
Sebelum turun, Zayen masuk ke kamar untuk menaruh ponselnya. Saat memutar membalikkan badannya, didepannya sudah seorang bidadari cantik dihadapannya. Siapa lagi kalau bukan istri tercintanya, yaitu Afna.
"Baru saja, aku mau turun. Rupanya kamu sudah masuk ke kamar, mau mandi lagi?" ucapnya dan bertanya.
"Iya, sayang.Tidak tahu kenapa, badanku mulai sering terasa gerah akhir akhir ini." Jawabnya sambil mencium area ketiaknya seakan menunjukkan bau tidak enak.
"Ya sudah kalau mandi, aku tunggu dikamar saja." Ucap Zayen, sedangkan Afna segera membersihkan diri yang terasa tidak nyaman dan terasa gerah tentunya.
Karena bingung dan tidak ada kesibukan, alih alih Zayen menyibukkan diri dengan ponselnya. Tidak menunggu lama, Afna telah selesai membersihkan diri. Lalu, segera ia mengenakan pakaiannya.
Karena bosan dengan ponselnya, Zayen memilih memperhatikan istrinya mengenakan pakaiannya. Afna yang diperhatikan suaminya sendiri tidak menyadarinya. Sadar sadar, saat Afna menoleh kearah suaminya dan seketika membelalakan kedua bola matanya.
"Hem, biasa saja tatapan kedua mata kamu itu, tatapan darimu seperti pengantin baru saja." Ledek Zayen pada istrinya, Afna segera mendekatinya dan duduk disebelahnya.
"Sayang, aku merindukan rumah kecil yang pernah kita tempati bersama. Aku rindu dengan suasana disana, sudah lama kita tidak pernah mendatangi tempat itu." Ucap Afna yang tiba tiba menyandarkan tubuhnya pada suaminya, lalu bersikap manja seperti anak anak sedang merajuk.
"Baiklah, sayang. Setelah sarapan, aku akan mengajakmu untuk jalan jalan. Kebetulan, hari ini aku tidak ada kesibukan di Kantor. Jadi, sekarang kita sarapan terlebih dahulu." Jawab Zayen, kemudian segera bangkit dari posisi duduknya dan segera keluar dari kamar.
Sesampainya di ruang makan, Zayen menarik kursinya dan melayani istrinya dengan telaten. Kedua orang tuanya pun tersenyum bahagia saat melihat putranya yang begitu menyayangi istrinya.
Seketika, sang ibu kembali teringat masa lalunya ketika sedang hamil dan mendapatkan perhatian yang penuh dari suaminya itu.
Saat Afna mau memegangi sendoknya, Zayen langsung menyambarnya. Disaat itu juga, Afna tersentak kaget di buatnya. Lalu menoleh ke arah suaminya, dan ditatapnya dengan lekat.
__ADS_1
"Aku saja yang menyuapimu, jangan protes dan menolak." Ucap Zayen sambil menatap lekat wajah istrinya itu, Afna hanya tercengang mendengarnya. Ia berusaha untuk merebut piringnya, namun Zayen memiliki cara yang lebih lihai.
"Aku malu sama Mama dan Papa, sayang." Jawab Afna merasa tidak enak hati dan juga malu tentunya.
"Tidak apa apa, Afna. Kamu tidak perlu malu, dulu Mama juga sepertimu. Mama juga pernah mendapatkan penuh perhatian dari Papanya Zayen, jadi kamu tidak perlu malu. Justru, Mama dan Papa sangat bahagia dan juga senang melihat keharmonisan kalian berdua. Semoga, Viko dan Adelyn sama halnya seperti kalian yang harmonis." Ucap sang ibu meyakinkan menantunya, Afna sendiri tersenyum sedikit malu.
"Sudah dulu mengobrolnya, kita habiskan dulu sarapan paginya." Ucap sang ayah untuk mengalihkan obrolannya.
Setelah mendapat teguran dari tuan Alfan, tidak ada satupun yang berani membuka suara. Hening, benar benar sangat hening diruang makan ketika sedang menikmati porsinya masing masing.
Dirasa sudah cukup dan terasa kenyang, kini tinggal lah Zayen dan Afna yang masih duduk diruang makan. Selain menghabiskan susu hamil, Afna juga menghabiskan buah dan juga meminum vitaminnya.
