
Waktu pun semakin berkurang, Seyn yang masih di dalam ruang kantor pun sedang sibukmempersiapkan pertemuan.
Sedangkan dilain tempat, ada sosok wanita yang tengah mengalami kemacetan dengan mobilnya.
"Pak, bagaimana ini? saya bisa terlambat kalau begini. Ah! mana jalanan macet, lagi. Benar benar sial, tidak mungkin aku meminta orang rumah untuk mengantarkan mobil." Ucapnya merasa kesal, ia pun kembali menendang mobil yang dinaikinya.
"Maaf, Nona. Bagaimana kalau Nona hubungi pihak perusahaan yang akan Nona datangi, kemudian meminta salah satu supirnya untuk menjemput Nona." Jawab pak Supir memberi ide, meski idenya sangat memalukan.
"Apa? aku harus meminta supir peeusahaan SeyGanta untuk menjemputku? yang benar saja, Pak. Mau taruh dimana mukaku ini, Pak? memalukan." Ucapnya yang merasa ngeri mendengarkan ide supirnya.
"Hanya itu yang bisa dilakukan oleh Nona, tenang saja. Tidak akan ada yang berani menghina Nona, bukankah keluarga Nona begitu disegani oleh semua kalangan di Negeri ini." Jawab pak Supir yang masih dengan idenya.
"Baiklah Pak, jika memang itu yang bisa saya lakukan." Ucapnya mengalah, dikarenakan tidak ada cara lain selain cara dari Supirnya.
Setelah setuju dengan cara yang disebutkan Supirnya, segera ia menghubungi perusahaan SeyGanta.
Seyn yang sudah menunggu kedatangan seseorang yang sudah dibuat janji pertemuan, namun tiba tiba ia mendapat kabar dari sekretarisnya itu.
"Ada apa, Rif? sampai kapan aku akan menunggunya?" tanya Seyn yang sudah mulai bosan menunggu.
"Begini Bos, orang yang mau bertemu Bos sedang mengalami mobil mogok karena ban mobilnya bocor. Jadi, meminta pihak perusahaan Bos untuk menjemputnya." Jawab Rifki.
"Apa? bagaimana bisa? menjemputnya. Oooh, pertemuan yang menyusahkan. Bahkan seperti mau bertemu wanita yang dicintai, hem. Katakan padanya, aku yang akan mendatanginya. Sekarang juga, kamu siapkan berkas berkas yang penting. Setelah itu, ikutlah denganku." Ucap Seyn, kemudian segera bangkit dari posisi duduknya dan pergi untuk melakukan pertemuan. Selama perjalan Seyn memeriksa berkas berkas, ia takut ada yang tertinggal. Setelah tidak ada lagi yang tertinggal Seyn kembali merogoh saku celananya. Kemudian kembali melihat gelang yang menjadi misterius, sesekali ia untuk mengingatnya agar ia teringat kembali. Namun sayangnya, berkali kali mencoba mengingatnya namun tidak juga ia temukan jawabannya.
Tanpa ia sadari, gelang yang ia pegang dimasukkannya bersama berkas penting yang ia bawa.
__ADS_1
Setelah memakan waktu yang cukup lama, tidak terasa telah sampai di suatu tempat yang di mana wanita itu mengalami ban bocor. Tempatnya pun dipinggiran taman yang lumayan cukup luas.
Mobil pun tengah menepi dipinggir taman, Seyn dan Rifki segera melepas sabuk pengamannya dan turun dari mobil.
Tubuh ideal yang dimiliki Seyn dengan penampilan yang memukau membuat para wanita yang memperhatikannya pun terpesona akan ketampanan Seyn yang terlihat benar benar menggoda.
Kedua mata milik Rifki tertuju sosok wanita yang tengah duduk di sudut taman sambil menyibukkan dengan ponselnya.
"Bos, sepertinya wanita itu yang akan mengajak pertemuan. Coba Bos Seyn menghubunginya, jika wanita itu mengangkat telfonnya berarti benar." Ucap Rifki sambil menunjuk seorang wanita yang ia maksudkan.
Seyn pun segera menghubunginya, ia mencoba memastikan dengan apa yang dikatakan sekretarisnya. Dan benar saja, wanita yang ditunjukan Rifki benar adanya.
Tanpa membuang buang waktu, Seyn segera mendekatinya. Dengan langkahnya yang lebar, Seyn telah berada dihadapan wanita itu yang tengah mendudukkan kepalanya sambil fokus pada layar ponselnya.
