Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
#BONUS CHAPTER 3


__ADS_3

Setelah menarik tangan Sera, Kazza menatap lekat padanya.


"Jaga bicara kamu, tidak baik kamu mengatakan hal yang seperti tadi." Ucap Kazza dengan tatapan tidak suka. Kemudian, ia kembali mendekati Vella yang terlihat sibuk dengan motornya.


"Apa ada masalah dengan motor kamu?" tanya Kazza pada Vella.


"Tidak ada, aku bisa melakukannya sendiri. Lebih baik urus saja pacar kamu itu, aku tidak membutuhkan bantuan dari kamu. Pergilah, aku tidak ingin melihatmu." Jawab Vella dengan nafas beratnya.


"Dia bukan pacarku, aku tidak memiliki hubungan dengannya. Dia hanya teman sekolah, sekaligus tetangga komplek rumah." Ucap Kazza mencoba meyakinkannya.


"Aku tidak perduli, pergilah." Jawabnya sedikit ketus, kemudian menyibukkan kembali pada motornya.


"Sini, aku lihat motor kamu." Ucap Kazza yang bersikukuh untuk membantu Vella.


"Sudah aku bilang, aku bisa melakukan sendiri. Lagian jika kamu pergi, aku akan menghubungi suruhan Papaku untuk menjemputku. Aku tidak mungkin membuka kedokku di muka umum, apa lagi dengan perempuan itu. Tidak sudi aku menunjukkan siapa aku, cepat pergilah dari sini." Jawab Vella, kemudian mengusir Kazza.


Mau tidak mau, Kazza pergi begitu saja. Sedangkan Vella hanya menatapnya hingga bayangan Kazza tidak terlihat lagi.


'Ah! kenapa aku harus bertemu dengannya lagi, kenapa hatiku merasa sakit saat aku memintanya untuk membatalkan pernikahan yang sudah direncanakan oleh kedua orang tuaku dan kedua orang tuanya.' Batinnya, lalu menendang ban motornya dengan sangat kuat. Hingga motornya pun rubuh begitu saja oleh tenaga super yang dimilikinya.


"Eh, si mbak. Tenaganya ngeri juga, ya. Gile, baru pertama kali aku melihat si mbaknya sangat kuat." Ucap salah satu seseorang yang masih berada di tempat kejadian.


Karena semakin tidak karuan dengan pikirannya, Vella segera menelfon saudara laki lakinya untuk menjemputnya. Kemudian, Vella memilih menunggu di dekat mini market yang tidak jauh dari tempat kejadian tadi.


Setelah menunggu cukup lama, saudara laki. lakinya pun telah datang dengan tepat waktu sesuai permintaan Vella.


"Kenapa dengan motor kamu, hah? jatuh? berantem? atau ... balap motor?" tanya sang kakak memberondong berbagai pertanyaan.


"Hem, tidak ada yang benar dengan pertanyaan dari kakak. Tadi, aku tidak sengaja menyerempet mobil. Dan terjadilah adu mulut dengan si pemilik mobil yang aku serempet tadi. Perempuan pemilik mobil itu memintaku untuk menyervisnya, dan aku sudah meminta suruhan papa untuk mengambil mobilnya. Tapi sialnya, motor aku ikutan mogok." Jawab Vella sambil berdecak kesal.

__ADS_1


"Oooh, aku kira. Ya sudah, ayo aku antarkan kamu ke tempat yang dimintai Papa untuk melakukan pertemuan dengan seseorang yang juga pemilik perusahaan barunya. Semoga saja, kamu tertarik dengan pemilik perusahaan yang akan kamu temui." Ajak sang kakak sedikit meledek.


"Begitu, ya. Aku sudah tidak berselera untuk bertemu dengan siapapun, aku mau pulang saja." Jawab Vella sedikit lesu.


"Apa kamu masih mengingat Kazza? hayo, jujur saja." Ucap sang kakak yang terus meledek saudara perempuannya.


"Tidak, aku tidak mengingatnya. Aku hanya terbawa situasi yang tadi, gara gara perempuan tadi." Jawab Vella penuh beralasan.


"Tidak penting bahas yang lain, lebih baik sekarang kita segera berangkat." Ucapnya dan mengajak Vella untuk segera berangkat. Sedangkan Vella hanya nurut dan mengikuti langkah kaki sang kakak dari belakang.


Sedangkan dalam perjalanan, Kazza fokus dengan setirnya. Bahkan, ia sedikitpun tidak menoleh kearah Sera yang memang tidak dapat dipungkiri jika dirinya juga cantik.


"Katakan, kamu mau turun dimana? karena hari ini aku akan ada pertemuan dengan perusahaan baru." Tanya Kazza yang masih fokus dengan setir mobilnya.


