Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Ancaman jatuh pada diri sendiri


__ADS_3

Semua beban yang terhimpit diruang hati Adelyn dan Viko, kini sudah tidak lagi membuat keduanya terasa cemas dan juga khawatir. Tidak hanya itu, apa yang sudah disembunyikan telah terungkap dengan sendirinya.


Setelah cukup merasa lega, kakek Zio beserta istri maupun anak cucu dan menantu tengah berada di sudut ruangan untuk menikmati makan malam bersama satu keluarga dengan lengkap.


Disisi lain, ada sosok wanita yang tengah memperhatikan Adelyn, Viko, dan juga Zayen yang tangan tertawa kecil sambil menikmati berbagai makanan yang tengah memesan. Ditambah lagi, Zayen yang begitu romantisnya menyuapi istri tercintanya. Senyum bahagia benar benar terlihat jelas pada kedua sudut bibir milik Zayen dan juga Afna istri yang dicintainya.


Wanita yang tidak jauh tempat duduknya dengan meja makan yang ditempati Zayen dengan keluarganya, perasaannya semakin dongkol melihat kemesraan dua insan yang sedang memadu kasih.


Tidak hanya itu, kedua matanya pun kini tengah tertuju pada sosok Adelyn dan Viko yang menurutnya sangat tidak asing baginya. Tatapannya pun terlihat begitu jelas menyimpan kebencian dihatinya. Rasa penasarannya pun semakin menjadi jadi, bahkan serasa tidak sabar ingin menghampiri Adelyn yang terlihat sok bergaya layaknya orang kaya, pikirnya.


'Cih, memalukan sekali itu Adelyn. Dengan bangganya bisa makan malam bersama Ayen, sungguh memalukan.' Batinnya sesuai sangkaan nya sambil mengepal kuat kedua tangannya, serasa ingin melayangkan kearah Adelyn yang benar benar membuat hatinya panas.


"Merry, sayang. Kamu lihat siapa? kenapa wajah kamu terlihat seperti sedang marah? apakah ada musuh kamu? ayo tunjukkan padaku, aku akan membuatnya malu." Tanya lelaki yang menjadi pasangannya Merry malam ini, namun Merry tidak meresponnya. Dirinya tetap masih menyimpan kekesalannya, ia benar benar merasa tersaingi.


'Lihat saja, Adelyn. Aku akan membuatmu malu, aku tidak akan membiarkanmu untuk mendekati keluarga Ayen. Dan, aku akan menyingkirkan wanita yang berada disamping Ayen. Jangan kira aku ini tidak pintar mengubah sesuatu untuk menjadi milikku.' Batin Merry sambil mencari ide untuk membuat Adelyn malu.


Tiba tiba senyum merekah terlihat jelas pada kedua sudut bibirnya, tatkala melihat Adelyn yang tengah bangkit dari posisi duduknya. Sedangkan Viko masih menghabiskan makanannya, Viko pun menyusulnya setelahnya.


Dengan terburu buru, Adelyn masuk ke kamar kecil. Merry yang melihat Adelyn menuju kamar kecil, segera ia mengejar Adelyn.

__ADS_1


Tepatnya di depan pintu yang dimasuki Adelyn, Merry menunggunya dari luar. Setelah itu, ia akan melakukan rencananya.


Tidak lama kemudian, Adelyn membuka pintunya. Sesampainya didepan pintu, terlihat jelas sosok wanita yang sudah ia kenali. Adelyn pun menatapnya heran, didalam pikirannya pun penuh tanda tanya tentang keberadaan Merry yang sudah berada di hadapannya.


"Maaf, ada apa ya?" tanya Adelyn penuh selidik.


"Aku peringatkan sama kamu, ya. Jauhi keluarga Ayen, ingat! itu. Sampai aku melihatmu mendekati keluarga Ayen, aku tidak segan segan untuk membuatmu menyesal." Jawab Merry berusaha untuk mengancam Adelyn, seketika itu juga Adelyn terkekeh mendengar ancaman dari Merry.


Tidak hanya itu saja, ada sosok dua laki laki yang tengah mengawasi Adelyn sama Merry sambil menahan tawanya. Adelyn sendiri pun tidak mau kalah berdebat dengan Merry yang seenaknya menghinanya dan juga tengah mengancamnya.


"Kalau aku tidak mau, kamu mau apa? sayang sekali jika aku melewatkan kesempatan emas ini. Begitu susahnya aku mendekati keluarga Zayen, tiba tiba kamu memintaku untuk menjauhinya. Seharusnya kamu yang harus menjauhi keluarga Zayen, karena kamu itu keong racun." Ucap Adelyn yang tidak mau kalah dengan ancaman dari Merry.


