Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Mengajak makan malam


__ADS_3

Zayen dan Afna masih dengan posisinya, keduanya masih beradu pandang saat sang ayah memberinya sebuah tiket untuk berbulan madu.


"Maaf, Pa. Bukannya Zayen menolak, tetapi kasihan istri Zayen. Kondisi Afna masih tahap pemulihan, Pa ... Papa tidak perlu khawatir, tidak lama lagi Afna akan segera sembuh. Untuk saat ini harus melakukan pengobatan yang teratur, Pa. Setelah sembuh nanti, Zayen berjanji akan mengajak Afna untuk berbulan madu."


"Maafkan Papa yang tidak menyadari kondisi Afna, dan papa tidak memaksa kalian berdua untuk berbulan madu secepatnya. Papa nurut saja apa yang menurut kalian baik dan nyaman." Ucap sang ayah yang baru tersadar akan kondisi puterinya. Sedangkan Zayen mengangguk dan berusaha untuk tersenyum.


"Iya, mama sampai lupa. Afna, kamu harus semangat untuk sembuh. Mama yakin, kamu pasti bisa sembuh."


"Tidak apa apa kok, Ma. Afna akan terus berusaha untuk sembuh, mama dan papa tidak perlu khawatir."


"Kalau begitu, kalian berdua segeralah bersiap siap untuk berangkat makan malam di luar. Mama dan Papa tunggu di depan rumah, jangan terburu buru. Karena mama juga akan bersiap siap."


"Iya, Ma. Kalau begitu, Zayen dan Afna permisi untuk masuk ke kamar." Jawab Zayen dengan ramah untuk beranjak pergi meninggalkan ruangan keluarga.


Kedua orang tua Afna pun segera bangkit dari tempat duduknya dan masuk ke kamar untuk bersiap siap. Begitu juga dengan Zayen, yang juga segera menggendong istrinya untuk masuk ke kamarnya.


Sambil membungkukan badannya, Zayen mengangkat istrinya untuk digendongnya. Afna yang tidak lagi canggung, tanpa disuruh langsung melingkarkan kedua tangannya pada leher suaminya seperti biasa.


Kedua mata Zayen dan Afna saling bertemu, keduanya nampak tegang. Afna yang begitu lekat menatap wajah suaminya, begitu juga dengan Zayen yang terasa tidak ingin mengalihkan pandangannya.


Sambil menatap wajah suaminya, jari telunjuk Afna menunjuk arah kamarnya. Dengan pelan, Zayen menapaki anak tangga menuju kamar milik istrinya.

__ADS_1


Sesampainya didepan pintu, Afna yang membuka pintu kamarnya. Sesampainya diambang pintu, keduanya terbelalak saat melihat kondisi kamarnya.


Afna sendiri menyangka dengan kondisi kamarnya, serasa seperti kamar pengantin baru. Semua benar benar sudah berubah, bahkan sekarang lebih jauh bagusnya dengan waktu sebelumnya.


Sedangkan Zayen hanya tersenyum tipis, saat melihat kondisi kamar istrinya. Zayen mengerti akan maksud dari semuanya, Afna yang memperhatikan senyum tipis dari suaminya terasa bergidik ngeri. Pikiran Afna sudah melancong kemana mana, Afna pun mengerti maksud senyum tipis dari suaminya.


Dengan pelan, Zayen menurunkan sang istri dengan pelan. Afna masih dalam posisinya yang masih melingkarkan kedua tangannya, wajah keduanya semakin dekat. Detak jantung Afna semakin tidak beraturan, dirinya teringat saat dirumah milik suaminya. Saat dipuncak kemenangan sang suami, tiba tiba semua gagal begitu saja. Dan kini akankah terulang kembali kejadian yang sama, Afna masih saja dalam pikiran kacaunya.


"Ganti pakaian kamu, kita akan segera makan malam. Jangan mes*um, aku tidak akan melakukannya dengan kondisimu yang masih sakit." Bisik Zayen dekat telinga sang istri, Afna pun merasa selamat. Karena dirinya menyadari akan kondisinya yang masih belum sembuh total, dan masih dalam perawatan.


