Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
#BONUS CHAPTER 28


__ADS_3

Jam istirahat sudah habis, semua murid kini kembali kedalam kelasnya masing-masing. Nahas, Zicko yang mau masuk kedalam kelas, tidak tahunya ada Jenny yang tengah berdiri di ambang pintu.


'Si_al! perempuan ini lagi, perempuan ini lagi. Gak ada kapok kapoknya dia ini.' Batin Zicko dengan kesal.


"Kau ini, mau minggir atau gak. Jangan salahkan aku jika kamu jatuh." Ucap Zicko sambil berkacak pinggang di hadapan Jenny.


Dengan santainya, Jenny tidak mau menyingkir. Dirinya tetap berdiri di ambang pintu.


Tanpa belas kasih atau apa lah, Zicko sengaja mendorong Jenny hingga terjungkal ke belakang, hampir saja jatuh dan terbentur kaki meja guru.


"Aw! sakit! tau. Aku adukan sama guru, baru tau rasa kamu." Pekik Jenny dengan perasaan kesal, juga geram ketika dirinya tengah dipermalukan oleh Zicko.


"Adukan aja, siapa takut. Memangnya kamu itu siapa? murid baru di sekolah ini, 'kan? sama." Kata Zicko dengan berani, tidak peduli jika dirinya mau dibilang kasar terhadap perempuan.


"He! mau jadi jagoan Lu. Cowok lawan cowok, dong, beraninya kok sama cewek, pakai rok aja Lu." Ucap murid laki-laki yang ikut memberi pembelaan kepada Jenny, juga dengan beraninya mengejek Zicko.


Dengan reflek, Zicko langsung memberi perlawanan kepada siswa yang tengah melawan dirinya, dan juga dengan ejekan.


BUG!


BUG!


BUG!


Zicko melakukannya atas kemarahannya, dan tidak memberi ampun kepada siapa saja yang sudah berani mengejek dirinya.


"Diam! semuanya." Bentak dari pak guru saat baru saja masuk kedalam ruangan kelas, dan mendapati muridnya tengah berkelahi.


Zicko dan teman sekelasnya langsung berhenti berkelahi. Semua murid yang lainnya pada diam saat pak guru masuk kedalam kelas.


"Ada apa ini ribut-ribut, ha! kalian pikir, ini kelas ajang berkelahi. Jawab pertanyaan Bapak, siapa yang mulai?"


Semua masih diam, termasuk Zicko. Bahkan, Jenny sendiri juga ikutan diam. Namun, tiba-tiba terdengar suara Jenny tengah meringis kesakitan di bagian kakinya dan kedua sikunya.


"Aduh, sakit banget lagi." Ucapnya lirih agar pak guru mendengarnya, yakni seolah mencari pembelaan.


"Kamu kenapa?" tanya pak guru sambil memeriksa luka yang ada pada Jenny.


"Ini, Pak. Tadi itu saya di dorong sama dia, dan sampai jatuh begini lukanya." Jawab Jenny sambil menunduk dan mencari perhatian pak guru.


Kedua teman Zicko si Joni dan Rudi langsung maju ke depan, yaitu untuk memberi penjelasan kepada pak guru.


"Tidak benar itu, Pak Guru. Jenny memang di dorong sama Zicko, tapi atas dasar kesalahannya Jenny sendiri. Dia menghadang Zicko untuk masuk kedalam kelas. Bahkan, gegara si Tovan ini, Zicko harus menghajar dia menjadi babak belur. Kalau Bapak tidak percaya, lihat saja lewat rekaman CCTV. Bukankah setiap sudut manapun ada pengintai secara privasi. Jadi, Pak Guru bisa mengeceknya sendiri. Siapa yang salah, siapa yang benar, juga bakal ketahuan." Ucap Joni yang tidak terima jika sahabatnya dijadikan tersangka, padahal korban, pikirnya.

__ADS_1


Jenny sama Tovan, pun ada rasa takut dan akan mendapatkan sangsi.


"Baiklah, nanti Pak Guru akan cek kejadiannya. Ya sudah, kalian boleh kembali ke tempat duduk kalian masing-masing." Jawab pak Guru, dan segera kembali ke kantor untuk melihat bukti.


Sedangkan Zicko dan yang lainnya segera duduk, dan menunggu pak Guru datang kembali.


Jenny yang takut jika dirinya dijadikan tersangka, buru-buru mengambil ponsel dan mengirimkan pesan kepada orang tuanya.


'Akhirnya aku bisa bernapas lega, dan juga bisa memberi pelajaran untuk cowok sombong seperti dia. Lihat aja, justru kamu akan yang akan mendapatkan sangsi berat. Juga, bakal nyesel karena sudah berani denganku.' Batin Jenny sambil senyum senyum.


Zicko sendiri tengah bersantai, karena dirinya memang tidak merasa bersalah, dan dia percaya jika rekaman CCTV sangatlah akurat.


"Zick, Lu gak takut nih, sama itu betin_a."