"Permisi, benarkah anda bagian dari perusahan baru yang mengajak pertemuan dengan perusahaan SeyGanta?" tanya Seyn, wanita itu pun segera mendongakkan kepalanya.
"Kamu!!!!" teriak keduanya, kemudian keduanya sama sama memalingkan wajahnya masing masing. Rifki yang mendengarnya pun sontak kaget dengan keduanya, Rifki pun hanya menggelengkan kepalanya penuh heran.
Setelah memalingkan wajahnya, keduanya kembali saling bertatap muka.
Bukannya kesal, Seyn segera duduk disebelahnya.
"Kamu lagi kamu lagi, ya ... walaupun bosan bertemu denganmu, mau bagaimana lagi. Ini pertemuan bekerja sama, jadi buang tuh jauh jauh muka masammu itu." Ucap Seyn dengan santai duduk disebelahnya, sedangkan Rifki hanya bisa berdiri disebelahnya.
"Iya, buruan. Apa yang perlu ditanda tangani, aku tidak mau lama lama. Tidak perlu banyak obrolan, aku banyak pekerjaan." Jawabnya yang masih memasang muka masaknya, Seyn hanya tersenyum melihatnya.
__ADS_1
"Rif, berikan padaku berkas berkasnya. Biar Nona ini memeriksanya, apakah perusahaan SeyGanta pantas beriringan dengan perusahaan baru ReKaNey." Ucap Seyn, kemudian Rifki segera memberikan berkas yang ada ditangannya ke Seynan.
"Kembalilah ke mobil, nanti aku segera menyusul." Perintah Seyn yang tidak ingin diganggu, bukan untuk menggoda. Nsmun, Seyn paling tidak suka saat ada urusan pertemuan ada pihak lain, meski itu sekretarisnya sendiri sekalipun.
"Baik, Bos. Kalau begitu, aku permisi." Jawab Rifki dan segera pergi meninggalkan Seyn dan wanita yang ada disebelahnya.
Kini tinggal Seyn dan wanita itu yang masih duduk bersebelahan.
"Ini, berkas berkasnya. Jika kamu ada keraguan, kamu bisa membatalkan kerja sama kita. Aku tidak akan memaksa ataupun merayu, itu pantangan bagiku." Ucap Seyn sambil menyerahkan berkasnya, kemudian diterimanya.
Dengan pelan, berkas itu dibukanya. Dengan pelan juga, Map berisi berkas ia buka dengan seksama. Seyn sendiri fokus pandangannya ke lain arah. Seketika itu juga, kedua mata wanita itu terbelalak melihat sebuah galang yang berada di berkas milik Seyn.
Dengan seksama ia mengambilnya dan memperhatikan gelang tersebut, berkali kali ia mencerna gelang ada ditangannya. Percaya tidak percaya, ia mencoba untuk mengingatnya kembali.
"Benarkah?" ucapnya reflek tanpa ia sadari, Seyn pun segera menoleh kesamping. Dan dilihatnya sebuah gelang ada ditangan wanita disebelahnya, Seyn sendiri baru tersadar akan gelang yang ada di tangan wanita itu.
"Berikan gelang itu padaku, itu sangat penting untukku." Ucap Seyn sambil meraih gelang itu, namun sayangnya wanita itu lebih lihai dari Seyn.
"Gelang kamu? kata siapa? katakan, kamu dapat gelang ini dari mana?" tanyanya penuh selidik.
"Aku tidak mau berbagi cerita dengan seorang wanita, apalagi wanita yang tidak aku kenal. Cepat, berikan padaku. Itu gelang sangat berarti untukku, berikan padaku sekarang juga." Jawab Seyn yang mulai emosi.
"Kalau aku tidak mau memberikannya, kenapa? aku rasa ini bukan gelang kamu." Ucapnya yang masih menggenggam gelang tersebut.
"Aku mohon, berikan gelang itu padaku. Aku susah payah menjaga dan menyimpannya, jadi berikan padaku." Jawab Seyn yang mulai kehabisan kesabarannya.
__ADS_1
"Jelaskan dulu padaku, asal muasal gelang ini ada pada kamu. Apa gelang ini milik kekasih kamu? atau ... milik istri kamu? jelaskan sekarang juga." Perintahnya yang penuh selidik.