
Adelyn yang merasa takut akan jati dirinya, segera ia kembali ke tempat kerjanya. Semua menatap heran pada Adelyn, ia merasa dihakimi.
"Hei ... ada apa dengan kalian?" tanya Adelyn pada teman kerjanya. Sasa pun segera menarik Adelyn ke suatu tempat yang sepi dan sulit untuk ditemukan.
"Kamu pacaran dengan sekretaris Viko? ayo, jujurlah. Semua karyawan banyak yang melihatmu sedang mengobrol bersama sekretarsis Viko, dan membicarakan tentang hubungan kamu dengannya." Tanya Sasa penuh Selidik, Adelyn sendiri pun bingung dibuatnya.
Ingin rasanya berkata jujur, namun Adelyn sendiri berusaha untuk menahannya. Dirinya juga takut, jika identitasnya akan terbongkar pada saat yang tidak pas.
"Iya, Adelyn pacarku dan sekaligus calon istriku. Aku tidak bermain main dengan ucapanku ini, katakan saja pada mereka semua karyawan dari atas sampai bawah. Bahwa aku akan segera menikahi Adelyn dalam waktu dekat ini, semua karyawan akan mendapatkan kartu undangannya." Ucap Viko dengan serius sambil merangkul Adelyn yang berada didekatnya.
Seketika itu juga, Adelyn tercengang mendengarnya. Serasa tidak percaya dengan apa yang tengah diucapkan oleh sekretaris Viko.
"Benarkah? kamu tidak bohong, 'kan? jawab, Adelyn." Tanya Sasa tidak percaya dengan ucapan dari Viko.
"Be---nar, Sa. Sekretaris Viko calon suamiku, dalam waktu yang dekat ini kita berdua akan melangsungkan pernikahan kita. Maafkan aku yang sudah membohongi kamu, hanya saja aku tidak ingin bertambah gosip. Tapi kenyataannya menjadi gosip, yasudah aku berkata jujur terhadapmu." Jawab Adelyn ikut menimpali.
"Selamat ya, Lyn. Semoga bahagia dan tidak ada suatu halangan apapun hingga bertemunya hari pernikahan kalian berdua, aku tunggu undangan darimu." Ucap Sasa yang masih serasa tidak percaya, jika Adelyn benar benar akan menikah dengan sekretaris Viko yang sangat tampan itu.
"Terima kasih ya, Sa. Aku janji, kamu orang pertama di Kantor ini yang akan menerima undangan dariku." Jawab Adelyn, lalu tersenyum mengembang pada kedua sudut bibirnya.
Karena sudah cukup untuk menjelaskan perkara tentang sebuah hubungan, Viko kembali ke ruang kerjanya. Sedangkan Adelyn dan Sasa masih ditempat yang semula, berkali kali Sasa mencubit gemas pipi milik Adelyn.
"Lyn, kamu beruntung sekali bisa mendapatkan suami seperti sekretaris Viko. Selain tampan juga mapan sepertinya, ditambah lagi seorang sekretaris. Aku yakin jika kehidupan kamu akan berkecukupan, dan kamu tidak repot repot kerja menjadi OB. Kamu tinggal duduk manis dan menyambut suami pulang kerja, duh! senangnya. Kapan, aku bisa mempunyai nasib seperti kamu. Memiliki suami yang benar benar sempurna, kehidupan yang mapan dan sekaligus tampan." Ucap Sasa yang penuh harap akan nasibnya seperti Adelyn sahabatnya di Kantor.
__ADS_1
"Tenang saja, nanti aku carikan sekretaris buat kamu." Ujar Adelyn sambil tersenyum lebar, berharap sahabatnya itu akan terhibur.
"Hem, seorang sekretaris menyukaiku? yang benar saja. Yang ada itu ... aku di suruh masuk kedalam sebuah Novel, lalu aku yang menjadi tokoh utamanya." Jawab Sasa terkekeh halusinasi yang terlalu tinggi, pikirnya.
"Berdoa saja, kita tidak akan tahu nasib kita kedepannya. Semangat, dong ... kamu masih memiliki banyak waktu." Ucap Adelyn berusaha untuk meyakinkan sahabatnya itu, siapa lagi kalau bukan Sasa.
Setelah cukup mengobrol, Adelyn dan Sasa kembali ke tempat kerjanya. Sambil berjalan, semua karyawan tengah memperhatikan Adelyn penuh rasa penasaran.