"Loh, kok sama. Aku juga iya, aku baru didaftarkan oleh Papaku. Jika aku mau dijadikan sekretaris di perusahaan baru, karena berkat perusahaan baru yang cukup besar yaitu Gantaraka group, papaku mendapatkan pinjaman untuk menutup hutangnya yang cukup besar karena bangkrut. Tapi, perusahaan papaku dibawah kendalinya." Jawab Sera menjelaskan.


'Kalau jodoh, memang tidak akan lari kemana. Semoga saja, aku bisa mendapatkan salah satu nya. Pemilik perusahaan yang Gantaraka group, aku yakin jika pemilik perusahaan tersebut masih muda. Kalaupun tidak bisa, aku akan terus mengejar Kazza yang super dingin seperti es balok.' Batin Sera penuh yakin


Setelah memakan waktu yang cukup lama, Kazza telah sampai di perusahaan yang ia tuju.


"Benarkah ini tempatnya?" tanya Sera berdecak kagum melihat perusahaan yang cukup besar.


"Benar, apa kamu tidak membacanya?" jawab Kazza dan balik bertanya.


"Aku sampai lupa, maaf." Jawabnya, kemudian segera melepaskan sabuk pengamannya. Lalu, keduanya segera turun dari mobil.


'Wah ... pasti pemiliknya tajir melintir. Aku sangat yakin jika pemiliknya sangat tampan.' Batinnya penuh hayalan.


Sedangkan Kazza berusaha mencerna sebuah nama perusahaan, namun tetap saja ia sulit untuk mengingatnya.

__ADS_1


"Kazza, kenapa kamu melamun? ayo kita masuk." Tanya Sera penasaran, kemudian mengajaknya untuk segera masuk.


"Iya, ayo kita masuk." Ajaknya, kemudian disambut dengan hormat dan santun oleh para pegawai kantor tersebut.


Sesampainya didalam perusahaan, tepatnya didalam ruangan khusus perjanjian pertemuan. Kazza duduk dengan santai, sedangkan Sera berkeliling disekitar ruangan pertemuan sambil menunggu pemilik perusahaan tersebut.


'Aku harus bisa mendapatkannya, setidaknya menjadi nyonya seorang istri pemilik perusahaan ini. Oh iya, aku baru ingat sekarang. Papa pernah bilang padaku, bahwa pemilik perusahaan baru ini anaknya sudah sangat dewasa dan belum menikah.' Batinnya penuh kemenangan dan tersenyum lebar sambil membayangkan sesuatu yang diharapkannya.


Sedangkan Vella dan saudara laki lakinya masih dalam perjalanan berangkat untuk menuju ke Kantornya.


"Kak, sepertinya aku tidak bisa melakukan pertemuannya. Aku pura pura jadi asisten kakak saja lah, aku takut yang datang seorang laki laki. Mendingan aku menyeleksi seorang perempuan yang akan menjadi sekretarisku nanti." Ucap Vella beralasan, dikarenakan ia takut apabila yang datang seorang laki laki, pikirnya.


"Terserah kamu saja, aku tidak memaksamu." Jawab sang kakak yang sudah menyerah apabila permintaan dari sang adik yang tidak ditepati.


Setelah sampai didepan Kantor, Vella dan sang kakak pun segera melepaskan sabuk pengamannya dan turun dari mobil. Kemudian, keduanya langsung masuk kedalam kantor.


Semua pegawainya menyambutnya dengan hangat dan penuh hormat saat kedua Bosnya datang.


"Kak, aku kesana ya. Kakak temui saja seseorang yang akan melakukan pertemuan, nanti kalau selesai hubungi aku." Pinta Vella, Sang kakak pun mengangguk, kemudian segera berpencar arah tujuan masing masing. Kemudian ia menemui seseorang yang sudah diajaknya pertemuan.


'Aku kira, Kazza dan Vella dapat bertemu dalam satu ruangan. Rupanya sangat sulit untuk mempertemukan mereka berdua, apa yang harus aku jawab jika Papa bertanya. Dan pastinya, paman Tirta juga akan mempertanyakannya padaku.' Batin sang kakak sambil mengacak acak rambutnya yang tidak lagi gatal.


Sedangkan Vella kini segera menemui seseorang yang akan menjadi sekretarisnya. Begitu juga dengan Sera, dirinya pun sudah tidak sabar ingin bertemu dengan seseorang yang akan menjadi Bosnya.


Kedua perempuan tersebut saling celingukan sambil mencari sosok yang dicarinya.


"Wah ... rupanya kamu berada di Kantor ini juga, jangan katakan jika kamu mau mendaftar menjadi karyawan di perusahaan ini." Ucap Sera dengan rasa percaya dirinya itu.


"Memang kenapa? apa aku tidak boleh melamar pekerjaan disini, hah?" jawab Vella yang berusaha mengimbangi penuturan dari Sera yang tengah asik memojokannya.

__ADS_1


__ADS_2