apakah kamu ingin menunggunya sampai pulang dari Amerika? silahkan, jika kalian sanggup menahannya." Ucap Zayen yang tiba tiba sudah berada dibelakang Viko, tanpa disadari oleh keduanya.


Disaat itu juga, Adelyn maupun Viko sama sana kaget mendengarkannya. Kemudian, keduanya sama sama menoleh ke sumber suara.


"Kakak ..."


"Bos Zayen ..."

__ADS_1


Panggil keduanya sama sama tercengang sambil menahan malu, Zayen yang melihatnya hanya menahan tawa saat melihat sepasang kekasih seperti tertangkap basah.


Seseorang tengah mendekati Viko dan Adelyn tanpa keduanya sadari, sosok laki laki paruh baya sudah berada di dekatnya.


"Tidak perlu menemui kami, Vik. Aku merestui hubungan kalian berdua, aku menerima kamu untuk menjadi menantuku. Lebih cepat itu lebih baik. Tapi ingat, jangan pernah kamu mengecewakan putri kesayangan kami." Ucap tuan Alfan dengan tatapan serius pada Viko.


"Terima kasih atas restunya dari Tuan, tapi ... saya tidak memiliki apa apa terkecuali tanggung jawab sebisa yang saya lakukan untuk membuat Adelyn bahagia." Jawab Viko berusaha untuk tenang, dan juga sebaik mungkin untuk menjawab pertanyaan dari tuan Alfan.


"Aku percaya sama kamu, bahwa kamu mampu membuat putriku bahagia. Walaupun dengan kesederhanaan sekalipun, aku percaya padamu. Aku melihatmu, sama seperti aku melihat putraku Zayen. Pertama aku mengenalmu, sama sepertiku mengenal Zayen. Dan, kamu tidak perlu memanggilku dengan sebutan tuan. Sebenarnya ku tidak menyukainya, panggil aku seperti pada umumnya." Ucap tuan Alfan dengan hati yang terbuka menerima Viko untuk menjadi menantunya.


"Begitu juga dengan kakek, kakek sangat merestui hubungan kalian berdua. Kalian tahu? kalian pasangan yang serasi, kalian berdua sangan cocok. Jangan lama lama, kakek akan menambah jadwal sampai kalian berdua benar benar sudah resmi menjadi suami istri." Ucap sang kakek, lalu tersenyum bahagia mendapati cucu perempuannya kini tengah menemukan dambatan hatinya.


"Terima kasih, Kek ..." jawab Viko dan Adelyn serempak.


"Nah ... akhirnya, kalian berdua mengakui perasaan kalian masing masing. Mama merestui kalian berdua, secepatnya kalian segera menikah. Agar tidak ada lagi beban yang terpendam didalam hati kalian." Ucap ibunya Adelyn dibarengi senyum yang bahagia, kini putrinya tidak merasakan sakit memendam perasaannya.


"Omma juga tidak mau kalah dengan yang lainnya, Omma sangat merestui hubungan kalian. Secepatnya kalian segera menikah, dan kejar Zayen untuk mendapatkan junior." Ucap Omma Serly dibarengi senyumnya yang bahagia, kini kedua cucunya tengah menemukan kebahagiaan masing masing.


"Iya, Omma." Jawab Adelyn dan Viko dengan senyum bahagia pada keduanya.


"Cie ... sudah menemukan Dokter spesial nih, semoga hubungan kalian langgeng hingga menuju ke pelaminan." Ucap Afna ikut menimpali.


"Iya, kakak ipar ..." jawab keduanya sama serempaknya.

__ADS_1


"Sudah sudah ... ayo, kita lanjutkan makan malamnya." Ajak tuan Alfan untuk tidak terus terusan mengobrol sambil berdiri didalam ruangan yang cukup kecil dan sempit. Semuanya pun mengangguk dan kembali ke tempat yang sudah di pesannya.


__ADS_2