Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Makan malam bersama


__ADS_3

Afna kembali duduk ke posisi semula, dibantu oleh sang suami. Lagi lagi Seyn hanya melirik ke arah keduanya, sedangkan Reina pun ikut merasa kesal. Tatkala suaminya seperti masih menyimpan penyesalan, Reina segera duduk didekat suami.


Plak!! Reina mengagetkan suaminya yang terlihat masih fokus pandangannya ke arah mantan kekasihnya. Seyn pun segera menoleh kearah samping, dan menunjukkan kekesalannya kepada sang istri.


Zayen yang melihat muka masam sang kakak hanya tersenyum.


"Hei, Afna. Apak kabarnya kamu?" sapa Reina berbasa basi.


Mau tidak mau, Afna harus menjawab sapaan dari sahabatnya dulu yang kini statusnya menjadi kakak iparnya.


"Kabar aku seperti yang kamu lihat, aku baik baik saja. Kamu sendiri, bagaimana kabarnya?"


"Kabarku sangat baik."


"Oh iya, selamat atas pernikahan kamu."


"Terimakasih, selamat juga atas pernikahan kamu." Afna yang ikut mengucapkan selamat kepada sahabatnya dulu, sekarang Afna sudah merasa muak atas perbuatan Reina yang begitu tega telah merebut calon suaminya.


Dibalik pernikahan yang batal, Afna sangat bersyukur. Setidaknya Afna tidak dalam pernikahan yang menyakitkan.


"Sudah, sudah ... sekarang kita kembali ke ruang makan. kita lanjutkan lagi obrolannya setelah kita menikmati makan malam bersama." Ajak tuan Arganta kepada kedua anaknya dan juga kedua menantunya.


Seyn masih pada posisi duduknya, sedangkan Zayen membantu istrinya untuk berdiri dibantu dengan alat menyangga. Darah Seyn pun terasa mendidih, ingin segera melayangkan tinjuannya kearah sang adik. Entah karena rasa cemburu, atau ada hal lainnya. Hanya Seyn dan Zayen yang mengetahuinya.


Dengan pelan, Afna melangkahkan kakinya menuju ruang makan. Sedangkan Zayen berjalan beriringan, dirinya tidak ingin sak kakak yang akan mengambil kesempatan.


Reina masih duduk disamping sang suami dengan posisi yang sama.


"Kamu masih mencintai Afna, 'kan? jawab saja.


Seyn menoleh ke arah sampingnya, kedua matanya menatap dengan tajam. Namun, Reina tidak memperdulikannya.


"Kalau iya, kenapa? salah! bukan urusan kamu." Jawab Seyn yang tiba tiba berubah menjadi kesal.

__ADS_1


Seyn segera menuju ke ruang makan dan duduk bersama yang lainnya. Seyn duduk berhadapan dengan Afna, Zayen yang memperhatikan gerak gerik sang kakaknya pun membuatnya semakin geram.


Sedangkan Reina berdecak kesal, ditambah lagi sang suami berbicara terang terangan masih mencintai Afna.


'Aku tidak akan membiarkan Afna mendapatkan kebahagiaan. Aku harus bisa membuat Afna semakin terpuruk. Lihat saja, Afna!' gumamnya sambil berdecak kesal.


Reina segera menuju ke ruang makan dan duduk disamping suaminya. Sedangkan Afna tetap bersikap biasa, sebisa mungkin untuk tidak berucap jika tidak mendapati pertanyaan.


Setelah semua makanan sudah di hidangkan di atas meja makan. Zayen mengambilkan porsi untuk sang ayah, karena tidak mungkin sang ayah mengambil sendiri porsinya.


"Biar aku saja, lagian aku didekat papa." Ucap Afna yang tiba tiba menghentikan Zayen yang sedang mengambilkan nasi.


"Tidak perlu, kaki kamu masih sakit. Biar aku saja, lagian cuman mengambilkan porsi makan. Ini sudah menjadi kebiasaanku dari dulu, jadi aku sudah terbiasa." Jawab Zayen sambil melirik kearah Reina dengan sorotan matanya yang tajam.


"Benar, nak Afna. Biar Zayen saja yang melakukannya, lagian kaki kamu masih sakit. Papa tidak ingin terjadi apa apa dengan kamu, jadi biarkan Zayen yang mengambilkannya."


"Iya, Pa. Maafkan Afna, yang sampai sekarang belum bisa menjadi menantu yang baik untuk papa." Jawabnya tidak enak hati.Sedangkan Reina merasa tersindir, dan merasa terpojok.


