Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Seseorang yang membuat curiga


__ADS_3

Viko masih dengan posisinya ya g sedang jongkok dan menatap lekat bocah kecil yang sangat akrab dengannya.


Adelyn pun penasaran dengan sosok anak kecil yang terlihat akrab dengan calon suaminya itu.


"Devin, bagaimana kabar kamu dan teman teman?" tanya Viko sambil memegang pundak milik Devin.


"Kabar Devin sangat baik kak Viko, kakak cantik ini siapa?" jawab Devin dan bertanya sosok wanita yang menurutnya sangat asing.


Viko pun segera berdiri dan mendekati Adelyn, kemudian menggandengnya. Setelah itu, memperkenalkannya pada Devin.


"Namanya kak Adelyn, calon istri kakak. Sebentar lagi kak Viko mau menikah dengan kak Adelyn, dan pastinya kakak akan mengundang kalian semua diacara pernikahan kakak." Jawab Viko menjelaskannya.


"Hai Devin... perkenalkan, nama kakak namanya kak Adelyn." Sapa Adelyn dengan Ramah, kemudian mengulurkan tangannya.


"Hai juga kak Adelyn, senang bertemu kakak." Sapa balik dari Devin dan mengulurkan tangannya.


"Nak Viko ..." sapa ibu ibu paruh baya mendekati Viko dan Adelyn.


"Ibu Rani ..." panggil Viko, kemudian mencium punggung tangan milik ibu Rani bergantian dengan Adelyn.


"Apa kabarnya, nak Viko? siapa perempuan cantik ini, Vik?" tanyanya penasaran.


"Kabar Viko baik baik saja, Bu. Ibu Rani sendiri bagaimana kabarnya? oh iya, namanya Adelyn. Sebentar lagi kita berdua akan segera menikah, dan kedatangan kita kemari untuk meminta doa restu sekaligus mengundang anak anak." Jawab Viko menjelaskan.


"Wah ... selamat ya, nak Viko. Semoga acaranya berjalan lancar dan tidak ada suatu halangan apapun di acara pernikahan kalian berdua." Ucap ibu Rani memberi ucapan selamat.


"Terima kasih, Bu ..." jawab keduanya.


"Oh iya, ibu sampai lupa. Ayo kita masuk ke dalam, kebetulan anak anak sedang bersih bersih di belakang." Ajak ibu Rani, Viko dan Adelyn pun mengangguk. Lalu, keduanya dan Devin mengikutinya dari belakang.


"Viko!!!" teriak seorang gadis tengah mengagetkan Viko maupun Adelyn. Keduanya pun menoleh ke sumber suara, dan dilihatnya seorang perempuan yang masih muda dan tidak begitu asing dimata Viko.

__ADS_1


"Heni ..." ucapnya lirih, namun dapat ditangkap oleh pendengaran Adelyn. Disaat itu juga, Adelyn menoleh kearah calon suaminya itu.


Perempuan yang disebut Viko itu mendekatinya, Adelyn hanya melihatnya dengan tatapan tidak suka.


"Vik!! sombong banget kamu, kenapa kamu tidak pernah datang kesini?" tanyanya. Kemudian menatap Adelyn, sedangkan Adelyn berusaha untuk tenang. Meski pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan.


"Aku sibuk waktu itu, dan baru sekarang ini aku bisa datang kemari." Jawabnya.


"Heni, ayo ikut ibu. Bantu ibu untuk membuat minuman untuk mereka berdua." Ajak ibu Rani dan menarik paksa tangan Heni, seketika Heni merasa aneh dengan sikap ibu Rani.


'Siapa perempuan ini? sepertinya mengenal Viko, kenapa terlihat aneh begitu, ya? ingat Adelyn, ingat! buang jauh jauh pikiran burukmu itu.' Batin Adelyn berusaha menepis pikiran buruknya.


Sedangkan Adelyn dan Viko ditemani Devin untuk menemui anak anak yang lainnya, Adelyn sendiri masih menyimpan rasa penasaran akan sosok perempuan yang terlihat menyimpan rasa terhadap suaminya itu.


Tepatnya di dapur, ibu Rani dan Heni tiba tiba kaget mendapati pesanan makanan tengah masuk lewat pintu dapur.


"Tunggu, ini pesanan dari siapa? kenapa banyak sekali?" tanya ibu Rani yang penasaran.


"Nak Viko? benarkah? takutnya paket pesanan yang tidak tidak." tanyanya lagi yang takut akan adanya bahaya yang mengancam keselamatan anak anak asuhnya.