"Cie ... wanita yang aku nanti nantikan ternyata sudah di dimiliki sekretaris Viko, duh... sesak nih hatiku." Ledek seorang karyawan laki laki dengan posisinya sambil mengobrol dengan karyawan yang lainnya.
"Kalian bisa tidak sih, tidak perlu heboh seperti itu. Seharusnya kalian itu senang, karena Adelyn mendapatkan seorang laki laki yang tampan sekaligus tampan." Ucap Sasa yang sedikit geram mendengarnya.
"Iya deh, kita ikut senang. Hanya saja, kita para jomblo seperti sedang berduka dengan nasib kita kita ini." Jawabnya sambil mengusap dada dengan sekspresi penuh kesedihan karena tidak dapat memiliki Adelyn.
"Iya, serius. Sebentar lagi Adelyn akan menikah, kita semua akan mendapat undangan dari Adelyn." Jawab Sasa menimpali.
"Wah, senengnya. Selamat ya, Adelyn. Jangan lupakan kita kita, jika kamu sudah bersuamikan sekretaris Viko." Ucapnya memberi ucapan selamat pada Adelyn.
"Iya, terima kasih. Aku janji, aku akan mengundang kalian semua. Bahkan semua dari kalangan manapun, selagi masih statusnya berada di Kantor ini. Aku akan mengundangnya, jangan khawatir." Jawab Adelyn dan tersenyum.
Setelah dirasa sudah cukup, Adelyn segera melanjutkan pekerjaannya. Begitu juga dengan Sasa yang juga kembali melanjutkan pekerjaannya.
Sedangkan di lain tempat, Ada sosok wanita yang tengah melamun sesuatu didalam Kantornya. Entah ada angin apa, tiba tiba dirinya teringat sesuatu yang tengah ia lewatinya.
__ADS_1
Ceklek.
Pintu pun terbuka begitu saja dari luar, tanpa disadari dari dalam tengah kedatangan sosok laki laki tanpa permisi.
"Hei! melamun saja kamu Ney, mikirin apa kamu? pacar? atau ... lelaki baru dalam ingatan kamu." Ucapnya yang tiba tiba sudah berdiri dihadapannya dan mengagetkannya.
"Ih!! kak, Zakka. Apa apaan sih, ganggu saja orang sedang melamun. Pacar saja tidak punya, apalagi orang yang ada dalam ingatanku." Jawabnya sambil memasang muka cemberutnya.
"Kakak sudah tahu semuanya, tadi kamu melakukan pertemuan di sebuah taman, 'kan? ayo jujurlah." Tanyanya sambil senyum lebar.
Nayla pun sontak kaget mendengarkannya, seperti tidak percaya jika sang kakak telah mengetahui semuanya. Nyela pun benar benar malu dibuatnya, ditambah lagi mengajaknya makan siang bersama. Membuat Neyla semakin kikuk di hadapan sang kakak.
Neyla masih berdiam diri, ia bingung untuk menjelaskannya. Takut, jika setiap yang ia ucapkan tengah diketahui oleh sang kakak.
"Jujur saja, tidak perlu malu. Kakak tadi mengikutimu sampai makan siang bersama, dan sampai kamu mendapatkan ..." ucap sang kakak yang tiba tiba menghentikan ucapannya, berharap Neyla akan mengerti maksud dari sang kakak.
Neyla yang mendengar ucapan sang kakak yang tiba tiba terhenti membuat dirinya teringat sesuatu yang benar benar membuatnya sangat malu.
'Mam*pus, aku. Mana tadi aku mendapat gerak reflek tangannya, lagi. Aku yakin bahwa kak Zakka akan salah paham tantang kejadian tadi, dan pastinya papa maupun mama sudah mendapat informasi dari kak Zakka. Bagaimana ini? kenapa aku sampai lupa, jika papa banyak pengawal tersembunyi. Aku harus jawab apa lagi didepan kak Zakka, sungguh aku merasa sedang dihakimi.' Batin Neyla dengan cemas.
"Kenapa kamu diam? ayo jujurlah." Tanya sang kakak yang terus mencoba untuk mendesak Neyla, berharap bisa berkata jujur.
"Aku tidak mengerti maksud kakak, pikiran Neyla belum sampai ditahap daya pikir kak Zakka." Jawab Neyla penuh beralasan.
__ADS_1