
Zayen sudah berada di hadapan istri tercintanya. Kedua tangannya meraih kedua tangan milik istrinya, keduanya pun saling beradu pandangan dengan menyimpan sejuta kerinduan bahkan lebih.
"Bersabarlah, dan percayalah kepadaku. Kita akan segera bertemu dan bersama lagi seperti impian kita, semoga usaha yang sudah dilakukan akan membuahkan hasil untuk kita dan juga untuk calon buah hati kita." Ucap Zayen dengan lembut, kemudian mencium tangan milik istrinya.
"Aku hanya bisa mendoakan kamu, tidak lebih selain meminta bantuan dengan orang orang yang berada didekat kita. Aku hanya bisa berdoa dan berharap, semoga hari esok kamu sudah kembali dan berkumpul bersama keluarga." Jawab Afnan, kemudian memeluk suaminya dengan erat.
Zayen tidak lagi bisa berbuat apa apa, dirinya pasrah dipeluk istrinya dengan posisi banyak orang orang yang tengah memperhatikannya.
Seyn yang melihatnya pun bercampur aduk rasanya, ada rasa penyesalan dan juga ada rasa bahagia. Seyn segera menepis pikiran buruknya, ia tidak ingin larut dalam pikirannya yang bisa memancing emosinya.
"Maaf, waktunya sudah habis. Sekarang sudah waktunya untuk Seyn dan juga Zayen kembali ketempat semula ia menjalani hukuman bersama yang lainnya." Ucap salah satu petugas mengingatkan, Zayen pun mengangguk.
"Jaga diri kamu baik baik, semoga besok kita sudah dapat berkumpul bersama keluarga. Buang jauh jauh pikiran burukmu, yakinlah jika aku baik baik saja." Ucap Zayen berpamitan dan tersenyum, kemudian ia menc*ium kening istrinya dengan lembut. Afna hanya mengangguk dan ikut tersenyum.
"Maaf Pak, ini ada beberapa porsi untuk makan siang para tahanan. Tolong bagikan kepada yang lainnya termasuk suami saya dan juga kakak suami saya." Ucap Afna pada petugas yang ada didekatnya.
"Baik, Nona. Nanti akan saya bagikan, terimakasih sebelumnya." Jawabnya, kemudian segera pergi dan membuka pintunya untuk Seyn dan Zayen.
Semua merasa tidak tega melihat Zayen dan Seyn yang harus menanggung akibatnya karena perbuatan kebia*daban orang yang tidak bertanggung jawab.
__ADS_1
Kedua mata Afna berkaca kaca saat melihat suaminya yang begitu menyedihkan keadaannya, dari pakaian dan juga rambutnya yang terlihat tidak serapih seperti biasanya. Benar benar tidak terawat, baru saja beberapa hari sudah terlihat kusam. Sungguh benar benar tidak ada yang tega melihatnya.
"Afna, jangan larut dalam kesedihan. Mama yakin bahwa suami kamu akan segera dibebaskan. Kamu tidak perlu mengkhawatirkannya, kamu harus bersemangat. Ucap sang ibu mertua berusaha untuk menyemangati menantunya.
"Iya Ma, Afna percaya sama Mama. Semoga besok benar benar sudah bebas, dan dapat kumpul bersama lagi. Afna benar benar sudah sangat merindukannya, Afna sudah tidak sabar untuk menanti hari esok." Jawab Afna sambil menatap lekat wajah ibu mertuanya.
"Benar Afna, kakek pastikan itu. Bahwa suami kamu akan segera keluar dari tempat ini, dan ki tidak akan lagi mencemaskannya." Ucap kakek Angga ikut menimpali.
"Kamu harus semangat, kita nunggu keputusannya di hari esok. Berdoa saja, semoga suami kamu benar benar dibebaskan." Ucap Kazza beralasan, meski sebenarnya sudah yakin untuk hari ini. Namun, semuanya sengaja untuk memberikan kejutan kepada Afna.
"Semoga, Afna hanya bisa berdoa." Jawab Afna yang merasa belum percaya 100%, ia masih dalam pikiran buruknya.
"Kakek serius? kakek mau mendatangi tempat kesukaan Afna dan cucu kakek? baiklah, tapi ..." jawabnya terhenti.