Joni langsung membuka obrolan di dalam kelas.


Zicko menyeringai saat mendapat pertanyaan dari Joni.


"Ngapain gue takut, Bro. Lagi pula, siapa sih dia, soksokan gitu. Suruh beli ini sekolahan, gue juga mampu. Sudah deh, Lu gak usah takut. Tenang aja, kita lihat aja apa kata pak guru." Jawab Zicko dengan santai.


"Tapi, Bro. Kalau dia berani nyogok, gimana? jaman sekarang 'kan, gitu. Penting harga diri aman, tidak peduli jika harus membayar tutup mulut dengan uang segudang sekalipun." Kata Rudi ikut menimpali.


Kebetulan juga, ternyata teman Jenny mendengarnya, karena memang sengaja pindah tempat duduknya untuk meguping.


Tidak lama kemudian, rupanya ada siswa datang ke dalam kelas.


"Yang namanya Zicko dipanggil pak guru, dan disuruh ke kantor, sekarang juga." Ucapnya sesuai pesan yang disampaikan oleh pak guru.


Zicko yang mendengarnya, pun kaget. Bukannya Jenny yang dipanggil, justru dirinya yang harus ke kantor.


'Si_alan, ternyata benar yang dikatakan oleh Rudi. Sepertinya aku harus memberi pelajaran sama itu perempuan.' Batin Zicko dengan kesal.


"Bro, yakin nih mau ke kantor?" tanya Joni.


"Ya kek mana lagi, orang gue dipanggil. Masa iya, gue disini aja. Dah ya, aku mau ke kantor." Jawab Zicko.


"Tapi, Bro. Nanti kalau Elu kena hukuman, kek mana?"


Rudi ikut menimpali.


"Tenang saja, gak bakalan aku di hukum." Ucap Zicko.


"Woi! Lu yang namanya Zicko, 'kan? buruan sono ke kantor, Lu. Takut ya, kasihan.... Makanya, jangan soksokan. Yang namanya salah, ya tetep aja salah." Kata Jenny mengejek.

__ADS_1


Zicko karena sudah tidak sabar, ia langsung pergi ke kantor untuk mengeceknya sendiri.


Saat sudah di dalam kantor, Zicko segera menemui pak guru.


"Kamu yang bernama Zicko?" tanya pak guru.


"Iya, Pak, saya Zicko." Jawab Zicko yang masih penasaran.


"Ini, ada panggilan untuk orang tua kamu, dan ini kasihkan juga ke Jenny, juga sama Tovan." Ucap pak guru sambil menyodorkan dua amplop berisi surat undangan.


Zicko mengangguk.


"Baik, pak guru. Kalau begitu saya permisi." Jawab Zicko dan pamit untuk kembali ke kelas.


Saat baru saja keluar dari dalam kantor, Zicko dapat bernapas lega, lantaran tidak sendirian saat mendapatkan panggilan orang tua.


"Akhirnya bukan aku saja, tapi Tovan sama itu si Jenny. Syukur lah, aku gak sendirian. Eh! mam-pus gue. Bakal kena marah ini sama Papa, kalau sampai tahu soal surat panggilan ini." Gumamnya sambil berjalan menuju kelasnya.


Karena takut keduluan guru yang masuk kedalam kelas, cepat cepat segera masuk. Saat sudah masuk, Zicko mendapat sorakan Oleh beberapa murid yang membela Jenny.


Zicko sendiri tidak begitu menanggapinya, dirinya memilih tetap bersikap santai.


"Nih! buat Elu. Suruh datang tuh, emak Elu, atau bapak Lu."


Jenny terkejut mendengarnya. Kemudian, meraih amplop besar berisi surat panggilan.


"Ini apaan?" tanya Jenny ingin tahu.


"Kasihkan saja ke orang tua Lu. Tenang aja, kita dapat semua kok, termasuk si Tovan adiknya si beliung." Jawab Zicko dan menemui Tovan.


Jenny yang seperti tidak mendengar gurauan dari Zicko, ada rasa takut dan pastinya was-was.


Zicko yang sudah berada di dekat Tovan, langsung menyeringai.


"Nih! bonus buat Elu. Lumayan kan, emak Lu apa Bapak Elu datang ke sekolahan. Jangan lupa, siapkan hari libur buat kamu untuk tidak berangkat ke sekolah."


Tovan langsung bengong saat Zicko memberikannya langsung surat panggilan untuk orang tuanya.


Sedangkan Joni dan Rudi akhirnya dapat bernapas lega, karena tidak hanya Zicko saja, tetapi Tovan dan Jenny juga ikutan dipanggil.


Jenny dan Tovan mendengkus kesal saat usahanya sia-sia. Karena penasaran, Jenny segera membuka ponselnya untuk melihat jawaban dari orang tuanya.


Benar saja, rupanya tidak ada balasan sama sekali. Kesal, itu sudah pasti.

__ADS_1


__ADS_2