PLAKKK!!


Dengan cepat, Viko segera meraih tangan Merry dan memutarkannya dan menampakkan tangannya ke muka Merry sendiri.


"Bagaimana? sakit, Nona?" tanya Viko dengan tatapan tajam dan juga mengejeknya.


Merry yang melihat keberadaan Viko dihadapannya, seketika tubuhnya gemetaran. Dirinya tidak menyangka sebelumnya, jika Viko akan menemui Adelyn yang tengah berasa di kamar kecil.

__ADS_1


"Aku peringatkan, jangan sekali kali kamu menyentuh calon istriku. Sekali kamu sentuh, habislah nasibmu." Ucap Viko dengan tatapannya yang tajam, seakan segera memangsa yang menjadi musuhnya.


"Mulai besok, kamu tidak akan aku izinkan untuk bekerja di Kantorku. Aku sudah memecatmu dari sekarang. Rupanya dari dulu kamu tidak pernah berubah, wanita licik dan juga picik. Sekali lagi kamu mengotori tanganmu dengan cara menyakiti adikku, aku tidak akan segan segan menyeretmu kedalam penjara." Ancam Zayen yang semakin geram dan kesal melihat kelakuan Merry yang begitu menjijikkan. Tanpa berpikir dan tanpa rasa malu, Merry tengah berani berhadapan dengan saudara kembarnya.


Disaat itu juga, Merry tercengang saat mendengar ucapan dari Zayen yang tengah mengatakan bahwa Adelyn adalah adik dari Zayen. Tidak hanya itu, Merry serasa masuk dalam kandang singa. Sungguh, Merry tidak pernah menyangkanya jika perbuatannya telah menghancurkan reputasinya.


"Maksud kamu bahwa Adelyn adalah saudara kamu? tidak, tudak mungkin. Aku yakin bahwa kamu tengah berbohong denganku, iya 'kan?" tanya Merry yang masih belum bisa percaya dengan kenyataan yang terucap dari bibir Zayen.


"Adelyn adalah saudara kembarku, dan Viko adalah calon suami Adelyn. Sedangkan aku, aku sendiri sudah menikah. Cukup jelas, 'kan? sekarang juga kamu pergi dari Restoran ini. Aku tidak ingin melihat muka kamu itu yang penuh kepicikan." Jawab Zayen sambil menunjuk arah keluar pada Merry.


"Tidak, Ayen. Aku mohon, maafkan aku. Jangan kamu pecat aku dari pekerjaanku, aku sangat membutuhkan pekerjaan. Kamu harus ingat, aku teman sekolah kamu." Ucap Merry sambil bersimpuh dibawah kaki Zayen. Merry tidak perduli dengan orang orang yang tengah memperhatikannya, ia terus memohon ampun pada Zayen. Merry terus berusaha untuk mendapatkan kata maaf dari teman semasa SMA.


Tanpa pikir panjang, seorang satpam tengah datang untuk menyeret Merry agar segera pergi dari Restoran milik keluarga mertuanya. Zayen benar benar sudah muak melihat sosok Merry yang sangat menjengkelkan.


Meski sudah ada satpam yang tengah menariknya, Merry terus merengek memohon ampun. Sedangkan Zayen tidak lagi memperdulikannya. Segera ia pergi meninggalkan tempat tersebut dan diikuti Adelyn dan Viko dari belakang, lalu kembali ke tempat semula bersama keluarga yang tengah menunggunya.


"Kalian bertiga dari mana saja, hah? dari tadi ditunggu tidak kunjung balik juga." Tanya kakek Zio sambil menatap Zayen dan Adelyn secara bergantian.


"Kebetulan, tadi Zayen bertemu dengan seorang teman sekolah. Kemudian mengobrol, sedangkan Adelyn sendiri keasyikan mengobrol dengan Viko. Alhasil, Zayen dimintai untuk menunggu mereka berdua, Kek ..." Jawab Zayen sambil mengkode menginjak kaki milik Viko maupun Adelyn. Kebetulan saja, posisi Zayen berada ditengah tengah Viko dan Adelyn. Keduanya pun menoleh kearah Zayen sambil menelan salivanya.

__ADS_1


Sedangkan yang lainnya hanya tertawa kecil melihat tingkah ketiganya yang terlihat sedang berakting.


__ADS_2