"Benar, Bu ... saya tidak bohong. Bukankah dari dulu tuan Viko selalu memesannya pada saya? jadi, saya pastikan semua pesanan ini aman untuk di konsumsi." Jawabnya berusaha untuk meyakinkan.


"Baiklah, kalau begitu saya ucapkan banyak terima kasih." Ucapnya, kemudian pengirim pesanan tersebut segera pergi.


Sedangkan ibu Rani menatap Heni penuh heran, dan Heni terlihat tidak bersemangat.


"Kamu kenapa, Hen? sakit?" tanya ibu Rani sambil mengecek suhu lewat keningnya.


"Tidak kok, Bu. Heni hanya sedikit tidak enak badan saja, mungkin karena pergantian cuaca." Jawabnya penuh alasan, seketika ibu Rani dapat menangkap apa yang sedang Heni rasakan.


"Kamu menyukai nak Viko? katakan saja sejujurnya." Tanya ibu Rani menebaknya.

__ADS_1


"Ia, Bu. Heni menyukai Viko, tapi perempuan tadi sepertinya seseorang yang spesial di hati Viko." Jawabnya dan berterus terang.


"Kamu yang sabar, ya. Perempuan tapi memang benar wanita yang spesial dihati nak Viko, sebentar lagi mereka berdua akan segera menikah. Hanya tinggal hitungan hari, kita semua juga diundangnya." Ucap ibu Rani mencoba untuk menjelaskan dengan baik baik.


"Jadi ... cinta Heni tidak terbalaskan dong, Bu." Jawabnya semakin lesu.


"Hem ... jangan begitu, mungkin nak Viko memang bukan jodoh kamu. Terima dengan lapang, itu jauh lebih baik. Jangan sampai kamu membencinya, atau dendam pada nak Viko. Tanpa pertolongan Viko, mungkin kamu tidak selamat saat mendapat razia dijalanan bersama anak anak yang lainnya." Ucap ibu Rani mengingatkan, sekaligus menasehatinya.


"Tapi, Heni benar benar sudah jatuh hati dengan Viko. Bahkan, Heni tidak bisa melupakan wajahnya dan juga kebaikannya. Heni jatuh hati dengan Viko sejak ia menolong Heni dari kejaran masa, saat semua orang meneriaki copet." Jawab Heni sambil mengingat pertama kalinya bertemu dengan Viko.


"Ibu minta sama kamu, jangan diteruskan perasaan kamu itu. Tidak baik jika kamu terus menyukainya, ibu rasa perempuan tadi juga perempuan yang baik baik. Jangan dijadikan kesedihanmu mengundang kebencian, apalagi dendam. Masih banyak laki laki yang baik yang pantas untuk kamu, percaya deh sama ibu." Ucapnya yang terus mencoba untuk menasehati, mau bagaimanapun merebut yang bukan miliknya akan mendapatkan hina, pikirnya ibu Rani.


"Heni tidak tahu, Bu." Jawabnya singkat, antara kesal dan benci.


"Sudahlah, ayo bantu ibu untuk menyiapkan makan siang bersama anak anak yang lainnya. Oh iya, kamu panggil Bibi Surti untuk membantu menyiapkannya." Ajak ibu Rani untuk menghindari obrolan tentang Viko, Hem hanya mengangguk dan memanggil bibi Surti untuk membantu menyiapkan makan siang.


Sedangkan Adelyn dan Viko masih ditemani Devin, anak yang selalu dekat dengan Viko.


"Kak Adelyn." Panggil Devin sambil berjalan.


"Iya, ada apa Dev?" jawab Adelyn dan bertanya.


"Jika kakak sudah menikah dengan kak Viko, apakah kak Adelyn masih mau datang kesini?" tanya Viko dengan polos.


Adelyn pun segera menoleh kearah Devin, kemudian menatapnya dan meletakkan tangannya diatas kedua pundak milik Adelyn.


"Tentu saja, nanti kakak akan merubah tempat ini senyaman mungkin untuk kalian tempati. Pastinya ada sesuatunya dong ..." jawab Adelyn dan tersenyum.


"Sesuatunya itu apa, kak?" tanya Devin penasaran.


"Sesuatunya yaitu ... kamu dan teman teman kamu semuanya yang ada disini harus rajin belajar." Jawab Adelyn dan tersenyum lebar, Devin pun ikut tersenyum bahagia mendengarnya.

__ADS_1


__ADS_2