"Tapi kenapa?" tanya sang kakek penasaran.
"Tempatnya sangat sederhana kek, jauh dari kata mewah." Jawab Afna lirih, namun masih bisa didengar.
"Kakek dari dulu tidak pernah memandang sesuatu itu yang mewah dan selebihnya, kakek bukan type seperti itu. Sekarang ayo kita keluar dari tempat ini, kasihan suami kamu sedari tadi harus melihat kita berdiskusi. Dikira kita mau belajar kelompok, hem." Ucap sang kakek, kemudian segera keluar dari ruang tahanan dan diikuti yang lainnya.
__ADS_1
Dengan berat hati, Afna terpaksa mengikuti langkah kaki yang lainnya untuk segera keluar, hanya sepintas Afna menoleh kearah suaminya yang terlihat tersenyum dengannya. Sedangkan Afna sendiri hanya senyum paksa, ia tidak dapat membohongi perasaannya yang masih terasa bersedih.
'Percayalah, hari ini adalah hari terakhirku berada disini. Besok kita akan kembali memulai kehidupan yang normal seperti orang orang pada umumnya, dan tidak akan lagi aku ulangi kembali pekerjaanku yang dulu. Sungguh, ini teguran yang sangat hebat untukku. Tidak hanya kehilangan waktu bersamamu, namun aku harus kehilangan orang tua asuhku.' Batin Zayen sambil melihat bayangan Afna menghilang. Sedangkan Seyn hanya duduk bersandar pada tembok sambil melamun, tanpa ia sadari sang adik sudah duduk disampingnya.
"Kak Seyn," panggil Zayen mengagetkan. Seyn pun langsung menoleh kearah Zayen, begitu juga dengan Zayen yang sudah menoleh lebih dulu.
"Zayen, ada apa?" tanya Seyn penasaran.
"Maafkan aku ya, Kak. Jika besok aku harus meninggalkan kak Seyn sendirian, maafkan aku." Jawabnya bersedih, mau bagaimanapun Zayen tetap bersedih harus berpisah dengan saudaranya. Meski bukan saudara kandung sekalipun, bahkan sudah berbuat jahat terhadapnya. Namun, tidak menyurutkan perasaan Zayen kepada saudaranya yang sudah hidup bersama dalam satu atap bertahun tahun.
"Tidak perlu kamu bersedih, ini sudah menjadi tanggung jawabku. Aku yang berbuat, maka aku pula yang harus bertanggung jawab. Disini juga tidak sendirian, banyak teman yang sama nasibnya harus belajar bersabar." Ucap Seyn berusaha untuk meyakinkan saudaranya.
"Tapi ..." jawabnya terhenti.
"Tidak ada tapi tapian, sekarang yang kamu pikirkan adalah kebahagiaan anak dan istrimu nantinya. Sekarang ini, keduanya itu sangat membutuhkan perhatianmu. Maka kamu layak untuk meninggalkan tempat ini, lagian kamu hanya sebagai korban. Kamu cukup membayar denda, itu sudah cukup. Semua rekaman sampai dari awal sampai akhir sudah sangat jelas, bahkan CCTV dirumah sekalipun sudah dijadikan bukti." Ucap Seyn yang masih berusaha untuk meyakinkan saudaranya.
"Maafkan aku, jika aku harus mengorbankan Papa dan kak Seyn." Jawabnya tertunduk sedih, entah kenapa ia tiba tiba merindukan sosok ayah asuhnya.
Meski ia tidak pernah mendapatkan kasih sayang darinya, namun ia tetap mengingat kebaikannya yang telah berkata jujur terhadap ayah mertuanya. Tanpa disengaja, kedua matanya tengah menitikan air matanya.
__ADS_1
"Sudah, kenapa kamu menangis. Jadi laki laki kok cengeng, malu. Apa kamu tidak malu dilihat banyak orang? sudah hentikan air mata kamu itu. Seharusnya kamu bahagia, besok kamu akan pergi meninggalkan tempat ini. Tidak hanya itu, kamu akan menjalani kehidupan yang normal." Ucap Seyn sambil menepuk punggung milik Zayen.