"Sayang, kamu tidak perlu masuk ke kamar. Kamu tunggu saja di ruang tamu, nanti aku menysulmu. Aku mau mengganti pakaianku dulu." Ucap Zayen, kemudian Afna mengangguk dan segera bangkit dari posisi duduknya dan segera pindah ke ruang tamu untuk menunggu suaminya yang sedang bersiap siap.
Tidak lama kemudian, Zayen yang sudah bersiap siap rupanya sudah berada di ruang tamu.
"Sudah di cek? coba diingat ingat kembali, siapa tahu saja masih ada yang tertinggal." Tanya Afna mengingatkan suaminya.
"Tumben sekali, pagi pagi begini kalian berdua sudah terlihat rapi. Ada acara diluaran sana, 'kah?" tanya sang ibu merasa heran dengan penampilan anak dan menantunya.
"Eh, Mama. Kita berdua mau jalan jalan, Ma. Sekalian juga, Zayen mau menengok rumah kecil yang pernah kita jadikan untuk tempat tinggal." Jawab Zayen menjelaskan.
"Terus ... kalian tidak membawa oleh oleh begitu? kamu kan pernah mempunyai tetangga, jangan lupa untuk berbagi." Ucap sang ibu mengingatkan putranya.
__ADS_1
"Iya Ma, rencana Zayen pun seperti itu. Terima kasih, Mama sudah mengingatkan Zayen. Kalau begitu, Zayen dan Afna pamit untuk pergi jalan jalan." Jawab Zayen berpamitan, begitu juga dengan Afna ikut berpamitan.
"Hati hati, kehamilan kamu sudah besar. Jika sudah merasa capek, bilang saja pada suami kamu. Dan, kamu Zayen. Perhatikan istri kamu, kandungannya sudah semakin membesar." Ucap sang ibu mengingatkan.
"Iya, Ma." Jawab keduanya serempak, sang ibu pun mengangguk dan tersenyum.
Setelah berpamitan, Zayen dan Afna segera berangkat untuk jalan jalan. Didalam perjalanan keduanya menikmati perjalanannya. Tidak memakan waktu yang cukup lama, tidak terasa Afna dan Zayen telah sampai di sebuah taman yang tidak terlalu padat pengunjung. Keduanya segera bergegas turun dari mobil, sedang pak supir hanya menunggunya ditepi taman tersebut.
"Sayang, sejak kapan kamu mendapati tempat ini? perasaan aku baru pertama kalinya datang kesini denganmu, deh." Tanya Afna yang merasa baru pertama kalinya diajak suaminya jalan jalan ke taman tersebut.
"Dulunya taman ini dijadikan tempat untuk latihan anak anak belajar bela diri, dulu itu tempat ini sangat lah sepi. Berbeda sekali dengan sekarang, yang banyak pengunjung dan juga sudah terlihat bagus." Jawab Zayen menceritakan.
"Kita jalan jalan sebentar ya, sayang. Agar otot otot kamu tidak terasa kaku, tentunya dengan udara yang sangat segar." Ajak Zayen pada istrinya, kemudian meraih tangannya dan menggandeng dengan mesra.
Sesampainya ditengah taman, Zayen memilih untuk duduk bersantai. Sedangkan Afna memilih untuk jalan jalan di sekitaran suaminya yang sedang duduk santai.
Entah asalnya dari mana, tiba tiba ada sosok perempuan tengah menghampiri Zayen.
"Sepertinya aku mengenalmu, deh. Kamu Ayen, 'kan?" Ucapnya mengagetkan Zayen, seketika itu juga Zayen mendongak dan menatap sosok perempuan yang ada di hadapannya itu.
"Kamu siapa? kenapa kamu mengenal nama ku?" tanya Zayen.
Sedangkan perempuan itu langsung duduk disebelah Zayen tanpa malu dan canggung. Zayen yang merasa risih segera bangkit dari posisi duduknya.
__ADS_1
"Kenapa kamu mendadak lupa denganku sih, aku Welly yang pernah menolakmu dulu. Aku mau meminta maaf, dulu aku dilarang pacaran." Jawabnya dengan percaya dirinya, seketika Zayen menautkan kedua alisnya.
"Kamu salah alamat, aku tidak pernah mengutarakan perasaanku pada siapapun. Aku sudah beristri, jangan berani beraninya mengganggu rumah tanggaku. Sekarang juga, pergilah dari hadapanku." Ucap Zayen dengan sorot matanya yang tajam.