Afna mengangguk, dan melepaskan kedua tangannya yang masih melingkar. Sedangkan Zayen langsung bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa sangat gerah.


Afna masih merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil menatap langit langit kamarnya.


"Aaaaw!! apaan sih, kenapa kamu melempariku handuk. Hemm ...." Afna memasang wajah cemberutnya saat sang suami melemparkan handuk kepadanya.


"Aku hanya membuyarkan lamunan jorokmu itu, cepat bangun dan segera mandi. Apa perlu aku yang memandikanmu, hah?"


"Siapa yang melamun jorok, kamu tuh yang me*sum." Ucap Afna sambil melirik dan mengerucutkan bibirnya, Zayen yang mendengar dan melihat ekspresi istrinya pun tidak meresponnya. Zayen langsung berdiri didepan cermin sambil menyisiri rambutnya yang gondrong dan mengucirnya.


"Cepetan mandi, apa perlu aku yang bertindak."

__ADS_1


"Ah! iya, aku bisa sendiri. Terimakasih atas bantuannya, aku bisa melakukannya sendiri." Ujar Afna mencari alasan, Zayen yang mendengarnya hanya tersenyum tipis.


Afna segera bangkit dari tidurnya dan duduk sambil meraih tongkat penyangganya. Dengan pelan, Afna berjalan menuju kamar mandi. Zayen sendiri menyibukkan dengan ponselnya, sesekali melihat pesan masuk ataupun ada panggilan masuk. Sejak keluar rumah, Zayen mematikan ponselnya. Karena tidak ingin acaranya diganggu, apalagi sedang bersama istrinya. Zayen tidak ingin siapapun untuk mengganggunya. Dan benar saja, setelah menghidupkan ponselnya terlihat ada pesan masuk.


Bos! kenapa ponselnya tidak bisa dihubungi, nanti malam akan ada pengiriman barang. Bagaimana ini, Bos!"


Begitulah isi pesan dari temannya sekaligus anak buahnya, siapa lagi kalau bukan Viko.


Zayen nampak gelisah dan juga cemas, tidak mungkin Zayen harus membatalkan makan malam bersama istri dan kedua orang tua istrinya.


Zayen mengusap wajahnya dengan kasar, tatkala harus cepat sampai tujuan. Tanpa Zayen sadari, Afna tengah memperhatikan suaminya yang terlihat sedang gusar.


"Kamu kenapa? ada masalah, atau... ada kabar buruk." Tanya Afna mengagetkan suaminya yang sedang berpikir untuk mencari alasan.


"Aaah! tidak, itu perasaan kamu saja. Sudah selesai mandinya? cepat sekali." Jawab Zayen mengelak dengan pertanyaan lainnya.


"Tentu saja, karena kamu sedari tadi fokus dengan ponsel kamu. Hingga kamu tidak memperhatikanku saat didepan cermin. Dan kamu jangan bohong, kamu pasti ada sesuatu yang kamu sembunyikan. Katakan saja, aku tidak akan marah denganmu. Jika kamu tidak mau berterus terang, maka aku bisa berbuat nekad." Ucap Afna mencoba mengancam, dan tentu saja Zayen mencoba untuk berterus terang.


"Aku ada pesan dari teman kerja, hari ini aku harus berangkat. Karena ada pengiriman barang, dan aku tidak mungkin mengatakan untuk tidak berangkat bekerja. Maafkan aku, papa sama mama pasti akan marah. Tapi aku harus bagaimana untuk menolak makan malam bersamanya, mereka pasti akan kesal denganku." Ucap Zayen berusaha untuk jujur harus berangkat bekerja di malam hari.


"Tenang saja, aku yang akan mengatakannya kepada mama dan papa. Aku yakin, papa dan mama akan mengerti akan pekerjaan kamu."

__ADS_1


"Terimakasih, kamu sudah mengerti akan pekerjaanku yang tidak kenal waktu. Akan aku usahakan untuk pulang secepatnya, agar aku bisa menemani kamu untuk makan malam." Ucapnya berusaha untuk meyakinkan.


Afna mengangguk dan tersenyum, begitu juga dengan Zayen yang ikut tersenyum. Setelah itu, Zayen langsung menggendong istrinya untuk turun ke bawah.


__ADS_2