Berbeda dengan Afna, dengan telaten Afna berusaha untuk mengambilkan porsi makan untuk suaminya. Zayen duduk dengan santai, tatkala sang istri sedang melayaninya.


Seyn yang memperhatikannya pun semakin panas nafasnya. Rahangnya pun ikut mengeras saat memperhatikan mantan kekasihnya begitu telaten melayani suaminya.


Entah ada angin apa, Seyn dengan cepat menyelesaikan porsi makannya. Kedua sendoknya pun beradu sangat kuat, semua menoleh ke arah sumber suara. Ke arah yang mana lagi kalau bukan ke arah Seyn yang sedang makan dengan lahapnya tanpa memperdulikan orang orang disekitarnya.


Seyn masih fokus dengan porsi makannya. Tanpa Seyn disadari, makanan yang sudah terkumpul di mulutnya terlihat mengembung. Kemudian, Seyn melirik kearah depan samping kanan kiri. Dilihatnya tengah memperhatikan dirinya yang sedang makan, dengan kesal Seyn langsung mengambil air minum dan menghabiskannya.


Prak!! Seyn meletakkan gelasnya dengan kuat. Kemudian langsung bangkit dari tempat duduknya, sedangkan Reina langsung mengejar suaminya. Reina tidak memperdulikan makanannya yang masih ada di piringnya.


"Afna, jangan kamu tanggapi sikap Seyn yang tiba tiba emosinya memuncak. Seyn memang begitu. Jika istrinya tidak melayaninya dengan baik, Seyn akan menunjukkan emosinya." Ucap sang ayah mertua beralasan, agar Afna tidak mencurigai Seyn.


"Begitu ya, Pa. Afna baru tahu, karena Afna tidak pernah melihat Seyn semarah tadi." Jawab Afna sebisa mungkin untuk tidak menyakiti perasaan suaminya.


"Ya sudah, lanjutkan lagi makan malamnya. Papa sudah selesai, papa tunggu di ruang keluarga." Ucap sang ayah mertua berusaha untuk bersikap tenang. Meski sebenarnya sangat kesal dengan sikap Seyn yang begitu memalukan.

__ADS_1


"Iya, Pa. Silahkan, jika papa ingin pindah ke ruang tamu. Aku bersama Afna mau menyelesaikan makan malam kita berdua." Jawab Zayen menimpali.


Tuan Arganta segera bangkit dari tempat duduknya, dan kembali ke ruang keluarga untuk duduk bersantai.


Sedangkan Afna dan Zayen kembali melanjutkan makan malamnya, keduanya kembali hening. Zayen masih menyuapi mulutnya sendiri, tiba tiba dirinya melihat ada sesuatu pada sudut bib*ir istrinya.


Dengan lembut, Zayen mengusap sudut bi*bir istrinya dengan ibu jarinya. Entah ada angin apa, tubuh Zayen terasa ada magnet yang terasa ketarik untuk mendekatkan wajahnya ke arah istrinya.


Sssssttttt! Afna menahan bi*bir Zayen dengan satu telunjuknya. Zayen segera memundurkan tubuhnya dan bersandar ke kursi.


"Kenapa." Tanyanya datar.


"Tidak kenapa kenapa, aku belum siap." Jawabnya sedikit kaku dan juga gugup.


"Kapan siapnya, apa kamu masih teringat dengan Seyn."


"Tidak, aku sudah tidak mengingatnya lagi."


"Bohong."


"Aku serius."


"Aku tidak percaya. Aaah! sudahlah, lupakan. Cepat habiskan makanannya, setelah ini kita langsung pulang. Aku tidak ingin menginap dirumaj ini, otakku panas jika malam ini kita menginap dirumah papa." Ucapnya yang tiba tiba berubah datar, Afna sendiri merasa bersalah. Afna merasa tengah membuat suaminya menjadi kesal, dan sikapnya pun berubah dingin.


"Maaf, aku sudah membuatmu kesal."


"Kamu tidak bersalah, semua bermula dariku. Aku lah yang seharusnya meminta maaf terhadapmu, karena aku yang bersalah."


"Tidak, aku seorang istri. Sepenuhnya aku yang memulainya, seharusnya aku tidak melarangmu." Ucap Afna merasa bersalah, tidak seharusnya dia menolak suaminya. Namun, dirinya takut jika Seyn tiba tiba datang dan membuat emosinya semakin kuat.


Afna pun sudah menyadarinya, saat Seyn tiba tiba segera pergi meninggalkan ruang makan dengan keadaan emosi.


"Sudah, cepat habiskan makanannya." Perintah Zayen dengan datar, Afna pun segera menghabiskannya.

__ADS_1


__ADS_2